
Saat Bisma memasuki rumah\, suasana begitu hening. Ia hanya melihat satpam yang membukakan pintu gerbang saat mobil memasuki pekarangan. Matanya menatap tajam sebuah mobil fortu*er yang terparkir rapi di samping mobil Bri* milik Ajeng yang ia kenal.
Sayup-sayup ia mendengar percakapan disertai gurauan dari ruang makan yang tidak terlalu jauh darinya saat ini.
“Assalamu’alaikum ....“ dengan memberi salam tanpa berpikir panjang Bisma berjalan menuju ruang makan.
Tatapannya terpaku pada sosok Hilman yang sedang menikmati makan siang bersama Ajeng dan Dimas. Senda gurau yang terjadi langsung berhenti.
“Wa’alaikumussalam ... “ ketiganya menjawab kompak.
Hilman menatap Bisma dengan kening berkerut, pandangannya beralih pada Lala yang terlelap dalam pelukan Bisma.
“Maaf mengganggu makan siang kalian,” Bisma berkata dengan nada datar.
Terus terang ia tidak suka melihat pemandangan di depannya. Harusnya ia yang berada di posisi itu saat ini. Bagaimana tidak, kini ada lelaki lain yang duduk diantara keluarga kecil yang pernah membersamainya.
“Wah, ini memang jam tidur ade,” dengan cepat Ajeng bangkit dari kursinya.
Tatapan Bisma lekat memandang penampilan Ajeng yang memakai gamis maroon dengan hijab bunga kecil, membuatnya begitu manis dipandang.
Ia menahan nafas saat tangannya bersentuhan dengan jemari Ajeng yang meraih Lala dari gendongannya. Parfum vanilla kembali memanjakan indera penciumannya.
“Mari makan siang sekalian mas,” Dimas menawarinya untuk bergabung.
Melihat Ajeng yang berjalan menuju kamar yang berjarak tiga meter dari tempatnya berdiri saat ini membuat perasaan Bisma terpecah. Ia tidak langsung menjawab tawaran Dimas.
“Ayo pak Bisma,” suara Hilman membuatnya mengalihkan pandangan dari sosok Ajeng yang sudah menghilang di balik kamar, “Masakan rumahan dengan cita rasa bintang lima.”
Terpaksa Bisma menghenyakkan tubuhnya di samping Hilman. Ia juga merindukan masakan Ajeng yang pernah memanjakan lidahnya selama mereka masih tinggal seatap.
“Dek, ambilkan piringnya untuk pak Bisma,” suara Hilman yang memanggil Ajeng membuat perasaan Bisma serasa terbakar.
“Suit, suit .... “ Dimas tertawa mendengar panggilan Hilman pada Ajeng yang kini semakin dekatdalam pandangannya.
“Kamu tau Dim, biar mbakmu yakin bahwa mas serius. Sekarang semuanya udah panggil Ale, padahal itu panggilan kesayangan mas mu ini,” ujar Hilman santai.
Ajeng hanya mengurai senyum dan melakukan perintah Hilman dengan cepat. Piring beserta gelas dan sendok kini telah tersedia di hadapan Bisma.
”Cih!” Bisma merutuk dalam hati.
“Silakan pak Bisma,” Ajeng tersenyum saat pandangan keduanya bertemu yang langsung di putus Ajeng seketika.
Melihat Hilman yang lahap menikmati semua masakan Ajeng membuat bara di dada Bisma menggelegak. Ia berusaha menekan agar amarahnya tidak membakar semua rencana yang masih bersemayam di otaknya.
“Wajar kafe resto dek Ajeng laris. Masakannya enak,” puji Hilman membuat tangan Bisma mengepal.
__ADS_1
Ia berusaha menelan makanan walau pun dengan susah payah. Hidangan lezat buatan Ajeng kini bersih di hadapan Hilman dan Dimas. Buru-buru Bisma menghabiskan air putih di untuk mengurangi amarah yang masih bertahta di benaknya.
Ajeng segera menyiapkan kopi untuk Hilman dan Bisma yang masih belum beranjak dari kursi yang mereka tempati.
Ia akan menceritakan sosok Bisma pada Hilman, karena ia yakin kehadiran Bisma di siang itu menyimpan tanda tanya besar di benak lelaki yang kini semakin dekat dengannya.
“Mas,” tatapan dan suara lembut Ajeng pada Hilman membuat Bisma menatapnya seketika, “Ada yang ingin ku katakan padamu.”
Hilman menatapnya lekat. Ia tau, dari nada Ajeng kelihatan bahwa ada sesuatu yang penting ingin disampaikan perempuan yang namanya selalu ia sebut di sepertiga malamnya.
Melihat pandangan Hilman yang penuh arti membuat Bisma ingin mencongkel mata lelaki yang kini menjadi saingannya untuk merebut kembali hati Ajeng yang tampak mulai berpaling. Dan ia sangat membenci melihat itu.
“Apa tentang arah hubungan kita?” canda Hilman membuat wajah Ajeng yang tadinya serius langsung cemberut dengan mencibirkan bibirnya.
Hati Bisma semakin terbakar dengan semua perlakuan yang ditunjukkan Hilman pada Ajeng. Harus ia akui, keduanya memang serasi dan harmonis. Dan hati kecilnya menolak untuk itu.
Hilman begitu perhatian, kata-katanya begitu lembut dan penuh kasih sayang. Sangat wajar kalau Ajeng jatuh hati padanya. Tapi ia berharap Ajeng tak terpikat. Ia harus memberi perhatian lebih mulai sekarang.
“Ini mengenai pak Bisma .... “ suara Ajeng terdengar tegang di telinga Bisma.
“Mbak, mas, saya ke depan dulu ....” pamit Dimas. Ia tidak ingin ikut campur percakapan antara orang dewasa.
Ajeng mengangguk dan menghenyakkan tubuhnya di antara dua lelaki dewasa yang kini menatapnya dengan pandangan yang hanya keduanya yang tau.
“Saya ayah kandung Lala,” dengan tegas Bisma menjawab pertanyaan Hilman.
Ajeng langsung menatapnya dengan tegang. Ia tak bisa menyembunyikan keberadaan Bisma dengan lelaki yang telah menjalin hubungan serius dengannya.
Hilman terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa. Semua benar-benar di luar dugaannya. Kehadiran Bisma di rumah Ajeng dan kedekatannya dengan Lala memang menjadi pertanyaan yang belum sempat ia lontarkan pada Ajeng.
Tapi kini semuanya telah terjawab. Dan ia ingin memastikan satu hal untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.
“Setiap orang punya masa lalu. Dan aku tidak akan mengungkit semuanya. Yang akan kita bangun bersama adalah masa depan,” Hilman berkata dengan bijak.
“Maafkan aku mas. Bukannya aku menyembunyikan keberadaan ayahnya Lala ... “ Ajeng menghela nafas sejenak, “Ku pikir tidak perlu menceritakan masalah ini, karena kami berpisah secara baik-baik atas keinginan bersama. Kita pun juga beda kota .... “
Bisma merasa tidak terima dengan ucapan Ajeng di depan lelaki yang kini menjadi rivalnya untuk kembali.
Rasanya ia ingin membantah ucapan Ajeng. Tapi ia belum bergerak dari rencana yang baru tersusun di otaknya.
“Mas percaya padamu dik. Bukan baru sebulan mas mengenalmu, tapi bertahun-tahun,” Hilman menjawab lugas, “Mas yakin, dik Ajeng punya alasan sendiri untuk menyimpannya.”
“Terima kasih mas .... “ senyum terbit di wajah Ajeng.
Sangat manis, tetapi membuat darah Bisma menggelegak melihat pemandangan yang terjadi di depannya.
__ADS_1
Keduanya saling melempar senyum menguatkan satu sama lain. Bisma benar-benar tidak terima.
“Silakan mas Hilman berbincang dengan ayahnya Lala. Aku akan membereskan semua di sini.”
“Baiklah,” Hilman mengangguk sambil tersenyum, “Mari pak Bisma, kita ngobrol di teras depan ....”
Ucapan Hilman terasa menampar Bisma. Ia dapat merasakan seolah-olah dirinya tamu dan Hilman lah tuan rumah yang menjamunya. Kini hatinya merasakan sakit tapi tak berdarah.
Setelah membereskan sisa-sisa makan siang mereka, Ajeng kembali ke kamar tidurnya untuk melihat Lala. Ia terkejut melihat tumpukan kotak mainan yang dibawa Dimas memenuhi setengah tempat tidur tempat Lala terlelap saat ini.
“Lho, semua ini dari mana?” Ajeng menatap Dimas dengan jidat berkerut.
“Belanjaan Lala bersama ayahnya,” jawab Dimas santai.
“Tumben?” Ajeng mencibir.
“Entah kejutan apa lagi yang akan diberikan mas Bisma .... “ cengir Dimas saat meletakkan kotak terakhir, “Ternyata loyal juga suamimu mbak.”
Ajeng membulatkan matanya mendengar ucapan Dimas, “Jaga bicaramu!”
“Sius mba,” Dimas mempertahankan argumennya, “Kalau ayahnya Lala bilang rujuk langsung gugur talaknya. Apalagi mbak dan mas Bisma belum proses ke pengadilan agama.”
“Sok tau!” cibir Ajeng tak senang.
“Orang yang mengurus di pengadilan aja perlu mediasi, yang waktunya gak cukup sebulan dua bulan. Dan kalau pun sudah ketuk palu masih bisa rujuk selama belum talak tiga, walau pun berproses .... “ Dimas berkata dengan serius.
“Eh anak bau kencur, yang namanya lelaki kalau sudah ngomong pisah, atau ku kembalikan ke rumah orang tuamu, itu sudah jatuh talaknya ....” Ajeng berusaha tidak termakan omongan Dimas, “Apa lagi bukan satu kali ayahnya Lala mengatakan itu padaku.”
“Iya sih,” Dimas masih berusaha memberi pemahaman pada pemikiran sempit kakaknya, “Tapi setiap orang kan bisa berubah mbak. Bisa aja mas Bisma telah memikirkan semuanya.”
Ajeng tertawa sinis, “Berubah apa? Ayahnya Lala itu telah mempunyai calon istri rekan kerjanya sendiri. Bahkan telah diperkenalkan dengan mama dan mbak Mayang.”
“Terserah mbak mau percaya atau tidak dengan perkataanku,” Dimas akhirnya mengalah dengan ucapan Ajeng yang terus menyanggahnya.
“Bagaimana mbak mau percaya dengan omonganmu,” Ajeng masih berusaha meyakinkan Dimas untuk tidak berspekulasi tentang perubahan Bisma, “Mbak sering melihat ayahnya Lala berjalan berdua temannya itu. Mesra lagi.”
“Cemburu nie .... “ Dimas meledeknya membuat Ajeng melemparkan salah satu kotak mainan Lala saking gemesnya dengan kelakuan adiknya.
“Cemburu gundulmu,” kesal Ajeng, “Begitu ayahnya Lala melepas, maka tak perlu lagi untuk bertahan. Enteng kan?”
Dimas mengangkat bahu melihat Ajeng yang berkata santai tanpa beban, karena sudah tidak ada setitik pun rasa yang tersimpan di hatinya akan kehadiran Bisma.
***Hayooo makin seru khan. Apa yang bakal dilakukan Bisma untuk mengembalikan Ajeng ke dalam pelukan? He he he. Komentar\, like\, kembang dan votenya otor tunggu ya ....
Untuk "Merajut Serpihan Cinta" dalam waktu dekat akan otor publish ... Mohon dimaklumi ya ....***
__ADS_1