
Suatu pagi, kala Yesica baru saja selesai mandi, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit yang lama kelamaan menjadi semakin sakit. Pekikan kesakitannya membuat Devano yang sedang mandi segera menyudahinya karena khawatir akan keadaan istri kecilnya yang memekik kesakitan.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Devano yang panik menghampiri Yesica yang sedang bersandar lada lemari pakaian, Yesica terus saja memegang perut bagian bawahnya karna terasa begitu nyeri yang tak tertahan, peluhnya sudah membasahi wajahnya padahal kamarnya terasa dingin karena AC dikamarnya menyala.
“Aku tak tahu, Mas. Perutku rasanya sakit, sepertinya dia akan segera lahir,” sahut Yesica dengan suara yang terbata karena menahan rasa nyeri. Devano yang masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya langsung menggendong tubuh berisi istrinya itu menuju tempat tidur, ia belum sempat mandi dan baru saja selesai menyikat gigi saat mendengar istrinya memekik.
“Kamu tunggu aku di sini, aku pakai bajuku dulu. Bisakah tahan sebentar saja sambil menungguku memakai baju?” titah Devano bertanya, Yesica yang sedang merasakan nyeri yang luar biasa hanya menganggukkan kepalanya.
Devano segera bergegas menuju wak in closet seraya menghubungi Kris, ponselnya yang sudah dipasang pengeras suara ia letakkan di meja sementara ia mengenakan pakaian.
“Iya, Tuan, saya baru akan berangkat menuju kediaman Anda. Apakah ada yang Anda atau Nyonya muda inginkan? Nanti biar sekalian saya carikan,” tanya Kris yang mengatakan jika dirinya akan segera berangkat.
“Krisz kau tak perlu membawa apa pun, segeralah datang karena istriku sepertinya akan melahirnya. Jangan pakai lama, sepuluh menit kau sudah harus tiba di sini,” titah Devano dan ia langsung mematikan panggilnya secara sepihak lalu melanjutkan mengenakan pakaiannya, Devano memakai apa saja yang terlihat mata yang penting cocok pada dirinya.
“Sayang, apakah masih sakit? Aku akan membawamu segera ke rumah sakit.” Devano yang sudah mengenakan pakaiannya langsung menggendong tubuh istrinya untuk menuju garasi mobil, beruntung kamarnya sudah pindah dilantai bawah semenjak Yesica hamil, karena ia tak ingin mengambil risiko, jadi begitu ia mengetahui istrinya hamil ia langsung menyuruh Kris menyiapkan kamar untuknya dilantai bawah.
Digarasi sudah ada Kris yang siap untuk mengantarnya menuju rumah sakit, Devano langsung membawa Yesica masuk ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan kediaman dan menuju rumah sakit. Sebelumnya Kris sudah menghubungi Sandra untuk menunggunya di depan rumah sakit dengan kursi roda.
__ADS_1
Sampainya, Yesica langsung didudukkan di kursi roda oleh Devano, ia mendorong sendiri kursi tersebut untuk menuju ruang di mana nantinya Yesica akan melahirkan buah cintanya.
“Van, Tante minta kamu tunggu di luar yah, doakan agar persalinan istrimu berjalan dengan lancar dan Ibu juga anaknya selamat seta sehat,” ucap Sandra yang tak mengizinkan Devano untuk masuk, ia tak ingin terjadi histeris pada pria dingin itu dan menghambat jalanya persalinan. Biasanya suami akan lebih panik kala menyaksikan istrinya melahirkan dan itu sangat mengganggu jalannya proses persalinan.
“Tapi, Tan-“
“Van, apa yang dikatakan oleh Tante Sandra benar, lebih baik kamu menunggu sambil berdoa untuk jalannya persalinan istrimu. Ada saya dan Kris yang menemanimu di sini, saya juga sudah menghubungi Mamah dan Daddymu, mereka pasti akan segera datang.” Agam mencoba memberi pengertian pada Devano agar tak menghambat jalannya persalinan istrinya.
“Baiklah,” akhirnya Devano mengalah karena demi istri dan calon buah hatinya.
“Mah, apakah istriku akan baik-baik saja? Apakah ia tak membutuhkan aku?” Devano yang cemas da khawatir terus saja bertanya pada sang mamah, ia tak hentinya berjalan ke sana dan kemari seperti setrika yang tak kunjung panas.
“Kamu yang sabar, Sayang. Istrimu pasti baik-baik saja, Mamah juga pernah merasakannya jadi Mamah yakin kalau Yesica akan baik-baik saja ditangani oleh Sandra karena ia adalah ahlinya. Kamu berdoa saja agar mereka diberi kemudahan dan keselamatan.” Aberlie mencoba menenangkan putranya agar tak terlalu panik.
‘Apakah aku yang kotor ini pantas untuk memanjatkan doa padanya untuk meminta keselamatan akan istri dan calon buah hatiku?’ Devano bertanya-tanya dalam hatinya, perasaannya gundah karena ia bukanlah pria yang selalu berdoa, bisa dibilang ia tak pernah melakukan doa.
‘Ya Tuhan, aku memang bukanlah umatmu yang selalu meminta padamu, tapi kali ini aku mohon selamatkan istri dan calon buah hatiku. Jangan kau ambil mereka dariku karena aku tak akan sanggup kehilangan mereka, Amiin.’ Doa Devano pada sang maha penciptanya.
__ADS_1
‘Pasal diterima atau tidaknya doaku, yang terpenting aku sudah memintanya dengan tulus dari dalam hatiku, aku berharap Tuhanku akan mengabulkan doaku,’ sambungnya penuh harap.
Tak lama terdengarlah suara tangisan bayi yang begitu menggema membuat Devano berbinar, seketika air matanya luruh karena saking bahagianya.
“Mah, dia anakku, Mah, dia anakku,” seru Devano dengan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.
“Iya, Sayang, Mamah juga dengar, tangisnya begitu kencang menandakan dia sangat sehat,” sahut Aberlie yang ikut merasakan kebahagiaan putranya, Bram, Davina, Kris dan Agam yang menyaksikan momen haru kebahagiaan Devano ikut merasa bahagia.
***
Beberapa jam berlalu, Yesica sudah dipindahkan ke ruangan khusus yang hanya dipersiapkan untuk keluarga Hanoraga di rumah sakit milik Agam tersebut bersama dengan buah hatinya. Devano tak hentinya menatap buah hatinya yang tengah terlelap di box bayi samping tempat tidur Yesica.
“Mau diberi nama siapa, Mas?” tanya Yesica.
“Robin Anastasya Hanoraga.”
********** TAMAT **********
__ADS_1