Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 60


__ADS_3

Devano menatap istrinya dengan penuh cinta.


“Menurut Anda, siapakah gadis cantik ini? Jika saya katakan kalau dia wanita saya, apakah Anda akan percaya?” Devano balik bertanya dengan seringainya.


Firman langsung terkekeh geli mendengar penuturan Devano. “Anda bisa saja, saya yakin selera Anda tak mungkin sedatar ini kan sampai harus memilih gadis yang masih kecil ini sebagai wanita Anda. Tapi jika hanya untuk bersenang-senang saja, saya bisa dimaklumi kok, dan jika sudah bosan nanti bisa mencari yang baru, iya kan, Tuan Vano,” ucap Firman membuat Devano tak menyukai ucapannya itu.


“Tuan Firman, saya rasa kerja sama kita lebih baik dibatalkan saja. Saya tak bisa bekerja sama dengan orang yang memandang rendah wanita seperti itu. Wanita bukanlah sebuah barang yang sudah bosan lalu ditinggalkan dan mencari barang yang baru. Bagi saya, wanita itu sebuah mahkota yang akan saya tempatkan pada kepala saya karena saya menghormatinya. Ibu saya seorang wanita, Adik saya juga seorang wanita dan bahkan sepupu saya juga seorang wanita, saya tak ingin pria lain memperlakukan mereka seperti Anda menilai wanita. Asal Anda tahu, gadis kecil yang saya bawa ini adalah Nyonya muda Hanoraga, istri saya. Ayu kita pulang, Sayang.” Devano bangkit dari duduknya dan menggandeng tangan Yesica lembut meninggalkan Firman yang terkejut dengan keputusan Devano yang membatalkan kerja samanya dan juga pengakuannya atas gadis kecil yang ia sebut sebagai istrinya. Tersadar Devano sudah berjalan cukup jauh, Firman berlari hendak menyusul Devano.


“Tuan Vano, tunggu. Saya tahu saya salah, saya minta maaf, mohon jangan batalkan kerja sama ini atau perusahaan saya akan berada dalam ambang kehancuran,” ucapnya menyusul Devano sambil bicara sepanjang jalan.


Devano tak menghiraukan Firman yang terus mengejarnya, jika saja tak ada Yesica, ia tentunya sudah memanggil anak buahnya untuk menangani Firman saat ini juga. Namun, sayangnya keinginan itu kalah dengan kehadiran sang istri yang menemaninya.


“Mas, apa tak sebaiknya kamu kasih dia kesempatan? Lagi pula dia tak tahu juga kalau kita sudah menikah, jadi tak salah juga dia menilai hubungan kita seperti itu.” Yesica mencoba membantu Firman.


“Jangan membelanya, Sayang. Aku tak membu*uhnya karena telah berpikir buruk tentangmu saja itu sudah menjadi anugerah untuknya. Aku tak membutuhkan kerja sama dengan pria yang memiliki pikiran kotor seperti itu. Dia anggap apa aku ini? Aku bukan pria breng*ek yang seperti itu,” sahutnya tak menghntikan langkah kakinya yang terus berjalan menuju area parkir.


Sampai di tempat parkir, saat sudah dekat dengan mobil yang digunakan oleh mereka tadi saat datang, tiba-tiba saja sebuah mobil melaju kencang padahal itu di area parkir. Tanpa bisa menghindar lagi, mobil itu sudah menyenggol tubuh Yesica dan membentur perutnya bagian kanan. Seketika Yesica tersungkur dengan darah yang sudah membanjirinya, Yesica pun tak sadarkan diri, Devano langsung menghampirinya.


“Kejar mobil itu sampai dapat sekarang,” teriak Devano dan dua mobil langsung melaju cepat mengejar mobil yang menabrak istrinya.

__ADS_1


Sebuah mobil lain menghampiri Devano dan segera membukakan pintu bagian belakang. Devano langsung menggendong tubuh istri kecilnya dan masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedikit cepat karena keadaan Yesica yang sudah tak sadarkan diiri dengan darah terus mengalir.


Devano merasa bingung dengan aliran darah yang keluar dari tubuh bagian bawah istri kecilnya itu, pasalnya tak ada luka serius yang mengakibatkan pendarahan serius karena saat mobl akan menabraknya, Devano dengan sigap menarik tangan Yesica meski pada akhirnya terserempet sedikit bagian perut.


“Ada apa ini? Mengapa darahnya terus saja mengalir deras padahal tak ada luka serius? Dari mana datangnya darah ini?” gumam Devano.


Sampai di rumah sakit, dokter Agam sudah menunggunya karena sebelum datang pengawal yang mengemudikan mobilnya sudah mengabari dokter Agam terlebih dulu. Yesica langsung dibawa ke ruang gawat darurat, Devano diminta untuk menunggunya di luar ruangan. Tak lama dokter Agam keluar dari dalam ruang tindakan tersebut.


“Om Agam, bagaimana keadaan istriku?” tanya Devano dengan wajah panik.


“Apakah kau tak tahu kalau istrimu sedang mengandung?” tanya dokter Agam, Devano yang terkejut menggelengkan kepalanya. “Istrimu mengalami pendarahan hebat akibat benturan keras di bagian perutnya yang mengakibatkan janinnya gugur. Aku akan memanggil Kak Sandera untuk menanganinya segera. kamu yang sabar yah.” Dokter Agam menepuk lengan Devano lalu pergi meninggalkannya untuk memanggil dokter Sandera yang tak lain dokter kandungan dan Kakaknya sendiri.


Devano terduduk lemas sambil meremas rambutnya. “Aaarrghhh ...,” pekiknya menahan amarah karena kabar yang ia dengar. Seorang buah hati yang sangat ia inginkan, yang belum diketahui keberadaannya harus gugur sebelum ia sempat menyapanya.


(yang penasaran siapa Agam dan Sandera, ada di CEO BUCIN dan Romansa Dokter Ganteng dan Pelayan Cafe yah)


Agam datang bersama dengan Sandera, Devano langsung bangkit melihat kedatangan mereka.


“Kamu yang sabar, Vano. Tante akan melakukan yang terbaik untuk istrimu, ikhlaskan yang memang belum bisa menjadi milikmu, setelah ini kalian akan bisa mendapatkannya lagi.” Sandera mencoba menguatkan Devano.

__ADS_1


“Terima kasih, Tante. Tolong lakukan yang terbaik untuk istriku, aku tahu dia sedang kesakitan sekarang,” sahut Devano parau.


Sandera tak menjawab, ia hanya mengusap lengan Devano kemudian masuk ke dalam ruangan di mana Yesica sedang terbaring tak sadarkan diri. Sandera langsung menanganinya dengan segera untuk membersihkan rah*mnya.


“Om sudah menghubungi Mamah dan Daddymu, sebentar lagi mereka pasti datang. Kamu harus kuat, bagaimana jika nanti istrimu sadar melihat wajahmu yang bengkak dan sembab karena menangis. Tak lucu kan, seorang pengusaha ternama dan terkenal tegas menangis tersedu-sedu,” ucap dokter Agam memberitahu kalau ia sudah menghubungi Aberlie dan Bram, ia juga sedikit menghibur Devano meski terdengar sedikit garing.


Tak lama Aberlie dan Bram datang bersama dengan Davina dan Ronggo.


(kisah Davina dan Ronggo bisa diintip di Cinta Manis si Gadis Tomboi)


“Sayang, bagaimana keadaan menantu Mamah?” Aberlie yang baru datang langsung memeluk putra kesayangannya itu.


Devano menangis di pelukan sang Mamah. “Mah, Yesica sedang mengandung, Mah. Tapi dia keguguran karena mobil yang menabraknya. Bagaimana aku memberitahunya, Mah? Kami bahkan tak menyadari keberadaannya tapi dia sudah pergi. Aku harus bagaimana mengatakannya nanti?” ucap Devano yang menangis dalam pelukan sang Mamah.


“Kamu yang sabar, Sayang. Mamah yakin kala Yesica akan menerimanya dengan lapang dan ikhlas, kamu harus kuat untuknya.” Aberlie menenangkan putranya dengan mengusap punggung Devano.


Davina yang melihat keadaan sang kakak pun ikut mengusap punggung kakaknya itu dengan perasaan yang terenyuh. Baru kali ini ia melihat Kakaknya yang dingin dan pendiam, menangis dan rapuh seperti saat ini.


“Yang sabar, Kak. Kamu harus kuat untuk Kakak ipar,” ucapnya ikut menenangkan sang kakak.

__ADS_1


Tak lama Sandera keluar dari dalam ruangan tindakan, Aberlie dan Devano langsung menghampirinya.


“Bagaimana keadaan menantuku, San?” tanya Aberlie.


__ADS_2