Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 89 Rencana Wirya


__ADS_3

Bisma tersenyum sendirian mengamati ponsel yang berada dalam genggamannya. Ia berhasil mengambil gambar Ajeng yang sedang duduk menyuapi Lala saat mereka mampir untuk makan siang.


Tindakannya  sudah benar dengan mengantar keduanya kembali ke Malang. Walau pun sikap Ajeng datar, paling tidak komunikasi yang terjalin mulai membaik.  Ia sudah tidak sabar menunggu akhir pekan untuk kembali ke Surabaya.


Ia akan berterus terang pada mamanya untuk mengajak Ajeng rujuk. Semoga saja ada dukungan dari pihak keluarganya, yang akan membuat perjuangannya semakin mudah.


Pesan chat masuk ke ponselnya. Senyum yang tadi menghias wajah klimisnya yang baru cukuran  langsung pudar. Rasanya enggan ia untuk mendampingi kepala dinas yang hari ini akan menghadiri Rapat membahas RAPBD tahun 2023 tepat jam 9.


Acara itu hanyalah seremonial serta pertanggungjawaban anggaran yang sudah terpakai. Ia yakin pak Wirya pasti akan hadir dengan alasan kunjungan kerja dan mulai misinya untuk mendekatkan ia dan dr. Siska.


Saat upacara memperingati hari Sumpah Pemuda di halaman kantor bupati Malang, ia sudah merasa tidak nyaman. Kehadiran dr. Siska bersama pak Wirya yang terus mepet padanya membuat  Bisma tak bisa menghindar.


Saat  jamuan makan siang bersama, ia hanya diam  mendengar pembicaraan pak Wirya yang selalu menceritakan keberhasilan  hidupnya yang berjuang dari nol hingga mengantarkan dirinya menjadi wakil rakyat yang duduk di propinsi.


Bisma tau, awalnya pak Wirya sekedar memotivasi para generasi muda serta pejabat yang hadir akan perjuangannya yang tidak mudah. Tetapi lama kelamaan ia mulai mempromosikan putrinya serta keinginannya untuk mencarikan pasangan bagi putri kesayangannya.


“Enak dong yang bakal jadi mantunya pak Dewan,” kelakar  Tobing salah satu rekannya di DPMPTSP kota Bogor.


“Siapa calong mantunya pa Dewan?” Erna bu Kabid yang super gaul pun tak mau kalah mendengar percakapan di pagi menjelang siang itu.


“Pak Bisma bu,” Tobing tertawa kecil karena berhasil mengerjai Bisma yang terdiam  sambil menyandarkan punggung di kursi kerjanya.


“Dokter cantik putrinya pak Wirya tho?” Erna langsung menebak.


“Kapan lagi pak Bisma? Usia juga sudah mapan. Jabatan juga mentereng....” sela Masnur yang menjabat sebagai Kasi di dinas tempat mereka bernaung.


“Pak Bisma udah lama juga kan sendiri. Kapan lagi, toh ada daun muda yang bertalenta, camer yang punya kuasa. Hidup dijamin bahagia .....” Tobing berusaha mengapi-api Bisma  yang hanya tersenyum menanggapi  percakapan mereka yang terlalu blak-blakan.


“Saya yakin, jika pak Bisma menjadi mantunya pak Wirya dalam waktu dekat ... tahun depan langsung ada pelantikan. Kita bakal mendapat kepala dinas baru di sini....” Erna berkata dengan serius.


“Tidaklah .... “ Bisma menggelengkan kepala mendengar pembicaraan rekan kerja akan nasibnya di masa depan.


“Lho, pak Bisma gak mau jadi mantunya pak Wirya?”  Masnur menatapnya tak percaya, “Dr. Siska  cantik, masih muda lagi. Semangat kan, dengan usia matang mendapat daun muda?”


Bisma tersenyum meremehkan ucapan Masnur. Ia malas menanggapi ucapan mereka yang dengan semangat menjodoh-jodohkannya dengan dr. Siska  yang sering mampir di rumah makan yang kebetulan posisinya di depan kantor mereka.


“Apalagi sih yang pak Bisma cari? Jodoh udah  nyata di depan mata. Sepadan , cucok, top markotop ....” Tobing mengacungkan dua jempolnya.

__ADS_1


“Di usia saya yang 40 an ini, anak udah kelas 2 SMA. Emang sih nikah  lumayan muda. Tapi masih awet kan?” Erna tertawa sambil mengacungkan jempol.


“Saya sudah punya pilihan sendiri,” ujar Bisma santai sambil membayangkan wajah datar Ajeng saat ia menghubunginya untuk berbicara dengan Lala.


Selama ini ia berkomunikasi dengan putrinya saat Lala menginap di rumah mamanya di malam Minggu. Kini ia bebas kapan pun untuk berbicara dengan putri kecilnya yang selalu semangat saat ia melakukan panggilan, seperti semangatnya untuk mendengar bahkan melihat wajah sang pujaan.


...


Menggunakan mobil dinas, Bisma mendampingi Heri Susanto untuk menghadiri rapat di gedung DPRD Malang. Ia sudah mempersiapkan tas kerja yang berisi laptop dan buku agenda kerja hariannya.


Malam itu  Bisma akan datang memenuhi undangan Erni kabidnya yang  melaksanakan resepsi pernikahan  ponakannya di hotel bintang di kota Bogor. Ia bersama mang Toyo, karena tubuhnya terlalu lelah setelah seharian menemani kadis di kantor DPRD.


“Mas ...,” sapaan manja singgah di indera pendengarannya begitu ia memasuki ballroom hotel yang telah disulap sedemikian indah menjadi lokasi resepsi.


“Selamat  malam dr. Siska,” Bisma menyapa ramah perempuan di hadapannya yang berdiri bersama dengan beberapa perempuan yang penampilan mereka seperti selebritis.


“Kenalin sama temen aku dong,” tanpa segan Siska langsung merangkul lengan Bisma.


“Maaf dr. Siska ....” dengan sopan Bisma melepaskan tangan Siska yang menggantung di lengannya.


Walau dengan perasaan tidak nyaman Siska tetap tersenyum. Tapi ia senang karena Bisma masih berdiri di sampingnya.


“Melani...,” perempuan yang berbody langsing seperti model langsung mengulurkan tangan dan menatap Bisma hangat.


“Lili ...,” perempuan  yang  dandanannya  cetar bersemangat menyambut uluran tangan Bisma.


“Permisi dr. Siska, saya  masih ada keperluan dengan yang punya hajat,” Bisma merasa bukan tempatnya untuk bersama Siska dan teman-temannya.


Ia melangkahkan kaki dengan cepat.  Ia sadar punya skala prioritas sekarang. Ia tidak akan membuang-buang waktu dengan orang yang tidak berkepentingan di masa depannya.


“Wah gila! Ganteng banget pak Bisma. Bodynya ....” Lili mengangkat dua jempolnya saat lelaki yang dibanggakan Siska sudah berlalu dari hadapan mereka.


“Walau udah om-om, gak nolak  kalau  ONS sama pak Bisma. Kaya masih 30 an ....” Melani menambahkan dengan mimik serius.


“Awas kalau kalian mengganggu mas-ku,” Siska tidak terima  mendengar  ucapan kedua teman dekatnya itu.


Ia sangat tau bagaimana pergaulan keduanya, karena mereka berada di circle yang sama. Hobi mereka menghabiskan waktu di klub atau sekedar nongkrong membuang  lelah di dunia malam.

__ADS_1


“Malam dokter-dokter cantik,” sapaan pemuda berpenampilan  nyentrik membuat ketiganya kompak memandang arah suara.


“Beno,” Siska langsung memalingkan muka dengan wajah sinis.


“Eh, ada kang Beno....” Melani bersemangat melihat sosok tampan dengan penampilan nyentrik itu.


Siapa  yang tidak mengenal Ruben Setiaji, putra  pemilik Hotel ternama di kota Bogor. Tapi di kalangan rekan kerja dan temannya ia lebih akrab dipanggil Beno.


Ia seorang konsultan  yang memiliki perusahaan yang bergerak di bidang real estate. Bukan rahasia umum kalau ia pernah dekat dengan Siska, dan mereka memang pasangan yang sepadan di mata rean-rekan lain.


“Kapan pulang Beb?” tanya Beno penuh perhatian pada Siska  yang tak mengacuhkan kehadirannya.


“Beb, ditanyain tuh,” Lili mencubit lengan Siska yang pandangannya tak berpaling pada Bisma yang kini berbicara dengan Erna  rekan kerjanya, “Kangen berat Bosqu ....”


“Tolong Ben, kita sudah bubar,” Siska berkata datar tanpa memandang wajah Beno.


“Itu maumu Beb, bukan mauku,” tegas Beno dengan rahang mengeras.


Bukannya ia tidak tau kalau perempuan yang sudah menjadi candu-nya itu sudah mempunyai ‘target’ lain. Ia mengetahui dari Ardi sepupunya yang kini menikah dengan saudara  Bisma.


Tidak mngkin ia melepas Siska begitu saja, setelah banyak pengorbanan yang ia berikan untuk sang kekasih. Selama LDR-an ia selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi kekasihnya 3 bulan sekali.


Tetapi semenjak mengenal duda yang satu apertemen dengan rekannya dr. Idham, Siska menolak menerima panggilan telpon maupun vc-annya. Hingga saat  perayaan HUT RI,  ia sengaja mengunjungi kekasih yang sudah sangat ia rindukan.


Bukannya kebahagiaan yang Beno dapatkan. Ia terkejut saat menyaksikan Siska bersama papanya terlihat sangat akrab dengan seorang lelaki mapan yang baru ia tau bernama Bisma.


Sementara itu Wirya  yang sedang terlibat percakapan dengan rekannya yang merupakan orangtua dari mempelai pria, merasa senang melihat kehadiran Bisma. Ia harus mampu meyakinkan lelaki mapan itu untuk menerima tawarannya.


“Nak  Bisma,” Wirya langsung menepuk pundaknya begitu berdiri berdampingan.


“Pak Wirya,” Bisma  tersenyum  sambil menganggukkan kepala melihat keberadaan laki-laki yang sok  berkuasa itu.


“Pak Wirya mengenal pak Bisma?”  tatapan  penuh tanya tergambar di wajah Iwan orang tua mempelai lelaki.


“Bagaimana saya tidak mengenal lelaki berkharisma yang sedang dekat dengan putri kesayangan saya ini.” Wirya tertawa dengan tatapan tajam pada Bisma.


“Wah, nasib baik sedang berpihak pada anda pak Bisma. Beliau ini bukan orang sembarangan,” Iwan memandang Bisma dengan takjub.

__ADS_1


Kedatangan Siska  membuat Bisma merasa gerah. Ia tidak ingin berada  dalam lingkungan dimana keduanya berada.


“Memang pasangan yang serasi dan sepadan,” Iwan langsung mengangkat jempol melihat keberadaan Siska yang berdiri di samping Bisma sekarang


__ADS_2