Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 92


__ADS_3

Malam tiba, setelah makan malam Vivi sangat gugup sekali, pasalnya ia belum pernah melakukannya dengan pria mana pun. Meski sudah tidur satu ranjang dengan Lucas, nyatanya keduanya tak melakukan apa pun yang melebihi batasan karena Lucas sendiri menghargai Vivi yang tak ingin melakukan hubungan sebelum menikah.


Vivi yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa tiduran sambil menutupi tubuhnya dan memeluk guling. Jantungnya tiba-tiba saja menjadi berdegup lebih kencang kala terdengar pintu dibuka lalu ditutup lagi, langkah kaki mendekat pada ranjang semakin membuat dirinya bergetar, padahal sebelumnya kala Lucas datang dan tidur di sampingnya dan memeluk dirinya ia akan merasa biasa saja. Darahnya terasa berdesir kala sebuah tangan kekar membalik dirinya, tanpa berucap apa pun, Lucas memagut bibirnya membuat dirinya seakan kaku ma*i rasa tak bisa berkutik.


“Kamu tak seperti biasanya, apakah kamu tegang karena ini malam pertama kita?” tanya Lucas dengan lembut membuat darah Vivi berdesir.


“Aku... takut, aku belum pernah melakukannya. Kata orang saat pertama akan sangat menyakitkan,” sahut Vivi dengan nada yang bergetar, sungguh terlihat begitu imut dimata Lucas membuat pria tampan itu terkekeh geli.


“Aku pun baru pertama kali akan melakukannya. Meski hidupku didunia hitam, tapi aku tak seperti Boy yang doyan celup sana celup sini. Aku masih perjaka ting-ting, dan orang pertama yang akan kuserahkan pengalaman pertamaku adalah dirimu, istriku yang sangat aku cintai,” mendengar hal itu membuat Vivi merona, hatinya bertanya apakah benar kalau ia adalah orang pertama yang menjadi wanita pertamanya.


“Apakah kamu tak mempercayainya? Jika kamu tak mempercayaiku tak apa, aku tak akan memaksa kamu untuk mempercayaiku, tapi kamu harus tahu kalau aku tak mungkin berdusta pada orang yang kucintai, kau bisa tanyakan hal tentangku pada Chelsea, dia yang sangat mengenalku,” tanya Lucas, ia tak ingin memaksa istrinya untuk mempercayainya, karena menurut dirinya rasa percaya itu datang dari dalam hati masing-masing, bukan karena dipaksa untuk percaya.

__ADS_1


Sejenak Vivi teringat ucapan Chelsea yang selalu mengatakan kalau Lucas adalah pria yang baik.


“Aku percaya, jika kamu pria yang brengsek, mungkin saat ini aku sudah tak memiliki mahkotaku lagi. Tapi kamu nyatanya menjaganya meski kita tidur bersama kau tak melakukan apa pun, aku tahu kamu begitu tersiksa menahannya selama ini, jadi sekarang kamu sudah tak perlu menahannya lagi,” sahut Vivi, ia sudah siap untuk menyatu dengan suaminya tanpa ada paksaan, tentu saja hal itu membuat Lucas sangat bahagia. Bagaimana tidak, selama ini ia menahan gejolaknya untuk tak menyentuh wanitanya demi tak menyakitinya, dan kini pada akhirnya penantian itu berbuat manis.


“Aku akan bermain lembut karena aku tahu kau pertama kalinya dan juga akan menyakitkan. Tapi jika nanti kau merasa sakit dan ingin berhenti, katakan saja, aku akan menghentikannya untukmu, aku tak ingin kau kesakitan,” ucap Lucas, sepersekian detik kemudian mereka sudah saling memagut bibir satu sama lain.


Karna bermain bibir sudah bukan yang pertama buat Vivi, maka dari itu ia bisa mengimbangi dan membalas permainan bibir Lucas. Sementara tangan Lucas sudah bergerilya disalah satu bukit kembar milik Vivi, dan saat ujungnya sedikit dimainkan leg*han lirih dari bibir Vivi terdengar membuat Lucas tersenyum. Gair*hnya tiba-tiba saja memuncak dan entah sejak kapan keduanya sudah tak mengenakan apa pun lagi.


Dibukanya lebar kaki Vivi agar Lucas bisa melihat pemandangan indah tersebut, sebuah area kenik*atan dengan rambut tipis dan wangi semerbak mawar, mungkin karena Vivi sangat senang berendam air mawar saat mandi membuat area intinya begitu wangi ekstrak mawar. Diendusnya bagian inti tersebut membuat Lucas berdesir sementara Vivi menutupi wajahnya dengan bantal. Saat lidahnya menjulur menyentuh daging kecil yang terimpit, tubuh Vivi mengejang, ia merasa ada aliran listrik yang menyengatnya, tanpa sadar tangan kirinya meremas rambut Lucas, sejenak Lucas tersenyum, lalu melanjutkan kembali apa yang serang dilakukannya hingga akhirnya Vivi mengejang karena sesuatu tumpah begitu saja dari bagian intinya.


“Siap untuk kumasuki?” bisik Lucas meminta izin agar Vivi tak terkejut kala menerima serang mendadak yang akan membuatnya terentak karena rasa nyeri yang akan diterimanya, Vivi hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


Karena mendapatkan izin, Lucas mulai mengarahkan miliknya pada milik Vivi yang sudah bacah dengan ****** ***** miliknya, Lucas menggesek-gesekkannya perlahan sambil sesekali menekan ujungnya untuk memasukkannya. Terasa sangat sempit membuat Lucas harus bersabar dan sedikit lembut. Perlahan tapi pasti dan akhirnya hingga beberapa kali percobaannya miliknya bisa masuk juga, Vivi merasakan kalau miliknya sobek dan rasanya sungguh nyeri sekali membuat dirinya menahan nafas dan mengeluarkan air matanya.


“Sorry, Baby. Pasti sakit banget yah.” Lucas mencium mata Vivi bergantian, ia mengusap air mata istrinya itu dengan ciuman lembutnya. Vivi hanya bisa menganggukkan kepalanya karena yang ia rasakan memang sangat sakit dan perih. Lucas terdiam sejenak membiarkan istrinya itu menetralisir rasa sakitnya, saat ia rasa Vivi sudah sedikit tenang, Lucas mulai menggoyangkan pinggulnya, awalnya Vivi masih meringis karena masih terasa nyeri, tapi karena permainan Lucas yang lembut dan pelan membuat rasa perihnya berubah menjadi rasa nik*at yang belum pernah ia rasakan, tanpa sadar des*han kenik*atannya lolos dari bibirnya yang seksi membuat Lucas semakin bersemangat.


Dua puluh menit Lucas memacunya hingga akhirnya ia tak bisa lagi menahannya, lahar panas menyembur ke dalam rahim Vivi bersamaan cairan Vivi yang ikut keluar. Rasa nik*at dan lelah membuat keduanya ambruk dan saling berpelukan.


“Makasih atas kenik*atan yang kau berikan padaku, dan maaf sudah menyakitimu. Aku berharap dia akan langsung tumbuh di sini agar kita bisa segera memiliki Lucas junior atau Vivi junior.” Lucas mengusap perut Vivi yang masih rata. “Apakah kau tak keberatan jika aku menginginkan anak dalam waktu cepat?” sambungnya bertanya.


“Aku selalu siap jika sudah diberi, tapi jika belum apakah kau akan memilih untuk mendapatkannya dari wanita lain?” pertanyaan bod*h terlontar dari bibir Vivi begitu saja.


“Apa yang kau bicarakan? Jika kita tak diberi kepercayaan itu tandanya kita hanya diperbolehkan untuk menikmati masa pacaran yang belum puas ini. Lagi pula, masih banyak anak-anak di panti yang bisa kita rawat jika memang kita tak diberi kepercayaan. Sudah, jangan berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kita tidur, aku tahu kau lelah.” Lucas menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos, keduanya terlelap sambil saling berpelukan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2