
Ia melihat Ibnu berjalan bersama rombongannya. Tapi ia tidak melihat keberadaan Deby. Sejenak rasa bimbang hinggap di kepalanya menyadari perempuan yang pergi bersamanya tidak ada yang mengantar pulang.
Pikiran Bisma terpecah. Ia merasa bersalah membiarkan Deby pulang sendirian. Apa lagi ia sudah berjanji akan memberi kado ulang tahun karena kedekatan yang telah terjalin antara mereka berdua.
Ia tau, sikap lunaknya bisa disalah artikan Deby. Sesorean tadi ia telah memikirkan secara matang. Ia memang tidak bisa menolak pesona Deby Arista. *** appeal yang perempuan muda itu miliki, membuat para lelaki dimanjakan dengan berbagai imajinasi liar di benak mereka masing-masing.
Tapi melihat kehadiran Ajeng bersama Hilman serta kedua orangtuanya membuat Bisma merasa cemburu. Ia tak bisa membohongi dirinya bahwa segenap jiwanya belum ikhlas melepas Ajeng bersama lelaki lain. Sisi egonya tidak terima jika Ajeng berbahagia bersama lelaki yang bukan dirinya.
Karena posisinya yang berada di pojokan, maka tidak ada yang dapat melihat keberadaan dirinya diantara pelanggan yang keluar masuk restoran.
Belum sempat Bisma menyimpan ponsel di saku celana, tampak Deby berjalan tergesa-gesa. Ia bangkit dari kursi untuk mengejar Deby. Langkahnya langsung terhenti melihat Deby yang merangkul seorang pria kekar memakai jaket kulit yang baru keluar dari mobi.
Mata Bisma membulat melihat pemandangan di depannya. Ia melihat lelaki kekar itu langsung mengecup bibir Deby sebelum keduanya masuk kembali ke dalam mobil. Mengikuti nalurinya ponsel Bisma mengabadikan semua kejadian yang terpampang di hadapannya.
Bisma menggelengkan kepala dengan senyum sinis. Sempat ia ingin memberi peluang pada Deby walau pun ia sudah tau track record perempuan yang menjadi stafnya di kantor karena pertemuannya dengan Andrean. Walau pun perkataan Andrean membuatnya memikirkan semua yang terjadi akan hubungan mereka di masa depan.
Tapi kembali lagi, kelihaian Deby dalam menebar virus yang membuatnya terjebak dalam rayuan pesona yang ditampilkan Deby. Bisma mencoba untuk memulai tanpa melibatkan masa lalu dan keluarga kecilnya. Ia yakin, mampu merubah Deby sesuai kriteria perempuan terbaik yang ia inginkan.
Namun setelah menyaksikan sendiri bahwa Deby tetaplah dengan perilaku dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan, pikiran Bisma kembali melayang pada Ajeng.
Mulai malam ini ia meyakinkan diri dan hatinya untuk berjuang demi keluarga kecilnya. Ia akan melepas Deby, dan tak akan memberi peluang sekecil apa pun.
Begitu mobilnya tiba, Bisma segera melaju dan melupakan semua yang ia lihat dan ia ingat tentang Deby. Ia mengendarai mobilnya dengan cepat berusaha menyusul Dimas yang sudah hilang beberapa saat yang lalu. Ia tidak bisa berjuang sendiri. Harus punya teman dalam mempermulus rencananya. Mama dan Mayang tidak mungkin ia harapkan untuk menjadi sekutunya.
Saat ia menalak Ajeng yang kedua kali, kedua orang terdekatnya itulah yang menolak dengan keras. Tapi Bisma mampu mengungkapkan argumen yang membuat keduanya mengalah atas putusan Bisma untuk berpisah.
__ADS_1
Bisma tersenyum miris mengingat bagaimana ia telah menalak Ajeng. Tidak ada air mata yang mengalir dari perempuan yang ia anggap matre dan telah memberikan putri cantik untuknya. Ajeng pasrah dan mengikuti semua inginnya.
Kalau seandainya ia melibatkan mama dan Mayang, ia akan dibully habis-habisan oleh kakak perempuannya yang bermulut pedas itu. Kedekatan Mayang dan Ajeng yang mengalahkan ia sendiri sebagai adik kandung. Apalagi Mayang pun pernah dikecewakan oleh mantan suaminya, hanya karena ia belum mampu memberikan keturunan.
Sekarang hanya Dimas yang bisa ia harapkan menjadi satu-satunya sekutu untuk meraih hati Ajeng kembali. Ia berharap Dimas akan mendukung niatnya demi utuhnya keluarga kecil mereka kembali.
Bisma turun dari mobil begitu tiba di halaman kafe resto Ajeng tepat jam sembilan malam. Ia melihat suasana kafe resto yang sudah tutup dan dalam keadaan gelap gulita.
Tekad Bisma sudah kuat. Ia tak akan mundur lagi. Senyum dan suara kenes putri kecilnya menjadi mood boster yang tak bisa ia kesampingkan. Ia yakin Dimas dan Lala sekutu yang paling menguntungkan yang ia miliki saat ini.
“Ada perlu apa pak?” petugas keamanan yang bernama Rusman tiba di hadapan Bisma.
Rusman memang sudah lama bekerja sebagai penjaga keamanan di tempat Ajeng. Tapi ia tidak sendiri. berdua dengan rekannya Iskandar. Ia merasa heran malam-malam ada mobil parkir di halaman kafe resto yang sudah tutup.
Salah ia sendiri karena terlalu fokus dengan dunianya. Kini di saat ia ingin memulai untuk kembali, satu pun pegawai Ajeng tidak ada yang ia kenal.
“Saya ingin bertemu Dimas,” akhirnya Dimas lah satu-satunya yang ia sebut.
“Maaf pak, mas barusan pulang sama mbak Ajeng dan tidak bisa diganggu,” tolak Rusman seketika, “Mereka berdua sudah beristirahat.”
Terdiam beberapa saat dalam keheningan membuat akal Bisma bekerja cepat. Ia sudah tak mungkin untuk mundur.
“Tempat tinggal saya jauh. Tidak mungkin saya kembali ke Surabaya malam begini. Saya ingin ngekost, satu juta permalam tidak masalah,” tukas Bisma cepat.
Rusman berpikir cepat. Ia memandang Bisma dari ujung rambut ke ujung kaki. Ada rasa tidak percaya mendengar ucapan Bisma. Apalagi dari segi penampilan, semua yang dipakai adalah barang branded. Banyak hotel yang masih buka di jam segini.
__ADS_1
“Saya ingin istirahat sekarang!” perintah Bisma tegas.
Ia harus menunjukkan siapa bos sebenarnya pada penjaga keamanan yang bekerja pada Ajeng. Tekadnya sudah bulat.
Terpaksa Rusman menghubungi Deri melalui ponsel, admin yang menangani masalah penginapan dan kost-kost an.
“Bisa pak,” Rusman mengangguk membuat Bisma merasa lega.
Tak lama kemudian Iskandar datang menghampiri keduanya. Mobil Bisma dibawa Iskandar memasuki kompleks kost-kost an yang tampak berjejer rapi. Setelah Bisma hitung ia melihat ada 10 kamar yang lumayan luas, dan pas untuk pekerja kantoran.
Ia yakin, pasti Rusman merasa aneh dengan kehadirannya. Ia pun sempat mendengar bisik-bisik Rusman dan Iskandar yang heran dengan pilihannya yang menginap di kost dari pada hotel yang ada di kota Malang dan jarak yang tidak terlalu jauh hanya sekitar 15 menit dari tempat mereka saat ini.
“Apa perlu DP sekarang?” tembak Bisma langsung pada Deri yang kini membukakan pintu untuknya.
“Besok pagi saja pak. Hoamm .... ” ujar Deri sambil menguap dengan menutup mulutnya.
“Apa kamu yakin tidak ingin dibayar sekarang?” pancing Bisma, “Kalau seandainya saya pergi pagi sekali, apa kamu tidak takut rugi dan dimarahi ibu kost?”
Deri tersenyum tipis, “Bu Ale gak akan marah, niatnya hanya membantu. Kalau belum rejeki dikejar ke mana pun gak mungkin dapat, tapi kalau memang rejeki pasti akan datang sendiri,” jawab Deri diplomatis.
Begitu pintu terbuka, Bisma mengucapkan terima kasih pada Deri. Setelah pintu tertutup kembali ia segera membuka sepatu dan menyimpan jasnya di lemari kecil yang tersedia di dalam kamar kost yang lumayan besar.
Ia memandang sekeliling kamar, bentuknya yang minimalis hanya berisi lemari kecil, tempat tidur ukuran single, satu bantal, satu guling, dan satu selimut berwarna putih bersih. Meja dan kursi kerja tampak estetik memberi kesan elegan di kamar sederhana yang ia tempati.
Tanpa membuka celana kain yang ia pakai, Bisma langsung merebahkan diri di pembaringan. Matanya tak langsung terpejam, memikirkan rencana lanjut yang akan ia lakukan esok hari dalam misi meraih hati sang mantan.
__ADS_1