Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 43


__ADS_3

“Mau makan di mana?” tanya Devano, ia ingin istri kecilnya yang memutuskan tempatnya.


“Bagaimana kalau di SWMC ajah, siang tadi aku dan Vivi belum sempat ke sana karena tubuhku lelah sekali, jadi aku memilih untuk ke kantor kamu,” ucapnya sedikit berdusta, ia tak mau kalau Devano sampai tahu penyebab sebenarnya tak jadi nongkrong di tempat yang sudah dipesankan untuknya, meski sebenarnya juga Yesica yakin kalau suaminya itu pasti sudah tahu yang sebenarnya.


“Baiklah, karena itu permintaanmu maka aku akan membawamu menemuinya. Aku akan menghubungi Vina dulu untuk menyiapkan tempatnya.” Devano menekan tombol dial pada layar yang terdapat di mobilnya untuk memanggil Davina, tak lama panggilan pun terhubung dan sudah memakai pengeras suara karena Devano tak menyambungkannya pada handsfree bluetooth-nya.


“Hallo, Kak. Ada apa?” tanya Davina dari seberang sana.


“Vin, tempat yang tadi pagi kupesan istriku siang tak jadi datang karena tak enak badan saat pulang kuliah. Tapi sekarang aku sedang dalam perjalanan, tolong siapkan tempat untukku dan Kakak iparmu yah,” ucap Devano memberitahu.


“Oke, aku akan meminta Mas Ronggo memasak makanan kesukaanmu, bagaimana?”


“tak perlu, nanti Kakak iparmu yang akan memilih menunya, aku hanya menurut selera dia saja,” tolak Devano, ia ingin istri kecilnya ynag memilihkan menu makan malam untuknya juga.


“Oh sekarang Kakakku yang dingin bagai bongkahan es yang ditabrak oleh kapal titanic sudah mulai bucin toh. Okelah kalau begitu, aku tunggu kalian yah, bye.” Davina mematikan panggilannya secara sepihak setelah dia menggoda kakaknya, wajah Yesica seketika merona mendengar apa yang dikatakan oleh Adik iparnya, Devano mengetahui itu, tapi ia tak ingin menambah Yesica semakin canggung lagi.


Mobil berhenti di area parkir khusus.


“Jangan turun dulu,” cegah Devano saat Yesica ingin membuka pintu mobilnya, tentu saja hal itu membuat Yesica bingung.


Devano turun dan berjalan setengah berlari menuju pintu sebelah Yesica duduk dan membukanya, ia mengulurkan tangannya, Yesica hanya memandangnya saja bergantian memandang wajah Devano seakan bertanya. Devano memberi isyarat dengan tatapan matanya pada tangannya dan akhirnya Yesica pun paham dan langsung meraih tangan tersebut. Ia keluar dari mobil dengan begitu romantisnya seperti adegan yang ada di film-film atau di dalam cerita novel romantis.


Devano mengajaknya masuk, saat di depan pintu Davina menyambutnya dengan memeluk Kakak iparnya itu.


“Selamat datang di Cafeku yah, Kak. Ayu aku antar kalian menuju ruang pribadi milik Kak Vano.” Davina menggandeng Kakak iparnya itu, meski ia dan Yesica lebih tua dirinya, tapi Davina tetap harus memanggil Yesica dengan sebutan Kakak karna Yesica adalah istri dari Kakak kembarnya.

__ADS_1


“Ini daftar menunya, Kak Ica pilih saja, aku yang akan melayani kalian berdua.” Davina memberikan daftar menunya pada Yesica dengan panggilan barunya pada Yesica.


“Terima kasih,” dengan senyum manisnya Yesica menerima buku menu tersebut.


Yesica bingung memilih menu apa untuk makan malamnya karena semua menu terlihat sangat enak dimatanya.


“Ah aku sangat bingung mau makan apa, semuanya terlihat begitu menggugah selera,” tanpa sadar Yesica berucap demikian, ia lupa jika ia sedang bersama dengan Devano dan Davina, bukan dengan dua sahabatnya.


“Bagaimana kalau nasi liwet bakar sambal hijau? Itu makanan kesukaan Kak Vano,” saran Davina memberitahu makanan kesukaan Devano.


“Nasi liwet? Aku belum pernah tahu bagaimana penampilannya, boleh deh sepertinya cukup menarik,” sahut Yesica yang penasaran dengan bagaimana rasa dan penampilan nasi liwet bakar, makanan kesukaan suaminya itu.


“Kakak ipar pasti suka, Kak Vano saja sampai jadikan menu tersebut sebagai makanan favoritnya,” ucap Davina sambil melirik sang kakak, yang dilirik mencubit hidung adiknya itu, terlihat sekali mereka sangat akur dan saling menyayangi. “Minumnya mau apa?” tanya Davina selanjutnya.


“Dia mah apa saja oke kok, Kak,” ucap Davina dengan senyum gelinya melihat pada sang kakak. “Baiklah kalau begitu, aku akan meminta Mas Ronggo untuk membuatkannya segera yah.” Davina pergi setelah mencatat apa yang dipesan oleh Kakak dan Kakak iparnya.


Di dapur Cafe.


“Yang, Kak vano datang bersama istrinya, kamu buatkan seperti biasa yah, aku akan membuat minumnya. Nanti kita temui mereka,” ucapnya pada sang suami yang berprofesi sebagai Chef di Cafe miliknya. “Oh iya, jangan lupa udang goreng tepungnya, nanti dia bisa protes kalau ketinggalan,” sambungnya berbalik kemudian setelah i melangkah beberapa langkah hendak pergi.


“Iya istriku yang bawel tapi aku cinta, aku tak mungkin lupa dengan makanan kesukaan Kakakmu.” Ronggo berjalan menghampiri istri tomboinya itu dan mencubit kedua pipinya sambil menggesek-gesekan hidung mereka, banyak para pelayan yang melihatnya, tapi bagi mereka pemandangan seperti itu sudah biasa dilihatnya.


***


Makanan dan minuman siap untuk disajikan, Ronggo membawanya menggunakan troly agar tak susah membawanya sekaligus. Davina dan Ronggo menuju ruangan di mana Devano dan Yesica berada. Keduanya benar-benar turun tangan langsung melayani Devano dan istri kecilnya.

__ADS_1


“Selamat menikmati yah, ini namanya nasi liwet bakar buatan Chef Ronggo. Semoga Kakak ipar suka sama makanan aneh ini,hehe.” Davina menyuguhkan makanan di meja makan sambil terkekek.


Sejenak Yesica tertegun dengan penampilan nasi liwet yang ada di hadapannya. Bagaimana tidak, di dalam nasi tersebut ada ikan teri kecil, potongan cabai, daun kemangi dan juga suwiran ayam. Yesica sama sekali belum pernah memakan atau melihat makanan yang ada di hadapannya itu selama ini.


“Makanlah, ini sangat enak. Mamahku yang mengajarkan mereka memasaknya,” titah Devano yang sudah menyantapnya terlebih dulu. “Aaa.” Devano menyodorkan satu sendok makanan miliknya ke depan bibir Yesica. Yesica menatap Devano dan Devano menganggukkan kepalanya membuat Yesica membuka mulutnya perlahan dan menyantapnya.


Perlahan Yesica mengunyahnya, ia mencoba merasakan makanan yang disebut dengan nama nasi liwet itu.


“Mm enak, rasanya seperti nasi uduk tapi ini lebih unik, aku belum pernah memakannya,” ujarnya setelah makanan yang disuapkan oleh Devano berhasil melewati tenggorokannya.


“Semoga suka yah, kalau begitu kami pergi dulu, kalian makanlah dengan tenang.” Davina dan Ronggo pergi membiarkan sepasang suami istri pengantin baru itu untuk menikmati makan malamnya.


Yesica seperti merasakan kencan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, terasa sangat romantis karena sesekali Devano menyuapinya dengan mesra dan sesekali juga Devano mengelap ujung bibir Yesica kala ada makanan yang menepel.


“Besok ikut aku ke Singapura yah, Kris akan mengurus segalanya di kampusmu,” ucap Devano setelah selesai makan, tentu saja hal itu membuatnya terkejut.


“Apakah ada sesuatu?” tanya Yesica bingung.


“Tidak, hanya saja ada acara pameran dari produk Emerald Jewelry, aku ingin menghadirinya dengan istriku, aku ingin kau terbiasa untuk ikut denganku dalam acara seperti ini dan di mana pun agar ke depannya kamu menjadi terbiasa,” ucap Devano, ia tak bertanya apakah Yesica mau atau tidak.


"Bisakah aku menolaknya?" tanya Yesica perlahan.


Devano meraih tangan istri kecilnya itu dan tersenyum lembut membuat Yesica terpesona. "Aku ingin kau benar-benar menjadi bagian dari hidupku, aku ingin semua orang mengenal siapa Nyonya Devano Hanoraga agar kelak saat mereka bertemu dengamu menghormatimu karena kau adalah Nyonya muda Hanoraga. Bukankah kau sudah berjanji akan selalu ada bersama denganku? Apakah kau malu memiliki suami yang lebih tua darimu?"


Yesica bingung ingin menjawab apa.

__ADS_1


__ADS_2