
Sore hari, Chelsea sudah cantik mengenakan kebaya pernikahannya yang bergaya modern. Jika wanita lain menikah akan mengenakan kebaya berwarna putih, lain halnya dengan Chelsea yang mengenakan kebaya berwarna hitam perpaduan dengan warna gold. Terlihat begitu mewah dan elegan meski sebenarnya bergaya sederhana.
Yesica dan Vivi menjadi pendamping pengantin wanita sedangkan Lucas menjadi pendamping pria dan Devano adalah pria yang selalu membuntuti istri kecilnya.
Beberapa kolega datang untuk menjadi saksi pernikahan Kris termasuk keluarga Hanoraga dan para sahabat rasa keluarga dari Bram Hanoraga seperti Haris, Agam dan Sandra, ada Adik tiri Bram juga yang tak lain paman dari Devano dan Davina yaitu Aron dan Risa yang tak lain istri Haris. (mereka dapat dilihat di cerita CEO BUCIN dan Romansa Dokter Ganteng dan Pelayan Cafe, untuk anak-anak mereka yang lainnya ada dicerita Cinta Manis si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga) )
Ijab kabul dimulai sekitar jam lima sore, Kriss terlihat begitu tenang seperti bukan ia yang akan melakukan pernikahan tersebut. Tiba saatnya mengucapkan ijab, Kris mengucapkannya dengan begitu lantang dan lancar tanpa hambatan.
“SAH!” seru mereka yang menjadi saksi pernikahan antara Kris dan Chelsea, Chelsea yang sedari tadi tegang kini merasa lega, statusnya sudah berubah menjadi Nyonya Fakris Vince, pria dingin berkarisma yang kejam dan tak kenal ampun, pria yang tak memiliki rasa simpati pada orang lain selain keluarga dari Devano.
Kris menyematkan cincin dijari manis tangan kanan Chelsea, begitu pula dengan Chelsea yang juga menyematkan cincin tersebut dijari manis tangan kanan Kris.
“Aku baru melihat ada mafia dingin, kejam dan tak kenal ampun mengenakan cincin pernikahan,” ejek Chelsea dengan suara lirih yang hanya mereka saja yang bisa mendengarnya.
“Jangan mengejekku, Bosmu sebentar lagi juga akan mengenakannya,” balas Kris.
“Setidaknya kamu mafia pertama yang mengenakannya,” balas Chelsea yang tak mau kalah.
“Terus saja kau ejek aku, tiba saatnya nanti tak akan kuberi ampun kau,” ancam Kris.
“Cih, beraninya mengancam, payah and the cemen.” Chelsea mengatai pria yang kini menjadi suaminya itu payah dan cemen.
“Aku payah bukankah kau yang mengetahuinya?” kini Chelsea tak bisa berkutik dengan ucapan yang dilontarkan suaminya itu, Kris hanya bisa menyeringai tipis.
“Apakah kau ingin segera menyusul mereka?” Lucas menyenggol Vivi sambil memberi kode.
“Menyusul ke mana?” tanya Vivi yang pura-pura tak tahu akan pertanyaan Lucas.
__ADS_1
“Jangan pura-pura tak tahu aku yakin kamu pasti maksud dengan pertanyaanku,” protes Lucas.
“Aku memang tak tahu, kamu saja yang bicara tak jelas.” Vivi berjalan meninggalkan Lucas menuju meja yang dipenuhi dengan makanan manis, baginya makanan pencuci mulut itu lebih menarik dari pada Lucas yang selalu bertele-tele tak pernah berterus terang dengan apa yang ingin dilakukannya, yang Vivi inginkan Lucas mengatakan dengan jelas apa hubungan di antara mereka, tak seperti saat ini yang tak memiliki status apa pun.
Mereka sudah sering tidur bersama, Lucas selalu bermalam di kediaman lama Yesica. Namun, meski mereka tidur bersama tapi keduanya tak melakukan hal yang melewati batasan seperti apa yang dilakukan oleh Kris dan Chelsea.
Lucas mengejar gadis incarannya itu. “Tunggu aku dong, Sayang. Kamu mah aku ngajak bicara serius kamu malah menghindar terus,” ucap Lucas dengan sedikit merajuk, Vivi hanya bisa memutar bola matanya jengah.
“Apa sih sayang-sayang, kepala kamu peyang emangnya?” ketus Vivi asal bicara.
“Enak saja, aku tampan begini kamu bilang peyang.” Lucas tak terima dibilang peyang oleh Vivi.
“Whatever lah,” balasnya semasa bo*o.
Lucas menarik lengan Vivi lembut. “Aku serius, kamu mau tidak menikah denganku? Sahabatmu sudah menikah dengan Tuan Vano, Kris juga sudah menikah, aku juga ingin menikah seperti mereka,” ucap Lucas dengan wajah serius.
“Kamu tuh mancing-mancing aku yah, apakah kamu ingin aku menciummu di tempat umum seperti ini? Jika iya, maka dengan senang hati aku akan melakukannya,” kesal Lucas karena Vivi selalu menganggap dirinya bermain-main saja.
“Anda jangan macam-macam yah, Tuan. Ini di tempa umum loh, jangan main sosor ajah nanti orang lihat mereka akan bicara yang tidak-tidak.” Vivi menutupi bibirnya dengan tangannya agar tak mendapatkan serangan mendadak dai pria mesum yang doyan sekali menyosor dirinya tiba-tiba, sudah seperti bebek saya pikir Vivi.
“Jika tak mau aku menyosor tiba-tiba, makanya dengarkan aku bicara serius. Jangan anggap aku sedang bercanda,” pinta Lucas.
“Baiklah, saya akan mendengarkan Anda bicara, silakan Anda bicara,” akhirnya Vivi pasrah dan berniat mendengarkan apa yang ingin dibicarakan oleh Lucas.
“Tidak di sini, ikut denganku.” Lucas mengambil piring yang sedari tadi dipegang oleh Vivi dan meletakannya di atas meja, ia menggandeng tangan Vivi menuju meja resepsionis.
“Kunci kamar atas nama Lucas,” pintanya pada sang resepsionis, tak lama penjaga resepsionis itu memberikan kuncinya dan Lucas mengajak Vivi untuk menuju kamar presiden suit atas namanya.
__ADS_1
“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Vivi dengan wajah bingung.
“Ikut saja, aku ingin bicara serius denganmu. Jangan berpikir yang macam-macam, meski aku tukang nyosor kamu tapi aku bukan pria yang suka melakukan one night stand atau se*s bebas sebelum menikah. Begini juga aku masih perjaka,” ucapnya, Lucas mencoba meyakinkan Vivi kalau ia tak mungkin melakukan hal yang melewati batasan, Vivi juga sebenarnya mengetahui hal itu karena mereka setiap malam selalu tidur bersama, hanya sekedar tidur, berpelukan dan sekedar ciuman saja, tak ada permainan ranjang.
***
Diacara makan malam pernikahan Devano tak pernah lepas pandanginya dari istri kecilnya itu. Tak sedikit pun ia mengalihkan pandangannya itu.
“Apakah ada sesuatu yang aneh di wajahku?” tanya Yesica karena Devano tak berkedip melihatnya.
“Tidak, hanya saja kau begitu cantik malam ini. Kapan kau siap untuk menikah resmi denganku? Apakah kau tak ingin meresmikan pernikahan kita? Tidakkah kau ingin memberikan aku keturunan yang lahir dari rahimmu? Aku sudah tua, sampai kapan aku harus menunggu untuk memiliki keluarga yang lengkap?” banyak sekali pertanyaan Devano membuat Yesica bingung harus menjawab yang mana dulu.
“Apakah kamu ingin memiliki anak denganku?” Yesica malah bertanya balik membuat Devano mengerutkan keningnya.
“Jika bukan denganmu, lalu dengan siapa aku harus memiliki anak? Apakah kau tak ingin punya anak denganku?” tanya Devano balik.
“Bersabarlah sedikit lagi, sebentar lagi aku skripsi, sidang dan wisuda, setelah lulus jika kamu ingin kita menikah resmi maka aku sudah tak memiliki alasan untuk menolaknya lagi. Masalah anak, jika saat ini diberikan pun aku tak menolaknya. Toh meski kita menikah secara siri, bukankah dimata agama pernikahan kita sah, jadi jika diberi sekarang pun aku tak menolaknya. Tapi jika aku tak bisa memberimu keturunan, maka aku mengizinkanmu untuk mencari wanita lain yang bisa memberimu keturunan agar keluarga kecilmu menjadi lengkap dan sempurna,” sahut Yesica.
“Jangan bicara sesuatu yang buruk, jika hal itu terjadi padamu, aku tak akan mencari wanita lain. Toh kita masih bisa mengadopsi anak, untuk apa aku harus mencari wanita lain, kamu pikir aku pria yang dengan mudah nempel sana sini dengan wanita. Kesehatanku mahal, jadi cukup satu wanita saja bagiku tak habis-habis mengapa harus mencari wanita lain lagi. Sudah malam, ayu aku bawa kamu ke kamar. Malam ini kita akan bermalam di sini.” Devano bangun dan meraih tangan Yesica, ia mengajaknya untuk menuju kamar karena malam sudah semakin larut, Yesica hanya bisa menurut saja pada suami tampannya itu.
*****
Maaf yah jika berapa hari ini up telat dan juga hanya 1bab, aku masih sakit soalnya plus ditambah abis kecetit juga nih pinggang rasanya nikmeh banget😭
Yang belum mampir kecerita pertamaku, cus mampir yah, ini kisah emak bapaknya si Devano dan Davina
__ADS_1