Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 45


__ADS_3

Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah milik Devano yang ternyata Kris. Seorang wanita cantik dan seksi yang ternyata Chelsea keluar dari dalam mobil tersebut dan menghampiri Devano. Ia melingkarkan tangannya di leher Devano sambil terus mengembangkan senyumnya.


“Mau apa kamu datang ke sini? Aku tak memesan gaun atau pakaian apa pun padamu?” tanya Devano dengan raut wajah yang tetap datar tanpa ekspresi.


“Aku-”


Belum juga Chelsea menjawab ucapan Devano, Kris sudah menarik lembut tangan yang melingkar di lehernya.


“Jika kau tak bisa diam, aku akan mengikatmu,” ucapnya datar, tapi bukannya takut Chelsea malah memanyunkan bibirnya. “Apakah bibir itu ingin kucip*k?” sambungnya tanpa saringan, tentu saja hal itu membuat Devano dan Yesica terkejut.


Chelsea bukannya takut dan menutupi bibirnya, ia malah mengalungkan tangannya pada leher prianya itu. “Jika kau tak malu dilihat oleh mereka, maka lakukanlah,” tantang Chelsea, ia ingin tahu apakah pria yang mengklaim dirinya sebagai wanitanya itu adalah pria yang pengecut atau pria pemberani yang tak takut apa pun.


“Apa kau sedang menantangku?” tatapnya dengan tajam.


“Anggap saja seperti itu,” sahut Chelsea dengan seringai menggodanya.


“Kau akan menyesal karena telah menantang, Tuan, Nona, maafkan saya.” Kris memagut bibir Chelsea tepat di depan Devano dan Yesica, tentu saja hal itu membuat terkejut ketiga manusia itu termasuk Chelsea sendiri. Devano menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pelukannya agar tak melihat acara live 18+ tersebut.


“Apakah puas?” tanya Kris setelah melepaskan pagutannya.


“Meski tak puas, tapi harus mengatakan puas juga karena tak bisa dilanjut saat ini juga,” gumamnya lirih tapi masih bisa didengar oleh yang lainnya. “Okelah puas, ayu kita on the way.” Chelsea merangkul lengan Kris dengan penuh semangat.


“Hei, kalian benar-benar tak menganggapku yah, kalian anggap aku ini apa main bermain bibir di depanku dan istriku saja. Sudah siang, ayu segera berangkat.” Devano menggerutu sambil berjalan masuk ke dalam mobil menggandeng sang istri. Yesica hanya bisa mengikuti saja karena ia bingung harus bereaksi apa.


Chelsea ikut masuk dan duduk di samping kursi kemudi dengan begitu percaya dirinya.

__ADS_1


“Pakai blazermu atau aku akan membungkusmu menggunakan kain,” titah Kris seketika langsung dituruti oleh wanita cantik itu meski dengan memanyunkan bibirnya.


Mobil melaju meninggalkan rumah menuju bandara.


“Sejak kapan kalian bersama dan sejak kapan pula kucing liar ini menjadi kucing yang penurut padamu, Kris?” tanya Devano setelah beberapa menit terasa hening.


“Sejak beberapa hari lalu, Tuan. Dia harus mau menurut pada saya atau saya akan mengikatnya di rumah agar tak dapat berlari terus,” sahut Kris apa adanya tanpa ada yang ditutupinya dari Bos besarnya.


“Apakah obsesinya pada Lucas telah sirna, kok bisa dia jadi takluk padamu? Apa yang kau lakukan padanya?” Devano masih menyelidiki apa yang terjadi, ia sudah seperti wartawan majalah saja yang penasaran pada kisah percintaan anak buahnya. Yah, Kris dan Chelsea adalah anak buah Devano di dunia hitam sedangkan Lucas adalah kepercayaannya.


“Saya membuatnya menjadi milik saya, Tuan. Dia tak akan bisa dan tak akan memiliki kesempatan lagi untuk terobsesi pada Tuan Lucas,” sambungnya, Chelsea yang mendengarkan hanya diam sambil bergelayut manja di lengan Kris padahal pria dingin bagai bongkahan es itu sedang sibuk menyetir, tapi entah bagaimana ia mampu mengimbanginya dan tak merasa terganggu oleh tingkah wanitanya itu. Yesica sempat terkejut kala suaminya mengatakan jika Chelsea ternyata terobsesi pada Lucas, mantan bosnya, tapi ia tak berkomentar apa pun, cukup menjadi pendengar yang baik saja.


Sekitar dua puluh menit mobil sudah sampai di bandara kota J, Devano dan Yesica turun terlebih dulu diikuti oleh Kris dan Chelsea di belakangnya. Semua barang bawaannya dibawa oleh anak buah Devano yang sudah menunggunya sedari tadi.


“Kamu istirahat saja di sini, aku dan Kris ada rapat sebentar. Sebelum jam makan malam aku sudah kembali. Makanan sudah disediakan jadi kamu tak perlu takut kelaparan,” titah Devano setelah ia istirahat beberapa menit. Jam tiga ia ada rapat penting dengan penyelenggara pameran perhiasan yang menggunakan perhiasan dari perusahaannya.


“Hm, kamu tak perlu khawatir, aku juga lelah jadi aku akan istirahat saja dikamar, tak perlu mencemaskanku,” sahutnya dengan senyum manisnya, Yesica tak ingin suaminya itu khawatir meninggalkannya sendiri.


Tok... tok... tok...


“Spada ... hallo ... yuhu ... apakah ada orang dikamar ini? Atau kalian lagi bermain kucing-kucingan?” pekik suara dari luar membuat Devano menghela napasnya, Yesica tampak terkekek.


Devano berjalan menuju pintu dan membukanya.


“Ada apa?” tanya Devano dingin.

__ADS_1


Chelsea masuk sebelum Devano memintanya masuk, ia memang seperti itu sejak dulu. “Cih, kalian itu para pria sok tampan, mengapa selalu memasang wajah dingin seperti itu sih, tak bisakah memasang wajah manis jika berbicara pada wanita cantik,” gerutu Chelsea yang sudah duduk di samping Yesica.


“Kamu mau apa ke sini? Apakah kamu diusir oleh priamu itu?” tanya Devano yang mengubah nada bicaranya.


“Huh, dia memintaku menemani Nyonyanya ini karena kalian para pria akan rapat, dia takut kalau Nyonyanya itu akan kesepian,” sahut Chelsea apa adanya.


“Bagus deh kalau dia memiliki pikiran seperti itu. Temani istriku istirahat, anggap saja kau pengawalnya, jika terjadi sesuatu padanya kau tahu yang akan kau dapatkan,” ucap Devano membuat Yesica bergidik, tapi tidak bagi Chelsea. Dia sudah biasa dengan sikap Devano yang kejam.


“Yah, kau bisa percayakan Ratumu ini padaku. Jika aku membuatnya terluka bukan Cuma kamu saja yang akan marah, tapi si gunung es itu juga pasti akan memberiku hukuman meski aku wanitanya. Kau tahu sendiri jika kau nomor satu dalam hidupnya dan wanita dinomor duakan. Sudah sana pergi, aku juga mau istirahat,” ucapnya dengan wajah yang biasa saja, tak ada ekspresi yang terlihat takut dalam wajah Chelsea.


Devano mencium bibir Yesica sekilas membuat isri kecilnya itu merona karena di depan Chelsea.


“Aku pergi dulu, jika butuh apa-apa minta saja pada Chelsea, jangan sungkan dan merasa tak enak oke,” pamitnya.


“Hm, kamu hati-hati,” sahutnya dan Devano pun pergi.


“Kamu hebat yah bisa menaklukkan si gunung es yang tak tersentuh oleh wanita itu. Kamu tahu tidak? Wanita yang pernah berinteraksi secara intim dengannya hanya aku saja. Wanita lain jangankan memeluk seperti yang kulakukan padanya, menyenggol kulitnya pun belum pernah sama sekali, itulah mengapa dia dikatakan pria sejuta umat wanita tapi tak tersentuh,” pujinya pada Yesica dan mengatakan fakta yang belum pernah diketahui oleh Yesica sebelumnya.


Yesica tersenyum simpul. “Aku tak hebat, aku hanya beruntung saja bisa dicintai olehnya. Entah perbuatan baik apa yang pernah kulakukan hingga memberiku suami yang begitu hebat dan penyayang sepertinya,” ungkap Yesica membayangkan apa yang pernah dilakukan oleh suaminya itu, meski terbilang masih singkat, tapi apa yang dilakukan Devano untuknya selalu tersimpan dengan baik dalam hati Yesica.


Mereka mengobrol bersama sampai tak terasa ternyata keduanya sudah terlelap entah sejak kapan.


*****


Nanti malam aku update 1bab lagi yah🙏😊

__ADS_1


__ADS_2