Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 77


__ADS_3

Waktu rapat tiba, Kris datang ke ruangan divisi desain untuk memanggil Yesica.


“Nona, Anda diminta Tuan untuk menemaninya rapat,” ucap Kris, tentu saja hal itu membuat seisi ruangan desain terkejut dan menatap pada Yesica, tatapan tajam pun tak lepas dari Linda dan yang lainnya.


“Apakah kamu tak salah, Kris?” tanya Yesica, hal itu membuat Linda yang lainnya terkejut untuk yang kedua kalinya karena Yesica menyebut nama Kris begitu saja tanpa kata Tuan.


“Tidak, Tuan memang meminta saya untuk mengatakan pada Anda kalau Anda diminta menemaninya rapat” sahut Kris.


“Baklah kalau itu permintaannya, bukankah aku tak bisa menolaknya.” Yesica bangkit untuk ikut bersama dengan Kris.


“Dari kalian yang mendapat tugas untuk ikut rapat, segera pergi ke ruang rapat, jangan sampai telat karena Tuan Vano tak menyukai karyawan yang tak tepat waktu,” ucap Kris memperingati karyawan yang ditugaskan untuk ikut rapat, Kris tak menyebutkan namanya karena ia tak hafal dengan mereka satu persatu, yang Kris hafal hanya Yesica saja seperti Devano.


Kris pergi setelah Yesica berjalan keluar, Linda mengepalkan tangannya geram karena Yesica menjadi kesayangan Devano. Meski Yesica istrinya, bagi Linda tetap dirinyalah yang lebih pantas berada disisi Bosnya itu.


“Gaes, aku rapat pergi rapat dulu yah, takut telat atau nanti Tuan Vano akan marah,” ucap Linda dengan nada lembutnya dan senyum yang seakan dipaksakan, sungguh tak pandai berakting Linda ini, aktingnya sungguh jelek sekali.

__ADS_1


“Semangat yah Mbak Linda, kami yakin pasti suatu saat nanti Mbak Linda bisa meluluhkan hati Tuan Vano dan menggeser posisi si anak baru yang sok kecantikan itu,” seru salah satu dari mereka memberi Linda semangat, tentu saja itu membuat Linda lebih percaya diri lagi karena ada yang mendukungnya, ia melupakan apa yang dikatakan oleh Devano tadi, hatinya kini mulai berambisi lagi untuk memiliki Devano dan menyingkirkan posisi Yesica.


“Kalian tak boleh bicara seperti itu, biar bagaimanapun dia adalah Nyonya Bos kita, kalau terdengar olehnya maka kita bisa dapat hukuman bagaimana kalau dia mengadu,” sahut Linda, seakan ucapannya itu terdengar bijak, padahal dalam hatinya ia sungguh sangat berharap memang bisa menyingkirkan Yesica dari sisi Devano dan menggantikannya.


“Mbak Linda kita memang the best banget deh, padahal lebih cocok jadi Nyonya Bos kita, tapi tetap saja masih rendah hati dan mengalah seperti ini. Kalau Tuan Vano memilih Mbak Linda suatu saat nanti, Tuan Vano pasti tak akan menyesal dan malah akan berkata, kenapa tak dari dulu saja aku memilihmu, pasti so sweet banget deh,” ucap Lidia tambah memberi semangat pada Linda agar lebih berusaha lagi mengejar Devano.


“Sudah ah, jangan membicarakan hal ini terus, aku tak enak jika istrinya mendengarnya. Aku pergi rapat dulu yah, bye.” Linda pergi dengan senyum merekah dan hati yang begitu berbunga karena mendapatkan dukungan dari para bawahannya.


‘Yah, aku pasti bis menyingkirkan anak bau kencur itu, aku lebih menawan dibandingkan dia yang tak sebanding denganku itu,’ batin Linda dengan seringai liciknya.


Ia berjalan menuju ruang rapat untuk mengikuti rapat dengan klien penting perusahaannya. Saat sampai diruang rapat, Linda terkejut melihat Devano yang sedang bersandar kepalanya dibahu Yesica seperti anak kecil padahal ada beberapa orang yang sudah berada di ruangan tersebut tapi Bosnya tak malu memperlihatkan kemesraannya dengan Yesica. Linda mengepalkan tangannya kesal dan geram, ia tak menyangka kalau Bosnya yang dingin dan selalu memasang wajah datar bis bersikap manja seperti itu pada Yesica.


Rapat dimulai saat klien dari luar negeri yang ditunggu oleh Devano tiba. Meski dalam rapat, tapi Devano tak melepaskan pandangannya dari istri kecilnya itu. Ia tak perlu mengkhawatirkan tentang berjalannya rapat karena ada Kris dan juga setiap rapat yang berjalan direkam sepenuhnya Oleh Kris agar nanti Devano bisa melihatnya ulang.


Linda yang melihat hal itu semakin membenci Yesica, ia sangat ingin menyingkirkan Yasica dari sisi Devano dan menggantikan posisinya. Dia tak tahu saja kalau pernah ada karyawati wanita yang dibuang ke Green Sky karena mencoba membuat Yesica celaka.

__ADS_1


Rapat selesai, keputusan akan diberitahu esok setelah Devano mengecek semuanya. Proyek besar tak bisa Devano putuskan dalam sekali pikirkan saja. Ia butuh memikirkannya lagi apakah akan menguntungkan bagi perusahaannya atau tidak karena Devano seorang pebisnis, jika tak menguntungkan ia tak akan menandatangani proyek tersebut.


Selesai rapat, Devano yak membiarkan istri kecilnya itu kembali ke ruangan tempatnya bekerja. Ia berjalan terus sambil menggandeng erat tangan istri kecilnya menuju ruangannya. Devano sungguh tak bisa jauh dari istri kecilnya itu, keputusannya menempatkan Yesica di divisi desain sungguh membuat Devano kesepian.


“Mas, aku harus kembali ke ruangan divisiku atau mereka akan mengatakan aku tak profesional,” ucap Yesica yang berencana menolak untuk ikut dengan suaminya itu.


“Apa aku bubarkan saja divisi itu agar kau kembali ke ruanganku. Atau enggak, kau berhenti saja karena aku tak bisa jauh darimu, Sayang,” ucap Devano memberitahu ide gi*anya itu membuat Yesica menggelengkan kepalanya, Bos mah memang beda pemikirannya dengan orang biasa yah.


“Kamu jangan macam-macam deh, kalau divisi desain dibubarkan, mereka mau bagaimana. Mereka butuh pekerjaan, jangan bertindak seperti itu hanya karena kamu Bosnya,” tolak Yesica mencoba membuat Devano tak berbuat yang macam-macam.


“Kalau begitu, kembali ke ruanganku agar aku semangat kerjanya. Aku selalu tak bisa konsentrasi saat tak ada kamu di sini,” rengek Devano sudah seperti anak kecil yang meminta dibelikan balon, atau minta dibelikan ice cream, atau mungkin juga minta dibelikan permen kaki.


“Baklah-baiklah, aku akan kembali kesini demi kamu,” akhirnya Yesica mengalah akan keinginan suami bucinnya itu. Entah mengapa ia merasa Devano sekarang berubah, tak sepeti Devano yang pertama ia temui di Langit Malam yang begitu dingin dengan nada yang datar saat bicara. Yesica hanya bisa terkekeh saat mengingat bagaimana berubahnya suaminya itu, sungguh berbanding terbalik dengan Devano yang dulu.


Yesica kembali ke ruangan divisinya untuk mengambil barang-barang miliknya.

__ADS_1


“Kamu mau ke mana? Kok barang-barangmu dikemasi?” tanya Silvi yang bingung dengan Yesica yang mengemasi barang-barangnya.


“Mungkin dia dipecat karena tak bisa konsisten dengan pekerjaannya mentang-mentang istri Bos, Tuan Vano mana suka sama karyawan yang gak konsisten. Paling juga suruh diam di rumah menjadi ba*u yang membersihkan rumahnya Tuan Vano. Haha lucu yah, ba*u berkedok istri, statusnya istri tapi ternyata ba*u,” cebik Lidia yang mengira kalau Yesica diberhentikan oleh Devano.


__ADS_2