Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 79 Berita Mengejutkan Bagi Bisma


__ADS_3

Bisma merasa enggan untuk bergabung dengan keluarga besarnya setelah beberapa saat telah selesainya akad antara Ardi dan Mayang. Keduanya pun sudah tidak berada di pelaminan lagi.


Ia baru saja menerima telpon dari Jayusman yang menanyakan tempat acara  resepsi Mayang dilaksanakan. Dengan gamblang Bisma menjelaskan sekalian foto lokasi di kediaman mamanya.


Panitia WO sedang berbenah mengganti venue serta mengangkat meja kursi tempat akad yang sudah selesai, sehingga depan pelaminan menjadi lapang dengan ditambah beberapa ornamen gapura dan rangkaian bunga membuat dekorasi semakin semarak.


Lambaian tangan Agus sepupunya tak Bisma pedulikan. Ia yakin, jika bergabung bersama mereka, akan dicecar kembali dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Lebih aman ia menjauh dari  keroyokan mereka untuk keamanan dan kenyamanannya. Ia belum mempunyai jawaban yang pasti untuk menutup mulut saudaranya.


Saat hendak melangkah memasuki rumah matanya terpaku pada dua sosok yang sedang bercengkrama di teras rumah. Tampak Ajeng sedang menyuapi putri mereka. Bisma pun tersadar ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Pantas saja perutnya sudah terasa beda.


Kembali lagi ia menatap sekeliling, ia tidak melihat  Hilman atau pun bayangannya selama acara berlangsung. Langkahnya membawa Bisma mendekati Ajeng dan Lala.


“Ayah sudah makan?” suara lembut putrinya membuat senyum terbit di wajah Bisma.


Dengan santai ia duduk di samping putrinya. Posisinya saat ini berhadapan dengan Ajeng yang tetap santai menyuapi putri mereka.


“Belum sayang. Nanti saja,” ujar Bisma pelan.


Ia membelai rambut kriwil putrinya yang tergerai menutupi jidatnya, hingga tangannya bersentuhan dengan jemari Ajeng yang mengelap keringat yang mengalir di pipi Lala.


“Maaf,” Ajeng buru-buru menarik tangannya sambil menatap wajah Bisma sekilas.


Melihat sikap Ajeng yang santai tanpa terpengaruh dengan keberadaan dirinya membuat Bisma merasa tidak nyaman. Tapi rasa penasaran akan keberadaan Hilman yang belum tampak sejak ia tiba, membuat Bisma tidak bisa menahan diri.


“Bagaimana kabar lelaki itu?” pertanyaan Bisma membuat Ajeng mengalihkan pandangannya kembali.


Ia tertegun sesaat. Apa mantan mertuanya tidak pernah bercerita pada ayahnya Lala akan kegagalannya memulai kembali bersama Hilman, karena lelaki itu telah memilih jalannya sendiri.


Tapi ... ah sudahlah. Semua itu tidak masalah. Ajeng kembali ke alam sadarnya.


“Dia baik-baik saja,” Ajeng berkata sambil tersenyum tipis.


Bisma manggut-manggut mendengar jawaban singkat yang keluar dari bibir Ajeng. Ia begitu menikmati senyum yang baginya ibarat setetes embun di padang gersang. Ia sangat merindukan senyum yang di dalamnya terkandung ketulusan dan kebaikan hati.


 Sayang, senyum indah itu sudah ada pemiliknya. Bisma menggelengkan kepala menyadari bahwa ia memikirkan hal yang terlarang.


“Papanya Lala ingin makan sekarang?” Ajeng melihat kegelisahan yang tergambar di wajah Bisma.


Ia yakin lelaki itu merasa lapar karena seharian bercengkrama dengan keluarga dan rekan-rekannya yang ia lihat cukup banyak yang datang. Walau pun mereka sudah berpisah, Ajeng tetap memperhatikan perilaku mantan suaminya itu.


“Biar nanti saja,” Bisma merasa tidak nyaman jika Ajeng melayaninya.


“Tidak apa-apa. Ayahnya Lala di sini saja, saya akan mengambilkan makanan yang terhidang,” tanpa menunggu jawaban Bisma, Ajeng langsung melangkah.


“Eughhh ....” suara sendawa kecil Lala terdengar, membuat Bisma tertawa. “Alhamdulillah .... “


“Eh, pintarnya putri ayah,” Bisma kembali mengusap kepala putri kecilnya dan menciumnya dengan perasaan haru.


Andai saja mereka saat ini masih bersama ....


Pikiran itu kembali datang mengganggu perasaan Bisma. Ia memandang Ajeng yang masih berdiri di meja prasmanan. Walau pun sekian lama mereka berpisah, tapi sikap Ajeng tidak berubah.

__ADS_1


“Silakan .... “ Ajeng mengulurkan piring yang sudah terisi dengan nasi dan lauk pauknya, “ Saya dan Lala ke dalam dulu. Ia harus istirahat sekarang.”


“Terima kasih bunda” perasaan haru dan sedih sekaligus menyergap di lubuk hati Bisma begitu kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya berlalu dari hadapannya.


...


Malam itu Bisma mendampingi mamanya duduk di samping pelaminan yang begitu indah dan mewah. Matanya berkali-kali  memandang ke satu arah, jika tamu yang bersalaman dengan kedua mempelai telah berlalu.


Kedua belah pihak keluarga mempelai juga duduk di kursi yang telah disediakan sesuai urutan kepangkatan dalam keluarga.


Dari pihak keluarganya, ia melihat pak dhe Susilo bersama tante Ranti, Ajeng, si kembar, juga Lala. Tatapannya beralih pada seorang laki-laki yang berdiri di samping Ajeng, keduanya memakai seragam yang sama.


Bisma merasa asing dengan lelaki gagah berkacamata itu. Seingatnya Hilman tidak memakai kacamata, dan lelaki yang bersama Ajeng kelihatan lebih jangkung dari Hilman.


Ingin bertanya pada mamanya, tetapi rasa gengsi membuat Bisma bermain dengan pikiran sendiri. Dari jarak tujuh meter, ia melihat Ajeng dan lelaki yang berdiri di sampingnya terlibat percakapan.


Mata Bisma semakin melebar melihat dengan santainya lelaki asing itu menggendong Lala yang menyandar padanya. Tampak Lala tertawa sambil mencium pipi lelaki jangkung itu dengan santai.


Bisma tidak tau harus berkata apa melihat pemandangan yang terjadi di depannya. Siapa lelaki yang sangat akrab dengan Ajeng dan putrinya? Mengapa sejak awal kedatangannya hingga saat ini  ia tidak melihat keberadaan Hilman?


Berbagai macam pertanyaan kini mulai bermunculan di benaknya melihat semua yang ada dalam pandangan. Ia tidak tau harus memulai dari mana dan dengan siapa untuk mempertanyakan semua yang kini membutuhkan jawaban yang pasti.


Tiba-tiba semua mata tertuju pada pasangan yang naik ke pelaminan untuk memberikan selamat pada kedua mempelai.


Kini mata Bisma langsung membulat sempurna begitu laki-laki yang bersama pasangannya yang tampak hamil besar bersalaman dengan pengantin.


“Terima kasih bung Hilman atas kedatangannya,” Ardi menjabat tangan Hilman yang merupakan salah satu relasinya.


Kini pandangannya kembali pada Ajeng. Ia mengerutkan jidat tak percaya. Ajeng dan lelaki yang bersamanya bahkan kelihatan bercanda, tidak ada sedikit pun tampak kesedihan di wajahnya yang begitu cantik dengan riasan paripurna membuatnya tampak berbeda.


“Pak Bisma ... “ suara Hilman tampak gugup salam bersalaman dengannya, walau Bisma tau, ia berusaha menyembunyikannya.


Bisma menganggukkan kepala tanpa membalas senyum Hilman. Pandangannya beralih pada perempuan dengan perut buncit yang terus menggandeng tangan Hilman.


Perempuan cantik, tapi ia yakin sudah banyak pisau bedah yang bermain di pipi tirus itu. Senyum sinis terbit di wajah Bisma begitu keduanya berlalu dari hadapan mereka.


“Mama bisa jelaskan semua ini?” Bisma sudah tidak bisa menahan diri begitu keduanya sudah meninggalkan pelaminan.


“Penjelasan apa?” Nurita tidak paham dengan pertanyaan Bisma.


Ia pun melihat Ajeng yang bersalaman dengan Hilman dan istrinya. Bagaimana eratnya genggaman Dewi di pergelangan tangan suaminya membuat Nurita senyum sendiri.


Ia yakin, suatu saat Ajeng akan menemukan lelaki yang terbaik dalam hidupnya. Melihat perlakuan Fajar pada keduanya, membuat Nurita akhirnya pasrah dan mendoakan yang terbaik jika memang jodohnya Ajeng adalah Fajar.


“Ma .... “ Bisma menepuk tangan Nurita yang kini tersenyum membayangkan kebahagiaan Ajeng di masa depan.


“Kenapa?” Nurita memandang wajah Bisma seketika.


“Apa yang terjadi dengan hubungan Ajeng dan Hilman?” akhirnya Bisma tak bisa menahan dirinya lagi.


“Mereka batal nikah. Itu saja!” Nurita menjawab singkat.

__ADS_1


Ia tidak nyaman dengan para tamu yang sedang mengantri untuk bersalaman. Apalagi para tamu tidak putus-putusnya berada di pelaminan untuk memberikan selamat bagi kedua mempelai.


....


“Bagaimana kabar Diajeng?” Hilman tak bisa menahan rasa ingin tahunya begitu ia tiba di hadapan Ajeng.


Ia tak mempedulikan kuku panjang Dewi yang mencengkeram di pergelangan tangannya. Kerinduannya seakan terobati setelah sekian lama tidak melihat wajah Ayu yang begitu ia damba di malam-malamnya.


“Saya baik,” jawab Ajeng santai.


Tatapannya beralih pada Dewi yang menatapnya tajam. Senyum tak bisa ia sembunyikan melihat wajah garang Dewi yang menahan emosi melihat perlakuan dan tatapan Hilman padanya.


“Wah selamat ya pak Hilman, bu Hilman ... tak lama lagi bakal mendapatkan momongan. Semoga dilancarkan hingga lahiran,” ucap Ajeng tulus.


“Terima kasih Diajeng,” Hilman menjawab dengan perasaan tak nyaman.


“Bunda ... “ suara Lala membuat Hilman menghentikan ucapannya.


Ia melihat lelaki jangkung berkacamata datang menggendong Lala yang kini memegang es krim di tangannya.


“Mas, kenapa Lala diberi es krim?” Ajeng sudah tidak memperhatikan raut penuh tanya yang tergambar di wajah Hilman yang melihat kedekatannya dengan lelaki muda itu.


“Gak pa-pa. Hanya sedikit,” Fajar berkata lembut pada Ajeng.


Hilman tidak bisa memalingkan muka melihat keakraban yang terjadi di hadapannya. Ia yakin sekarang, bahwa Ajeng telah menemukan pendamping yang lebih baik darinya.


Mata Ajeng  bersinar melihat lelaki yang menggendong putrinya itu. Hilman menelan ludah. Ia dapat melihat kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah cantik alami itu.


“Sayang, aku udah cape kelamaan berdiri .... “ keluhan Dewi membuat Hilman tersadar.


Ia sudah tidak pantas untuk memikirkan perempuan lain. Apalagi Dewi kini sudah mengandung benihnya. Walau dalam hati ia tidak rela melihat ada lelaki lain  mendampingi perempuan yang sampai kapan pun masih meninggalkan  asa di hatinya.


....


“Ma .... “ Bisma masih menuntut jawaban mamanya yang kini terlibat obrolan dengan besannya begitu tamu mulai sepi.


Melihat tatapan tajam Bisma membuat Nurita menghentikan percakapannya dengan mama Ardi. Terpaksa ia mengikuti langkah putranya mencari tempat yang lebih sepi.


“Apa lagi?” Nurita  duduk di hadapan Bisma.


Keduanya memisahkan diri dengan orang tua Ardi yang kini terlibat pembicaraan dengan tamu undangan yang datang dari luar kota.


“Sejak kapan mereka berpisah?” Bisma ingin mendengar semuanya dengan jelas.


“Siapa? Ajeng dan Hilman?”


“Siapa lagi?” Bisma merasa mamanya mempermainkannya.


“Untuk apa kamu mempertanyakannya?” Nurita balas memandang putranya dengan santai, “Bukankah semua ini tidak ada hubungannya denganmu.”


Skak mat.

__ADS_1


__ADS_2