
“Iya, pria yang bersama denganku ini adalah suamiku, kamu mungkin tak asing dengan wajahnya karena dia pengusaha sukses yang selalu menjadi dambaan para wanita dan ternyata akulah yang beruntung bisa menjadi istrinya. Aku harap Kak Ryan jangan menggangguku lagi, jika kita tak sengaja bertemu, anggap saja kita tak pernah saling mengenal. Aku tak ingin suamiku ini salah paham,” sahut Yesica dengan mantap menjawab pertanyaan Riyan dan mengungkap hubungannya dengan Devano.
Riyan menggeleng kepalanya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh gadis yang hingga kini masih bersemayam dalam hatinya.
“Enggak, kamu pasti bohong sama aku kan, Yes. Bukankah kita saling mencintai? Aku janji akan berjuang untuk hubungan kita, Yes. Tolong, jangan lakukan ini padaku. Aku tak akan sanggup jika harus kehilangan dirimu, aku sungguh sangat mencintaimu, Yes,” ucap Riyan memohon, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yesica.
“Cintaku untuk kamu sudah hilang saat orang tua kamu menolakku karena latar belakangku yang tak memiliki apa-apa, Kak. Cobalah mengerti aku, aku sudah bersuami dan aku mencintai suamiku. Dia dan keluarganya bisa menerimaku apa adanya tanpa kedudukan apa pun. Biarkan aku hidup tenang dan bahagia bersama dengan suamiku, jangan kau ganggu aku lagi. Please, kumohon jangan ganggu aku lagi,” pekik Yesica menjadi histeris, ia tiba-tiba membayangkan masa lalu saat bertemu dengan keluarga Riyan untuk yang pertama dan terakhir kalinya, ada perasaan bahagia dalam hati Devano kala istri kecilnya itu mengatakan kalai ia mencintai dirinya, sekilas senyum tipis terkembang di wajah tampannya.
Namun, tiba-tiba senyum itu harus berubah dengan wajah yang khawatir karena Yesica tiba-tiba saja memekik kesakitan dan darah mengalir dari area intimnya.
“Aw!” pekik Yesica memegang perutnya yang sakit teramat.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Devano panik.
__ADS_1
“Yes, kamu kenapa?” Riyan yang panik juga ikut bertanya dan tanpa sengaja memegang lengan Yesica. Mata Devano langsung menatap tajam pada pria dengan wajah menyedihkan itu.
“Perutku, Mas, perutku sakit,” ucapnya dengan merintih kesakitan, tatapan Devano yang penuh amarah pada Riyan kini berubah ekspresi kala Yesica mengatakan perutnya sakit.
“Baiklah, kita kembali ke rumah sakit sekarang.” Devano menggendong tubuh istrinya yang bajunya sudah basah dengan darah, ia tak peduli jika pakaiannya kotor terkena darah Yesica, yang terpenting saat ini adalah istrinya memerlukan pertolongan.
“Jangan ikuti kami, cukup sampai sini saja kau mengganggu hidup istriku, jika aku tahu kau masih menemuinya, maka kau akan mengetahui akibatnya.” Devano mengancam dengan raut wajah menakutkan.
“Kau bayar belanjaannya dan bawa pulang ke rumah saja, aku akan membawa istriku ke rumah sakit. Katakan pada yang lainnya untuk mengawasi pria ini,” titah Devano lalu pergi meninggalkan tempat perbelanjaan tersebut menuju area parkir di mana mobilnya terparkir.
“Sabar Sayang yah, sebentar lagi kita sampai,” ucapnya menenangkan istri kecilnya, padahal ia juga sedang panik tapi Devano mencoba mengendalikan dirinya, ia mengusap kepala Yesica yang bersandar dibahunya karena Yesica masih dalam pangkuan dirinya.
Mobil berhenti tepat di depan rumah sakit, terlihat Sandra dan Agam sudah menunggunya dengan brankar yang sudah disiapkan untuk membawa Yesica. Devano langsung turun dengan menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di atas brankar.
__ADS_1
“Ada apa ini, Van? Mengapa Yesica bisa mengalami pendarahan seperti ini?” tanya Sandra sambil terus berjalan mengikuti brankar yang didorong menuju ruang gawat darurat.
“Dia sempat emosi, Tan, dan tiba-tiba saja merasakan perutnya sakit, saat aku lihat darah sudah mengalir deras,” jelas Vano.
Sampai di depan ruangan, Yesica sudah masuk ke dalam ruangan tersebut dab Devano dicegah oleh Sandra.
“Percayakan istrimu Tante, dia akan baik-baik saja,” ucap Sandra.
“Tolong, Tan, tolong selamatkan istriku, aku tak akan bisa hidup tanpanya,” mohon Devano, sebenarnya ada sisi lucunya juga melihat Devano yang begitu dingin dan anti wanita itu menangis seperti anak kecil.
“Kamu tenang saja, Tante akan berusaha sebaik mungkin, istrimu hanya pendarahan, doakan saja agar pendarahannya cepat berhenti.” Sandra mencoba menenangkan Devano, setelahnya ia langsung masuk ke dalam untuk segera menangani Yesica. Mungkin bagi Sandra dan Agam yang seorang dokter hal itu terdengar biasa saja karena mereka biasa menangani hal seperti itu, tapi tidak bagi Devano yang baru pertama kali melihat istri tercitanya mengalami pendarahan dan kesakitan.
“Van, percayakan pada Kak Sandra, istrimu akan baik-baik saja, istrimu adalah wanita yang kuat kok,” ucap Agam.
__ADS_1
Tak lama Sandra keluar dari dalam ruang tindakan, Devano langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan yang tak lain tentang istri kecilnya itu. Tentu saja hal itu membuat Sandra menjadi pusing karena ia baru saja membereskan darah istrinya dan kini suaminya seperti petasan banting yang tak hentinya berbunyi.