Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 76


__ADS_3

Linda tersenyum penuh kemenangan, dalam hatinya berpikir akhirnya ia berhasil menjerat Devano.


“Kau ingin enyah dari pandanganku, atau tangan ini akan kupo**ng dan kuberi makan pada buaya kesayanganku?” ucap Devano memberi pilihan seketika membuat Linda sangat terkejut dan ketakutan.


“Lancang sekali kau menyentuh tubuhku dengan tangan kotormu ini. Apakah kau tahu di mana posisimu dan siapa aku? Apakah kau sudah bosan bekerja di sini?” sambungnya dengan nada datsr tanpa menoleh pada Linda.


“Maaf, Tuan, saya hanya ingin membuat Anda merasa relaks sejenak karena saya lihat Anda begitu lelah jadi saya berinisiatif untuk memijat Anda. Saya tak ada maksud lainnya, Tuan,” ucap Linda dengan nada ketakutan sambil memegang tangannya yang sempat dipegang oleh Devano.

__ADS_1


“Aku tak butuh pijatanmu, istriku jauh lebih pandai memijatku dibandingkan kamu. Enyah kau dari hadapanku sekarang juga, jangan pernah muncul lagi di hadapanku jika tak ada kepentingan pekerjaan. Aku tak memecatmu saja kau sudah beruntung,” ucap Devano membuat Linda ketakutan, ia langsung pergi dari ruangan itu dengan segera kembali ke ruang divisinya.


Sampainya diruang divisi, Linda disambut oleh Lidia dan yang lainnya dengan wajah berbinar dan beberapa pertanyaan.


“Bagaimana, Mbak Linda? Tuan Vano pasti tergoda oleh kecantikan Mbak Linda kan?” tanya salah satu dari mereka.


Yesica yang mengetahui reaksi dari Linda hanya bisa tersenyum kasihan, ia tahu kalau suaminya itu pasti menolaknya mentah-mentah dan membuatnya takut, karena Yesica mengenal siapa suaminya itu, pria yang berkuasa didunia bawah dengan kekejaman yang membuat musuhnya gemetar ketakutan.

__ADS_1


“Yes, apa kamu yakin kalau Tuan Vano tak macam-macam dengan Linda? Sepertinya apa yang dilakukan Linda untuk menggoda Tuan Vano berhasil deh, buktinya Linda tak menampik saat Lidia berkata demikian,” tanya Silvi yang khawatir.


“Kamu tenang saja, kamu lihat deh raut wajahnya Linda, dia sepeti orang yang ketakutan bukan orang yang senang setelah bertemu dengan pria yang diincarnya,” sahut Yesica meminta Silvi melihat baik-baik raut wajah Linda yang sebenarnya ketakutan meski Linda menutupinya dengan senyuman, tapi senyuman itu palsu dan terkesan dipaksakan.


“Eh iya loh, kamu benar, dia bukan senyum bahagia melainkan seperti senyum dipaksa, wajahnya juga terlihat seperti yang sedang ketakutan gitu. Kira-kira Tuan Vano mengatakan hal apa yah? Apa mungkin Tuan Vano ingin mengambil paksa kepera**nannya yah terus si Linda ketakutan gitu,” ucap Silvi menebak-nebak, seketika Yesica langsung menoleh dan menatap tajam pada teman yang duduk di kursi sampingnya.


“Sepertinya kamu belum paham dengan apa yang kukatakan yah, Vi.” Yesica menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pemikiran Silvi yang tak sampai-sampai, mungkin jika diibaratkan menunggu bus dia tak akan dapat kursi karena sudah keduluan oleh orang lain. “Jika suamiku menginginkan hal itu, maka dia akan dengan senang hati memberikannya karena memang itu yang diinginkannya. Tapi ini raut wajahnya ketakutan, pasti suamiku ada mengatakan sesuatu yang membuatnya takut, atau mengancam akan dipecat bisa jadi. Siapa sih yang rela keluar dari sini, secara gaji kan di atas rata-rata dari perusahaan lain,” sambungnya, Silvi hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, setelah panjang kali lebar dan ketemunya luas ia baru paham dengan apa yang terjadi, ingin rasanya Yesica menepuk jidatnya karena temannya itu yang lola alias loading lama.

__ADS_1


__ADS_2