
“Semangat untuk sidangnya yah, orangku akan menunggumu sampai pulang. Jangan nakal, aku akan merindukanmu.” Devano mencium kening istri kecilnya itu sebelum Yesica turun dari mobil.
“Hm, aku pasti akan semangat, kamu juga harus semangat kerjanya. Aku turun dulu yah.” Yesica balik mencium suaminya, tapi bukan di kening melainkan di bibir, kemudian ia turun dan masuk ke dalam kampusnya, terlihat Vivi sudah menunggunya, ada juga Luna yang berada di samping Vivi tapi sepertinya Vivi tak menghiraukan keberadaannya, entah ada apa dengan mereka berdua.
“Kalian sudah lama?” tanya Yesica saat sudah berada di dekat keduanya.
“Baru ajah sampai,” sahut Vivi singkat.
Tiba-tiba, Luna memeluk Yesica dengan sangat erat, tentu saja hal itu membuatnya terkejut. “Aku rindu banget sama kamu,” seru Luna, Vivi hanya memutar bola matanya jengah, ia sudah malah melihat tingkah lebai temannya itu, baginya semenjak Luna bersikap egois mengenai Riyan, Vivi sudah tak respect lagi terhadap Luna.
“Aku juga, hehe.” Yesica hanya bisa terkekeh yang dipaksakan, ia sebenarnya melihat reaksi pada Vivi, tapi ia tak bisa berperilaku sepihak begitu saja.
Yesica memang kesal dengan tingkah Luna yang berkali-kali selalu melibatkan Riyan saat mereka bersama, tapi ia juga tak boleh seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Luna pernah membantu dirinya saat sedang kesusahan, ia bahkan diberi pekerjaan oleh orang tua Luna untuk bekerja paruh waktu di toko buku milik orang tuanya. Jika Vivi bersikap seperti itu wajar, karena dia tak pernah memiliki hutang budi apa pun pada Luna, jika dikatakan kesal, mungkin Yesica juga kesal, tapi apa mau dikata lagi karena ia tak bisa bersikap seperti Vivi yang sudah bar-bar plus asal ceplos apa yang ingin ia katakan.
“Sudah ayu masuk.” Vivi mengamit lengan Yesica satunya lagi membuat mau tak mau ia harus melepaskan Luna.
__ADS_1
“Lun, aku ke sana dulu yah, bye. Semangat yah, Lun,” seru Yesica memberi Luna semangat sambil berjalan.
“Kau juga yah, Yes, semangat,” balas Luna yang dijawab acungan jempol oleh Yesica.
“Kamu tuh terlalu lembut sama dia tahu gak, Beb. Aku ajah males ketemu sama dia. Kalo ketemu dia keinget terus bagaimana egoisnya dia, kamu saja yang sabar ngadepin dia,” gerutu Vivi, ia memang sudah tak menyukai Luna semenjak perihal Luna yang selalu membawa Riyan kala mereka berkumpul, bahkan acara nongkrong mereka harus batal karena Luna ternyata mengajak Riyan untuk bergabung.
“Aku juga sebenarnya kesal jika mengingat kejadian itu, tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Luna pernah membantuku memberikan pekerjaan paruh waktu padaku untuk menambah uang jajan. Aku tak bisa marah begitu saja hanya karena masalah Kak Riyan. Aku tahu, dia melakukan itu sebenarnya hanya ingin menarik perhatian Kak Riyan karena dia menyukainya,” sahut Yesica yang ternyata sudah tahu kalau Luna menyukai Riyan.
Sambil menunggu giliran, mereka asyik mengobrol hingga giliran mereka untuk sidang. Yesica begitu deg-degan saat berada di dalam ruang sidang, ia sudah seperti pencuri yang sedang disidang karena suasana yang menegangkan.
“Bagaimana?” tanya Vivi kala Yesica keluar dari ruang sidang dengan raut wajah yang menegangkan.
“Baiklah, whatever.”
Sopir yang ditugaskan untuk menjemput Yesica pun sudah stay, Yesica dan Vivi menghampiri mobil tersebut karna mengenalnya.
__ADS_1
“Pulang bareng aku saja, biar nanti sopir suamiku yang mengatarmu,” ucap Yesica.
“Apa tak apa?” tanya Vivi, ia tak ingin dibilang teman yang mengambil keuntungan pada temannya sendiri.
“Tak apa, kan aku yang memintanya, bukan kamu. Ayu pulang,” sahutnya mengajak Vivi masuk ke dalam mobil.
“Pak, nanti tolong antar temanku sampai ke rumah lamaku yah. Ingat, harus diantar sampai rumah dengan selamat loh,” pinta Yesica kala keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Baik, Nona.”
Mobil melaju meninggalkan kampus sekitar pukul tiga sore, mobil tersebut menuju kantor terlebih dulu karena memang jaraknya yang lebih dekat dibanding jika menuju rumah lama milik Yesica yang kini ditempati oleh Vivi.
“Bye, Beb. Aku masuk dulu,” pamit Yesica kala ia sudah turun dari mobilnya yang berhenti tepat di depan kantor. Vivi membalas pamitan tersebutm dengan melambaikan tangannya.
Saat Yesica berjalan menuju lift, tiba-tiba saja seseorang menabrak dirinya yang sepertinya terlihat biasa saja padahal ia sengaja menabrak Yesica.
__ADS_1
“Aw!” pekik Yesica yang terduduk dilantai karena terjatuh.
“Aduh, maaf. Saya tak sengaja menabrak Nyonya muda Hanoraga, mari saja bantu,” orang tersebut mengulurkan tangannya seketika membuat Yesica enggan setelah melihat wajah si penabrak.