
Di rumah, Yesica langsung istirahat karena perutnya masih terasa sakit dan nyeri. Devano mintanya untuk tidak melakukan apa pun selain istirahat agar tubuh istri kecilnya itu cepat pulih. Ia meminta Davina untuk mengantar makanan untuk mereka makan malam nanti karena tak mungkin juga Yesica untuk masak, ia juga sedang tak ingin makan masakan resto mana pun jadi meminta sang adik untuk mengirim makanan untuk malam nanti.
Menjelang malam sekitar jam tujuh malam, Yesica terbangun karena ia merasakan perutnya yang keroncongan. Ia bangun dari pembaringannya, dilihatnya sisi sebelahnya Devano sedang terlelap, Yesica tersenyum dan mengusap wajah tampan itu.
“Kamu pasti lelah karena merawatku selama dua minggu ini.” Yesica mencium pucuk kepala prianya itu dengan lembut lalu bergegas pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dan bau sekali dengan obat.
Setelah selesai mandi dan juga sudah terlihat segar, Yesica langsung keluar dari kamarnya menuju ke dapur berniat untuk masak makan malam. Namun, saat sampai di dapur ternyata sudah ada yang sedang sibuk menyiapkan makanan dan hampir selesai.
“Vin, kamu kapan datang?” tanya Yesica yang baru saja tiba.
Davina menengok pada kakak iparnya itu dan tersenyum. “Sudah sedari sore, sebentar lagi makan malam siap, apakah Kak Vano masih tidur?” sahut Davina melanjutkan memasaknya.
“Hm, dia masih tidur, sepertinya di sangat lelah jadi aku tak tega untuk membangunkannya,” sahut Yesica, Davina tersenyum mendengar jawaban dari kakak iparnya itu.
“Jarang-jarang ia bisa tidur dengan lelap, biasanya ia akan sibuk dengan pekerjaannya sampai tak memiliki waktu untuk merawat dirinya sendiri. Sekarang ada kamu yang berada di sampingnya, rumah ini terasa hidup kembali,” ucap Davina membuat Yesica bingung.
“Memang ada apa dengan rumah ini?” tanya Yesica yang bingung akan ucapan adik iparnya itu.
“Kak Vano jarang pulang, rumah ini selalu sepi tanpa penghuni, hanya asisten rumah tangga saja yang setiap pagi datang untuk membersihkan rumah karena Kak Vano biasanya akan tidur dikantor. Ia pulang terkadang satu minggu sekali dan itu pun hanya untuk melihat rumahnya masih ada atau sudah digondol oleh semut,” sahut Davina menjelaskan dengan terkekeh di akhir kalimat, Yesica pun ikut terkekeh mendengarnya.
“Dia memang super sibuk, aku juga sering diajaknya untuk bermalam dikantor kalau dia sedang banyak pekerjaan dan harus lembur, padahal aku bisa saja pulang ke rumah tapi dia tak mengizinkanku untuk sendirian di rumah,” ungkap Yesica mengingat saat ia tidur dikantor suaminya.
__ADS_1
“Kalian sedang membicarakan apa? Kok sepertinya asyik sekali.” Devano yang bau saja datang langsung memeluk tubuh istrinya itu yang sedang duduk di kursi panjang seperti di Cafe atau Bar, ia memeluk istrinya itu dengan mesra dan mencium pipinya di depan sang adik, tak ada perasaan canggung bagi Devano tapi tidak bagi Yesica, ia belum terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu di depan orang lain meski itu adik iparnya sendiri.
“Hei, jangan bermesraan di depanku atau nanti akan kulempar oleh centong,” seru Davina memutar bola matanya melihat kemesraan sang kakak di depan dirinya, Devano hanya terkekeh sedangkan Yesica sudah memasang wajah malu.
“Mas, tak enak dengan Vina,” keluh Yesica yang malu.
“Biarkan saja, toh dia juga pernah merasakan hal ini, dia jika sedang bersama dengan Ronggo sudah seperti dunia milik berdua, jadi mengapa aku harus menahan diri hanya karena ada dia di sini. Jika dia iri, suruh saja suaminya itu datang,” sahut Devano seenaknya.
“Aku di sini loh, Kak,”” seru seorang pria dari balik sofa depan televisi, seketika Devano dan Yesica menoleh pada asal suara tersebut, Yesica membuka mulutnya karena terkejut.
“Dasar, pantas saja dia biasa saja, biasanya protesannya sudah seperti kereta api yang tak ada ujungnya,” goda Devano pada adik perempuannya, ia mengajak sang istri untuk menghampiri Ronggo yang sedang duduk di sofa.
“Mas, aku bantu Vina saja menyiapkan makanan,” ucap Yesica hendak menolak.
“Apa kabar, Go?” tanya Devano yang duduk di sofa untuk dua orang karena di tempat Ronggo duduk ternyata ada keponakan kecilnya yang sedang tidur.
“Baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana kabarnya? Sudah punya teman hidup sekarang terlihat lebih berbinar, tak seperti biasanya yang selalu kusut,” sahut Ronggo yang menggoda sang kakak ipar.
“Bisa saja kamu, sekarang pekerjaan nomor dua, jadi punya waktu lebih santai saja. Milan tumben sudah tidur?” sahut Devano bertanya.
“Iya, dia hari ini ikut ke Cafe jadi kelelahan,” jelas Ronggo.
__ADS_1
“Hei para pria, mari kita makan, makanan sudah siap,” panggil Davina pada kedua pria yang sedang asyik mengobrol. “Kak Ica, ayu makan,” ajaknya beralih pada Yesica.
Mereka pun bersama berjalan menuju meja makan dengan membiarkan Milan tetap terlelap. Sofa yang ditiduri oleh Milan dibalikkan oleh Ronggo agar terlihat jika putranya sedang terlelap dari meja makan. Mereka makan bersama sambil berbincang.
Sekitar jam sepuluh Davina dan Ronggo berpamitan untuk pulang.
“Apa tak sebaiknya kalian menginap saja? Kasihan Milan yang sudah tidur seperti itu,” saran Yesica.
“Benar yang dikatakan Kakak iparmu, bermalamlah di sini, kasihan Milan yang sudah terlelap seperti itu, akan sangat mengganggunya jika tidur di mobil.” Devano menimpali membenarkan apa yang disarankan sang istri.
“Baiklah kalau begitu, karena Kakak dan Kakak iparku sudah berkata demikian jadi aku hanya bisa menurutinya,” akhirnya Davina mengalah, ia tak pernah membantah dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak, jika Devao sudah berkata demikian maka ia hanya bisa menurutinya.
“Milan pasti akan senang saat bangun esok mengetahui jika ia berada di rumahku,” ucap Devano. “Sebaiknya kalian cepat istirahat, pasti sudah sangat lelah,” titah Devano, mereka pun langsung menuju kamar yang biasa digunakan oleh Milan untuk meniduri jagoan kecil yang tampan itu, setelah Milan ditiduri dikamarnya Davina dan Ronggo menuju kamar yang biasa digunakan mereka saat biasanya menginap.
“Sekarang kamu minum obat dan vitaminmu dulu.” Devano memberikan obat dan vitamin beserta air pada istri kecilnya. dengan begitu penurutnya Yesica meminumnya karena ia ingin cepat pulih dan kembali ke kampus, banyak pelajaran yang tertinggal padahal sebentar lagi ia akan skripsi.
“Terima kasih,” ucap Yesica lembut.
“Tidurlah, aku akan di sini mengecek pekerjaan,” titah Devano yang sudah memegang laptopnya duduk di samping Yesica berbaring sambil mengusap kepala istri kecilnya itu.
“Hm, kamu juga jangan tidur terlalu malam, nanti yang ada aku sembuh kamu yang gantian sakit,” sahut Yesica mengingatkan.
__ADS_1
“Iya, Sayang, setelah selesai aku akan segera tidur,” ucap Devano lembut dan mencium kening sang istri, terasa berdesir dalam hati Yesica kala bibir dingin milik suaminya itu menyentuh keningnya.