Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 54


__ADS_3

Di dalam mobil, Yesica menekan dadanya yang terasa sesak. Bayangan sewaktu ia diajak Riyan untuk menghadiri acara makan malam bersama dengan keluarga besar Riyan terlintas mengingatkan kembali akan kenangan yang menyayat hatinya itu.


FLAS BACK ON


Sore hari sepulang dari kuliahnya Riyan sudah menunggunya di depan kampus. Yesica yang suah biasa dijemput oleh Riyan pun langsung masuk ke dalam mobilnya.


“Malam ini izin tak perlu kerja yah, ikut aku menghadiri makan malam dengan keluargaku. Suami Tanteku ulang tahun dan aku malas jika harus menghadirinya sendiri. Apalagi ada anaknya Tante yang selalu nempel-nempel sama aku seperti permen karet,” pinta Riyan ketika mobil sudah melaju.


“Tapi apa tak apa? Kau tahu sendiri, aku bukanlah gadis dari keluarga yang terpandang, aku tak ingin kamu malu dengan membawaku menghadiri acara yang begitu penting,” tanya Yesica yang merasa tak enak jika ikut menghadiri acara keluarga terpandang.


“Kamu tenang saja, kan ada aku.” Riyan mencoba menenangkan gadis yang selama ini ia sukai.


“Baiklah, demi kamu.” Yesica akhirnya setuju dengan ajakan Riyan.


Riyan membawanya menuju butik untuk memilih gaun malam yang akan dikenakan oleh Yesica. Dengan enggan Yesica menuruti Riyan karena tak ingin berdebat. Ia memilih gaun yang paling sederhana, gaun berwarna perpaduan biru dongker dan juga putih dengan panjang sebawah lutut membuatnya cantik maksimal dengan dipadukan oleh sepatu flat berwarna biru dongker.


Setelah selesai dengan gaun dan sepatunya, Riyan membawanya menuju salon untuk dirias. Yesica meminta perias untuk merias wajahnya dengan natural, jangan sampai terlihat begitu tebal dan juga tua. Selesai sudah semua sesi make overnya, hingga membuat Riyan terpesona pada Yesica.


“Kamu terlihat cantik sekali, ayu kita berangkat, mereka pasti sudah menunggu kita.” Riyan mengulurkan lengannya dan Yesika menggandengnya dengan malu-malu, jantungnya berdegup kencang karena Yesica menyukai pria itu.


Yesica dan Riyan pun pergi mengunjungi acara ulang taun suami dari Tantenya. Sekitar lima belas menit mereka tiba, Yesica merasa gugup karena ia takut keluarga Riyan tak menerimanya.


“Ayu turun.” Riyan mengulurkan tangannya dan Yesica menggapainya, ia turun perlahan. Mereka masuk ke dalam rumah mewah tersebut, kaki Yesica terasa lemas saat melangkah masuk.


“Om, selamat ulang tahun yah.” Riyan menyalami Omnya itu dengan sopan.


“Terima kasih yah, Yan.”

__ADS_1


“Malam, Tante,” sapa Riyan, mata Tante Riyan terus saja menatap pada Yesica membuat Yesica merasa tak nyaman.


“Malam, Sayang.” Tante memeluk Riyan.


“Siapa gadis yang kau bawa ini, Yan?” tanya seorang wanita dengan penampilan begitu glamor membuat Yesica semakin merasa minder.


“Mah, dia kekasihku, namanya Yesica,” sahut Riyan pada wanita yang ternyata Mamahnya.


“Dari keluarga mana dan pekerjaan orang tuanya apa?” sang Mamah dengan tanpa basa-basinya bertanya tentang keluarga Yesica.


Yesica hanya bisa tertunduk diam, Riyan juga bingung mau mengatakan bagaimana pada sang Mamah.


“Oh iya, Sofia sudah nanyain kamu terus sedari tadi loh. Ayu ikut Tante untuk menemuinya, dia pasti sedang merajuk dikamarnya.” Tante mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba saja memanas itu.


“Tak perlu, Tan. Suruh saja Sofia turun untuk menemuiku jika ia ingin bertemu. Aku sengaja datang membawa kekasihku untuk membuat Sofia berhenti mengejarku. Aku juga tak setuju jika bertunangan dengannya hanya karena dia menyukaiku dan juga . Aku sudah mencinta wanita lain, yaitu Yesica.” Riyan dengan tegas menolak menemui putri Tantenya yang bernama Sofia itu.


“Siapa yang meminta persetujuanmu? Kau tak bisa memilih, jika kamu masih ingin menjadi bagian dari keluarga ini maka kamu harus menuruti apa yang keluarga sudah tetapkan. Kecuali jika gadis yang kau bawa itu keluarganya memiliki status yang lebih tinggi dari kita maka kau boleh memilihnya. Tapi jika dia hanya seorang gem*el saja maka hempaskan dia dan buang pada tempatnya,” dengan begitu arogannya sang Mamah berbicara membuat jantung Yesica semakin sesak.


“MAH!” pekik Riyan, tapi saat Riyan akan melanjutkan ucapannya Yesica mencegahnya.


“Maaf, Tante. Saya memang bukan dari keluarga yang terpandang yang memiliki status seperti keluarga Tante ini. Saya hanya anak yatim piatu yang berjuang sendiri untuk membiayai kuliah dan hidup saya. Saya sudah mengerti, tanpa Tante berbicara kasar seperti itu saya akan meninggalkan putra Tante karena saya menyadari posisi saya. Saya permisi dulu, Kak Riyan aku pamit.” Yesica pergi setelah berucap demikian.


“Gadis yang tahu diri,” gumam sang Mamah.


“Yes, jangan pergi. Aku tak bisa tanpamu, aku mohon jangan tinggalkan aku, kita berjuang melewati ini bersama oke.” Riyan mencegah Yesica untuk pergi dengan meraih tangan Yesica.


Yesica melepaskan genggaman Riyan pada tangannya. “Maaf, Kak. Jika masalah harta dan takhta, aku tak sanggup untuk berjuang. Aku sadar siapa aku dan apa posisiku.” Yesica kali ini benar-benar pergi, Riyan yang hendak mengejarnya dihadang oleh sang mamah.

__ADS_1


“Aaarrgggg.”


*


Yesica pergi dengan hati yang terluka, air matanya terus mengalir dari mata indahnya. Ia menghadang taksi yang lewat di depannya dan langsung masuk ke dalam taksi tersebut.


“Pak, jalan X yah,” ucapnya memberitahu alamat rumahnya tinggal.


“Putus cinta, Neng? Sabar yah, Neng. Pria memang seperti itu, jika sudah menemukan yang baru pasti lupa sama yang lama, alasannya pasti sudah tak ada kecocokan lagi padahal dia sedang menargetkan wanita lain,” celetuk si Bapak sopir taksi.


“Bapak sok tau deh, aku hanya sedang bertengkar dengan teman saja kok Pak. Maklumlah Pak, gadis miskin seperti saya ini siapa sih yang mau bergaul dengan saya ya kan.” Yesica malah curhat pada si Bapak sopir taksi.


“Oalah, teman seperti itu mending jauhi, Neng. Cari teman yang tak memandang rendah kita yang tak punya, Neng. Dari pada maka hati setiap hari memiliki teman seperti itu, mending fokus dengan kerja dab mengumpuli uang yang banyak. Seperti kata orang-orang, banyak uang teman pasti mendekat, tak banyak uang jangankan teman, lalat saja malas hinggap pada kita,” tutur sang Bapak sopir taksi.


“Benar itu, Pak. Daripada berteman dengan mereka yang memandang kita rendah, lebih baik tak memiliki teman.” Yesica membenarkan ucapan sang Bapak, tak terasa karena mereka saling mengobrol ternyata sudah sampai di depan rumah Yesica.


“Terima kasih yah, Pak sudah mau mendengarkan curhatan saya. Ini ongkosnya, kembalinya ambil saja untuk bapak beli es.” Yesica memberikan uang berwarna biru padahal harusnya ia memberikan uang berwarna hijau.


“Terima kasih, Neng. Semoga rezeki Neng cantik selalu mengalir sederas air terjun kelak,” doa sang sopir taksi.


“Amiin.”


FLASH BACK OFF


**********


Maaf kemarin tak update yah karena aku sakit, di sini dan F i z z o pun tak update🤧 ini kusempatkan update untuk kalian. Jangan lupa like dan komennya yah siapa tahu saja besok sembuh dan bisa update lagi🙏🤒🤕

__ADS_1


__ADS_2