Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 75


__ADS_3

Yesica sudah rapi dan siap untuk turun ke bawah, ke lantai tempat di mana ruangan divisinya berada. Ia sungguh terlihat cantik pagi ini, mungkin karena habis dimanja oleh Devano makanya auranya keluar karna bahagia.


“Gaes, apakah aku sudah cantik?” tanya Linda pada teman satu divisinya yang selalu berada disisinya seperti Lidia dan beberapa wanita lainnya, divisi yang diketuai oleh Linda memang berisikan para wanita sebagai desainer perhiasan Emerald Jewelry, divisi pria berada dalam bimbingan orang kepercayaan Kris langsung.


“Tak perlu dipertanyakan lagi, Mbak Linda memang yang paling cantik di divisi ini. Pasti Mbak Linda mau mengunjungi ruangan Tuan Vano yah?” puji salah satu dari mereka sambil menebak-nebak akan ke mana Linda.


“Bukan kok, aku memang ingin mengunjungi ruangan Tuan Vano untuk mengatar dokumen karena pagu tadi sempat terjadi kendala yang membuat mataku sakit jadi belum bisa kuserahkan. Tapi aku berdandan pagi ini bukan untuk bertemu Tuan Vano, melainkan akan ikut dengannya dalam rapat besar nanti, kalau aku terlihat kucel dan berantakan pasti Tuan Vano akan sangat malu memiliki karyawati yang seperti itu. Lagi pula aku tak punya muka untuk menggoda Tuan Vano, toh Tuan Vano sudah ada yang memiliki, jadi mana mungkin aku memiliki kesempatan itu, aku juga sadar diri kok,” sahut Linda panjang lebar sengaja sedikit mengeraskan suaranya kala sampai di ucapan yang terakhir ia memberikan beberapa penekanan dan berekspresi seperti wanita lembut yang bak hati.


“Mbak Linda, harusnya kamu yang pantas menjadi pendamping Tuan Vano, kamu itu cantik, jabatanmu juga sudah tinggi, Tuan Vano juga selalu mengandalkanmu sebagai desainer perhiasannya bahkan Tuan Vano sendiri yang mengangkatmu sebagai ketua divisi desain, apalagi yang kurang darimu. Masalah Tuan Vano sudah memiliki istri mah itu bisa diatur, bukankah banyak para pengusaha yang memiliki banyak istri tapi mereka tetap hidup akur dan damai? Mbak Linda juga bisa kok, bahkan aku yakin Mbak Linda akan menjadi kesayangannya nantinya dibanding dengan istri pertamanya,” ucap salah satu dari mereka, Yasica bukannya tak mendengar, ia mendengar semuanya, tapi ia tak ingin menghiraukan perkataan mereka, toh bukannya saat ini yang menjadi istrinya adalah dirinya, mengapa ia harus memikirkan perkataan angin lewat.


Linda melirik Yesica yang sepertinya tak terpengaruh sama sekali, ia menjadi kesal karena rencananya membuat Yesica marah gagal.


“Ya sudah, aku ke ruangan Tuan Vano dulu yah, takut sudah ditunggui,” pamit Linda memeluk dokumennya. Ia berjalan melewati Yesica yang sedang sibuk mengerjakan desain yang diminta khusus oleh Devano.

__ADS_1


“Kamu gak marah, Yes?” tanya Silvi.


“Untuk apa aku marah hanya karena ucapan dari seseorang yang hanya ingin naik takhta,” sahut Yesica tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


“Kalau Tuan Vano tergoda oleh ular betina itu bagaimana?” tanya Silvi lagi yang tak habis pikir mengapa Yesica sama sekali tak marah.


“Tidak mungkin, suamiku bukan pria hidung belang yang mudah terpengaruh dan tergoda oleh wanita model Linda begitu. Aku sudah sering melihat wanita cantik dan seksi melebihi Linda duduk di pangkuan suamiku di depan mataku, tapi suamiku tak pernah bereaksi apa pun, suamiku hanya diam dengan raut wajah datarnya,” sahut Yesica mengingat bagaimana Chelsea yang selalu bertingkah seperti itu tapi tak pernah mendapat respons apa pun dari Devani, apalagi Linda yang biasa saja.


“Masa sih? Kok bisa kamu tak cemburu? Apa kamu tak cinta sama Tuan Vano?” banyak pertanyaan terlontar dari Silvi karena penasaran.


***


Di dalam lift, Linda membetulkan pakaiannya yang dari sedikit tertutup, kini menjadi sedikit terbuka. Kancing kemeja bagian atas ia buka satu kancing sehingga menampakkan dua buah bagian atasnya yang tak begitu besar tapi juga tak begitu kecil.

__ADS_1


“Aku yakin, Tuan Vano tak akan menolak pesonaku ini. Lagi pula, aku lebih cantik dan seksi dibanding dengan gadis yang masih bau kencur itu, apa hebatnya dia sampai bisa mendapatkan Tuan Vano sedangkan aku tidak. Akan kubuktikan kalau aku lebih pantas dibanding dirinya. Semoga saja asisten kulkas dua pintu itu tak ada di ruangan Tuan Vano biar aku bisa lebih leluasa menggodanya, aku yakin jika tak ada siapa pun Tuan Vano pasti tak akan jual mahal dan langsung tergoda,” ucapnya penuh dengan kepercayaan diri kalau Devano akan tergoda oleh pesonanya, dia tak tahu saja, Chelsea yang lebih segalanya dari dirinya saja tak membuat Devano bergetar meski Chelsea dalam keadaan polos di depan Devano, apalagi dirinya yang tak memiliku kualifikasi standar wanita Devano.


Pintu lift terbuka, Linda berjalan dengan gaya penuh sens*al agar Devano tergoda padanya. Sampai depan pintu ruangan Devano, ia mengetuk pintu tersebut, terdengar suara mengizinkannya masuk, Linda langsung membuka pintu tersebut dan berjalan masuk menghampiri Devano yang sedang sibuk menyiapkan dokumen untuk rapat.


Linda berdiri tepat di samping Devano, ia membungkukkan sedikit tubuhnya agar bagian atasnya terlihat untuk menggoda Devano. “Tuan, ini dokumen untuk rapat pagi ini,” ucap Linda dengan nada sesens*al mungkin untuk menggoda Devano.


Devano yang digoda tak menoleh sedikit pun pada Linda, ia memejamkan matanya dan menarik napasnya perlahan menghembuskannya secara kasar.


“Kancingkan bajumu yang benar,” titahnya dengan nada datar membuat Linda terkejut. Namun, Linda tak menyerah begitu saja, ia meletakkan tangannya di pundak Devano dan memijatnya perlahan, Devano hanya diam tak bereaksi apa pun membuat Linda berpikir kalau usahanya berhasil.


“Saya tahu kalau Tuan Vano sangat lelah, saya akan memijat Tuan sebentar agar Tuan sedikit relaks saat rapat nanti,” ucap Linda masih dengan nada yang menggoda, tiba-tiba tangan Devano memegang tangan Linda yang sedang memijat pundaknya, Linda terkejut dan berpikir kalau Bosnya itu akan membalas apa yang dilakukannya dan tergoda olehnya sehingga Devano akan jatuh dalam pelukannya.


*****

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan oleh Devano yah🤔


__ADS_2