
Esok harinya Devano sibuk dengan rapatnya dan Yesica ditemani oleh Chelsea. Devano meminta Chelsea untuk membawa istri kecilnya itu belanja karena tak ingin Yesica kesepian dan bosan dikamar terus menerus.
“Aku pergi dulu, kau pergilah dengan Chelsea. Pakailah kartu ini untuk kau membelu apa pun yang kau mau, PIN-nya tanggal pernikahan kita.” Devano memberikan kartu tanpa limit berwarna hitam.
“Aku tak memerlukan ini, lagi pula aku juga tak suka belanja yang macam-macam.” Yesica mencoba menolaknya, ia merasa tak memerlukannya karena memang pada dasarnya ia memang tak suka menghamburkan uang, mengingat bagaimana berjuangnya ia dengan berat mencari uang sendiri membuatnya lebih menghargai uang.
“Ambillah, aku akan marah jika kau tak mengambilnya, aku akan merasa tak berguna menjadi suamimu. Belilah apa yang kau inginkan, jangan menahannya hanya karena harganya mahal. Aku tak akan bangkrut hanya karena istriku membelanjakan uangku. Tolong hargai aku sebagai suamimu.” Devano memberikan kartu tersebut ditangan istri kecilnya.
“Jika itu yang kamu inginkan, maka aku akan menerimanya, tapi bukan karena aku wanita mante melainkan hanya karena suamiku yang memberikannya,” akhirnya Yesica menuruti apa kata suaminya itu.
Devano pergi setelah mencium kening istrinya mesra, tak lama Chelsea datang sudah dengan pakaian rapi dan cantik. Wanita cantik itu berpakaian sedikit tertutup karena mengenakan blazer atas permintaan prianya yang posesif.
__ADS_1
“Hai, Cantik. Apakah kau sudah siap untuk jalan-jalan bersama denganku?” tanyanya dengan gaya yang sensual seperti biasanya. Yesica hanya bisa nyengir kuda saja.
“Aku ganti pakaian dulu yah, Kak.” Yesica bergegas menuju lemari pakaian dan segera mengganti pakaiannya. Sedangkan Chelsea sibuk dengan ponselnya. Tak lama Yesica keluar sudah dalam keadaan rapi dan cantik dengan dresh berwarna putih selutut dipadu dengan blazer berwarna grey.
“Aku sudah siap, kita mau ke mana?” tanya Yesica yang sudah siap.
“Yah jalan-jalan saja, ke mall misalnya,” sahut Chelsea. Mereka pun berangkat menggunakan kendaraan yang telah dipersiapkan oleh Devano. Ada dua bodyguard yang mendampingi keduanya, Devano sengaja meminta Kris menyiapkan pengawal untuk mengawal istri kecilnya. Meski merasa risi, tapi mau tak mau Yesica hanya bisa menerimanya saja karena ia tak ingin membuat suaminya itu khawatir dan juga marah jika menolaknya.
“Tak adakah yang ingin kau beli?” tanya Chelsea bingung dengan Yesica yang sedari tadi terlihat begitu tak tertarik.
“Pakaianku yang dibelikan oleh Mas Vano masih banyak yang belum sempat kukenakan dan bahkan masih terdapat banderol harganya. Jika aku menambah koleksi pakaian lagi maka akan menjadi hal yang sia-sia. Sepatu, tas dan pakaian banyak yang masih baru dan bersegel sampai sekarang,” sahutnya memberitahu.
__ADS_1
“What! Jika itu adalah aku, maka aku sudah menambah koleksiku dan mencoba mereka satu persatu. Ya sudah, kalau begitu lebih baik kita makan saja, kebetulan aku juga lapar, ayu aku bawa kau mencari makan.” Chelsea yang sempat terkejut akhirnya memilih untuk membawa Yesica untuk makan.
Mereka masuk ke sebuah cafe mewah, awalnya Yesica merasa enggan karena takut harga makanan di tempat tersebut mahal dan tak sesuai dengan selera dirinya. Namun, Chelsea berhasil meyakinkan Yesica kalau dinegara tetangga makanan mahal sudah biasa, bahkan di hotel pun harganya akan sama dengan harga makan di luar, maka dari itu Yesica memutuskan untuk makan setelah mendengar penjelasan Chelsea.
"Setelah dari sini, bagaimana kalau kita pulang, aku lelah dan ingin istirahat," pinta Yesica.
"Aku akan mengajakmu ke spa, kita akan istirahat di sana agar kau merasa relaks setelah dipijat. Tenang saja, spa-nya masih berada di hotel kok, jadi setelah selesai kita bisa langsung ke kamar untuk lanjut istirahat,” ucap Chelsea yang berencana mengajak Yesica untuk santai sejenak dengan pijatan di tempat spa.
“Baiklah, kebetulan badanku kaku semua, mungkin setelah pijat akan terasa lebih enakkan.” Yesica menyetujui rencana Chelsea.
Setelah selesai makan siang, seperti rencana yang sudah dirancang oleh Chelsea, keduanya kembali ke hotel, tapi mereka tak kembali ke kamar melainkan menuju ke tempat spa. Yesica meminta untuk dipijat dan lulur, ia tertidur kala dipijat karena merasa tenang. Setelah selesai, keduanya kembali ke kamar masing-masing. Yesica melanjutkan tidurnya setelah kembali, ia merasa tubuhnya sedikit enakkan hingga rasa kantung menyerangnya.
__ADS_1
Menjelang sore, Yesica terbangun dari tidurnya, ia bergegas membersihkan tubuhnya. Terlihat Devano belum juga pulang, jadi ia menunggunya dengan melihat drama kesukaannya di ponsel miliknya.