
Malam menjelang, sekitar jam tujuh Yesica membuka matanya karena merasakan perutnya yang keroncongan karena sang penghuni rusun sedang demo meminta diisi. Ia melihat ke arah samping ternyata suaminya sedang terlelap, sejenak Yesica tersenyum simpul. Kemudian ia bangun dan berniat untuk membersihkan dirinya lalu membuat makan malam rencananya dalam pikirannya.
Di dalam kamar mandi, di bawah kucuran air yang mengalir deras, Yesica mengulang kembali jalan hidupnya yang begitu menyedihkan. Dari Ibunya yang meninggal dan Papahnya menikah lagi dengan Firda yang awalnya bersikap manis tapi menunjukkan sikap aslinya saat sang Papah meninggal dunia, saat itu hidup Yesica begitu terpuruk dan hancur sehancur-hancurnya. Ia terpaksa harus bekerja di saat teman lainnya masih bermain dan nongkrong dengan teman-temannya, ia harus banting tulang untuk membiayai kehidupan Ibu dan Kakak tirinya juga membiayai sekolahnya yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas.
Namun, saat ini ia bersyukur karena Kakak tirinya, Feri menjualnya pada Surya untuk menebus hutangnya, dari kejadian itu ia bisa merasakan sedikit ketenangan dan kebebasan yang ia rasakan saat ini. Sekelebat bayangan pria yang pernah mengisi hatinya pun muncul, tapi bukan rasa rindu yang ia rasakan melainkan rasa yang tak ingin ia ingat. Perasaan saat ia bertemu dengan Mamah dari Riyan yang memandangnya dengan tatapan tak suka membuat hatinya terenyuh, tapi perasaan itu sirna kala mengingat bagaimana Aberlie dan keluarga besar Devano yang sangat disegani oleh semua orang dari kalangan menengah atas hingga kaum sosialita tinggi, sangat menyayangi dan menerima dirinya.
“Terima kasih, Kak Feri. Berkat kau yang ingin menjualku untuk melunasi hutangmu, kini kehidupanku menjadi lebih baik. Dan maaf, Kak Riyan. Aku tak akan mengecewakan suamiku untuk bersama denganmu. Seandainya waktu itu kau yang melihatku, mungkin kau tak akan melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh suamiku karena kau terlalu pengecut untuk memilihku dari pada kedudukanmu di dalam keluargamu,” gumamnya, air matanya mengalir bersamaan dengan derasnya air yang jatuh membasahi tubuhnya.
Devano yang sebenarnya sudah bangun sedari Yesica belum bangun hanya bisa menunggu istri kecilnya di atas tempat tidurnya dengan pemikirannya sendiri. Ia tahu kalau istri kecilnya itu sedang menumpahkan rasa sakitnya di dalam kamar mandi, sebab tak biasanya Yesica mandi begitu lama dan dalam keadaan shower yang terus menyala.
“Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang, aku akan menunggumu selama waktu yang kau perlukan, tak peduli berapa banyak waktu yang kau butuhkan untuk menerimaku, aku akan menunggunya, tak akan ada kata lelah untuk menunggumu menerimaku sepenuhnya,” gumam Devano.
Yesica keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah tanpa dibungkusnya dengan handuk, Devano yang melihat hal itu langsung menghampirinya dan mengambil handuk kering untuk mengeringkan rambut istri kecilnya.
__ADS_1
“Kau akan masuk angin jika rambutmu tak segera dikeringkan.” Devano menuntun Yesica untuk duduk di kursi depan meja rias. Ia mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Yesica perlahan hingga kering.
“Maaf, sudah merepotkan Anda,” ucapnya dengan suara lirih. Devano mengerti apa yang dilalui istri kecilnya hari ini, ia bangga karena istri kecilnya berusaha untuk tidak membuatnya kecewa. Jika saja Yesica jadi memilih pergi ke Cafe dan mengizinkan Luna mengajak Riyan, mungkin saja saat ini keduanya sedang bertengkar atau Devano akan berpikiran buruk pada Yesica.
“Apa yang kau katakan? Siapa yang kau repotkan? Apakah kau menganggapku orang lain hanya karena kau tidak mencintaiku?” banyak pertanyaan yang sengaja dilontarkan oleh Devano agar Yesica tak larut dalam pemikirannya.
Yesica memegang tangan Devano yang sedang mengeringkan rambutnya dan berbalik menatap wajah suaminya. “Aku akan berusaha membuka hatiku untukmu. Sejujurnya saat ini aku merasa nyaman berada di dekat Anda, mungkin saja lama kelamaan rasa nyaman itu akan berubah menjadi rasa cinta dengan seiring berjalannya waktu kita terus bersama. Aku harap Anda akan sabar menunggu hari itu tiba dan tidak merasa bosan. Namun, jika saat menunggu Anda merasa bosan, Anda bisa katakan padaku dan aku siap untuk membiarkan Anda memilih wanita yang lebih baik dariku,” ucapnya dengan tatapan tanpa kedip, Yesica dalam mode serius.
Devano tak menjawabnya, ia meletakkan hair dryer itu di meja setelah mematikannya lalu menggendong tubuh istrinya yang masih mengenakan jubah mani membawanya ke atas tempat tidur dan meletakkannya perlahan. Bibirnya memagut bibir ranum istri kecilnya dengan lembut, ciuman itu perlahan turun hingga leher jenjang putih mulus milik Yesica. Tak berhenti di situ, Devano mulai turun hingga pundak dan menurunkan jubah mandinya yang menutupi pundak juga tubuh bagian atas Yesica yang putih mulus, ia meninggalkan tanda kepemilikan didada putih itu hingga terpampang jelas sekali.
Ciuman itu berlanjut setelah Devano mengatakan hal itu, air mata haru mengalir dari pelupuk mata Yesica, ia begitu bahagianya mendengar pernyataan pria yang kini menjadi suaminya.
Kruuukk...
__ADS_1
Terdengar suara dari perut Yesica yang bunyi karena lapar membuat adegan tersebut menjadi canggung.
Krik... krik... krik...
Dikata jangkrik😳
Devano tersenyum geli melihat wajah Yesica yang merona karena malu, ia bangkit dan membantu istri kecilnya merapikan penampilannya yang berantakan.
“Pakailah bajumu, aku akan membawamu makan malam di luar.” Devano bangkit berjalan menuju keluar rumah setelah meraih kunci mobil, dompet dan ponselnya. Yesica mematut dirinya di depan cermin, ia melihat tanda yang menghiasi dadanya terlihat begitu jelas, Yesica tersenyum sambil mengusap tanda itu.
“Aku akan berusaha membuka hatiku untuk suamiku,” gumamnya. Yesica bergegas mengenakan pakaiannya agar Devano tak menunggu terlalu lama dirinya di bawah, Yesica mengenakan dresh simple sederhana dan memoles wajahnya dengan make up yang natural, terlihat begitu cantik dan polos.
“Seperti akan kencan saja, hehe,” gumamnya geli sendiri dengan perkataannya, ia kemudian bergegas keluar dari kamar dan menghampiri Devano yang sudah menunggu di depan rumah sedang bersandar di body mobil. Sejenak Yesica terpana akan pesona suami tampannya yang baru ia sadari itu.
__ADS_1
“Ternyata suamiku tampan juga,” gumamnya lirih. Emang dari kemarin ke mana saja🤧