Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 59


__ADS_3

Di dalam kamar hotel presiden suit, pria matang dan gadis yang masih remaja sedang duduk berhadapan. Sang gadis sedang menunggu sang pria berbicara, sedangkan prianya menarik napasnya dalam menyiapkan hati dan emosinya agar tak terpancing saat gadis itu tak menganggapnya serius.


“Jadi, apa yang mau Anda bicarakan sama saya, Tuan Lucas?” tanya Vivi yang sudah jengah menunggu.


“Ayu kita menikah,” ucap Lucas mengulang kembali ucapannya yang sempat tak dianggap serius oleh gadis di hadapannya itu.


“Anda sedang tak dalam keadaan mabuk kan?” tanya Vivi kembali.


Lucas menarik napasnya berat. “Aku serius, Vi. Kenapa sih kamu menganggap aku bercanda mulu. Apa artinya selama ini aku menemanimu tidur? Lalu, apa artinya selama ini kau selalu merespons ciumanku?” tanya Lucas dengan bo*ohnya.


“Aku tak memintamu untuk menemaniku tidur dan menciumku. Kau sendiri yang setiap malam tak mau pulang dan memilih pulang bersamaku juga tidur denganku, bahkan menyosor sendiri tanpa kuminta,” sahutnya dengan ekspresi yang biasa saja, Vivi sebenarnya juga memiliki perasaan pada Bosnya itu. Namun, karena melihat Angela yang masih terus saja menempel pada Lucas seakan ingin memilikinya, ia memilih untuk tak memperlihatkan perasaannya itu.


“Vivi,” geram Lucas menangkup wajah gadis kecil itu.


“Apa? Apa aku salah bicara?” sahut Vivi balik bertanya.


“Kamu tuh bisa serius gak sih? Kamu tuh cinta gak sih sama aku? Jika tidak, sungguh kejam sekali hatimu membuatku seperti ini,” ucap Lucas bertanya, ia lelah dengan tingkah Vivi yang tak pernah merespons perasaannya itu, ia hampir menyerah untuk mendapatkan hatinya tapi ia tak bisa membiarkan orang lain memilikinya.


“Sekarang aku tanya pada Anda, apakah Anda benar-benar mencintaiku? Apakah cinta itu tulus dan bukan karena rasa penasaran Anda semata?” tanya Vivi ingin kepastian.


“Aku cinta sama kamu, Vi. Cinta dari saat pertama kamu melamar pekerjaan di Malam Langit. Aku sengaja tak menempatkanmu untuk menjadi pelayan tapi memintamu untuk belajar menjadi bartender dengan Steven karena aku tak ingin kau melayani dan menemani pria hidung belang. Jika aku tak cinta, aku tak akan mengajakmu menikah,” sahut Lucas jujur yang memang sebenarnya memang mencintai Vivi.

__ADS_1


“Kalau kamu cinta sama aku, jika aku meminta sesuatu padamu, apakah kamu akan mengabulkannya meski itu terdengar aku ingin menang sendiri?” tanya Vivi, ia sungguh sangat berharap kalau Lucas bisa mengabulkan permintaannya.


“Apa? Aku akan mengabulkan apa pun permintaan kamu meski itu hal yang tak mungkin sekalipun. Demi kamu bahagia, apa pun akan aku lakukan asal kau percaya kalau aku memang mencintaimu dan serius ingin menikahimu,” tanya Lucas, ia mencoba meyakinkan Vivi agar gadis itu percaya pada cintanya.


“Aku ingin kau memecat Angela esok. Bagaimana? Apakah kamu bisa melakukannya?” ucap Vivi memberitahu apa yang ingin dimintanya, Lucas terdiam sejenak. Ia bukan sedang mempertimbangkan permintaan Vivi, tapi ia sedang mencerna permintaannya itu, sejenak ia tersenyum tipis.


“Kenapa? Gak rela memecatnya karena dia memang lebih cantik dan seksi kan? Sudah kuduga.” Vivi berasumsi sendiri seketika membuat Lucas tertawa terbahak-bahak karena gemas dengan ekspresi Vivi yang menurutnya menggemaskan.


“Kamu cemburu padanya? Hahaha, baiklah, esok aku akan memecatnya di depanmu dan mengumumkan pada seluruh karyawan Malam Langit kalau kamu calon istriku. Apakah kau sudah percaya dan menerima cintaku ini? Apakah sekarang kau bersedia menerima ajakan nikahku ini?” tanya Lucas masih berharap jawaban yang ia inginkan.


“Dih, ada pria ngajak wanitanya nikah seperti kamu ini caranya? Gak romantis,” cebik Vivi, ia sebenarnya ingin menjawab iya tapi masih gengsi dan menyembunyikan senyumnya setipis mungkin.


“Haha, baiklah, esok aku akan melamarmu dengan sedikit romantis. Cincin seperti apa yang kau inginkan? Apakah yang berliannya besar?” goda Lucas.


Lucas menarik tengkuk leher Vivi dengan pelan dan memagut bibirnya lembut. Ia tak berani berbuat lebih karena tak ingin merusak malam pertamanya nanti.


“Aku ngantuk, mau tidur. Vivi beranjak berjalan menuju tempat tidur setelah pautan mereka selesai, Lucas mengikutinya dari belakang. Ia memeluk tubuh Vivi yang sudah terbaring, keduanya terlelap dengan senyum merekah di wajah bahagianya.


*


Pagi hari, Devno sudah bangun dan sudah terlihat tampan. Yesica yang baru membuka matanya langsung bangun dari pembaringannya karena melihat suaminya yang sudah rapi.

__ADS_1


Devano berjalan menghampiri istrinya dan mencium pucuk kepalanya. “Pagi! Kamu sudah bangun? Jika masih mengantuk, tidur saja lagi,” ucapnya.


“Bagaimana aku bisa tidur lagi saat suamiku akan berangkat kerja. akan kupesankan makanan untukmu sarapan,” sahutnya merasa tak enak.


“Makanan sudah siap, Sayang. Lagi pula aku tak ke kantor, ada pertemuan bisnis dengan klien di resto. Apakah tak apa aku meninggalkanmu sendiri di sini? Atau kamu mau ikut aku?” ucapnya memberitahu kalau ia tak akan pergi ke kantor.


“Apakah tak apa? Aku takut mengganggumu, lebih baik aku pulang saja untuk menyiapkan makan siang, bukankah kamu akan pulang saat makan siang nanti?” tanya Yesica, entah mengapa ia tiba-tiba saja seperti ingin ikut tapi takut mengganggu suaminya.


“Apanya yang mengganggu, pergilah mandi dan bersiap, aku akan menunggumu. Kita sarapan bersama dan kau bisa ikut denganku, dari pada nanti kamu kesepian sendiri dikamar,” titah Devano, sejenak wajah Yesica langsung berbinar senang karena suaminya membolehkannya ikut.


“Baiklah, aku mandi dulu sebentar, aku jnaji tak akan lama.” Yesica langsung menuju kamar mandi dengan begitu bersemangat, pagi ini tingkahnya tak seperti biasanya membuat Devano pun sebenarnya bingung. Gadis yang biasanya bersikap biasa saja, kini pagi ini terlihat begitu ceria kala Devano mengajaknya.


Lima belas menit lamanya Yesica membersihkan tubuhnya, akhirnya ia siap juga. Keduanya langsung menikmati sarapan paginya dengan begitu romantis. Devano memang selalu bisa membuat dirinya bahagia.


Selesai makan keduanya langsung meninggalkan kamar hotel untuk menemui klien Devano, ia sengaja sekalian cek out karena sepulang rapat akan langsung pulang ke rumahnya.


“Pagi, Tuan Vano,” sapa seorang pria paruh baya yang tak lain adalah kliennya.


“Pagi, Tuan Firman. Maaf membuat Anda menunggu lama,” sahut Devano yang langsung duduk di kursi.


“Tidak lama juga, saya juga baru datang. Apakah gadis cantik ini sekretaris baru Anda?” tanya klien Devano yang bernama Firman itu.

__ADS_1



Rilis tanggal 20 besok insyaallah yah kak dan aman untuk dibaca di bulan puasa🙏😊 semoga ada yang menantinya😁


__ADS_2