
“Maaf Nona Angel, Anda tak bisa seenaknya saja masuk ke ruangan Tuan Vano seperti ini. Harap Anda pergi dengan suka rela sebelum saya menyeret Anda keluar dari sini dengan paksa, dan tentunya hal itu akan membuat Anda malu bukan?" ucap Kris dengan wajah datar dan tatapan tajam menghunus bagai anak panah yang siap untuk dilepaskan oleh si pemanah dari busurnya.
“Kau tahu bukan siapa aku? Tak seharusnya kau menghadangku seperti ini saat aku ingin bertemu dengan calon suamiku,” ketusnya bertanya dengan tatapan kesalnya pada Kris.
“Saya tak peduli siapa Anda, yang saya tahu Tuan saya sudah memiliki istri yang artinya dia adalah Nyonya muda saya dan bukan Anda, jadi berhenti Anda memimpikan sesuatu yang tak mungkin akan Anda raih, bangunlah sebelum Anda tidur untuk selamanya,” sahut Kris yang sama sekali tak takut akan ancaman Angel.
Merasa Kris tak bisa ditangani, Angel memutar otaknya agar ia bisa mendekati Devano.
“Vano, apakah kau tega melihat asistenmu ini menghadangku seperti ini? Aku hanya ingin bertemu denganmu untuk melepas rindu, aku di sini hanya beberapa hari saja apakah kau sama sekali tak ingin menghabiskan waktu bersama denganku?” rengeknya berharap Devano akan lulus dengan sikap manja dan centilnya. Jika itu pria lain seperti Boy mungkin akan langsung luluh, tapi ini adalah Devano bukan Boy.
“Memang siapa kamu sehingga aku harus menghabiskan waktu bersama denganmu? Apakah kau begitu penting dan pantas untuk waktuku?” dengan ketus dan nada dinginnya Devano menjawabnya membuat Angel mengepalkan tangannya kesal, ia tak menyangka selama ini ia telah berjuang cukup keras untuk mendapatkan Devano tapi belum juga membuahkan hasil dan malah kecolongan oleh gadis kecil yang masih sekolah.
__ADS_1
“Van, apa kurangnya aku dibandingkan gadis kecil itu? Aku lebih matang dan tentunya aku lebih segalanya dari dia. Aku sudah berjuang lama untuk mendapatkan cinta kamu, tapi kamu malah dengan mudahnya menikahi gadis kecil yang mungkin bahkan hanya memanfaatkan kamu saja untuk membiayai seluruh hidupnya. Dia hanya ingin menumpang hidup denganmu, Van. Dia berbeda dari aku yang sudah jelas memiliki karierku sendiri dan penghasilan, aku juga bisa membantumu menjadi model wajah Emerald Jewelry, jadi kamu tak perlu membayar mahal lagi untuk seorang model.” Angel tak kehabisan akal, ia terus saja mengoceh mencoba membujuk Devano agar luluh dan menerima dirinya lalu membuang Yesica.
Devano bangkit dan berjalan menuju sofa, ia duduk dengan begitu santainya dengan kedua kaki diletakan di atas meja.
“Lepaskan dia, Kris. Kasihan anak orang kau suruh berdiri terus, kakinya pasti lelah,” titahnya, Kris mundur dan berjalan menuju di mana Bosnya berada, ia berdiri tepat di belakang Devano duduk.
Angel yang merasa itu adalah kesempatan bagus langsung berjalan menghampiri Devano, ia duduk di bawah sambil mengusap kaki Devano dengan senyuman menggodanya. Angela pikir Devano telah tertarik padanya karena Devano tak menolaknya.
“Kau pikir kau pantas membandingkan dirimu dengan istri tercintaku? Kau dibanding dengannya tak berarti apa-apa. Dia bagaikan berlian sedangkan kau bagaikan batun kerikil. Dia lebih terhormat, dan kau adalah wanita hi*a. Cinta yang dimilikinya tulus apa adanya tanpa kemunafikan, sedangkan kau. Tujuanmu ingin berada disisiku karena harta dan kedudukanku yang bisa membuatmu dan keluargamu naik ke puncak kejayaan. Jangan pernah bermimpi untuk menjadi pengganti dirinya karena itu tak akan pernah terjadi. Satu hal yang harus kau ketahui, setelah ini jika kau membuat sehelai saja rambut istriku patah, maka aku tak akan segan-segan menghabi*i hidupmu dan menghancurkan keluargamu. Kau dan keluargamu jangan pernah muncul lagi di hadapanku, mulai sekarang kerja sama antara Emerald Jewelry dan Alexander Group berakhir. Esok surat pembatalan kerja sama itu akan dikirim ke Alexander Group oleh Kris langsung sebagai perwakilanku,” ucapnya dengan tatapan dan nada yang terkesan terdengar dingin sehingga membuat siapa saja yang melihatnya takut, begitu juga dengan Angel. Ia menghempaskan cengkeramannya begitu saja sehingga membuat Angela tersungkur.
Angel menggelengkan kepalanya, air matanya mulai luruh, ia bangkit dan memeluk kaki Devano. “Enggak, Van. Kamu tak boleh melakukan ini pada keluargaku. Jika kau memutuskan kerja sama ini maka Alexander Group akan terancam bangkrut dan tak akan ada yang mau bekerja sama lagi dengan Alexander Group. Tolong jangan lakukan ini, aku mohon, demi persahabatan kedua orang tua kita.” Angel memohon sambil memeluk kaki Devano.
__ADS_1
“Ahahaha, antara Bram Hanoraga dan Alexander tak pernah ada ikatan persahabatan. Keluargamu saja yang membanggakan diri karena bekerja sama dengan Emerald Jewelry hingga tak tahu malunya melewati batasan mengatakan kalau Bram Hanoraga dan Alexander bersahabat. keluarga Hanoraga tak akan pernah memiliki ikatan persahabatan dengan keluarga penjilat seperti kalian.” Devano tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Angel yang dengan percaya dirinya mengatakan persahabatan antara Daddynya dan Papahnya.
“Enggak, itu gak benar. Om Bram juga sudah menerima persahabatan yang ditawarkan oleh Papah. Om Bram juga tak menyangkal kalau Papah mengatakan pada media kalau mereka bersahabat. kamu pasti berbohong kan, Van. Om Bram tak mungkin sekejam itu.” Angel tak mempercayai apa yang dikatakan oleh Devano, ia terus saja menyangkalnya. Yang ia tahu hubungan keluarganya dengan keluarga Hanoraga sudah seperti keluarga.
“Kau naif sekali wanita. Daddyku tak menyangkalnya karena ia kasihan dengan keluarga kalian yang gila kan hormat dan kedudukan. Dia hanya ingin memberi sedikit kalian muka saja, tapi siapa sangka ternyata diartikan salah oleh kalian. Kau pikir keluargaku sudi menjalin hubungan kekeluargaan dengan keluargamu? Heh, kalian para penjilat hanya bisa bermimpi saja. Kris, bawa dia pergi dari sini, aku mu*k melihatnya. Setelah ini antar aku ke rumah istriku, aku tunggu di mobil,” titah Devano beralih meminta Kris membawanya pergi.
“Baik, Tuan.”
“Enggak, Vano. Jangan lakukan ini padaku, kumohon jangan seperti ini. Vano, please.” Angel terus saja berteriak saat Kris menariknya untuk keluar, Devano tak menghiraukannya, ia tak peduli dengan Angel yang terus berteriak.
“Huh, membuatku jadi tak mood untuk melanjutkan pekerjaan saja. Lebih baik aku minta gadis kecil itu menemaniku,” gumamnya, ia mengambil jasnya dan berjalan menuju area parkir di mana mobilnya terparkir. Dalam keadaan pikiran yang kacau seperti itu, yang ada dalam pikirannya hanya Yesica seorang, ia ingin segera bertemu dengan istri kecilnya.
__ADS_1