
Ia memandang sinis pada Ajeng ketika tatapan keduanya bersirobak. Ia tak mempedulikan ajakan Hilman untuk duduk di barisan kursi nomor dua. Ia ingin menampilkan keberadaan dirinya dan suaminya di depan pejabat kota Malang serta para pengasuh ponpes Nur Ilahi.
Dari supir pribadi Hilman, ia tau bahwa sang suami memiliki andil besar dalam berdonasi di ponpes Nur Ilahi. Jadi tidak salah jika mereka menduduki kursi paling depan bersama pejabat kota yang diundang. Rasa bangga menjalar ke seluruh nadinya. Semua orang akan melihat, bahwa dirinya lah yang paling pantas di sisi Hilman, bukan perempuan ‘ndeso’ yang berusaha mengambil posisinya menjadi pendamping lelaki yang kini semakin bersinar di kalangan pengusaha.
Ajeng membalas senyum Dewi dengan ramah. Ia tidak ingin mencari musuh. Apalagi hubungannya dan Hilman telah berakhir. Bukan saatnya untuk menyesali semua takdir yang telah digariskan Allah padanya.
Saatnya ia melangkah maju ke depan, tanpa dibebani dengan urusan remeh temeh sebuah hubungan yang akan mengganggu aktivitasnya. Baginya yang terpenting saat ini adalah ketenangan dan kebahagiaan dirinya demi Lala, Dimas, keluarga besarnya serta orang yang bekerja bersamanya.
“Mbak tidak apa-apa?” Audina menyenggol lengannya saat mereka sudah duduk bersama karena acara sudah dimulai.
“Tenang aja, aku sudah biasa menghadapi hal seperti ini,” jawab Ajeng santai.
Ia menyunggingkan senyum saat beberapa tamu menyapanya dengan sopan. Kasak-kusuk mulai terdengar saat relasi mereka mengetahui kandasnya hubungan ia dan Hilman, bahkan melihat mantan tunangannya datang bersama istri.
“Wah, pak Hilman gak undang kita pada hari bahagianya ... “ seloroh pak Umar, seorang pengusaha tembakau yang kini duduk berdampingan dengan Hilman, “Selamat ya pak dan bu Hilman ....”
Dewi tersenyum senang mendengar perkataan pak Umar yang saat itu datang bersama Deri rekannya yang juga berkecimpung di dunia yang sama.
“Terima kasih pak,” Hilman berusaha menjawab dengan ramah, “Acaranya privat, jadi tidak mengundang orang luar....”
Pikirannya tak tenang, apalagi mengetahui bahwa Dewi telah menuduh Ajeng dengan perkataan yang tidak pantas. Ia merasa malu dan harga dirinya jatuh di hadapan perempuan yang selalu bersahaja di matanya.
Hilman merasakan pandangan rekan lelakinya tertuju pada Dewi yang asyik bermain ponsel sambil senyam-senyum sendirian, sementara di panggung sedang ada pidato dari bupati Malang yang diwakili oleh asisten satu.
“Wi .... “ Hilman menyenggol lengan Dewi yang bertelekan di tangan kursi di sampingnya.
“Ya mas .... “ Dewi masih asyik membalas chat Wirda, teman lamanya yang kini telah menjadi salah satu sosialita di kota Malang.
“Tolong hargai orang yang berada di depan.” Wajah Hilman dingin saat mengatakannya.
Dewi memandang sekelilingnya, semua fokus memandang ke depan. Rasanya ia menyesal ikut datang mendampingi Hilman untuk memenuhi undangan perayaan bulan Muharam di ponpes ini. Tapi kalau sampai ia tidak hadir, bisa saja perempuan ‘ndeso’ itu berusaha mendekati suaminya lagi.
“Huh,” dengan menahan kekesalan ia menyimpan ponsel mengikuti pandangan suaminya yang lurus ke depan.
Ia benar-benar merasa bangga dengan posisi Hilman yang begitu dikenal para pejabat yang turut hadir di acara kali ini. Buktinya mereka tersenyum sambil menganggukkan kepala saat berpandangan dengan suaminya.
Ia menoleh ke samping kanan untuk melihat keberadaan Ajeng yang tampak serius mendengarkan penyampaian dari pengasuh pondok ustadz Zakri. Ia tersenyum meremehkan keberadaan Ajeng diantara para undangan yang ia yakin dari kalangan biasa.
__ADS_1
“Aku sudah mengembalikan posisimu semula perempuan ‘ndeso’,” batin Dewi dengan perasaan senang sambil menyunggingkan senyum kepuasan.
“Hari ini kami sebagai panitia penyelenggara merasa bangga akan kedatangan salah satu donatur potensial pondok. Selama ini kontribusi beliau sudah tak terhitung untuk kemaslahatan pondok serta masyarakat kita...” MC mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
Perasaan membuncah hadir di benak Dewi mendengar perkataan MC. Ia yakin suaminya lah yang disebut pihak panitia. Apalagi supir Hilman telah menceritakan sifat sosial suaminya yang begitu tinggi dan donasinya atas beberapa even sosial yang ada di kota Malang.
“... selama ini beliau selalu bermain di belakang layar, dan belum ada waktu luang untuk menghadiri kegiatan di pondok ini karena kesibukan dan jam terbang yang begitu tinggi....” kembali suara MC memenuhi aula ponpes.
Dewi merasa melambung mendengar puja-puji yang diucapkan MC pada figur yang telah banyak berkontribusi pada ponpes Nur Ilahi.
“Di belakang suami yang sukses, ada istri yang selalu mendukungnya .... “ Dewi berkata penuh percaya diri pada perempuan bergamis rapih yang duduk di sampingnya.
Perempuan itu hanya mengangguk tanpa mengomentari ucapannya, matanya kembali tertuju dan fokus mendengar ucapan MC.
“Kenalkan bu, saya Dewi Utami istrinya pak Hilman,” dengan penuh kebanggaan Dewi mengulurkan tangan pada perempuan itu yang kini menatapnya ramah.
“O ya, Bu. Saya Nirmala dari Kementerian Agama kabupaten Malang.” Perempuan itu langsung menyambut tangan Dewi yang telah terulur.
“Saya selalu mendukung apa pun keinginan suami saya. Apalagi yang dilakukan sangat mulia dan luhur .... “ Dewi terus berpanjang lebar memuji dan menyanjung suaminya yang merasa tidak nyaman atas sikapnya.
MC kembali berbicara, “... sebelumnya kami selaku panitia mohon maaf kepada yang bersangkutan, karena sudah sejak awal beliau meminta untuk tidak menyebut nama dan menghadirkan beliau pada acara yang sangat bermanfaat hari ini.
“Mas .... “ Dewi meminta suaminya untuk bersiap maju ke depan.
“ ... kepada bu Ajeng dipersilakan untuk menyampaikan pesan dan kesan bagi generasi muda yang berada di pondok, waktu dan tempat disilakan .... “
Duarrr ....
Telinga Dewi seperti mendengar dentuman hebat saat nama yang disebut untuk menyampaikan pesan dan kesannya bukan nama sang suami tetapi musuh bebuyutannya.
“Bu, apa panitianya tidak salah?” Dewi memandang Nirmala yang tersenyum sambil menganggukkan kepala saat Ajeng berjalan melewatinya dan mengangguk penuh hormat padanya.
Senyum Nirmala terkembang sambil menggelengkan kepala dengan penuh keyakinan. Rasa amarah membuncah di benak Dewi melihat perempuan itu menyalami Ajeng yang kini telah melangkah menuju podium.
Rasa panas menjalari seluruh tubuh Dewi melihat ‘musuhnya’ yang menyampaikan sepatah dua kata sesuai permintaan panitia untuk memberikan motivasi bagi generasi penerus serta peserta dan tamu undangan yang berada di dalam aula tersebut.
Ia menahan amarah melihat tatapan tak berkedip Hilman yang duduk di sampingnya. Kini rasa sesal hadir menggayut benaknya karena berada di tempat yang sama dengan musuhnya yang ternyata bukan perempuan sembarangan.
__ADS_1
Begitu Ajeng menyudahi kata sambutannya, Nirmala langsung maju ke podium bersama seorang santriwati yang membawa buket bunga yang telah dipersiapkan untuknya. Tepuk tangan menggema memenuhi aula begitu buket sudah diterima Ajeng.
Rasa dongkol tidak hilang dari benak Dewi. Tapi ia tak berkecil hati. Hari ini ia dipermalukan, tapi besok lusa ia harus membalas semua yang membuat amarahnya tak terkendali saat ini.
“Mulai saat ini ku harap kamu tidak mengusik Ajeng,” Hilman berkata tegas saat keduanya kini sudah di dalam mobil menuju pulang.
“Perempuan itu saja yang keganjenan terus mendekatimu. Padahal dia sudah tau bahwa kita telah menikah,” Dewi berusaha membela diri, “Mas gak tau, dia menuduhku merebutmu. Padahal sudah pilihan mas sendiri untuk menikahiku.”
Dewi tidak terima jika Hilman terus membela Ajeng. Ia tidak ingin dipojokkan suaminya. Ia harus membuktikan bahwa dirinya hanyalah korban karena keputus asaan Ajeng yang tidak dinikahi Hilman, sehingga perempuan itu mem’bully’nya di tengah keramaian.
“Bukan setahun dua tahun aku mengenal Ajeng,” Hilman berkata pelan, “Dia perempuan terbaik yang pernah dekat denganku.”
“Mungkin itu caranya untuk membuat mas simpati,” kesal Dewi atas ucapan Hilman yang tidak memikirkan perasaannya, “Puji aja terosss .... “
Hilman tersadar mendengar sindiran Dewi. Ia terdiam sejenak berusaha mencari kata yang tepat agar Dewi tidak mencari masalah dengan Ajeng.
“Sudahlah Wi, aku akui salah sejak awal. Kita sudah menikah, ku harap kamu tidak mengganggu Ajeng lagi,” ujar Hilman pelan, “Perlu kamu tau, Ajeng lah yang memutuskan hubungan kami. Dia tidak ingin mengganggu rumah tangga kit.”
“Syukurlah dia sadar diri,” sela Dewi cepat.
Menyebut nama musuhnya selama perjalanan pulang, membuat suasana mobil terasa panas walau pun ac selalu on selama mobil berjalan.
Hilman malas menimpali ucapan Dewi. Sejak dulu setiap perkataannya yang tidak sejalan dengan Dewi pasti akan membuat masalah, perempuan itu akan merajuk. Sikapnya yang selalu ingin menang sendiri tidak pernah berubah, dan Hilman tau akan hal itu.
Kini ia harus menjalani hari bersama Dewi yang sudah ia pilih menjadi pendamping hidupnya walau pun dalam kondisi yang tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi itu lah resiko yang harus ia jalani dan peran yang akan ia bawakan hingga akhir.
Sementara itu Ajeng dan Audina masih menikmati hidangan yang disediakan pihak pondok untuk para tamu yang masih setia mengikuti kegiatan sampai akhir.
"Mbak, dapat ku lihat wajah bu Hilman merah seperti kepiting rebus saat mbak naik dan berbicara di podium," ujar Audina antusias setelah menyudahi makan siangnya.
"Biarkan aja. Toh tidak ada dampaknya juga buat kita .... " jawab Ajeng santai.
"Tapi malunya itu lho, sampai ke akar-akar. Apalagi ia dengan 'pd'nya merasa yakin bahwa pak Hilman lah yang bakal maju untuk bicara di depan," Audina berkata dengan penuh semangat.
"Biarin aja. Gak ngaruh," Ajeng tersenyum tipis menanggapi ucapan asistennya.
"Ibarat pepatah, 'menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.' Malu kan? Ya iyalah, masa ya iya dong?" Audina tertawa sendiri membayangkan wajah Dewi yang kebakaran jenggot karena sudah merendahkan Ajeng.
__ADS_1
Keduanya masih terlibat percakapan ringan, hingga Sari dan ustadz Zakri bergabung makan bersama di kursi yang masih kosong di samping Ajeng dan Audina.
Terus dukung ya ... sayang selalu .....