
Yesica memulai harinya hari ini di divisi desain seperti permintaannya, ia sangat bersemangat sekali sehingga tanpa sadar senyumnya selalu merekah di wajahnya.
“Hai, aku Silvi, siapa nama kamu? Maaf tadi aku tak menyimak Tuan Kris soalnya,” sapa pegawai bernama Silvi mengajak Yesica berkenalan.
“Aku Yesica, salam kenal yah, dan terima kasih sudah bersedia berkenalan denganku,” balas Yesica.
“Sama-sama, lagi pula kita kan satu divisi, masa tak saling kenal kan aneh gak sih,” sahut Silvi. “Oh iya, memang benar yah kamu itu istrinya Tuan Devano?” sambungnya ingin jawaban yang pasti.
Yesica tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya perlahan.
“Aku tak menyangka saja, Bos besar kita yang besar kita yang begitu dingin pada setiap orang terutama pada wanita, kini telah memiliki istri, dan juga istrinya ternyata masih belia sekali,” ucap Silvi, mungkin jika wanita yang julid yang mengatakannya akan terdengar seperti sebuah sindiran karena ia yang masih belia menikah dengan pria berumur yang lebih pantas menjadi pamannya mungkin, tapi kenyataannya malah menjadi suaminya.
“Mungkin karena kita memang sudah ditakdirkan untuk berjodoh, jadinya bisa bersama. Bukankah cinta tak memandang usia?” jelas Yesica memberikan pertanyaan yang sebenarnya konyol.
Persepsi cinta tak memandang usia jika pria yang dinikahinya lebih tua tapi tak memiliki apa-apa mungkin tak akan ada gadis belia yang mau menikah dengannya, itu semua hanyalah ucapan kebohongan semata bagi mereka.
“Yah kamu memang benar, cinta memang terkadang gi*a dan tak memandang usia mau pria itu lebih tua ari si wanita atau wanita lebih tua dari si pria, jika pada dasarnya mereka saling mencintai maka tak akan ada yang bisa melarangnya lagi.” Silvi mengakui itu.
“Sudah ayu kerja, jika kita terus bergosip nanti Bos akan marah,” ajak Yesica untuk memulai pekerjaannya dan mengalihkan pembicaraan yang tak ingin ia lanjutkan.
“Bos tak akan marah padamu,” ucap Silvi seakan menyindir.
__ADS_1
“Kata siapa, aku juga karyawannya. Sebelum aku pindah ke sini, aku bekerja sebagai asistennya bersama dengan Kris dan mereka berdua sangat tegas membuatku sulit untuk bernapas, makanya aku ingin pindah ke sini karena divisi ini adalah jurusanku. Meskipun kami suami dan istri, jika sedang jam kerja status kita juga berbeda, suami istri kala di luar jam kerja,” jelas Yesica agar Silvi tahu.
“Oh begitu, kupikir karena kamu istrinya jadi Tuan Vano akan memperlakukan kamu dengan spesial.”
“Enggaklah, aku dan kamu sama-sama karyawannya jadi dia akan memperlakukan kita sama.”
Obrolan mereka terhenti karena sudah masuk jam kerja, Yesica memulai pekerjaannya dengan semangat hingga ia tak menyadari kalau jam istirahat sudah tiba.
Kris datang menghampirinya untuk memberitahukan pada Yesica agar segera menuju ruangan Devano karena pria itu sudah menunggunya untuk makan siang.
“Nona, Tuan sudah menunggu Anda di ruangannya,” ucap Kris, banyak mata memandang pada Yesica yang dijemput oleh Kris dan mendapatkan perlakuan khusus, ada yang melihat tak suka padanya ada juga yang melihat biasa saja.
“Baiklah, maaf sudah merepotkan kamu untuk memberitahuku yah, Kris.” Yesica berdiri dari duduknya dan meraih tas bahunya.
Yesica pergi meninggalkan ruangan divisinya untuk menuju ruangan suaminya. Devano sudah menunggunya untuk makan siang, bahkan makanan pun sudah tersedia dan tinggal menyantap saja.
“Maaf yah aku telat, baru selesai soalnya,” ucap Yesica yang duduk di samping Devano, tanpa menjawab Devano langsung meraih wajah cantik istri kecilnya itu dan memagut bibirnya dengan lembut. Yesica yang sudah terbiasa mendapatkan ciuman dadakan dari suaminya itu hanya bisa pasrah, beruntung Kris hanya mengantar sampai depan pintu saja.
Tangan Devano sudah mulai menjelajahi tubuh bagian atas Yesica, dengan secepat kilat Yesic langsung menahannya.
“Takut ada yang masuk,” ucapnya, karena ia menyadari kalau pintunya tak dikunci.
__ADS_1
Devano bangkit dari duduknya dan langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style untuk menuju kamar istirahatnya guna melanjutkan apa yang sedang ia inginkan.
“Kalau begitu kita pindah saja,” ucapnya dengan menyeringai, Yesica hanya bisa mengalungkan tangannya di leher.
“Apakah kamu tak lapar? Jika aku telat kembali ke tempatku bekerja bagaimana?” tanya Yesica, ia tak ingin telat untuk kembali ke ruangan divisinya karena tak ingin orang berpikir yang macam-macam, padahal ia sedang bersama dengan suaminya sendiri.
“Aku memang lapar, makanya aku ingin makan,” sahut Devano meletakkan tubuh istri kecilnya di atas tempat tidur dengan perlahan.
“Tapi aku tak bisa lama-lama atau nanti mereka akan berpikiran mentang-mentang aku istri Bos tak disiplin waktu,” ucap Yesica.
“Biarkan saja mereka mau bicara apa, kau istriku, jadi aku bebas untuk melakukan apa, jika mereka ingin protes nanti akan kupecat sekalian,” namanya juga Devano, jadi ia tak memikirkan dengan apa yang akan dikatakan oleh orang.
“Jangan seperti itu, aku ingin bekerja serius, kamu seharusnya mendukungku, jangan membuatku sulit. Jangan lama-lama yah, aku janji malam nanti kamu bebas melakukan apa pun.” Yesica mencoba memberikan penawaran pada suaminya itu, sebenarnya bagi Devano tak mungkin ia harus bermain sebentar mengingat na*sunya yang begitu gi*a akan candu kala berdekatan dengan istri kecilnya itu.
“Baiklah, aku tak akan lama, karena malam nanti aku akan membuatmu tak bisa bangun esok paginya,” akhirnya Devano menuruti permintaan istri kecilnya itu demi malam nanti.
Mereka melakukan olah raga yang begitu sangat menguras tenaga dan energi disiang hari yang begitu teriknya. Devano menepati janjinya untuk tak bermain lama, hanya setengah jam saja dan itu pun tanpa pemanasan meski bagi Devano tak puas, tapi ia tak ingin membuat istri kecilnya merajuk. Selesai dengan olah raganya dan juga membersihkan tubuhnya, mereka makan siang bersama, setelah itu Yesica kembali ke ruangan divisinya dengan diantar kembali oleh Kris..
“Yang istri Bos mah beda yah, istirahat dijemput, kembali juga diantar,” celetuk seorang wanita cantik yang duduk di kubikel dekat ketua divisi, mungkin ia wakil ketua divisi. Yesica menoleh pada wanita tersebut, ia berjalan mendekatinya, ia tak ingin dibicarakan yang macam-macam maka dari itu Yesica ingin meminta penjelasan maksud dari apa yang dikatakannya barusan.
“Maaf, apakah saya melakukan kesalahan? Apakah yang aku lakukan mengganggumu atau menyakitimu? Mengapa kau membawa-bawa istri Bos? Memang ada apa dengan status saya sebagai istri Bos? Apakah ada yang salah?” banyak pertanyaan terlontar dari bibir Yesica dengan mendekatkan wajahnya pada wajah wanita itu.
__ADS_1
*****
Apakah yang akan terjadi? Apakah wanita itu akan mengajak Yesica ribut?