
Satu jam lamanya Yesica tertidur, perlahan ia membuka matanya karena perutnya terasa sangat lapar. Ia menoleh pada sisi sampingnya, dilihatnya suaminya sedang terlelap. Sejenak Yesica tersenyum, ia mengusap wajah tampan suaminya itu dengan lembut.
“Tampan,” gumamnya tanpa sadar.
“Apakah kamu baru menyadarinya kalau suamimu yang kau bilang tua ini sangat tampan dan berkarisma?” Yesica terkejut, ternyata Devano sudah bangun. Sebenarnya bukan sudah bangun, lebih tepatnya Devano selalu tidur dalam keadaan waspada, jadi setiap gerakan dan ucapan lirih pun Devano bisa merasakannya.
“Kau sudah bangun? Mengapa tak memberitahuku?” tanya Yesica yang terkejut.
“Jika aku mengatakannya, maka aku tak akan mendengar pujian darimu. Jarang-jarang istriku ini memuji suaminya.” Devano memeluk erat istri kecilnya itu. “Aku sangat lapar dan tak sabar memakan masakanmu tapi kau begitu lelapnya tidur,” sambungnya.
“Mengapa kau tak makan lebih dulu, Mas, atau kau bangunkan aku. Aku tak sengaja ketiduran soalnya.” Yesica tak enak hati karena ketiduran di saat suaminya lapar.
“Aku tak sampai hati membuat istri tercintaku yang mengantuk untuk melayaniku makan, lebih baik aku menahan lapar ini daripada mengganggu istriku yang kelelahan,” ucap Devano mengusap kepala istri kecilnya dan mengecup ujung kepalanya.
Yesica bangun dari pembaringannya. “Kalau begitu, ayu kita makan, nanti perut kamu sakit,” ajak Yesica yang tak ingin mengulur waktu lagi, Devano mengikuti istrinya dengan senyuman yang terus terkembang.
__ADS_1
Yesica mengambil paper bag yang tadi dibawanya, ia membukanya dan menatanya di atas meja. Devano duduk di samping istri kecilnya itu.
“Makanlah,” ucap Yesica.
“Kamu juga makan, aku akan menyuapimu, kita makan bersama dalam satu tempat.” Devano mengarahkan sendok berisi nasi ke depan bibir Yesica, tanpa menjawab Yesica membuka mulutnya dan memakannya. Devano tersenyum dan mereka pun makan malam bersama dengan begitu romantisnya.
***
Satu minggu berlalu, hari ini adalah hari di mana pernikahan Devano dan Yesica dilaksanakan. Yesica sudah sangat cantik sekali dengan menggunakan kebaya putih hasil desain tangan Chelsea, make up natural pun hasil mahakarya dari istri orang kepercayaan suaminya. Sedangkan di tempat lain, entah mengapa Devano merasa gugup, padahal ini bukan pertama kalinya Devano untuk melakukan ijab kabul dengan Yesica, tapi sedari pagi Devano seperti terkena sindrom gugup karena sedari pagi ia terus saja bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil.
“Bentar, gua mau ke kamar mandi dulu,” ucap Devano yang langsung pergi ke kamar mandi, Lucas hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pria satu ini.
“Pria hebat, pria yang digilai banyak wanita dari berbagai kalangan, bos perusahaan besar, bos mafia yang terkenal dan anak dari pengusaha hebat juga tapi saat akan menghadapi penghulu dia malah terkena sindrom gugup, haha, padahal bukan yang pertama menghadapi penghulu, ini sudah kedua kalinya loh.” Lucas terkekeh geli dengan sahabatnya itu.
Devano keluar dengan menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan berkali-kali agar rasa gugupnya itu hilang.
__ADS_1
“Ayu kita pergi,” ajaknya saat dirasa perasaannya sudah lebih baik.
Devano berjalan menuju altar di mana Yesica sudah menunggunya dengan didampingi oleh Lucas, Kris dan Boy. Sedangkan di samping Yesica ada Chelsea dan Vivi yang menemaninya. Lucas terpana akan kecantikan istri kecilnya itu, ia sampai tak fokus berjalan dan hampir saja tersandung dengan kakinya sendiri karena saking olengnya saat melihat Yesica yang begitu cantik dan memesona.
“Woe, santuy Bos jalannya, jangan terburu-buru, kan udah jadi milik lu juga,” goda Boy yang melihat sahabatnya itu masih gugup dan hampir terjatuh, Lucas hanya terkekeh geli mendengarnya sedangkan Kris terkekeh dalam hatinya sambil bibirnya agak tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak ada yang menyadarinya.
*
“SAH!” seru semua yang menyaksikan acara ijab kabul antara Devano dan Yesica, Devano merasa lega karena ia sempat mengulang beberapa kali ijab kabulnya padahal dulu sewaktu ijab untuk nikah siri, ia lancar-lancar saja.
Acara ijab kabul selesai dan dilanjutkan dengan tukar cincin, Devano tak hentinya menatap istri kecilnya itu. Andai ini bukan acaranya, mungkin ia sudah menggendong istri kecilnya dan membawanya ke dalam kamar untuk mengeks*kus*nya di atau ranjang.
Setelah tukar cincin, dilanjut dengan acara menerima tamu. Begitu bayak tamu yang datang karena Devano adalah pengusaha sukses di negaranya. Banyak reporter yang hadir pula untuk mengabadikan momen spesial tersebut. Devano memang tak melarang dan tak membatasi reporter yang datang asal dengan syarat mereka tak mengacaukan acara pentingnya.
Saat resepsi, Devano pun tak hentinya menatap pada istri kecilnya, saking cantiknya Yesica membuat Devano tak ingin mengalihkan pandangannya. Hingga saat tiba waktunya para karyawan kantornya datang memberi selamat, Devano masih tetap pada posisinya yang terus memandang istri kecilnya. Geng Linda dan kawan-kawan yang datang pun mencebik kesal, apalagi Linda yang memang sangat mendewakan Devano dan berniat untuk memilikinya, ia begitu kesal dan geram dengan Yesica.
__ADS_1
'Awas saja kamu, aku pasti akan merebutnya darimu dengan segera,' batin Linda terus menatap tak suka pada Yesica, Yesica yang paham dengan tatapan Linda hanya bisa tersenyum membalas tatapa itu, tak hanya Yesica saja yang paham akan tatapan Linda, termyata Chelsea juga paham tatapan dari anak buah Bosnya itu.