Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 53


__ADS_3

Kris menghampiri Devano di mobilnya setelah membuat Angel pergi, ia langsung mengemudikan mobilnya menuju kediaman Yesica. Beruntung jalanan tak begitu macet sehingga hanya memerlukan waktu lima belas menit saja untuk mereka sampai di kediaman tersebut. Devano langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah untuk menemui istrinya


“Yes, Yesica,” teriak Devano ketika ia sudah berada di dalam rumah.


“Sepertinya suamiku pulang, Beb,” ucap Yesica.


“Ya sudah, kamu temui Tuan Vano, siapa tahu dia rindu padamu, aku mau tidur siang dulu biar nanti malam fresh saat kerja. Sekali lagi makasih hadiahnya.” Vivi menyuruh sahabatnya itu untuk segera menemui suaminya. Yesica yang sedang mengobrol dengan sahabatnya mendengar suara yang tak asing ditelinganya langsung keluar dari kamar.


“Mas Vano, ada apa? Mengapa kau berantakan sekali?”


Devano yang ditanya bukannya menjawab, ia malah berjalan ke arah istri kecilnya dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Ada perasaan tenang saat memeluk istri kecilnya itu.


“Aku rindu sama kamu,” ucapnya tanpa melepas pelukannya.


“Kamu oke, Mas?” tanya Yesica mengusap punggung suaminya itu.


Devano menggeleng. “Aku gak oke, Sayang.” Devano melepas pelukannya dan menangkup wajah cantik istri kecilnya. “Temani aku istirahat, aku ingin tidur sambil memeluk dirimu,” pintanya, Yesica hanya mengangguk menyetujui permintaan suaminya yang terlihat kacau. Wajah dan rambut Devano terlihat begitu berantakan, banyak pertanyaan dalam hati Yesica tapi ia urungkan karena tak ingin menambah beban pikiran suaminya.


Yesica mengajak suaminya menuju kamar, ia ingin suaminya beristirahat, ia juga ingin menemaninya saat suaminya itu istirahat.


“Tidurlah, aku akan menemanimu istirahat,” titahnya, Devano bagaikan anak kecil yang menuruti perintah ibunya, ia tertidur di pangkuan istrinya sambil kepala menghadap kebagian perut Yesica dan tangan melingkar di pinggang istri kecilnya.


Tak butuh waktu lama Devano sudah terlelap dengan Yesica mengusap kepalanya lembut. Yesica sejenak tersenyum, ia merasa lucu karena Bos besar yang awal ketemu terlihat sangat dingin dan begitu irit bicara kini berubah menjadi pria hangat yang bawel dan manja pada dirinya. Tanpa sadar Yesica merasakan perasaan aneh terhadap suaminya itu.


“Banyak wanita cantik yang mengejarmu, tapi mengapa kau menginginkan diriku untuk menjadi pendampingmu. Jika dibayangkan lagi, semua ini seperti mimpi. Pria tampan berkuasa yang didambakan banyak wanita dari kalangan atas kini sedang tertidur lelap di pangkuanku. Betapa beruntungnya aku yang tak perlu merayunya tapi dia sudah menjadi milikku. Jika banyak orang tahu, mungkin mereka akan merasa cemburu dan iri padaku, atau bahkan mereka akan menghujatku karena gadis biasa yang tak memiliki apa-apa sepertiku bisa menjadi istrinya,” gumam Yesica yang masih mengusap kepala suaminya dengan lembut.

__ADS_1


“Dia sepertinya sudah lelap sekali, lebih baik aku masak untuk makan malam agar nanti jika dia sudah bangun bisa langsung makan.” Yesica memindahkan kepala Devano dengan perlahan agar tak membangunkannya, setelah berhasil ia langsung keluar dan bergegas menuju dapur.


“Anda mau ke mana, Nona?” tanya Kris saat melihat Yesica keluar dari kamarnya.


“Aku mau masak untuk makan malam, agar nanti pas Mas Vano bangun makanan sudah siap,” sahutnya memberitahu hendak melakukan apa.


“Apakah ada yang Anda perlukan?” tanya Kris kembali.


“Aku akan periksa lemari pendingin dulu, apakah ada bahan masakannya, jika tak ada aku akan meminta kamu mencarikannya.”


“Baik, Nona.”


Yesica berjalan menuju dapur dan memeriksa ada apa di dalam lemari pendingin.


“Mungkin lebih baik aku pergi belanja sebentar membeli keperluan untuk dimasak hari ini saja agar tak lama,” gumamnya saat membuka lemari pendingin hanya ada telur saja karena Vivi jarang masak yang macam-macam.


“Kris, bisa antar aku ke supermarket sebentar saja? Aku memerlukan beberapa bahan masakan untuk kumasak sekarang,” tanya Yesica.


“Baik, Nona.”


“Aku ambil dompet dulu dikamar.” Yesica berjalan menuju kamar untuk mengambil dompetnya. Setelah dompet yang dibutuhkannya ketemu, ia mencium pipi suaminya dan membisikan sesuatu.


“Aku pergi ke supermarket dulu sebentar ingin membeli beberapa bahan masakan untuk kita makan malam nanti, tidurlah yang nyenyak, tiba saatnya nanti akan kubangunkan untuk makan malam,” bisiknya, sepintas Devano tersenyum tipis. Devano memang tak bisa tidur lelap, ia selalu waspada terhadap bahaya, telinganya selalu awas, makanya saat Yesica membisikannya ia bisa mendengarnya dengan sangat jelas padahal sedang terlelap.


Yesica pergi setelah membisikan pesannya dan Devano kembali terlelap dalam tidurnya. Ada beberapa penjaga yang menjaga rumah tersebut jadi Kris tak pernah khawatir karena Bos besarnya itu juga sangat jago bela diri.

__ADS_1


Di supermarket, Yesica langsung memilih beberapa sayuran dan buah-buahan untuk dimasaknya hari ini. Kris dengan setia mengikutinya di belakang sambil mendorong troly. Jika yang tak mengetahuinya mereka adalah majikan dan asisten mungkin akan berpikir mereka adalah sepasang suami istri yang romantis karna Yesica memilih belanjaan dan Kris mendorong troly.


Sayuran, buah-buahan, udang dan yang lainnya sudah ia dapatkan, tinggal membayarnya saja. Saat Yesica berjalan menuju kasir, tiba-tiba saja tangannya ditarik seorang pria dan pria tersebut langsung memeluknya erat.


“Aku rindu sekali denganmu, Yes,” ucap Pria itu, Yesica yang terkejut seketika memberontak karena kenal dengan suara pria yang memeluknya.


“Lepaskan aku, Kak Riyan.” Yesica memberontak tapi pria yang ternyata Riyan tersebut tak ingin melepaskannya. Kris yang melihat hal itu langsung melepaskan Nonanya dan Riyan secara paksa.


“Terima kasih, Kris,” ucap Yesica membenahi rambutnya yang berantakan.


“Siapa kamu, beraninya memisahkan aku dan wanita yang kucintai,” bentak Riyan dengan wajah kesal.


“Anda yang siapa berani memeluk Nona saya sembarangan?” Kris tak kalah bengisnya.


“Nona?” wajah Riyan menatap pada Yesica penuh tanda tanya, ia seakan meminta penjelasan dari Yesica. “Apa maksudnya ini, Yes? Bisakah kau jelaskan padaku?” sambungnya bertanya.


“Tak ada yang perlu kujelaskan ke Kak Riyan. Intinya mulai sekarang jangan ganggu aku lagi karena aku sudah menikah dan aku mencintai suamiku. Tak ada nama Kak Riyan lagi di dalam hatiku ketika orang tua Kak Riyan memandangku dengan begitu rendah,” ucap Yesica mempertegas setiap ucapannya. Ia memberitahu statusnya yang sudah menikah tanpa ragu pada pria yang pernah bertakhta dalam hatinya.


“Kamu sudah menikah? Kapan? Dengan siapa? Apakah pria itu memaksamu untuk menikahinya? Apakah karena materi?” banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Riyan.


“Karena cinta dan ketulusan. Dia mencintaiku dengan tulus dan keluarganya menerimaku tanpa memandang rendah statusku yang bukan siapa-siapa. Kami menikah tanpa paksaan, aku mencintainya karena ketulusannya dan keluarganya. Aku harap sampai sini Kak Riyan mengerti dan berhenti menggangguku. Kris, tolong kamu bayar belanjaannya, aku akan menunggu di mobil.”


“Baik, Nona.”


Yesica pergi setelah berucap demikian pada Riyan dan meminta Kris untuk membayar belanjaannya. Riyan hendak mengikuti Yesica tapi tiba-tiba seorang pria dengan tubuh besar dan tinggi mencekalnya dengan erat.

__ADS_1


“Siapa kamu, lepaskan, aku harus mengejar kekasihku,” pekik Riyan yang terus berontak.


“Jangan pernah mengganggu Nona kami lagi atau kamu dan keluargamu akan menerima akibatnya,” ancam Kris. “Bawa dia pergi, jangan sampai mengganggu Nyonya muda,” titahnya dan pria tersebut membawa paksa Riyan pergi, banyak pasang mata yang menyaksikan hal itu tapi Kris yang memedulikannya.


__ADS_2