
Sandra menarik napasnya panjang dan mengusap lengan Aberlie lalu tersenyum lega. “Kamu bisa tenang, menantumu sudah tak apa, tapi dia masih di bawah pengaruh obat bius jadi masih belum siuman. Perawat akan segera memindahkannya, jadi kalian bisa menemaninya nanti,” ucapnya membuat Aberlie dan yang lainnya merasa lega, Devano hanya terdiam karena meratapi calon buah hatinya yang telah tiada sebelum ia sempat mengetahuinya.
“Kamu tenang saja, Van. Setelah ia pulih, istrimu sudah bisa mengandung lagi kok, kandungannya tidak bermasalah. Jangan murung lagi, dia lebih disayang oleh tuhan, makanya dia lebih memilih pergi daripada membuat Mamahnya kesakitan.” Sandra mencoba menghibur Devano.
“Terima kasih yah, Tante, sudah datang lebih cepat untuk menangani istriku. Ke depannya aku akan lebih melindunginya lagi,” ucap Devano.
*
Di tempat lain, di dalam apartemen, Kris yang masih menikmati hari pertama pernikahannya langsung bersiap setelah mendengar apa yang menimpa Nyonya mudanya dari anak buahnya. Kris memang sengaja meminta anak buahnya selalu mengabarinya jika terjadi sesuatu pada Bos dan Nyonya mudanya.
“Kamu bersiaplah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Nyonya muda mengalami kecelakaan, dia ditabrak oleh seseorang. Aku harus mencari orang itu sampai dapat dan memberinya pelajaran karena sudah berani menyentuh Nyonya muda,” titah Kris yang sudah bersiap, Chelsea yang sedang asyik dengan ponselnya menjadi terkejut dan bergegas bersiap.
“Baiklah, beri aku waktu lima menit dan aku akan segera siap,” sahutnya, Chelsea langsung bersiap untuk ikut dengan suaminya, Kris meminta anak buahnya untuk membereskan barang-barangnya yang masih berada di hotel yang mereka tempati dan memintanya untuk cek out hotel.
“Aku sudah siap, ayu kita pergi.” Chelsea yang sudah siap langsung mengajak suaminya untuk pergi setelah anak buah Kris datang. Mereka langsung pergi menuju rumah sakit.
“Aku akan melihat keadaan di rumah sakit sebentar, setelah itu aku akan membantumu untuk menemukan siapa pelaku yang berani menabrak Nyonya muda,” ucap Chelsea sebelum ia turun dari mobil karena sudah sampai di depan rumah sakit.
“Kamu hati-hati, jika sudah menemukannya langsung kabari aku dan bawa dia ke markas,” pesan Kris.
“Kamu tenang saja, aku turun dulu, bye.” Chelsea mencium bibir Kris sekilas dan turun dari mobil. Ia berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan di mana Yesica dirawat.
“Nyonya muda Hanoraga sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP nomor satu dilantai tiga,” ucap penjaga resepsionis memberitahu di mana kamar Yesica berada.
“Baik, terima kasih.” Chelsea berjalan menuju lift dengan menggunakan kacamata hitamnya kembali yang sempat ia buka saat menanyakan di mana ruangan Yesica tadi.
__ADS_1
Di dalam ruang rawat yang ditempati oleh Yesica, Devano terus memegang tangan istri kecilnya itu yang masih belum sadarkan diri. Wajahnya menjadi sendu dan hatinya terenyuh melihat keadaan istrinya itu. Ia tak hentinya menyalahkan dirinya sendiri, kedua orang tuanya bersama adik dan iparnya ikut tak tega melihat keadaan Devano yang seperti itu.
Setelah sekian lama Devano tak pernah merasakan cinta pada lawan jenisnya dan selalu menolak wanita yang datang padanya. Kini saat ia sudah menemukan wanita yang dicintainya malah harus merasakan hal yang seperti ini. Hal itu mengingatkan kembali akan apa yang dialami oleh Bram dan Aberlie dimasa lalu saat adik tiri dan adik iparnya sendiri yaitu Aron dan Aliva masih belum berubah dan selalu ingin memisahkan mereka berdua.
“Kak, kamu yang sabar, aku yakin kalau pelakunya akan segera ditemukan.” Davina mencoba menghibur kakaknya.
“Aku tak akan mengampuninya, Vin. Siapa pun dia, tak peduli dia pria atau wanita, aku akan menghukumnya dengan tanganku sendiri,” ucap Devano dengan geram menahan emosinya karena tak ingin amarahnya meledak di depan istri kecilnya.
“Aku juga akan melakukan hal sama jika berada diposisi Kak Vano. Aku tak akan mengampuninya meski dia putra dari presiden sekalipun.” Davina mendukung apa yang dikatakan kakaknya itu.
Tak lama Chelsea yang baru datang masuk seraya melepas kacamata hitamnya dan menghampiri Devano.
“Kamu yang sabar, Sayang. Kris sedang mencari pelakunya, aku yakin tak lama lagi Kris pasti akan mengabari kalau orang yang menabrak Nyonya muda sudah ditemukan.” Chelsea yang baru datang ikut menenangkan Bosnya itu.
“Terima kasih yah, Chel. Dan maaf, kamu yang seharusnya sedang menikmati hari pertama pernikahanmu malah harus ikut turun tangan dengan apa yang terjadi,” ucap Devano, ia merasa bersyukur, meski orang kepercayaannya itu sudah meminta izin cuti, tapi masih bersedia turun tangan saat ia sedang dalam musibah.
“Ayu kita pergi, Sayang. Orang yang menabrak istri tercintamu sudah ditemukan oleh Kris,” dengan seringai menakutkannya Chelsea memberitahu pada Devano bahwa orang yang menabrak Yesica sudah tertangkap. Devano langsung menoleh pada Chelsea dengan wajah dingin penuh amarahnya.
“Suruh Kris membawanya ke markas,” titahnya. Davina yang mendengar hal itu sudah tak merasa aneh lagi, ia sudah mengetahui siapa kakaknya hanya Aberlie saja yang tak tahu siapa putranya yang sebenarnya.
“Sedang dalam perjalanan,” sahutnya.
“Oke, ayu kita pergi.” Devano bangun dan menggulung lengan kemeja hitamnya yang ia kenakan. “Vin, aku titip istriku. Jangan katakan apa pun pada Mamah,” ucapnya pada Davina.
“Kak Vano tenang saja, serahkan di sini sama aku,” balas Davina.
__ADS_1
Keduanya keluar dari kamar rawat Yesica, di depan kamar ada Aberlie dan Bram yang sedang duduk. Mereka orang tua tak ingin mengganggu anak muda, karena mereka tahu kalau mereka sedang mendiskusikan sesuatu meski Aberlie tak tahu apa yang didiskusikannya.
“Mah, Dad, aku pergi dulu dengan Chelsea. Ada pekerjaan yang harus aku urus,” pamit Devano, ia mengedipkan sebelah matanya pada sang Daddy, Bram pun mengetahui kode apa yang diberikan oleh putranya itu.
“Kamu hati-hati, Sayang yah. Cepat kembali setelah urusanmu selesai,” pesan Aberlie.
“Mamah tenang saja, sebelum istriku siuman aku pasti sudah kembali. Aka kupastikan kalau saat ia siuman, akulah yang pertama akan dilihatnya,” ucap Devano mengusap tangan sang mamah.
Devano dan Chelsea pergi setelah berpamitan pada Aberlie dan Bram.
“By, kamu tunggu di dalam saja dengan Davina. Aku akan menemani Vano. Akan ada beberapa orang yang menjaga kalian di sini, aku sudah meminta Haris untuk datang, ia sedang dalam perjalanan dan sebentar lagi akan sampai,” titah Bram.
“Kamu hati-hati yah, cepat kembali, jangan membuatku khawatir,” ucap Aberlie yang terasa enggan untuk ditinggal suaminya itu, tapi ia tahu kalau suaminya itu akan menemani putranya untuk menemui siapa yang sudah mencelakakan menantunya.
“Kamu tenang saja, aku tak akan pernah membuat istri tercintaku ini khawatir. Masuklah, aku akan pergi,” titahnya dan Aberlie pun menurutinya, ia masuk ke dalam kamar rawat menantunya.
Saat Bram pergi, Haris datang dan mereka pun berpapasan.
“Kamu jaga ketiga wanita paling berhargaku, jika ada sesuatu, kamu tahu harus berbuat apa kan?” titah Bram.
“Anda tenang saja, Tuan besar. Mereka adalah tanggung jawab saya, Anda tak perlu khawatir,” sahut Haris, karena ini termasuk perintah untuk Haris yang harus dijalaninya, meski ia Adik ipar sekaligus adik angkatnya Bram, maka Haris akan bersikap formal layaknya atasan dan bawahan.
**********
Besok cerita baruku rilis yah kak, tungguin dan kepoin yah, semoga kalian suka.
__ADS_1
Cerita ini aman dibaca saat sedang puasa, jadi buat kalian yang ingin mencari bahan bacaan saat puasa wajib banget mampir kecerita ini besok🙏😊