Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 73 Kedatangan Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Bagaimana bisa perempuan yang berusaha ia hindari itu mengetahui tempat tinggalnya. Padahal ia tidak pernah memberikan alamat setiap pertemuan yang terjadi antara keduanya.


Terakhir  mereka bertemu di apartemennya sehari sebelum keberangkatannya kembali ke Indonesia. Siska datang dengan beberapa temannya yang perempuan untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan.


Mungkin di mata pria lain sosoknya sangat sempurna. Tapi bagi Bisma yang masih enggan untuk membuka diri, kehadiran Siska seperti perempuan kebanyakan yang ia temui dalam kesehariannya menjalani aktivitas.


“Assalamu’alaikum mas Bisma,” suara manja Siska langsung hinggap di indera pendengarannya begitu ia membuka pintu.


“Wa’alaikumussalam,” Bisma berusaha bersikap ramah saat sudah berhadapan dengan perempuan yang penampilannya selalu segar itu dan memanjakan mata yang memandangnya.


“Maaf mas, gak kasi kabar mau main ke mari,” Siska berkata dengan perasaan tak nyaman.


Ia tau bahwa Bisma tidak menyukai kunjungan mendadak dari siapa pun. Tapi kalau tidak ‘gercep’ ia khawatir perempuan yang antri di luaran sana akan menutup langkahnya untuk maju mendekati  sang ‘duren sawit’.


“Gak pa-pa. Silakan duduk,” Bisma menjawab santai mempersilakan Siska duduk di kursi santai yang berada di teras rumahnya yang teduh.


“Aku tu baru nyampe tiga hari yang lalu,” Siska memulai percakapan.


“Sudah selesai studinya?” Bisma pun akhirnya terlibat basa-basi dengan Siska yang berusaha menarik perhatiannya.


Rasanya tidak sopan juga baginya membiarkan tamu berdiam diri tanpa berbicara, paling tidak  bertanya kabar padanya.


“Udah dong. Apalagi dikejar papa untuk  menyelesaikan  studi,” Siska berbicara dengan suaranya yang terdengar manja, “sekarang ditagih papa untuk segera memberikan seorang cucu.”


Bisma tidak langsung menanggapi ucapan Siska. Ia tau pesan yang tersirat dari ucapan yang keluar dari bibir berwarna merah menyala itu.


“Permisi den, cah ayu .... “ Bu Rumlah tiba di hadapan keduanya membawakan teh hangat dan cemilan yang selalu tersedia di rumah itu.


“Makasih,“ Siska menjawab dengan dingin tanpa memandang bu Rumlah.


“Terima kasih bu,” Bisma memandang bu Rumlah sambil menganggukkan kepala.


Ia merasa tidak nyaman atas perilaku yang ditunjukkan Siksa pada orang yang telah bekerja dan mengabdikan diri seumur hidup pada keluarganya.


Mendengar suara Bisma yang pelan dan santun pada pembantunya membuat Siska langsung memandang bu Rumlah yang sudah berjalan meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Ia merasa sikapnya barusan membuat Bisma jadi ‘lllfeel’. Wajah yang  tadinya ramah langsung kaku, seperti awal pertemuan mereka di kantor kedutaan di London.


“Mas, boleh aku numpang ke toiletnya?” Siska mulai merencanakan sesuatu.


Melihat perilaku Siska yang gelisah, mau tak mau Bisma mengijinkannya untuk masuk ke dalam rumah.


Saat mulai memasuki ruangan, pandangan mata  Siska mengitari ruang tamu yang sangat  luas. Berbagai perabotan serba ‘lux’ memenuhi hampir keseluruhan isi ruangan.


Dalam hati ia berdecak kagum atas interior yang mengisi rumah laki-laki yang sudah masuk targetnya di masa depan. Tidak salah ia menjatuhkan hati pada Bisma seorang duren yang berprofesi sebagai  ASN dan  juga pengusaha perkebunan teh itu.


Restu dari kedua orangtuanya pun sudah ia kantongi. Apalagi dengan kekuasaan serta materi yang papanya miliki, mudah baginya menyelidiki status dan asal usul Bisma.


Walau pun dengan status duda yang kini melekat pada lelaki mapan itu, tapi karena usaha keluarga  yang mereka punya membuat Wirya Dinata akhirnya memenuhi keinginan sang putri untuk mendapatkan pangeran idamannya.


Jalan mulus untuk memulai hubungan sudah terbentang. Tinggal usahanya yang harus lebih keras untuk membuat lelaki dingin itu jatuh hati. Banyak rencana yang bermain di otaknya agar lelaki mapan itu bisa jatuh dalam pelukannya.


“Silakan .... “ Bisma memberi arahan pada Siska menuju toilet khusus yang dibuat untuk tamu yang singgah di rumahnya, “Aku menunggu di teras.”


Hampir setengah jam Bisma menunggu di teras, Siska tidak muncul juga menemuinya. Sambil menghela nafas ia bangkit dari kursi dan memasuki ruangan kembali.


Saat berjalan menuju ruang keluarga, sayup-sayup ia mendengar percakapan serta gelak tawa ringan yang berasal dari ruang dapur. Ia jadi penasaran dengan suasana yang terasa ramai dari biasanya.


“Aden .... “ bu Rumlah merasa tidak enak hati melihat Bisma yang muncul di dapur, apa lagi ia tau majikannya sangat tidak suka dengan orang asing yang bebas keluar masuk di rumahnya.


“Mas, maaf ya ... aku tadi nyasar hingga ke pantry rumahmu,” Siska dapat melihat aura dingin yang terpancar di wajah lelaki yang kini selalu menemani lamunan malamnya.


Bisma mengerutkan jidatnya dengan memasang wajah datar pada Siska. Ia tidak ingin perempuan muda itu berbuat sekehendak hatinya. Ia mempunyai batasan dan aturan main yang tidak boleh dilanggar siapa pun.


“Ibu sudah selesai masaknya?” Bisma bertanya dengan tegas.


“I ... iya den .... “ bu Rumlah menjawab terbata-bata.


 “Ini bukan kesalahan ibu, mas.” Siska berusaha meredam amarah yang tampak di wajah Bisma.


“Maaf dr. Siska. Tolong jangan mengganggu para pekerja yang menjalankan tugasnya di rumah ini,” Bisma berkata dengan tegas.

__ADS_1


“Hei, ada apa ribut-ribut?” tiba-tiba suara yang baru datang menghentikan ketegangan yang terjadi.


“Nyonya .... “ bu Rumlah terkejut melihat Nurita sudah berada di hadapannya dengan Mayang  yang berdiri di belakangnya.


“Mamaa .... “ Bisma terkejut menyadari bahwa mamanya dan saudari perempuannya sudah sampai di rumah bahkan berdiri di hadapannya.


“Tante .... “ dengan cepat Siska berjalan menghampiri Nurita dan langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Nurita terkejut melihat ada  orang asing yang berada di dapur rumahnya. Di pikirannya kini terbersit bahwa Bisma telah memulai hubungan serius dengan perempuan muda dengan tampilannya yang sangat modis itu.


“Saya Fransiska .... “  dengan perasaan senang Siska menjabat tangan perempuan parobaya yang masih memandangnya dengan jidat berkerut.


“Mamanya Bisma, Nurita .... “ Nurita pun berusaha bersikap sopan pada perempuan yang kini memandangnya dengar raut berbinar.


“Ini mbak Mayang kan?” Siska bersikap sok ramah yang membuat Mayang tersenyum sinis menanggapi kehadirannya di rumah mereka.


Ia yakin perempuan muda itu berusaha menggaet adik semata wayangnya yang masih sendiri. Apalagi dari gerak-geriknya sudah kelihatan bahwa perempuan itu bisa menghalalkan segala cara untuk mendekati Bisma yang tetap sedingin kulkas.


Tanpa menanggapi ucapan Siska, Mayang memutar bola matanya ke arah lain. Sebagai seorang perempuan dan kakak yang baik, ia tidak ingin Bisma mengambil langkah yang salah jika memilih pasangan yang hanya memandang materi sebagai tolak ukur dalam menjalin hubungan.


“Mama dan mbak Mayang istirahat dulu,” Bisma berusaha mengurai kebekuan yang terjadi, karena Mayang tidak menanggapi keramahan yang ditampilkan Siska.


Merasa tidak nyaman dengan kedatangan keluarga Bisma, akhirnya Siska pamit undur diri. Ia dapat melihat permusuhan yang ditampilkan raut wajah cantik kakak perempuan Bisma.


“Saya permisi tante, mbak dan mas Bisma ... “ Siska berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


“Lho, gak ikut makan siang sekalian?” Nurita merasa tidak nyaman akan sikap sinis Mayang yang tidak mau menyapa Siska.


“Maaf tante, kebetulan papa berada di rumah dan ingin berkumpul bersama anak dan menantunya,” Siska berkata dengan lemah lembut dan santun.


“Baiklah nak ... “ Nurita menganggukkan kepala membalas kesantunan yang ditunjukkan perempuan muda di depannya.


Ia tidak ingin berkomentar apa pun pada Bisma. Jika perempuan muda itu memang pilihan putranya, ia hanya memberikan restu dan doa terbaiknya agar pilihan putranya memberikan kebahagiaan dan ketenangan hidupnya.


...

__ADS_1


Bisma tidak menyangka Siska kembali hadir dalam acara yang digelar mamanya dan Mayang untuk syukuran selesainya ia menempuh pendidikan sekaligus mutasi tugasnya di tempat baru yang berlokasi di kota Bogor.


Padahal ia hanya mengontak Jayusman, sebagai orang yang paling berjasa atas pengajuan mutasinya di DPMPTSP kota Bogor. Tapi dengan percaya dirinya Siska datang bersama papanya yang kebetulan masih belum kembali ke Bandung.


__ADS_2