
Devano yang baru pulang dari pekerjaannya langsung merebahkan tubuhnya di pangkuan sang istri. Ia begitu lelah, tapi ketika melihat istrinya yang sudah segar, rasa lelah itu menghilang. Yesica mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas, ia mengusap rambut suaminya itu.
“Aakah hari ini kau perawatan? Wajahmu terlihat fresh dan semakin cantik, membuatku enggan memperlihatkanmu pada orang lain, takut mereka mencurimu dariku,” tanyanya berkata seperti anak kecil membuat Yesica terkekek.
“Kau lucu sekali,” kekeknya. “Hm, aku habis spa dan pijat, Chelsea yang mengajakku. Apakah terlalu terlihat jika aku habis perawatan?” sahutnya bertanya.
“Apakah yang memijatmu seorang pria?” Devano bukannya menjawab, ia malah bertanya balik dengan mengerutkan keningnya.
“Aku tak akan berani melakukannya jika yang memijat pria. Tentu saja yang memijat seorang wanita paruh baya yang berpengalaman,” sahutnya menjelaskan membuat Devano yang semula tegang menjadi tenang.
“Apakah kau tak ingin mandi?” tanya Yesica balik.
“Bukakan pakaianku maka aku akan mandi,” pintanya dengan senyum menggoda, Yesica sudah mulai terbiasa dengan godaan suaminya itu.
“Kau akan melakukan lebih jika aku membantumu membuka pakaianmu,” cebiknya yang sudah paham kelakuan suaminya.
__ADS_1
“Jika tak mau, maka akun akan tidur saja di pangkuanmu.” Devano melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan wajahnya ia benamkan diperut sang istri.
“Baiklah, aku akan membantumu membuka pakaianmu, tapi janji jangan melakukan lebih. Aku tak akan menolaknya jika kau sudah istirahat nanti.” Yesica meminta janji suaminya sebelum ia membuka pakaian Devano. Devano hanya diam tak menjawab, tangan Yesica mulai membuka kancing pada kemeja suaminya hingga semua terbuka.
Devano bangkit dari pembaringannya. “Aku tak bisa berjanji sesuatu yang selalu membuatku bersemangat,” bisiknya lalu memagut bibir istrinya itu. Yesica hanya bisa pasrah mendapat serangan kenikma*an seperti itu, ia tak bisa berontak dan menolak permintaan suaminya, tubuhnya pun selalu merespons dan tak sanggup menolak sentuhan yang diberikan oleh suaminya, sentuhan Devano sudah menjadi candu pula bagi dirinya.
Skip skip skip naninu-nya yah, othor lagi hm😝
***
Hari pameran pun tiba, Yesica sudah terlihat cantik karena Chelsea yang meriasnya. Devano meminta wanita asistennya itu untuk membuat istri kecilnya terlihat cantik. Beruntung Chelsea ikut karna ternyata ia berguna juga selain kerjaannya yang menggoda Kris kala mengerjakan pekerjaannya dikamar, sampai-sampai Kris menjadi tak bisa fokus karena wanitanya yang selalu agresif dengannya.
“Istriku sudah cantik dari sananya, kamu hanya memoles sedikit saja sudah bangga.” Devano tak ingin mengakui keterampilan Chelsea, ia hanya memuji istrinya saja.
“Cih, dasar bucin gi*a,” cebiknya kesal, ia tak pernah takut berbicara ngasal pada Devano karena Devano sudah tahu sendiri bagaimana sifat dan sikap wanita itu.
__ADS_1
Devano berjalan mendekati istri kecilnya, ia memakaikan kalung berliontin love berwarna merah muda, setelahnya ia mengulurkan lengannya dan Yesica pun langsung menggandengnya, terlihat mesra dan serasi sekali meski usia mereka terpaut cukup jauh.
“Cantik,” ucapnya dengan senyum tipis terkembang tentu saja hal itu membuat Chelsea terkejut.
“Bos dingin bisa tersenyum juga toh. Ternyata yah, ketika Bos dingin jatuh cinta tuh bucinnya gak ada tandingannya. Tapi kenapa saat asisten dinginnya jatuh cinta kok posesifnya yang tiada tanding,” gumam Chelsea sambil melirik pada prianya.
“jika kau tak bisa diam, maka aku akan membawamu menuju kamar dan kita tak jadi menghadiri pameran.” Kris mencoba mengancam wanitanya, tapi Chelsea malah bergelayut manja di lengannya.
“Mau,” ucapnya dengan nada dan senyuman manja membuat Kris harus menahan perasaannya yang ingin membawanya menuju kamar saat itu juga. Bagaikan memakan buah simalakama bagi Kris, ia mengancam malah termakan ancamannya sendiri.
Mereka berangkat menuju tempat di mana pameran berada. Sampai di gedung di mana pameran diselenggarakan, banyak pengusaha yang mendekati untuk sekedar berbasa-basi dengannya. Devano memang terkenal dibanyak negara karena dirinya yang menempati urutan pertama sebagai pengusaha muda dan sukses nomor satu di negaranya. Devano tak lupa memperkenalkan istrinya pada rekan bisnisnya yang menyelenggarakan tersebut.
“Istri Anda sangat muda dan cantik, sungguh sangat beruntung bisa bersanding dengan Anda di tengah banyaknya wanita matang yang rela mempersembahkan tubuhnya untuk Anda, dan malah Anda terpikat dengan gadis muda yang lebih pantas menjadi adik bagi Anda. Tapi di samping itu semua, kalian sangat serasi. Anda tampan dan istri Anda cantik,” puji rekan bisnisnya yang mengandung kata sindiran.
“Anda terlalu memuji, yang beruntung di sini adalah saya yang memilikinya, bukan dirinya. Saya yang mengejarnya untuk menjadikannya Nyonya muda Hanoraga, karena dia berbeda dengan wanita lainnya.” Devano mencium punggung tangan Yesica mesra, ia menunjukkan pada rekan-rekan bisnisnya betapa dirinya sangat mencintai istrinya itu. Yesica sebenarnya merasa risi, tapi mau tak mau ia harus berusaha berwibawa di hadapan para rekan bisnis suaminya itu meski ucapan yang dilontarkan terkadang sungguh sangat menusuk hati.
__ADS_1
Usai tegur sapa dan berbasa-basi, Devano mengajak istrinya untuk duduk di kursi VIP yang terletak paling depan. Saat berjalan menuju kursi, tiba-tiba saja seorang wanita bersama pria paruh baya menghampirinya dan langsung menyingkirkan Yesica lalu memeluk lengan Devano dengan manja.
“Vano, aku sudah lama menunggumu, kupikir kau tak akan menghadiri acara pameran perhiasan ini,” ucapnya manja membuat Devano menatap dengan tatapan tak sukanya karena dipisahkan dari istrinya.