Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 51


__ADS_3

“Bolehkah aku menginap di rumah lama?” Yesica memohon agar suaminya itu memberinya izin, ia ingin melepas rindu dengan sahabatnya itu.


“Pulang nanti aku akan pulang ke rumahmu dan bermalam di sana. Kau bisa mulai kuliah lagi setelah weekend karena Kris meminta izin sampai weekend. Nanti akan ada orang yang mengantar makanan untuk kalian,” sahut Devano.


“Baiklah kalau kamu bersedia bermalam di rumah sederhanaku, aku masuk dulu yah, ye.” Yesica mencium pipi Devano tanpa diminta olehnya lagi, ia sudah tak merasa canggung lagi untuk melakukan hal itu.


Yesica berjalan menuju rumahnya dengan membawa beberapa oleh-oleh untuk sahabatnya itu, ia melambaikan tangannya sebelum masuk ke rumahnya. Setelah Yesica masuk, mobil melaju meninggalkan kediaman lama Yesica yang kini ditempati oleh sahabatnya, Vivi.


“Yesica, aku kangen banget.” Vivi langsung berhambur memeluk sahabatnya itu dengan erat, mereka terlihat seperti lama tak bertemu padahal hanya lima hari saja keduanya berpisah tapi sudah seperti berbulan-bulan lamanya.


“Aku juga kangen sama kamu. Ini, aku bawakan oleh-oleh untukmu.” Yesica memberikan beberapa paper bag pada sahabatnya, Vivi menerimanya dengan binar yang bahagia.


“Wah, beruntungnya aku memiliki sahabat sepertimu yang ingat denganku ini. Terima kasih, Sayang yah, kamu memang sahabatku yang paling-paling pokoknya.” Vivi memeluk sahabatnya lagi dengan begitu bahagianya.

__ADS_1


Tak lama datang anak buah Kris yang mengantarkan makanan untuk menemani dua sahabat itu.


“Vi,” panggil Yesica.


“Hm,” yang dipanggil hanya ber hm ria saja karena sedang melihat isi hadiah yang diberikan oleh sahabatnya itu.


“Bagaimana kabar Luna? Apakah dia ada bertanya tentang aku selama aku tak masuk kampus?” tanya Yesica yang teringat akan Luna, biar bagaimanapun Luna adalah sahabat yang pernah menolongnya saat ia membutuhkan pekerjaan, Yesica tak bisa begitu saja tak ingat pada sahabatnya itu.


“Dia baik, Kak Riyan juga sering datang dan menanyakan di mana kamu, dan pada akhirnya Lunalah yang menemaninya mengobrol. Luna menyukainya, dia ngomong sendiri sama aku itu, waktu hari di mana kita gagal untuk nongkrong karena Luna mengajak Kak Riyan.” Vivi memberitahu yang sebenarnya tentang perasaan Luna pada Riyan, tentu saja Yesica sangat terkejut, tapi anehnya tak ada perasaan cemburu dalam hatinya kala mendengar Luna menyukai pria yang pernah mengisi ruang dihatinya.


“Are you oke, Yes?” tanya Vivi yang bingung, pasalnya ia tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu pada seniornya.


“Aku oke kok, Beb. Kamu lupa kalau aku sudah menikah? Suamiku seribu kali lebih baik dari Kak Riyan, bahkan dari segi keluarganya pun, keluarga suamiku lebih baik dan aku merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari mereka yang tak memandang status dan kedudukan padahal mereka lebih terpandang dari keluarga Kak Riyan, tapi mereka tak pernah memandang sebelah mata orang yang memiliki status lebih rendah darinya sepertiku,” sahutnya yang merasa bersyukur bisa berada di tengah keluarga hebat seperti keluarga Hanoraga yang berada dipuncak kejayaan negaranya.

__ADS_1


“Kupikir kau masih menyimpan perasaanmu pada Kak Riyan. Jika perasaan itu telah luntur, bagus deh. Aku lebih bahagia jika kamu bersama dengan Tuan Vano, bukan karena dia tajir melintir, tapi karena dia lebih bisa mengambil keputusan yang tegas dibanding dengan Kak Riyan. Sebagai contoh, jika saja pada saat itu Kak Riyan mengetahui kejadian tersebut di depan matanya, belum tentu dia akan rela mengeluarkan uang sebanyak lima puluh juta untuk membayar hutang si brengs*k Feri itu, dan Tuan Vano tanpa pikir panjang malah menyelamatkanmu dengan membayarkannya seratus juta. Dari kejadian itu kamu sudah bisa menilai, mana yang peduli denganmu mana yang hanya bisa mengumbar kata sayang dan cinta saja. Hidup ini tak sekedar membutuhkan cinta semata, apalagi bagi orang seperti kita yang tak memiliki apa pun. Jika hanya mengandalkan cinta, memang perutmu akan kenyang dengan memakan cinta. Setidaknya Tuan Vano peduli dan mencintaimu juga keluarganya menerima kamu apa adanya tanpa syarat yang mengatas namakan kesetaraan derajat dan kedudukan,” panjang lebar Vivi menasihati Yesica agar sahabatnya itu melupakan Riyan dengan membandingkannya dengan Devano atas apa yang bisa dilakukan oleh Devano dan juga Riyan.


“Terima kasih yah, kamu selalu mengerti tentang diriku dan perasaanku. Kamu tenang saja, aku juga sudah membuang perasaanku terhadap Kak Riyan dan mulai mengisinya dengan suamiku. Semoga aku bisa dengan cepat menumbuhkan rasa cinta itu untuknya.” Yesica lagi-lagi bersyukur karena memiliki sahabat yang mengerti akan dirinya.


“Kamu pasti bisa mencintainya seperti Tuan Vano mencintai kamu. Kamu akan dengan segera mencintainya karena perlakuan manisnya yang hanya ditunjukkannya padamu. Bukankah kau menyadari kalau selama kamu berada disisinya Tuan Vano sudah tak mengunjungi Malam Langit lagi? Itu bukti kau yang terpenting untuknya.”


“Kamu benar, suamiku sudah tak pernah pergi mengunjungi Malam Langit lagi, seingat diriku sepertinya sedari dia menolongku dulu aku tak pernah melihatnya pergi selain ke kantor. Dan bahkan malam harinya ia sering lembur dan menginap dikantor, bahkan aku juga sering menemaninya menginap karena dia yang seringnya lembur.” Yesica baru menyadarinya kalau Devano sudah tak lagi mengunjungi Malam Langit setelah kejadian dirinya hampir di perko*a oleh Surya saat Feri membawanya untuk melunasi hutang judinya.


Ada perasaan berdesir dalam diri Yesica mengingat itu semua, bibirnya tersenyum manis menyadari hal itu. Ia sungguh benar-benar bersyukur karena seorang yang begitu berkuasa yang menjadi dambaan semua wanita di kotanya kini berada disisinya. Ada perasaan bahagia yang tak bisa diungkapkan oleh kata-katanya.


*


Di tempat lain, dikantor Devana, seorang wanita datang tanpa bertanya terlebih dulu pada penjaga resepsionis apakah Devano ada atau tidak. Ia juga berhasil melewati security yang sedang berjaga karena ada seorang pria yang mengalihkannya agar ia bisa masuk dengan mudah ke dalam gedung Emerald Jewelry. Ia berjalan dengan penuh percaya dirinya menuju lift dan menekan tombol menuju lantai di mana ruangan Devano berada.

__ADS_1


"Vano, aku khusus datang ke Indonesia hanya demi dirimu dan untuk memisahkan kau dengan gadis kecil itu," gumamnya dengan senyum percaya dirinya.


Sampainya di depan ruangan Devano, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu wanita itu masuk berjalan melenggokkan tubuhnya agar seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut tergoda. Kris yang melihat siapa yang datang langsung menghadangnya tak memperbolehkan wanita itu medekati Bos besarnya.


__ADS_2