Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 34


__ADS_3

Kris membawa Yesica menuju kantor atas permintaan Devano.


“Tuan Vano sedang ada rapat, Anda bisa menunggunya di ruangannya,” ucap Kris memberitahu.


“Kamu,” tunjuk Kris pada Dian. “Antar Nyonya ke ruangan Tuan dan layani dengan baik,” titah Kris seenak jidat meminta penjaga meja resepsionis untuk melayani Yesica.


“Baik, Tuan Kris. Mari Nyonya, saya akan mengantar Anda menuju ruangan Tuan Vano,” sahut Dian beralih mengajak Yesica untuk menuju ruang kerja Devano.


“Tunggu, Kris. Apakah Mas Vano terbiasa minum kopi? Jika iya, kopi apa yang ia minum? Aku ingin membuatkan kopi untuknya agar selesai rapat nanti sudah siap diminum,” tanya Yesica.


“Espresso kopi hitam tanpa gula,” sahut Kris langsung pada jawabannya. “Apakah ada lagi yang ingin Anda tanyakan tentang Tuan Vano? Jika tidak ada saya akan menyusulnya ke ruang rapat,” sambungnya bertanya.


“Tidak, terima kasih, Kris.”


Kris pergi setelah mendapat jawaban dari Yesica.


“Dian yah?” tanya Yesica dan Dian pun mengangguk. “Antar aku menuju pantri yah,” pintanya.


“Baik, Nyonya.”


“Jangan panggil aku Nyonya, terdengar kaku sekali. Panggil aku Yesica saja, lagi pula aku masih kuliah kok,” ucap Yesica yang merasa risi dengan panggilan Nyonya.


“Maaf, Nyonya. Saya tak berani, jika Tuan Kris sampai tahu maka dia akan memecat saya saat itu juga,” sahut Dian merasa tak bernyali untuk memanggil Yesica dengan namanya saja.


“Kalau begitu panggil aku Nona saja, seperti Kris memanggilku. Aku sangat risi mendengar panggilan Nyonya,” pinta Yesica.


“Baiklah, Nona. Saya akan mengantar Anda menuju pantri.”

__ADS_1


Yesica berjalan menuju pantri ditemani oleh Dian. Saat berjalan menuju pantri, Febi melihat Yesica. Ia menyeringai memikirkan sesuatu yang buruk.


“Kau seperti Ratu, dikawal oleh pengawal untuk melindungimu. Rasa sakit dan malu ini tak pernah kulupakan. Aku akan membalasnya, anggap saja ini kesempatanku untuk membalas rasa malu dan sakit hati itu,” gumam Febi dengan pemikiran jahatnya, ia masih menyimpan rasa sakit hati akibat malu yang ia terima kala Devano menyuruhnya meminta maaf pada Yesica di depan semua pegawai Emerald Jewelry.


“Nona, saya ke kamar kecik sebentar yah, Anda bisa membuat kopi untuk Tuan Vano terlebih dulu, biar nanti saya yang membawanya,” izin Dian yang sudah tak tahan ingin membuat sesuatu yang mengganjal perut bagian bawahnya.


“Kau pergilah, aku bisa sendiri kok,” sahut Yesica tersenyum manis.


Dian pergi menuju kamar kecil dan Yesica membuat kopi untuk suaminya. Saat ia sedang membuat kopi, Febi masuk berpura-pura hendak membuat kopi. Yesica yang sedang fokus dengan kopinya tak tahu kalau Febi masuk.


Saat kopi yang dibuat Febi selesai, ia membawa kopi tersebut dan sengaja berjalan dengan menabrak Yesica sehingga kopi panas yang baru saja diseduh tumpah ditubuh bagian depan Yesica.


“AW!” Yesica yang terkejut sontak saja langsung menjerit kepanasan membuat pegawai lainnya langsung datang menghampiri mereka.


“Ada apa ini?” tanya salah seorang pegawai.


“Bukankah ini gadis yang diperkenalkan oleh Tuan Vano? Sedang apa dia berada di pantri?” ucap salah seorang pegawai.


“Iya, dia gadis yang dikenalkan oleh Tuan Vano waktu itu. Sedang apa dia di pantri?” salah seorangnya menimpali.


Dian yang baru datang dari kamar mandi langsung menghampiri Yesica. “Nona, Anda tak apa-apa? Mari saya bantu, ini pasti panas sekali kan?” Dian membantu Yesica untuk bangun dan menuntunnya berjalan keluar dari pantri. Dengan wajah menahan sakit, Yesica berjalan dengan dibantu oleh Dian menuju ruang kerja Devano.


“Anda tunggu di sini, saya akan mengambil obat luka bakar terlebih dulu.” Dian bergegas pergi untuk mengambil salep. Tak lama Dian datang membawa obatnya.


“Saya bantu untuk mengolesinya yah, Nona, agar lebih gampang.”


“Hm.” Yesica hanya menganggukkan kepalanya, ia masih menahan rasa sakit dan panas ditubuh bagian depannya.

__ADS_1


Yesica membuka pakaian atasnya dan Dian membanti mengolesi obatnya perlahan, Yesica pun ikut mengolesinya sendiri. Saat sedang fokus mengolesi obat, sebuah suara mengejutkan keduanya.


“Ada apa ini?” kedua wanita tersebut langsung menoleh pada pemilik suara dan terkejut.


"Tuan." Dian langsung bangkit dari jongkoknya, ia ketakutan karena Yesica terluka.


Devano berjalan menghampiri Yesica. "Kamu kenapa?" tanya Devano melihat keadaan istri kecilnya yang berantakan.


"Aku gak apa-apa kok, hanya ketumpahan kopi saja saat membuat kopi untukmu tadi," sahutnya berdusta.


"Tuan, saya permisi undur diri." Dian ingin mencari aman agar tak kena murka sang bos.


"Hm." Devano hanya ber hm ria.


"Makasih yah, Dian," ucap Yesica.


"Sama-sama, Nona." dian meninggalkan ruangan bosnya itu dengan terburu-buru.


"Apakah ini sakit." Devano mengecup dada istri kecilnya yang masih sedikut terbuka pada kancing kemeja bagian atasnya membuat Yesica merasa malu.


"Ini dikantor, takut dilihat orang," ucapnya tak enak hati dan juga takut akan ada orang yang datang.


"Kalau begitu kita masuk kamar saja." Devano menggendong tubuh Yesica membuat istri kecilnya memekik karena terkejut dengan Devano yang menggendongnya secara tiba-tiba dan berjalan masuk kamar istirahat.


***


Mau ngapain mereka yah🙈

__ADS_1


__ADS_2