
Devano sampai di rumah sakit tak lama setelah Bram sampai, ternyata Yesica sudah siuman. Ia langsung berjalan menghampiri istri kecilnya yang sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur itu dan memeluknya erat. Semua yang ada diruang kamar rawat itu segera keluar untuk memberi keduanya privasi.
“Mas, anak aku sudah tak ada,” ucap Yesica dan seketika itu juga tangisnya pecah, terdengar pilu ditelinga Devano hingga ia pun ikut meneteskan air matanya. Seorang Devano yang terkenal kejam dan tak kenal ampun kini meneteskan air matanya karena tangis pilu istri kecilnya itu.
“Yang sabar yah, Sayang. Aku sudah menghukum orang yang sengaja mencelakaimu hingga kita kehilangan calon buah cinta kita. Tante Sandra bilang kamu masih bisa hamil lagi kok setelah ini, ikhlaskan dia yah agar bisa beristirahat dengan tenang.” Devano mengusap punggung Yesica dan mencium kepalanya, padahal hatinya juga sakit dan sedih tapi ia mencoba tegar dan menghibur istri kecilnya itu.
“Dia pasti sedih banget karena kita belum mengetahui keberadaannya di dalam perutku. Aku sungguh Ibu yang kejam karena tak menyadari kehadirannya,” ucapnya lagi, Aberlie yang melihat hal itu ikut menangis dalam pelukan Bram.
Devano melepas pelukannya dan menangkup wajah sembab istrinya yang kemungkinan habis menangis sebelum dirinya tiba. “Ssstt ... jangan bicara seperti itu jika dia mendengarnya, dia pasti akan marah. Dia juga tak ingin gugur, jika orang itu tak sengaja menabrakmu dan jika saja aku bisa melindungimu, mungkin saat ini dia masih bersama dengan kita. Janji sama aku, jangan menyalahkan diri sendiri lagi, kita akan memilikinya lagi setelah kau pulih, oke.” Devano meletakkan jari telunjuknya di bibir Yesica sambil menenangkan istri kecilnya itu, Yesica hanya bisa menganggukkan kepalanya tapi air matanya tak ingin berhenti. Devano mengusap air mata itu sambil mengembangkan senyumnya agar Yesica tersenyum.
“Jangan menangis lagi, atau nanti aku yang kan marah, oke. Kamu pasti lapar, aku suapi yah,” ucapnya, Yesica hanya bisa mengangguk.
Devano mengambil semangkuk bubur yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur, ia menyuapi Yesica dengan penuh cinta.
Beberapa hari berlalu, Devano dengan begitu telatennya merawat istri kecilnya itu di rumah sakit. Ia menyerahkan semua pekerjaannya pada Kris, Kris mau tak mau harus mau menerimanya.
“Saya harap bonus bulan ini naik menjadi tiga kali lipat, Tuan,” ucap Kris saat ia memberikan berkas yang memerlukan tanda tangan Bos besarnya itu.
“Berapa pun yang kau minta, asal perusahaan kau tangani dulu sementara waktu sampai istriku pulih, itu tak jadi masalah untukku,” sahut Devano yang tak mempermasalahkan bonus yang diminta oleh asistennya itu, padahal niat hati Kris hanya menggoda saja, tapi memang dasarnya Kris, menggoda atau serius ekspresinya sama saja membuat orang bingung.
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi dulu, jika ada sesuatu, Anda bisa langsung menghubungi saya,” pamit Kris setelah mendapatkan tandatangan yang dibutuhkan olehnya.
Setelah kepergian Kris, Devano menghampiri Yesica yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ia berkali-kali meminta pulang, tapi Devano belum mengizinkan meski Sandra sudah mengizinkannya. Entah sebenarnya siapa yang menjadi dokternya ini, hingga Sandra pun tak bisa berkutik kala Devano sudah berucap.
“Memang anak itu mirip sekali dengan Daddynya,” begitulah yang dikatakan Sandra kala ia mengataka Yesica sudah boleh pulang tap Devano memintanya untuk tetap menjalani perawatan di rumah sakit, mentang-mentang rumah sakit itu milik sahabat baik Daddynya dan ia sebagai penyokong dana terbesarnya jadi apa yang dikatakannya adalah mutlak.
*
“Mas, aku ingin pulang yah, sudah lebih dari satu minggu aku berada di rumah sakit, rasanya sungguh membosankan,” pinta Yesica, ia beberapa kali mengeluh ingin pulang ke rumah, meski kamarnya di desain seperti kamar pribadi, tapi yang namanya rumah sakit tetap saja beraroma obat menyengat sekali.
“Satu minggu lagi, jika pemeriksaanmu sudah benar-benar pulih maka kita akan pulang, oke,” tetap saja Devano tak membiarkannya pulang, Yesica hanya bisa menurut saja karena merengek pun percuma, suaminya itu tak akan menurutinya.
“Jangan merajuk dong, setelah keluar nanti, aku janji apa pun permintaan kamu pasti akan kukabulkan.” Devano mencoba merayu istri kecilnya itu, tapi memang dasarnya pria dingin yang tak pernah merayu wanita, jadi sungguh terdengar membagongkan ditelinga Yesica.
“Aku tak ingin apa-apa, aku hanya ingin cepat pulang, ingin istirahat di rumah. Di sini aku selalu merasa pusing dengan bau obat-obatan.” Yesica masih berusaha agar suaminya itu mengizinkannya pulang, lagi pula apa enaknya sih menginap di rumah sakit lama-lama.
“Baiklah, kita cek sekali lagi esok, jika Sandra mengatakan kau sudah pulih hampir seratus persen, maka aku akan mengizinkanmu pulang, oke,” ucap Devano seketika membuat Yesica tak ingin berkata-kata lagi.
‘Sudalah, pindah saja ke rumah sakit tinggalnya kalau seperti ini mah,” batin Yesica, pasalnya ia memang sudah bosan karena sudah hampir dua minggu lamanya ia berada di rumah sakit, hanya orang yang waras saja yang bersedia tinggal di rumah sakit, orang tak waras mah tak akan mungkin bersedia tinggal.
__ADS_1
*
Esok hari, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Devano, Sandra akan melakukan pemeriksaan kembali untuk mengetahui apakah sudah benar-benar pulih atau belum.
‘Dokter Sandra, saya mohon agar engkau mengatakan pada Bos yang keras kepala ini kalau aku sudah sembuh seratus persen biar aku bisa pulang,’ batinnya terus berkomat-kamit agar Sandra mengatakan hasil yang diinginkannya.
Yesica masuk ke dalam ruang kerja Sandra dengan didampingi oleh Devano. Yesica langsung berbaring di atas brankar dekat mesin USG. Sandra mulai memeriksa keadaan rahim Yesica, Devano melihat ke layar dan meminta penjelasan secara detail tentang apa yang ia lihatnya membuat Sandra pusing dibuatnya.
‘Bram, harusnya kamu bikin anak yang banyak yang seperti Devano ini biar orang pusing tujuh keliling,’ umpat Sandra dalam hati dengan tingkah Devano yang memang apa-apanya selalu ingin jelas dan sempurna.
“Intinya istrimu ini sudah sembilan puluh lima persen pulih, tinggal suasana hatinya saja yang masih bete karna kamu terus menyuruhnya tinggal di rumah sakit. Jadi, kapan kau akan membawanya pulang?” ucap Sandra bertanya sambil menahan rasa kesalnya pada putra Bram yang segala sesuatunya ingin sempurna.
“Baiklah, esok aku akan membawanya pulang. Kalau begitu, aku akan membawanya kembali ke kamar, istirahat sehari lagi agar esok saat pulang pulih dengan maksimal.” Devano membawa istri kecilnya itu keluar dari ruangan Sandra setelah berucap demikian. Sandra merasa lega kala Devano sudah pergi, ia begitu sesak dengan kehadiran pria perfect itu karena menahan emosi yang tak bisa ia keluarkan.
*****
Hai kak, yuk yuk mampir keceritaku yang ini yuk, aman dibaca saat puasa loh, ramein kuy, masih sepi banget kaya hatiku ini🤧
__ADS_1