
Bisma masih mematung di kursi undangan VIP memandang para tamu yang masih bercengkrama dengan kedua mempelai yang kini sudah membaur bersama di kursi VIP yang sudah banyak kosong.
Ia melihat keduanya sangat berbahagia dengan senyum yang selalu terkembang saat berbicara dengan rekan-rekan bisnis yang datang untuk memberikan selamat.
Pandangannya mengitari seluruh isi ruangan. Pikirannya belum tenang sebelum mendapat jawaban atas pertanyaan yang masih menggantung di benaknya.
Dari posisinya duduk saat ini ia melihat lelaki yang masih ia belum ketahui namanya itu berjalan membawa piring yang sudah terisi nasi dan lauknya serta segelas air minum.
Matanya terus mengikuti pergerakan lelaki muda itu hingga berdiri tepat di depan Ajeng yang sedang berbicara dengan Lala.
Dengan mata kepalanya sendiri Bisma menyaksikan perhatian yang diberikan pada keluarga kecil yang pernah membersamainya dulu. Ia melihat Ajeng menyambut pemberian lelaki itu dengan senyum.
Lelaki muda itu langsung meraih Lala ke dalam pangkuannya, dan memberi isyarat pada Ajeng untuk menyuapi putri kecilnya yang langsung membuka mulut dengan mata berbinar.
“Jadi merepotkan mas Fajar .... “ Ajeng menatap Fajar dengan perasaan tidak nyaman apalagi di bawah tatapan pihak keluarga besar Nurita.
“Santai aja mbak. Kasian Lala, sejak sore belum makan .... “ jawabnya enteng sambil membelai rambut Lala yang bersandar nyaman di dadanya.
Perasaan Ajeng bukannya tak tersentuh atas perhatian yang ditunjukkan Fajar padanya dan Lala. Tapi ia sadar diri, Fajar seorang lelaki lajang, sedangkan ia sendiri janda.
Walau ia tau, dukungan dari keluarga besar Ranti sudah didapat Fajar untuk memulai bersamanya. Tidak dengan serta merta ia menerima uluran tangan dan membuka hati kembali.
Pengalaman mengenal dua lelaki yang sempat singgah di hati walau tidak untuk menetap selamanya membuat Ajeng enggan untuk memulai kembali. Terlalu banyak luka dan air mata yang menemani hari-harinya, hingga mendewasakan diri dengan ketegaran yang kini menjadi benteng kokoh yang ia bangun agar tidak jatuh ke dua kalinya.
Sejak kerja sama yang terjalin dengan pihak kampus hingga berdirinya ITS mart, ia dan beberapa pelaku UMKM di sekitaran Surabaya dilibatkan menjadi distributor untuk menyuplay kebutuhan ITS mart. Karena kerja sama yang terjalin membuat Ajeng memiliki agenda rutin untuk mengunjungi kampus ternama itu.
Tak jarang ia pun sering diminta mengisi kuliah umum tentang UMKM, karena sepak terjangnya yang sudah tidak diragukan lagi. Hal itu dilakukan pihak kampus demi menumbuhkan jiwa wira usaha pada mahasiswa yang bakal menghadapi dunia kerja yang begitu keras.
Tapi selentingan gosip tak nyaman pun mulai berkembang di sana. Fajar yang selalu mendampinginya dalam setiap kegiatan membuat mereka dianggap sepasang kekasih, tentu saja ia menjadi tidak nyaman. Untuk menjaga ketenangan hatinya, terpaksa Ajeng menyuruh Audina menggantikan tugasnya.
“Kapan lagi berkunjung ke kampus?” pertanyaan Fajar memangkas lamunan Ajeng.
“Ya ... ?” ia kembali memandang Fajar yang kini menatapnya lekat.
Fajar tersenyum memandangnya. Ia tau, dengan kegagalan dalam membina rumah tangga membuat Ajeng terlalu menutup diri. Ia pun tidak menuntut dan mengharap secepatnya perempuan muda yang telah mencuri sebagian hatinya itu memberi jawaban atas semua itikad baik yang ia sampaikan.
Fajar hanya ingin menjalani seperti air yang mengalir. Kalau memang jodoh mereka bersama, ibaratkan air... suatu saat akan bertemu di muara. Dan ia yakin masa itu akan tiba dalam hidupnya.
__ADS_1
“Jangan terlalu memikirkan ucapan saya tempo hari. Mungkin mbak masih memerlukan waktu,” Fajar berkata pelan melihat kekalutan yang terpancar di wajah Ajeng, “Anggap saja angin lalu.”
“Syukurlah .... “ Ajeng menghela nafas lega.
“Tapi saya tunggu siapnya,” suara Fajar dengan senyum tulusnya membuat Ajeng kembali terhenyak.
“Maaf .... “ Ajeng kini membalas tatapan Fajar yang begitu teduh, “Saya tidak bisa menjanjikan apa pun.”
Fajar mengangguk santai. Dalam hati ia tetap bertahan untuk menunggu kesiapan Ajeng untuk menerima semua yang ia tawarkan. Bagaimana mungkin ia mencari yang lain, jika semua kriteria yang ia cari ada dalam diri perempuan yang kini berusaha menghindarinya.
Mata Bisma tak bisa lepas dari interaksi mereka. Ia masih menerka-nerka hubungan antara Ajeng dan lelaki yang saat ini masih belum ia ketahui identitasnya.
“Pak Wirya .... “ suara Ardi terdengar kuat di telinga Bisma saat pikirannya masih melayang tentang Ajeng dan lelaki yang bersamanya.
Ia memandang pintu masuk. Tampak serombongan yang terdiri atas beberapa laki-laki yang berpakaian hitam, satu orang berpakaian batik motif dan ....
“Wah, tamu istimewa kita dari Bandung sudah datang,” suara Dedi papanya Ardi membuat kedua pengantin bangkit dari duduknya.
Mau tak mau Bisma pun berjalan menghampiri Wirya dan tentu saja putri kebanggaannya yang malam itu penampilannya cetar membahana.
“Selamat untuk kedua mempelai,” suara Wirya langsung terdengar menyapa Ardi dan Mayang.
“Selamat buat mbak Mayang dan mas Ardi. Samawa selalu yah .... “ suara manja Siska membuat Mayang ingin ngacir.
Tapi mau bagaimana lagi, ia harus menghargai tamu istimewa suaminya itu. Walau dalam hati ia sangat tidak menyukai perempuan yang di matanya begitu lebay berusaha menarik perhatian adik ‘batu’nya.
“Mas Bismaa ....” suara lembut mendayunya memanggil Bisma yang baru saja berbicara dengan Ranti.
“Tuh calonmu,” Ranti mengajukan jempolnya pada Bisma, “Tahun ini mamamu akan memiliki dua menantu.”
“Tante ....” tanpa malu-malu Siska menghampiri Bisma dan Ranti yang masih terlibat percakapan.
Padahal Bisma sudah membuang rasa ego dengan mendekati Ranti. Ia yakin tantenya itu mengenal lelaki yang bersama Ajeng, bahkan si kembar Ghea dan Gina begitu santai bergurau bersama lelaki itu.
“Akhirnya sampai juga di rumah ini .... “ Siska tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, “Mas, nanti bawa aku keliling kota ya, seperti waktu kita di London ....”
Ranti langsung menatap Bisma dengan kerlingan mautnya. Ia semakin yakin bahwa ponakannya dan perempuan cantik itu memiliki hubungan khusus.
__ADS_1
Bisma menggelengkan kepala dengan tatapan maut Ranti. Ia tak ingin tantenya salah mengartikan perkataan Siska.
“Silakan nikmati hidangannya dr. Siska,” Ranti berkata sambil tersenyum, “Mbok ya calonnya dikenalin dengan keluarga to ....”
Mendengar ucapan Ranti membuat Siska senang bukan main. Ia merasa kehadirannya begitu dihargai keluarga besar Bisma. Semua menyapanya dengan sopan dan ramah. Keinginannya untuk menjadi bagian dari keluarga ini semakin besar.
“Dek Siska sudah selesai kuliahnya?” pertanyaan Ardi menyambut keduanya begitu Bisma dan Siska menghampiri kedua mempelai.
“Iya mas. Doakan aja tahun ini naik pelaminan seperti mas dan mbak Mayang,” ujar Siska sumringah.
“Wah, bagus itu. Mas doakan dek Siska ketemu jodoh yang sepadan,” Ardi turut senang mendengar ucapannya.
Ia tau, Siska adalah putri kesayangan Wirya Dinata. Jadi ia yakin, lelaki yang kini telah menjadi anggota dewan propinsi itu akan selektif dalam memilih menantu.
“Jangan khawatir mas, aku sudah bertemu dengan calon imamku,” ujar Siska dengan yakin, “Mas doakan aja smoga lancar hingga pelaminan ....”
“Apa mas mengenal orangnya?” Ardi jadi penasaran dengan ucapan Siska.
Ia sangat mengenal masa muda gadis di depannya. Dengan segala fasilitas dan kemewahan yang diberikan ayahnya membuat Siska menjadi terkenal seantero Bandung.
Klub elit yang ada dan hanya bisa dimasuki orang berduit, adalah langganannya kongkow bersama anak pejabat lainnya. Dan itu sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa mereka biasa menghabiskan malam bersama.
Melihat wajah Mayang yang masam sambil melirik Bisma membuat Ardi paham, bahwa gadis kecil yang dikira cupu ternyata suhu itu sudah menentukan calon masa depannya.
Ardi jadi tidak nyaman melihat sikap Bisma yang biasa saja, bahkan terkesan dingin. Apalagi sedikit banyak ia tau, bahwa adik iparnya itu masih enggan untuk memulai setelah kegagalannya berumah tangga.
“Rencananya berapa lama di Surabaya?” akhirnya Ardi mengalihkan percakapan mereka.
“Nih, lagi kompromi dengan mas sopir yang siap ajak aku keliling Surabaya,” Siska mengerling Bisma dengan manja.
“Maaf dr. Siska, mungkin besok sore saya akan kembali ke Bogor. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan akhir bulan ini,” tegas Bisma.
“Jangan terlalu ngoyo, nak. Semua bisa diatur,” sela Wirya yang tiba-tiba menghampiri mereka berempat, “Papa bisa menghubungi kepala dinasmu pak Hendarto. Beliau teman dekat papa. Bawalah Siska keliling mengenal kota kelahiranmu....”
Ardi merasa tidak nyaman mendengar ucapan Wirya yang menggampangkan pekerjaan orang lain. Ia tau, keluarga istrinya ini tidak bisa dipaksa. Karena perjuangannya agar Mayang menerima pinangannya juga tidak mudah. Dan ia sangat menghormati keluarga mertuanya ini.
Ada rasa menyesal mengundang kehadiran Wirya Dinata di hari istimewanya ini. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Dan sebagai orang yang mengenal kehidupan keluarga mereka, Ardi pun tidak ingin mencampuri urusan asmara adik iparnya dan tamu yang ia anggap istimewa tersebut.
__ADS_1
Dari wajah dingin istrinya ia sudah menyimpulkan bahwa tidak ada tempat bagi orang yang segolongan Wirya Dinata dalam keluarga besar istrinya. Dan ia sangat-sangat bersyukur bisa diterima menjadi bagian keluarga besar Nurita.
***Dari sekian komen yang otor baca\, banyak juga yang udah tau kisah akhirnya. Sengaja otor bikin alur yang gak bisa ketebak\, tapi pesan utamanya yang penting AJENG BAHAGIA. Mudahan otor bisa up lagi hingga HAPPY END. Sayang selalu untuk semua ....***