Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 41


__ADS_3

“Ternyata oh ternyata, sejak kapan kalian?” tanya Yesica dengan wajah menggodanya pada sahabatnya itu.


“Sejak kapan apanya sih?” Vivi balik bertanya dengan raut wajah yang berpura-pura tak tahu sahabatnya itu bicara apa.


“Jangan pura-pura bo*oh deh, Beb. Kalian pasti memiliki hubungan yang lebih dari sekedar Bos dan bawahan kan?”


“Iya.” Lucas.


“Tidak.” Vivi.


Keduanya menjawab dengan berbarengan tapi dengan jawaban yang berbeda membuat Yesica melongo tak bisa berkata-kata lagi. Lucas dan Vivi saling tatap, Lucas tersenyum dengan menaik turunkan alisnya sedangkan Vivi membuang wajahnya ke arah kaca mobil.


“Huft, ini jadi aku harus menjadi obat nyamuk kalian gitu? Kapan mobilnya melaju?” tanya Yesica dengan sedikit protesan karena merasa menjadi obat nyamuk sahabatnya dan mantan bosnya.


“Maaf-maaf, aku akan mengantarmu ke kantor Vano.” Lucas melajukan mobilnya dan menuju arah di mana kantor Devano berada.


Sampai di area parkir mobil berhenti. “Kalian tidak mampir?” tanya Yesica sebelum turun.


Vivi hendak menjawab tapi dengan segera Lucas menutup bibirnya dengan tangannya. “Tidak, aku akan mengantar sahabatmu ini pulang,” ucap Lucas segera.


“Ya sudahlah, have fun untuk kalian berdua deh, tapi ingat batasannya, jika mau melewatinya yang sah dulu. Aku pergi yah, bye.” Yesica turun dari mobil berjalan menuju lift khusus yang digunakan untuk Devano. Ada beberapa orang yang sudah mengenalnya dan memberikan salam serta hormat padanya membuat Yesica canggung.


‘Lain kali aku seharusnya datang dengan menggunakan topi dan masker agar mereka bersikap biasa saja,’ batin Yesica yang canggung dengan perlakuan mereka.

__ADS_1


Yesica sampai di ruangan Devano yang ternyata kosong. “Sepertinya dia sedang rapat, aku tunggu saja di sini sambil main HP ah.” Yesica duduk di sofa sambil membuka akun sosial medianya untuk mengetahui berita apa yang sedang viral hingga tanpa sadar matanya perlahan mulai terpejam karena ngantuk yang mendera. Memang dasar si Yesica ini *****, nempel yang empuk langsung saja molor.


***


Di dalam mobil, Vivi yang sebenarnya ingin ikut turun dicegah oleh Lucas.


“Tuan apa-apaan sih, saya kan ingin ikut sahabat saya turun,” protes Vivi setelah Lucas membuka bekapannya dari bibir Vivi.


“Apakah kau ingin menjadi obat nyamuknya? Jika di sini bersama denganku kau juga akan merasakan hal yang sama dengan apa yang akan mereka lakukan,” goda Lucas.


“Huuuh.” Vivi menghela napasnya kasar. “Aku mau pulang, mau istirahat. Kalau Anda tak ingin mengantarku pulang maka aku akan pulang dengan abang ojol tersayang.” Vivi siap untuk turun tadi Lucas menahannya dengan menarik lehernya dan memagut bibirnya lembut membuat gadis itu membelalakkan matanya.


“Tuan, Anda benar-benar seperti bebek yang hobi sekali menyosor orang yah.” Vivi mengusap bibinya kasar sambil terus mengoceh memprotes kelakuan Lucas yang sekarang menjadi lebih berai semenjak mengatakan perasaannya pada Vivi. “Aku mau pulang,” sambungnya bersiap untuk turun.


“Baiklah.” Vivi akhirnya menurutinya, ia pindah ke kursi depan dan mobil pun melaju meninggalkan area parkir perusahaan Devano menuju rumah milik Yesica yang kini ditinggali oleh Vivi dari pada kosong dan juga dari pada sahabatnya itu harus membuang uang untuk menyewa kontrakan lebih baik rumah itu ditempati agar terawat, begitulah ucap Yesica. Tentu saja Vivi sangat berterima kasih dan dengan senang hati menerima tawaran tersebut, hitung-hitung dia menghemat uang hasil kerja kerasnya.


Lima belas menit perjalanan akhirnya mobil berhenti di pekarangan rumah tersebut, terlihat Vivi tertidur begitu lelapnya. Lucas turun dan membuka pintu rumah terlebih dulu dengan kunci cadangan miliknya yang ia buat. Setelah itu ia menggendong tubuh mungil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah setelah memastikan mobil terkunci.


Lucas menuju kamar yang biasa ditempati oleh Vivi, ia meletakan tubuh mungil itu perlahan agar tak membangunkannya. Setelahnya, Lucas kembali keluar untuk mengunci pintu depan agar tak ada yang masuk. Ia kemudian kembali ke kamar, mematikan ponselnya dan ikut terlelap dengan Vivi sambil memeluk pemilik tubuh mungil yang telah merebut hatinya itu.


***


Devano kembali dari rapatnya sekitar pukul lima sore, ia terkejut mendapati istri kecilnya tengah terlelap di sofa dengan begitu enaknya.

__ADS_1


“Kris, apakah gadis kecil ini tak jadi pergi ke Cafe?” tanya Devano yang bingung mengapa istri kecilnya berada di dalam ruangannya dalam keadaan terlelap dan tak mengabarinya.


“Saya sudah meminta Tuan Lucas untuk menjemput Nona dan temannya tadi sekitar jam tiga, Tuan. Saya akan menghubungi Tuan Lucas terlebih dulu apa yang sebenarnya terjadi.” Kris menghubungi Lucas, tapi anehnya panggilannya tak tersambung. Tak kehabisan akal, ia menghubungi anak buahnya yang mengawal Yesica sepanjang hari dan menanyakan apa yang terjadi.


“Baiklah, awasi terus pria itu. Lain kali jangan biarkan dia mendekati Nona,” ucap Lucas dan panggilan pun berakhir.


“Nona memutuskan tak jadi ke Cafe karena.” Kris menceritakan apa yang anak buahnya laporkan padanya. Devano mengepalkan tangannya geram.


“Selidiki siapa pria itu dan dari keluarga mana juga apa usahanya,” titah Devano.


“Anda tenang saja, saya sudah meminta anak buah kita untuk menyelidikinya, esok laporan tentang pria itu sudah siap di meja Anda,” sahut Kris dengan pasti.


“Apakah jadwalku hari ini sudah usai?” tanya Devano.


“Sudah, Tuan. Esok Anda ada perjalanan bisnis selama beberapa hari untuk mengecek pameran brand kita di Singapura,” sahut Kris memberitahu.


Devano menghela napasnya berat, ia tak ingin meninggalkan istri kecilnya itu, tapi pekerjaannya tak bisa ditinggal. “Mintakan cuti untuknya selama beberapa hari secara pribadi dan jangan sampai ada yang tahu kalau kami sudah sah menikah sampai gadis kecil itu sendiri yang siap untuk mengumumkannya pada publik,” titahnya, ia tak ingin meninggalkan istri kecilnya seorang diri di tanah air.


“Baik, Tuan.”


“Ya sudah, ayu kita pulang, aku sudah lelah ingin istirahat,” titahnya kembali, Devano beranjak menggendong tubuh mungil istri kecilnya perlahan agar tak membangunkan tidurnya yang sungguh sangat lelap itu.


Sampai di rumah, Yesica belum juga bangun, ia malah bertambah lelap dalam pelukan suaminya itu. Devano yang tak tega membangunkannya hanya bisa membiarkannya terlelap di atas tempat tidurnya. Setelah mencuci tubuhnya, ia pun ikut menemani sang istri menjelajah dunia mimpi yang begitu indah dengan memeluk tubuh mungil istri kecilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2