
Esok harinya, Yesica sudah bangun pagi-pagi sekali, ia sudah tak sabar ingin keluar dari rumah sakit karena sudah tak betah dengan bau obat-obatan. Meski kamar yang ditempatinya adalah kamar rawat khusus yang memang milik keluarga Hanoraga pribadi kalau dirawat, tapi yang namanya rumah sakit tetaplah rumah sakit, bau obat-obatan akan selalu mengiringinya meski sudah diberi pewangi model apa saja.
“Kamu bersemangat sekali, Sayang.” Devano memeluk istri kecilnya yang sedang merapikan tempat tidur bekas dirinya itu dari belakang, padahal Devano sudah mengatakan kalau itu akan dibereskan oleh penjaga nanti, tapi Yesica yang sudah terbiasa melakukan apa pun sendiri tak betah melihat berantakan, apalagi akan ditinggal pergi.
“Tentu semangat, aku akan pulang ke rumah dan tak akan tidur di rumah sakit yang bau obat ini, bagaimana tidak semangat. Semua pasien yang sudah pulih juga pasti merasakan hal yang sama saat ia keluar dari rumah sakit,” sahut Yesica yang membiarkan posisi suaminya itu memeluk dirinya.
“Hm, aku juga sudah rindu dengan masakanmu yang enak itu. Dua minggu makan makanan resto membuatku bosan,” ucap Devano dengan manja.
“Ehem ... heemmm ... masih masa pemulihan yah, meski kandungannya sudah baik-baik saja, tapi suasana hatinya masih harus diperhatikan, jangan sampai terjadi pendarahan yang tak diinginkan. Untuk hubungan, masih membutuhkan waktu satu minggu lagi loh, jadi jangan membuat interaksi yang bikin si Junior bangun,” celetuk Sandra yang baru saja datang tapi sudah disuguhkan oleh pemandangan yang membuat orang iri.
“Ish, Tante, kenapa tak ketuk pintu dulu sih,” protes Devano dengan wajah dinginnya.
“Aku sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi kalian saja yang tak dengar karena asyik dengan dunia kalian berdua, makanya aku langsung saja berdehem agar kalian tersadar dan kembali ke alam nyata ini,” sahut Sandra, ia berjalan mendekati pasangan bucin itu dan memberikan sebuah bungkusan kecil. "Ini obat untuk istrimu, habiskan. Dan ingat, jangan melakukan hubungan dulu, tunggu satu minggu lai dan kalian datang lagi untukku memeriksa keadaan kandungan istrimu yang terakhir.” Sandra memberikan bungkusan yang ternyata isinya obat tersebut.
Yesica menerima bungkusan tersebut. “Terima kasih yah, Dokter Sandra. Saya akan mengingat pesan Anda,” dengan lembut Yesica berucap.
Devano membawa istrinya pulang, tapi sebelum mereka pulang, Devano mengajaknya untuk ke supermarket karena permintaan istri kecilnya.
“Aku bisa minta Kris untuk membeli semua kebutuhan dapur, Sayang,” ucap Devano.
“Kris sudah sangat sibuk dengan pekerjaan yang kamu berikan karena kamu tak datang ke kantor selama aku di rumah sakit, kasihan dia. Aku akan masak banyak malam ini, minta Kris dan Chelsea untuk datang makan malam bersama kita, aku juga akan menghubungi Vivi nanti untuk membantuku memasak. Kalau Vina dan suaminya bersedia untuk makan malam dengan kita, itu akan lebih baik, karena lebih ramai lebih seru,” sahut Yesica, ia ingin mengajak yang lainnya makan malam bersama sebagai bentuk syukur karena keselamatannya.
__ADS_1
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita undang Mamah dan Daddy juga untuk bergabung,” usul Devano.
“Itu akan lebih baik, jadi kita bisa berkumpul bersama, jika kamu memiliki teman lainnya juga boleh diajak saja biar makin ramai,” seru Yesica, ia memanfaatkan hal ini juga ingin mengenal keluarga dan kolega dari suaminya itu.
“Baiklah, aku akan mengabari yang lainnya juga untuk berkumpul, anggap saja ini syukuran karena kamu sudah kembali pulih. Kalau begitu aku akan meminta Vina untuk membantumu memasak, oke. Aku tak ingin kamu terlalu lelah hanya satu orang saja yang membantumu.” Devano menyarankan adiknya untuk membantu istri kecilnya itu masak.
“Apa katamu saja, aku menurut saja.”
Mobil sudah terparkir di area parkir supermarket, Devano menggandeng istri kecilnya itu berjalan masuk supermarket terbesar di kotanya. Di belakang ada seorang pengawal yang membawa troli untuk menempatkan barang belanjaan yang akan dibeli oleh Yesica.
Pengawal selalu mengikuti ke mana pun Devano dan Yesica pergi, tapi mereka tak menampakkan diri karna tak ingin terlalu mencolok, mereka akan muncul kala Bos dan Nyonyanya itu membutuhkan bantuan seperti saat ini. Jika Devano tak berkat apa pun, berarti mereka memang dibutuhkan, tapi jika Devano memberi isyarat dengan mengangkat tangannya maka artinya Bosnya itu tak membutuhkan mereka muncul karena bisa ditangani sendiri.
“Apa makanan kesukaan Mamah, Mas?” tanya Yesica kala mereka sudah di tempat sayuran dan buah-buahan.
“Baiklah, kita beli saja dulu sayurannya, nanti aku akan bertanya pada Vina dan Vivi akan masak apa yang enak,” akhirnya Yesica memutuskan untuk membeli dulu bahan masakannya, sekalian ingin mengisi lemari pendinginnya yang sudah kosong karena ditinggal sudah dua minggu lamanya.
Mereka membeli sayuran, buah, daging, ikan dan makanan laut lainnya. Yesica juga tak lupa membeli makanan ringan kesukaan dirinya untuk stok ngemil saat nonton film drama kesukaannya, tak lupa juga jus kemasan favoritnya ia ambil hingga tanpa sadar troli yang didorong oleh pengawalnya sudah terisi penuh hingga menjulang tinggi.
Saat mereka berjalan menuju kasir, tiba-tiba saja tangan Yesica di pengang seseorang, tentu saja hal itu membuat Devano terkejut. Yesica yang juga terkejut langsung menoleh pada si pemegang tangannya.
“Kak Riyan,” ucap Yesica lirih, tiba-tiba ia tersadar dan langsung menarik tangannya yang dipegang oleh pria yang ternyata Riyan.
__ADS_1
“Aw!” ia memekik kesakitan saat menarik tangannya paksa karna Riyan memegangnya cukup erat, dan juga tangan yang dipegang Riyan adalah bekas bersemayamnya jarum infus selama hampir dua minggu.
Devano dan Riyan yang panik langsung perhatian padanya.
“Kamu gak apa-apa, Sayang?” tanya Devano.
“Yes, kamu kenapa?” Riyan ikut bertanya, tapi sepersekian detik kemudian ia menatap wajah Yesica kala mendengar kata sayang terlontar dari pria yang menurutnya lebih pantas menjadi kakaknya. “Sayang?” sambungnya bertanya kembali membuat Yesica yang sedang memperhatikan tangannya yang sakit beralih melihat pada Riyan yang menatap penuh tanya.
“Apa hubungan pria ini denganmu, Yes? Mengapa dia memanggilmu dengan sebutan sayang?” tanya Riyan meminta penjelasan, sedari tadi Devano tak menghiraukan pria yang menurutnya masih bocil itu karena ia sedang tak memiliki mood untuk memikirkan hal lain.
“Saya suaminya, apakah masalah untuk Anda dengan panggilan saya pada istri saya?” ucap Devano yang akhirnya membuka suaranya karena ia sudah cukup terganggu.
“Apa! Apa benar yang dikatakan pria ini, Yes?” Riyan sejenak terkejut, ia mencoba menguasai dirinya agar tak terpancing emosi sebelum mendapatkan jawaban yang pasti dari Yesica sendiri. Yesica menatap Riyan dan Devano secara bergantian.
***
Jawaban apakah yang akan diberikan oleh Yesica? Apakah ia akan mengakui hubungannya dengan Devano pada Riyan, pria yang pernah mengisi hatinya? Bagaimana tanggapan Riyan jika mengetahui kenyataannya?
*****
Selamat menunaikan ibadah puasa hari ini🙏😊
__ADS_1
Jangan lupa mampir keceritaku yang baru yah karena sangat recomen banget dibaca saat bulan puasa dan dijamin aman tanpa ada unsur ser-seran😁🤭