
Yesica membuka matanya kala ia merasakan sesak pada perutnya, ternyata tangan kekar suaminya melingkar diperutnya yang ramping. Sejenak ia tersenyum, ia rasakan detak jantung yang begitu tenang dari milik suaminya, diusapnya tangan tersebut, tak bermaksud untuk membangunkannya.
“Kau sudah bangun?” suara bariton khas bangun tidur menyapa dirinya.
“Hm, baru saja,” sahutnya singkat, ia tak ingin banyak berkata karena Yesica sedang menikmati pelukan hangat suaminya itu, rasanya begitu nyaman dan menenangkan.
“Apakah kau lapar? Aku meminta Kris untuk membeli pasta tadi setelah selesai rapat, apakah kau ingin memakannya sekarang sambil menceritakan bagaimana sidangmu berjalan tadi?” tanya Devano kembali seraya mengusap perut langsing istri kecilnya, dalam hati ia berharap agar benihnya cepat tumbuh kembali.
“Jika kau memaksa, maka aku hanya bisa menyetujuinya, Tuan muda Hanoraga,” sahut Yesica dengan diselingi candaan.
“Dasar nakal.” Devano mencubit mesra hidung mancung milik Yesica, Yesica hanya terkekeh. “Bangun dan cuci mukalah,” titahnya, Devano bangkit dan mengambil bungkusan yang ia minta Kris untuk membelinya, dua porsi pasta kesukaannya dari Cafe milik adik kembarnya, Davina.
“Ah, aku bagaikan ratu yang dilayani oleh pria tampan,” seru Yesica yang duduk di samping Devano, pasta sudah tersaji di atas meja bersama dengan minumannya yaitu es lemontea dan juga coffe latte.
“Bukankah kau memang ratu? Kau adalah ratuku, ratu dari Tuan muda Hanoraga.” Devano membenarkan ucapan istri kecilnya.
__ADS_1
“Hanya kau yang meratukanku, jika saja itu pria lain, maka mereka akan membabukanku. Terima kasih untuk semuanya, aku cinta kamu, cintaku tulus dari dalam hatiku. Aku ingin bersama denganmu hingga maut yang memisahkan kita, bahkan jika perlu kita terus bersama meski sudah menjadi tulang belulang.” Yesica mengungkapkan isi hatinya yang begitu mencintai suaminya itu saat kini.
“Aku lebih mencintaimu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku atau aku akan mengikatmu di tempat tidur,” balas Devano dengan sedikit ancaman.
“Huh, ada orang mengatakan rasa cintanya dengan diiringi ancaman,” gerutu Yesica dengan memanyunkan bibirnya, seketika Devano yang gemas langsung mencium bibir itu, tentu saja hal itu membuat Yesica terkejut.
“Itu karena aku terlalu mencintaimu, aku tak bisa hidup tanpamu, aku tak bisa kalau kau meninggalkanku, kau hanya boleh menjadi milikku, hanya milikku seorang,” ucap Devano sambil jari jempolnya mengusap bibir Yesica yang basah oleh liurnya akibat ulah nakalnya.
“Jangan bicara seperti itu, aku tak mungkin meninggalkan pria yang sudah menyelamatkanku tanpa pikir panjang. Aku tak mungkin meninggalkan pria yang keluarganya menerima aku apa adanya padahal aku hanya gadis yang tak memiliki apa pun. Jangankan status kedudukan, orang tua pun aku sudah tak memilikinya, jadi untuk alasan apa aku harus menghianatimu dan meninggalkanmu. Hidupku milikmu, semua tentangku milikmu, begitu juga dirimu yang hanya milikku seorang,” sahut Yesica dengan mantap dan dengan tatapan penuh keyakinan sambil menangkup wajah tampan Devano, terdapat rasa bahagia dalam hati Devano mendengar hal itu dari bibir manis istrinya, kini cintanya sudah tak bertepuk sebelah tangan lagi.
“Terima kasih, terima kasih untuk semuanya, terima kasih untuk cintamu yang begitu besar, terima kasih karena sudah menerima aku yang tak memiliki apa-apa ini, di saat orang lain menghinaku tapi kau memujaku,” tanpa terasa air mata Yesica luruh membasahi kemeja Devano bagian pundaknya, Devano langsung mengurai pelukannya dan mengusap wajah cantik dan polos istri kecilnya.
“Jangan menangis atau nanti kamu akan jelek. Mari kita makan, kasihan pastanya sudah menunggu kita untuk memakannya,” ucap Devano mengingatkan kembali akan pasta yang mereka lupakan.
“Astaga, aku hampir lupa.” Yesica dan Devano kemudian menyantap pasta yang dibelinya dari Cafe milik adiknya, meski Cafe tersebut milik sang adik, tapi Devano tetap akan membayarnya karena ia tak ingin adiknya itu mengistimewakan dirinya hanya karena ia adalah kakaknya.
__ADS_1
“Hm, ini enak banget loh, Vina pandai sekali masak,” puji Yesica kala sudah berhasil menelan satu sendok pasta.
“Dia memang pencinta kuliner sedari kecil, maka dari itu begitu kuliah dia ambil jurusan tata boga. Dan memang sudah menjadi jodohnya, ia dipertemukan dengan Ronggo yang awalnya adalah sopir taksi onlinenya.” Devano menjelaskan sedikit tentang adiknya itu, Yesica menyimak apa yang diceritakan oleh suaminya.
“Aku salut, padahal kalian berasal dari keluarga terpandang, tapi tak pernah memandang orang dari status dan kedudukannya. Dik iparmu mantan sopir taksi onlien istrinya, dan istrimu adalah mantan pelayan Bar di tempat sahabatmu sendiri.” Yesica begitu bangga bisa masuk ke dalam keluarga yang begitu hebat dan tak memandang status kedudukan orang yang dengan status yang rendah.
“Sekarang, ceritakan, bagaimana sidang kamu tadi,” pinta Devano yang sudah menunggu sedari tadi kabar baik dari istrinya.
“Semuanya berjalan lancar dan aku lulus dalam sidang skripsiku,” sahut Yesica dengan nada biasa saja.
“Sudah kuduga, istriku yang cantik tak mungkin tak lulus.”
***
Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan🙏😊
__ADS_1