
Resepsi berjalan dengan lancar dan begitu meriah juga mewah, banyak tamu undangan yang datang dari berbagai kalangan menengah ke atas. Keesokan harinya berita utama seluruh media menayangkan pernikahan megah pengusaha muda tersukses dengan gadis biasa. Sontak hal itu membuat Linda sangat marah, ia begitu marahnya dengan pemberitaan tersebut yang mengatakan betapa serasinya Tuan muda Hanoraga dan istrinya meski berbeda usia yang terbilang cukup jauh.
“Argh... Kenapa gadis itu beruntung sekali nasibnya, aku yang sedari dulu berada dekat dengannya tak pernah bisa mendekatinya, bahkan banyak wanita yang tak dihiraukan oleh Tuan Vano dan tak seberuntung dirinya. Apa yang ia gunakan hingga membuat Tuan Vano begitu mencintainya. Jika dengan permainan ranjang, toh aku juga bisa. Jika masalah keperaw*nan, toh aku juga masih peraw*n. Jika cantik, aku lebih cantik, lebih menawan dan lebih seksi darinya (itu menurut elu yah, Linda🙄). Lalu, apa yang Tuan Vano lihat darinya, dia tak sebanding denganku, dia bahkan masih kecil dan juga asal usulnya tak jelas,” teriak Linda yang tengah marah di dalam kamarnya, ia menumpahkan seluruh kekesalannya di kediamannya hingga membuat seluruh apartemennya bagaikan kapal pecah.
“Aku harus mendapatkan Tuan Vano bagaimanapun caranya, dia mungkin sudah menikah, tapi aku tak keberatan untuk menjadi yang kedua. Yah, yang kedua, biasanya yang kedua akan lebih disayang dibanding yang pertama. Aku akan membuatnya begitu menyayangiku dan perlahan melupakan gadis bau kencur itu. Dia harus tahu di mana posisinya jika ingin melawan dan berebut pria denganku (posisi dia jauh lebih tinggi lagi dibanding elu😏). Aku pasti akan mendapatkannya, kupastikan itu dan kau akan menyesal telah berurusan denganku,” ucapnya lagi kemudian, Linda menyeringai membayangkan kemenangan yang begitu manis berpihak padanya.
*
Jika di apartemen Linda sedang marah-marah karena pernikahan Devano dan Yesica, berbeda lagi di kediaman Devano. Devano dan Yesica sedang menikmati hari indahnya setelah pernikahan, Devano sedang menemani istri kecilnya itu memasak, sebenarnya lebih tepatnya Devano selalu menempel pada Yesica karena ia tak membiarkan istri kecilnya itu jauh darinya meski hanya satu centi saja. Yesica sengaja tak memesan makanan, ia ingin selama di rumah memanjakan suaminya dengan masakan yang ia buat sendiri seperti mendiang Mamahnya yang dulu selalu memasakan makanan untuk mendiang Papahnya meski Mamahnya sedang sakit sekalipun.
__ADS_1
“Mas, aku selesaikan masaknya dulu agar kita bisa makan siang tepat waktu. Bukankah kamu sudah lapar? Duduk manislah di kursi,” ucap Yesica pada Devano yang selalu memeluk dirinya dari belakang meski ia sedang sibuk, sudah seperti anak kecil saja yang selalu ingin digendong oleh Ibunya.
“Baiklah, aku akan duduk manis menunggu istriku yang cantik ini selesai masak,” akhirnya Devano menuruti perkataan istri kecilnya itu, memang hanya Yesica saja yang ia turuti ucapannya saking begitu cintanya Devano pada istri kecilnya itu.
Yesica melanjutkan memasaknya tanpa gangguan, Devano tak hentinya menatap pada istri kecilnya yang sedang sibuk.
“Andai itu wanita lain, mereka tak akan mau bersusah payah memasak makanan untukku. Mereka pasti akan memilih untuk makan di luar, di resto mewah yang mahal,” gumam Devano masih menatap istri kecil tercintanya.
Makanan selesai dimasak, Yesica menatanya dengan rapi di atas meja makan. Makanan yang sungguh sangat sederhana, tapi mampu membuat seorang Bos besar dari perusahaan ternama begitu ketagihan untuk selalu memakannya.
__ADS_1
“Sungguh sangat menggugah selera,” ucap Devano.
“Jangan terlalu memuji, hanya masakan rumahan biasa, tak bisa dibandingkan dengan masakan Vina,” sahut Yesica yang tak mau kalau suaminya terlalu memujinya, karena a tak ingin menjadi besar kepala nantinya.
“Memuji istri sendiri tak apa dong, daripada aku memuji wanita lain, apakah kamu akan rela?”
“Iya deh, terserah kamu saja, asal jangan macam-macam atau aku akan pergi.”
“Kau tahu benar bagaimana mengancam aku yah, Sayang. Aku memang tak bisa hidup tanpamu. Ah, kau membuatku gemas padamu.” Devano meraih tangan Yesica hingga terduduk di pangkuannya, Devano memagut bibir istri kecilnya itu dengan lembut.
__ADS_1
“Sudah, kita makan dulu, bukankah kau sudah lapar.” Yesica bangkit dari pangkuan Devano, pria itu mau tak mau melepaskan istrinya karena ia memang sudah sangat lapar.
Yesica melayani suaminya dengan begitu penuh cinta, dari mengambilkan makanan untuk Devano ia lakukan, hal itu ia perhatikan saat dulu berkunjung ke rumah mertuanya. Kala itu Aberlie, Ibu mertuanya dan Davina, Adik iparnya melayani suaminya di meja makan. Jari, Yesica berkesimpulan melayani suami buka hanya di atas ranjang saja, melainkan di meja juga ia berkewajiban melayaninya dengan penuh cinta.