Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 73


__ADS_3

“Tidak, tidak ada masalah apa-apa, aku hanya iseng bicara saja,” ucap wanita itu dengan nada tergagap, ia tak menyangka kalau Yesica akan seberani itu, ia pikir Yesica akan memiliki mental kerupuk jika disindir oleh atasannya sendiri meski ia istri dari bos besarnya.


“Kau harus ingat satu hal, saya memang istri Bos kamu tapi itu jika di rumah dan di luar jam kerja. Di sini, di jam kerja saya adalah anak magang yang sedang belajar. Tapi jangan mentang-mentang saya masih belia sudah menjadi istri dari Bos kamu lantas kamu berpikir yang tidak-tidak tentang saja. Saya menikah dengan Tuan Vano karena dia yang mengejar saya bukan karena saya menjajakan tubuh saya padanya hanya demi kehidupan mewah. Saya bukan kamu yang mungkin akan mengejar pria kaya untuk membuat hidupmu makmur, jadi jangan mengusili saya karena saya juga tak tertarik untuk menyinggung kehidupan pribadi kamu, paham.” Yesica kembali kemeja kerjanya setelah berucap demikian pada wanita yang sudah menyindirnya itu, teman satu divisi lainnya ada yang kagum dengan keberanian Yesica melawan atasannya itu, tapi bagi yang setara dengan wanita yang ditegurnya, mereka menatap sinis pada Yesica seakan tak suka.


“Ish, bikin pusing saja,” gerutunya seraya menggelengkan kepalanya kala sudah duduk di kursinya, Silvi yang duduk di sebelahnya mendekatinya dengan menggeser kursinya.


“Kamu kere banget, Yes. Belum ada yang pernah berani bicara seperti itu pada Mbak Lidia, apalagi Mbak Linda, ketua divisi kita, semua orang mengetahui kalau Mbak Linda sangat menyukai Tuan Vano dan selalu mencari kesempatan untuk menggodanya, eh ternyata tiba-tiba kamu muncul berstatus sebagai istrinya, tentu dia pasti akan merasa kesal dan pastinya akan membuatmu tak nyaman dan berada dalam kesulitan terus setiap harinya nantinya,” ucap Silvi memberitahu kalau ternyata ketua divisinya itu menyukai Devano yang tak lain adalah suaminya.


“Haha, dia belum memiliki kemampuan itu untuk membuatku dalam kesulitan, Vi. Jika dia bisa silakan saja, karena pekerjaanku akan diatur oleh suamiku langsung, bukan tugas yang akan diberikan oleh mereka,” sahut Yesica dengan gelinya.


Yesica melanjutkan pekerjaan yang sempat diberikan langsung oleh Kris tadi sebelum kembali dari ruangan Devano. Ia bertugas mendesain sebuah mahakarya yang akan dilaunchingkan pertama kali nantinya saat pernikahan dirinya dengan Devano kelak. Bisa dibilang desain itu nantinya akan dikenakan oleh Yesica saat resepsi pernikahannya.

__ADS_1


Devano sempat mengatakan kalau ia akan mendesain sebuah perhiasan untuk Yesica pakai saat resepsi nanti, tapi Yesica mengajukan diri akan hal itu makanya sekarang tugas dirinya yaitu mendesainnya sendiri.


“Hai Yesica, tolong print dokumen ini dong.” Seorang wanita memberikan beberapa lembar dokumen untuk Yesica print.


“Mbak Lidia, apakah Anda sebagai ketua divisi hanya bisa menyuruh bawahan untuk mengeprint sesuatu yang sebenarnya Mbak sendiri bisa lakukan? Toh Mbak juga tak memiliki pekerjaan lain, daripada menyuruh bawahan Anda, lebih baik Anda memberi contoh pada bawahan Anda sebagai atasan yang baik dan mandiri dengan mengerjakan pekerjaan ringan dan sepele itu sendiri. Mbak kan lihat saya sedang sibuk, Tuan Vano meminta desain ini selesai dalam waktu dua minggu,” ucap Yesica dengan berani menolak suruhan Lidia, sang ketua divisi, ia bukannya ingin memanfaatkan statusnya sebagai istri dari Bos besarnya itu, tapi menurutnya sangat tak etis saja hanya karena mentang-mentang dia sebagai ketua divisi menyuruh bawahannya melakukan hal yang menurutnya bisa dilakukan sendiri.


“Kamu....” Lidia mengepalkan tangannya geram, ia melihat sekelilingnya menatapnya, ia menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan lalu memasang wajah tersenyum. “Baiklah kalau begitu, karena Nyonya muda sangat sibuk jadi saya akan melakukannya sendiri,” dengan senyum yang dipaksakan bercampur kekesalan Lidia berjalan menuju mesin printing untuk mengeprint dokumen yang akan dipakai untuk rapat esok pagi.


Sore menjelang pulang kerja, Yesica sudah ditunggu oleh Kris untuk menuju ruangan Devano, ia sudah tak merasa risi akan perlakuan Devano yang selalu meminta orang membuntutinya atau menyuruh Kris mengantar atau menjemputnya. Ia sudah membiasakan diri dengan statusnya yang menjadi istri dari Bos besar perusahaan terkenal nomor satu dinegaranya, jadi ia harus bersikap layaknya istri pengusaha. Sebab, Devano selalu berkata kalau ia harus menunjukkan siapa dirinya kapan pun dan di mana pun berada.


“Aku duluan yah, Kris sudah menjemput,” pamit Yesica pada Silvi, pegawai satu-satunya bersikap baik pada dirinya meski terkadang ucapannya suka asal bicara.

__ADS_1


“Oke, aku juga mau pulang nih,” sahut Silvi yang sedang membereskan tasnya, melihat hal demikian, Lidia dan Linda menatap tak suka tapi dengan senyum yang mereka paksakan karena ada Kris.


“Bye, sampai ketemu esok.” Yesica pergi setelah saling pamit dengan Silvi.


Sampainya di ruangan Devano, Yesica langsung menghampiri suaminya itu yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Apakah pekerjaan kamu masih banyak, Mas?” tanya Yesica yang sudah berdiri di sampingnya, Devano merangkul pinggang ramping tersebut dan menyandarkan kepalanya diperut rata istri kecilnya.


“Sepertinya malam ini kita akan menginap dikantor, Sayang. Apakah kamu keberatan?” tanya Devano dengan wajah lesunya, Yesica mengusap kepala suaminya itu.


“Tidak, karena suamiku akan lembur dengan pekerjaannya dan menginap dikantor, maka aku sebagai istri yang baik akan menemaninya,” sahut Yesica yang mengerti akan kesibukan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2