
Yesica duduk di dalam mobil dengan pikiran yang berkelana memutar kembali ke masa lalu hingga ia tak sadar jika mobil sudah berhenti di depan rumahnya.
“Nona, apakah ada yang Anda pikirkan?” tanya Kris, ia sudah beberapa kali mengatakan jika mereka sudah sampai, tapi Yesica masih larut dalam pikirannya sendiri.
“Nona,” panggilnya lagi sedikit meninggikan suaranya membuat Yesica terkejut.
“Ah, iya Kris, kita langsung pulang saja yah,” ucap Yesica Yang belum sadar jika mereka sudah sampai meminta Kris untuk membawanya pulang.
“Kita sudah sampai sedari tadi, Nona, saya sudah memanggil Anda beberapa kali tapi Anda tak merespons, jadi maaf saya meninggikan suara untuk memanggil Anda,” sahutnya memberitahu di mana mereka sekarang, Yesica melihat keluar jendela mobil, ia terkekeh sendiri karena tak menyadarinya.
“Astaga, maaf Kris, aku tak tahu. Kalau begitu aku masuk dulu.” Yesica turun dari mobil dan bergegas masuk rumah menuju dapur untuk masak makan malam.
Yesica sibuk berkutat di dapur membuat makan malam untuk mereka makan nanti. Satu jam lebih lamanya akhirnya masakannya selesai juga dan sudah tertata rapi di atas meja. Ia bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan membangunkan suaminya karena sebentar lagi jam makan malam tiba.
Di dalam kamar, terlihat Devano yang masih tertidur, Yesica bergegas hendak mandi, tapi saat ia akan masuk ke dalam kamar mandi tiba-tiba saja Devano sudah memeluknya dari belakang.
“Mas, kukira kamu masih tidur. Aku bau masakan loh, baru selesai masak untuk makan malam kita,” ucapnya.
“Aku sudah bangun sedari kau pergi meninggalkan aku sendiri. Aku mau ikut mandi sama kamu,” ucapnya dengan nada manja. Mungkin jika Kris melihat tingkah Bos besarnya yang terkenal kejam dan dingin itu, ia yang dinginnya bagaikan kutub utara pun pasti akan tertawa ngakak dan mencibir Devano dalam hatinya.
Yesica tak dapat menolaknya karena percuma saja, ucapan suaminya itu mutlak dan tak bisa diganggu gugat, jadi ia hanya bisa berpasrah saja. Ia pun tahu apa yang akan terjadi jika suaminya mandi bersama dengannya, bukan akan menjadi acara mandi saja, tapi akan menjadi olah raga sebelum makan malam.
Dapat dipastikan setelah ini ia akan memerlukan asupan nutrisi yang banyak karena kelelahan melayani na*su suaminya yang begitu besar, yang sekali main tak cukup dengan waktu setengah jam saja, paling cepat Devano akan menyelesaikan permainannya dalam waktu satu jam, itu paling cepat yes gaes, bagaimana jika dengan waktu yang lama, bisa dibayangkan bagaimana Yesica akan berjalan.
__ADS_1
Sau jam lamanya mereka baru selesai mandi, Yesica yang tadi sudah lapar kini kelelahan dan mengantuk.
“Kamu tiduran saja, aku akan membawa makannya kesini, kita makan dikamar bersama,” titah Devano mengecup kepala istrinya dan pergi keluar kamar menuju meja makan, Yesica yang belum mengenakan pakaian dan hanya mengenakan jubah mandi hanya bisa menurut dan tersenyum kala suaminya keluar kamar.
Di dapur, Devano langsung menyendokkan nasi dan kawan-kawannya ke dalam piring. Ia tersenyum melihat masakan sederhana yang sudah tersaji di atas meja makan.
“Memang jika memiliki istri enaknya seperti ini, ada yang memasakan untuk kita makan,” gumamnya.
“Jadi Anda sudah tak memerlukan saya lagi, Tuan,” celetuk Kris yang ternyata sedang duduk diruang keluarga yang tak jauh dari meja makan.
“Mengapa kamu belum pulang?” tanya Devano dengan ketus.
“Baiklah jika Anda sudah tak memerlukan saya lagi, jadi saya bisa pensiun dini.” Kris sudah berdiri dan hendak pergi, Devano melihat asistennya itu dengan tatapan mematikan.
“Anda mengancam saya, Tuan? Kalau begitu saya akan memberi surat pensiun esok.” Kris tak mau kalah.
“KRIS,” pekik Devano membuat Kris menyeringai tipis.
“Sebegitu cintanya kah Anda pada saya, Tuan hingga tak mengizinkan saya pensiun? Saya tak akan pensiun, tuan. Saya hanya akan mengambil cuti selama tiga hari karena akan menikah saja, Anda tak perlu begitu khawatirnya akan kehilangan saya,” ucap Kris menjelaskan, ia sedari tadi sengaja memancing amarah sang Bos. Devano yang mendengar hal itu langsung menoleh pada Kris.
“Serius?” tanya Devano yang belum seratus persen percaya.
“Apakah saya pernah bercanda pada Anda, Tuan?” Kris balik bertanya.
__ADS_1
“Apakah wanita nakal itu sudah setuju untuk menikah denganmu? Apakah kamu sudah mengatakannya?” tanya Devano kembali.
“Saya baru akan mengatakannya hari ini, masalah dia mau atau tak mau, tak ada pilihan untuknya, pilihan dia hanya satu yaitu setuju,” sahut Kris dan Devano terkekek mendengar penjelasan orang kepercayaannya itu.
“Kamu memang orangku, aku suka gayamu itu, Kris. Lanjutkanlah, jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku, jangan sungkan, kita sudah bersama lebih dari lima tahun jadi apa yang menjadi kebahagiaanmu juga akan menjadi kebahagiaanku. Pulanglah, aku yakin dia sudah menunggumu pulang. Lamarlah wanita nakal itu dengan romantis.” Devano memeluk Kris dengan erat, baginya Kris sudah seperti saudara sendiri, ia begitu bahagia mendengar kaba dari orang kepercayaannya itu.
Kris pergi setelah mendapat izin dari Bos besarnya itu, setlah kepergian Kris, Devano masuk ke dalam kamar membawakan makanan untuk ia dan istrinya makan malam. Terlihat Yesica sedang bermain ponselnya. Begitu suaminya masuk, Yesica langsung mematikan ponselnya, ia tak ingin waktu bersama suaminya terganggu dengan ponsel karena selama berada bersama dengannya, Devano tak pernah sekalipun sibuk dengan ponselnya.
“Mengapa dimatikan? Jika kamu sedang menonton film maka lanjutkanlah, aku ingin ikut menontonnya bersama denganmu,” tanya Devano yang sebenarnya tak mempermasalahkan istrinya yang memegang ponsel saat bersama dengan dirinya karena Devano tahu semua isi ponselnya, sebab ia sudah menyadap ponsel sang istri.
Bukan tanpa alasan atau tak percaya Devano melakukan itu, ia hanya tak ingin kecolongan saja. Devano takut jika terjadi sesuatu yang tak diinginkannya, ia takut jika Angel berbuat yang tidak-tidak pada istrinya. Maka dari itu, ia menyadap, memasang GPS dan juga memasang teknologi darurat yang akan memberitahunya jika sang istri dalam keadaan bahaya maka ia akan mengetahuinya.
“Aku hanya tak ingin waktu bersama dengan suamiku terganggu oleh ponsel, jika ingin menonton film mengapa kita tak melihatnya ditelevisi saja, bukankah lebih enak karena layarnya yang cukup besar dari ponsel,” sahut Yesica jujur akan alasannya.
“Baiklah jika itu maumu, aku hanya bisa menurut. Ayu makan, aku sudah sangat lapar dan tak sabar untuk menikmati masakan istriku ini.” Devano mengusap kepala istrinya itu lembut.
“Semoga kamu suka dengan masakanku yah, aku tak pandai memasak,” ucapnya tak percaya diri.
“Kamu tenang saja, aku akan memakannya apa pun rasanya, istriku sudah berusaha keras untuk masak untukku kenapa aku harus memprotesnya. Tak semua istri akan bersedia masak untuk suaminya, apalagi jika ada asisten rumah tangga, maka mereka akan menyerahkannya pada sang asisten,” sahut Devano yang menghargai kerja keras istrinya. Yesica bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
***
Wah, si Kris mau merid nih, siapa yang mau menjadi saksi ijab kabul mereka komen yah. Aku mau tahu apakah ada yang membaca ceritaku, soalnya yang rajin komen hanya mak Aisyah saja😂
__ADS_1
Happy reading oke, selamat beristirahat🙏🤗