
Beberapa hari berlalu, Yesica sudah pulih sepenuhnya. Kini ia dan Davina juga Vivi sedang mempersiapkan untuk makan malam sebagai bentuk rasa syukurnya karena kesembuhan dirinya. Ia dan Devano hanya mengundang keluarga dan beberapa teman dekat saja.
“Semoga setelah ini kamu selalu sehat yah, Sayang. Jangan ada lagi masalah yang datang pada rumah tangga kalian,” harapan Aberlie.
“Amiin, terima kasih yah, Mah, atas doanya. Doakan juga agar aku segera memberikan cucu kembali pada Mamah dan Daddy,” sahut Yesica, ia merasa bahagia karena Aberlie begitu menerima dan menyayanginya.
“Amiin, semoga yah. Tapi bagi Mamah, yang penting untuk saat ini kamu sehat dulu saja, masalah anak jika sudah saatnya pasti akan datang sendiri tanpa diduganya seperti saat kemarin,” ucap Aberlie mengusap lengan menantunya itu. Devano begitu bahagia melihat kedekatan antara istri kecilnya itu dengan sang mamah.
Acara makan malam berjalan dengan lancar hingga larut malam, sekitar jam dua belas Aberlie dan Bram berpamitan untuk pulang ke kediamannya. Yesica tertidur di sofa saat mengobrol dengan Chelsea, Vivi dan Davina karena saking lelahnya.
“Kalina bermalam saja di sini, sudah larut juga. Ada dua kamar tamu kosong untuk kamu dan dia,” titah Devano seraya memberitahu pada Lucas dan Vivi yang sudah tertidur di sofa kalau masih ada kamar kosong dilantai bawah untuk mereka, kalau untuk Kris tak perlu ditanya lagi, ia memiliki kamarnya sendiri yang berada di samping kamar utama milik Devano.
“Karena kamu sudah berkata demikian, aku akan dengan senang hati. Tapi, aku hanya akan menggunakan satu kamar saja untuk kami berdua,” celetuk Lucas yang memang sudah mengantuk, ia sudah menggendong Vivi dengan gaya bridal style yang begitu kerennya meniru Devano kala menggendong Yesica.
__ADS_1
“Apakah kau merusak anak orang?” tanya Devano dengan tatapan dingin membuat Lucas bergidik ngeri, dengan segera Lucas menggelengkan kepalanya.
“Enggak, aku sama sekali tak melakukan apa pun padanya, dia masih aman dan aku belum melakukannya. Aku bukan Kris yang maen asal bobol ajah,” protesnya dengan segera membandingkan dirinya dengan Kris yang sudah lebih dulu mencicipi Chelsea sebelum menikah.
“Kenapa kamu jadi membawaku? Lagi pula aku dan dia sudah sama-sama dewasa, berbeda dengan kalian berdua yang menyukai gadis kecil yang masih bau kencur, jangan samakan aku dengan kalian,” gerutu Kris yang tak terima dibandingkan oleh Lucas, ia membawa Chelsea menuju kamarnya. Devano dan Lucas saling pandang kala Kris pergi meninggalkan mereka.
“Sebenarnya yang tuan rumah siapa, dia maen pergi saja,” cebik Devano kesal, ia pergi menuju kamarnya dan tak memedulikan Lucas yang masih terbengong melihat kepergian dua pria menyebalkan menurutnya itu, ia ikut menuju salah satu kamar untuk ditempatinya tidur bersama dengan Vivi.
***
*
“Mas, apakah tak terlalu memperlakukan aku seperti itu? Lebih baik taruh aku di bagian yang sesuai dengan jurusan yang kuambil saja, aku juga ingin bergabung di bagian desainer perhiasan agar aku bisa lebih mudah mengerjakan skripsiku. Jujur, di tempatkan menjadi asistenmu, aku tak bisa menguasainya karena bukan bidangku,” ucap Yesica masih mencoba membujuk suaminya itu agar ia mau memberikan tempat yang sesuai dengan apa yang menjadi bidangnya. Devano membelai rambut istri kecilnya lembut belaian itu turun pada wajahnya dan berakhir di dagunya, ia mengangkat dagu tersebut agar melihat padanya.
__ADS_1
“Jika aku mengabulkan keinginanmu, apa yang akan kau berikan padaku?” tanya Devano.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Yesica kembali dengan tatapan tajam menantang, ia tak ingin kalah dari suaminya itu.
“Aku ingin kau yang berinisiatif memberikan sesuatu padaku, bukan memberikan sesuatu yang kuinginkan dan kuminta,” sahut Devano, ia ingin tahu apa yang akan diberikan oleh istrinya itu sebagai imbalannya.
“Aku tak memiliki apa pun untuk kuberikan padamu, aku hanya memiliki tubuh ini yang juga sebarnya sudah menjadi milikmu dan bukan milikku lagi. Mungkin jika kau menginginkan jasa seorang istri, maka aku hanya bisa memuaskanmu,” ucap Yesica dengan perasaan pasrahnya karena ia sudah tak memiliki apa pun untuk diberikan pada suaminya itu.
“Kata siapa kau sudah tak memiliki apa pun untuk kau berikan padaku. Kau masih punya cinta yang belum sepenuhnya kau berikan padaku. Apakah kau bisa berikan cinta itu dengan tulus padaku sepenuhnya?” ucap Devano bertanya ingin jawaban yang pasti.
“Tubuhku sudah menjadi milikmu, maka hatiku juga sudah menjadi milikmu, cintaku juga sudah pasti menjadi milikmu. Apalagi yang kau ragukan, apakah kamu masih berpikir kalau aku masih menyukai pria yang kita temui di supermarket waktu itu?” sahut Yesica kembali bertanya pada suaminya itu, tebakan Yesica memang benar, Devano masih berpikir jika istri kecilnya itu masih menyukai Riyan dan ia takut jika suatu hari nanti Yesica akan meninggalkannya demi bersama dengan pria itu.
“Menikah resmilah denganku, aku memang masih takut kalau suatu saat nanti kamu akan meninggalkanku dan pergi dengannya mengingat dia lebih muda dariku. Jika kau sudah seutuhnya menjadi milikku, maka aku sudah bisa merasa tenang. Kalau kita tak menikah resmi, kamu akan dengan mudahnya pergi begitu saja,” ucap Devano, ia sudah tak bisa menunggu istrinya lulus untuk menikahinya secara resmi, ia ingin segera mengikatnya disisinya dan menjadikan miliknya seutuhnya.
__ADS_1
***
Bagaimanakah jawaban dari Yesica? Apakah ia akan bersedia menikah resmi sebelum lulus dari kuliahnya? Atau ia akan tetap pada pendiriannya yang akan menikah saat sudah lulus dan wisuda?