
Beberapa jam sebelumnya ...
“Ternyata Mas Bisma tidaklah serius saat ingin memutus hubungan kami yang telah berjalan enam bulan,” Deby tak bisa menahan senyum ketika Bisma akhirnya menuruti keinginannya untuk dinner berdua malam ini.
Ia menyadari, sejak ucapan Bisma yang meminta mereka berdua mengakhiri hubungan membuat laki-laki masa depannya itu menjauh. Dari gelagatnya ia melihat bahwa pandangan Bisma mulai fokus dengan mantan istrinya yang kini jadi pengusaha yang namanya jadi perbicangan di kota Malang.
Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bagaimana mungkin ia akan melepas lelaki mapan yang sudah ia targetkan menjadi pilihan terakhir. Saat Bisma masih terikat rumah tangga dan tinggal dengan Ajeng istrinya, Deby mulai memainkan perannya sebagai perempuan ideal yang layak dijadikan pendamping.
Ia melihat Bisma jarang pulang dan melewatkan makan siang di rumah. Alih-alih makan siang di rumah, Bisma lebih sering makan di luar bersama dengan tim kerjanya. Apalagi bagian mereka yang berhubungan dengan protokoler Pemda Jatim, membuat interaksi mereka lebih intens.
Ia merasa lega ketika Bisma mulai menyambut perhatian-perhatian kecil yang ia berikan. Setiap hari ia mulai mengambil alih menyiapkan minuman dan snack, serta sarapan yang selalu ia bagi. Sikap dingin Bisma terhadap lawan jenis membuat Deby merasa tertanrang untuk menaklukkan atasannya yang ia ketahui sudah berkeluarga.
Ia tersenyum-senyum membayangkan bagaimana rayuan mautnya berhasil membuat Bisma melunak. Ia tau, Bisma paling tidak bisa melihatnya menangis. Dengan segala drama kesedihan yang ia buat, membuat Bisma tidak jadi mengusirnya keluar dari mobil.
Saat ia menceritakan segala keinginannya untuk berubah, asal Bisma memberi kesempatan Deby mengeluarkan segala intriknya dengan wajah terbalut kesedihan. Melihat sikap Bisma yang begitu gentle saat menenangkannya, ingin rasanya Deby menjatuhkan diri dalam pelukan dada bidangnya.
Walau ia tau, Bisma masih memberi jarak akan kedekatan yang terjalin, tapi sikap Bisma yang menerima ajakan dinner-nya membuat Deby memikirkan rencana yang akan ia buat agar Bisma bertekuk lutut padanya.
Ia tak peduli. Bagaimana pun malam ini harus jadi milik mereka berdua. Ia tidak akan membiarkan Bisma lepas malam ini. Bisma hanya miliknya. Siapa pun tidak berhak untuk mendapatkan lelaki yang sudah jadi targetnya.
Deby memilih gaun malam yang sangat cantik. Ia ingin terlihat sempurna di mata Bisma. Tak akan ia biarkan siapa pun mengambil alih perhatian lelaki masa depannya itu. Hanya ia yang akan Bisma lihat mulai malam ini dan seterusnya.
Senyum liciknya terulas saat membawa air mineral yang sudah ia siapkan dalam tas tangan yang ia jinjing untuk memperlancar rencananya nanti malam.
Tepat jam setengah delapan malam Bisma menjemputnya di apartemen mewah, yang merupakan hadiah terakhir hasil pernikahan yang ia minta dengan Bram.
Rasa bahagia semakin membuncah di benak Deby, saat Bisma membawanya makan malam di restoran mewah di dalam sebuah mall megah. Ia yakin, seumur hidup, malam ini adalah kado terindah yang ia nikmati seumur hidup.
Walau pun ia tidak bisa menggandeng tangan kokoh Bisma, tapi melihat sikapnya yang santai dan antusias dalam menimpali percakapan yang terjadi membuat Deby semakin merasa di atas angin.
__ADS_1
Ternyata kegembiraan Deby tidak berlangsung lama. Saat keduanya baru reservasi, Deby melihat sosok Hilman yang menghampiri mereka berdua. Dari wajah pengusaha itu ia melihat raut kegembiraan yang tergambar jelas, membuat wajahnya semakin tampan.
Walau pun ia tidak terlalu menyimak apa yang keduanya bicarakan, tapi Deby merasa bahwa Bisma merasa kesal, kelihatan dari wajahnya berubah tegang dan marah. Senyum menawan yang tampak di wajahnya menghilang tak bersisa.
Percakapan serta candaan manja yang biasanya ditanggapi Bisma, tampak tak dipedulikannya. Harapan Deby untuk duduk berdua di ruang VIP langsung kandas begitu Bisma menghenyakkan tubuhnya di salah satu kursi yang masih tersisa.
Dengan perasaan kesal Deby mengikuti langkah Bisma dan duduk di hadapannya berusaha menahan diri atas sikap datar Bisma yang tak ia mengerti.
Ia melihat berkali-kali Bisma memandang pintu ruang VIP yang ada di hadapan mereka. Ia penasaran siapa yang ditunggu Bisma, dari gerak-gerik yang tampak, kelihatan kalau lelakinya ingin menerobos masuk ke dalam ruangan.
Kekesalan Deby tidak berakhir di situ. Saat memesan makanan, Bisma tidak peduli apa pun yang ia pesan. Dengan menahan perasaan, ia masih menampilkan sikap sopan, tak ingin Bisma jadi ilfil terhadapnya.
Ternyata ujian kesabaran Deby tidak berakhir. Karena Bisma mengacuhkannya, ia pun mengeluarkan ponsel yang dihadiahkan Bisma awal kedekatan mereka.
Rombongan kantor berjumlah 5 orang dengan dedengkotnya Ibnu kini hadir di hadapannya. Deby melongo melihat wajah-wajah tak tau diri yang kini duduk santai dengan candaan garing mereka saat mengambil tempat di antara ia dan Bisma.
Percakapan mereka membuat emosi Deby semakin meningkat. Tapi kembali lagi ia harus bermain cantik agar keluar sebagai pemenang. Ia tak memusingkan percakapan dua gadis yang biasa memandang sinis padanya.
Ia paling tidak suka dengan Ibnu. Lelaki yang kelakuan serta mulutnya seperti perempuan, dan tanpa sungkan sering menyindirnya yang berusaha caper dengan Bisma. Jika ia sudah resmi menjadi nyonya Bisma, ia akan membatasi kedekatan keduanya. Itu sudah menjadi tekad yang akan ia realisasikan jika keinginannya terwujud.
Deby menutup telinganya atas percakapan receh diantara empat orang yang kehadirannya tak ia harapkan. Matanya masih nyalang menatap Bisma yang kini mengulurkan amplop ke tangan Ibnu.
Wajah si kucing kurap tampak sumringah menerima amplop dari atasan mereka. Ia penasaran apa yang dibicarakan keduanya, sehingga si kucing kurap senyum kesenangan.
Sebuah pesan masuk dalam ponselnya. Dengan cepat ia membuka. Gambar liontin cantik menghiasi pesan gambar yang ia terima. Tapi Deby menutupi rasa bahagia di hadapan rekan yang tidak selevel dengannya.
Wajahnya yang tadi kesal kembali ceria. Ia membalas pesan dengan mengetik emoticon love, dan menyimpan ponsel ke dalam tasnya dengan cepat.
“Bos mana?” pertanyaan Maya membuat Deby langsung mengangkat wajah dan memandang Ibnu yang kini wajahnya tidak sesumringah saat menerima amplop dari Bisma.
__ADS_1
“Keperluan mendadak,” jawab Ibnu seketika.
Matanya langsung berbinar melihat berbagai menu tersaji di meja. Kekesalannya akan ucapan Bisma pudar.
“Dasar kucing kurap!” batin Deby melihat tingkah Ibnu yang tanpa permisi langsung meraih piring yang berada di hadapannya.
Begitupun Didik cs, tidak ada jaimnya pada Deby mengikuti Ibnu segera menyantap hidangan yang tersedia dengan gurauan dan perbincangan receh mereka.
Sebenarnya malas bagi Deby untuk melanjutkan makan, tapi berhubung menu spesial yang ia pesan membuatnya tetap menghabiskan apa yang ada di hadapannya.
Jarang sekali ia bisa menikmati menu yang harganya lumayan menguras isi kantong, kecuali ada klien yang menikmati jasa plus yang ia tawarkan.
“Eh ada mbak Ale dan mas Hilman bersama om dan tante Yenni,” celetukan Maya membuat Deby berhenti menikmati suapan terakhir.
Ia langsung memalingkan muka melihat arah yang ditunjuk Didik. Matanya melotot tak percaya melihat penampilan Ajeng yang tampak akrab dengan perempuan parobaya yang menggandeng tangannya.
Pikirannya bekerja cepat. Ia kini paham dengan perubahan sikap Bisma. Rasa khawatir menyelusup dalam dadanya. Ia curiga bahwa Bisma mulai memikirkan mantan istrinya.
Bukan satu dua kali ia melihat gerak-gerik Bisma yang aneh saat keberadaan Ajeng dalam setiap kesempatan yang mempertemukan mereka. Ia yakin, banyak rekan kerja mereka yang tidak tau, bahwa Ajeng adalah mantan istri Bisma yang telah berpisah, tetapi belum dilegalkan negara.
Kini kecurigaannya benar bahwa Bisma memberi perhatian lebih pada sang mantan. Rasa cemburu tergambar jelas di wajah Bisma melihat Ajeng bersama laki-laki lain. Ia tidak akan membiarkan Bisma merampas impiannya dengan kembali pada Ajeng, walau pun perempuan itu telah memberinya seorang putri yang cantik. Bisma hanya miliknya seorang.
Deby mengepalkan tangan menahan amarah. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia sudah bersusah payah sampai detik ini untuk merebut laki-laki yang sudah memanah hatinya saat perjumpaan mereka pertama.
Apa kata cecunguk di depannya jika ia tak bisa membuat bos jatuh ke dalam pelukannya? Matanya masih mengikuti pergerakan Ajeng, Hilman dan kedua orangtua yang mengikuti keduanya.
Ia tidak menghabiskan makanan miliknya. Jemarinya kembali meraih ponsel yang sudah tersimpan rapi di dalam tas branded miliknya. Ia tidak menghiraukan ajakan Didik dan Ibnu yang mengajaknya pulang bareng.
“Duluan aja, aku masih ada urusan,” tolak Deby.
__ADS_1
Dengan cepat ia kembali menghubungi nomor yang telah mengiriminya gambar liontin tadi. Malam ini ia harus me-refresh pikirannya yang buntu, karena belum bisa membuat lelakinya berbagi peluh dengannya.
Sudah sebulanan ia tidak open BO untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi perempuan terhormat. Tapi pancingan liontin indah serta Bisma yang tak bisa ia miliki malam ini membuat Deby tak ingin melewatkan malamnya sendirian.