Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 42 Kekecewaan Bisma


__ADS_3

Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Ibnu mulai menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.


“Bapak gak bisa egois seperti itu,” ujar Ibnu pelan.


Terus terang mendengar pengakuan Bisma membuatnya mengutuk  dalam hati. Walau pun ia tidak memihak   Ajeng, tapi  ia pun turut kesal atas perlakuan atasannya pada istrinya yang telah ditalak dengan alasan tidak ada cinta di dalam pernikahan mereka.


“Aku memang egois,” Bisma mengakui perbuatannya, “Dan aku sangat menyesalinya hingga detik ini.”


“Saya kira bapak dan mbak Deby memang pasangan ideal. Kenapa harus ragu?  Yang laki ganteng dan gagah, perempuannya cantik dan molek ....”


“Kau mengejekku?” dengus Bisma tak senang. Ia dapat melihat raut meremehkan tergambar di wajah Ibnu saat mengatakannya.


“Bapak terlalu cepat menilai saya,” Ibnu tersenyum melengos, “Tapi harus saya akui sejujurnya, setiap pilihan ada konsekuensinya. Bisa jadi dengan bapak memilih mbak Deby, sikapnya akan berubah. Mbak Deby orangnya sangat menarik dan dambaan setiap lelaki. Tentu jadi kebanggaan bagi yang bisa mendapatkannya.”


Bisma tau Ibnu berkata jujur, walau  dengan nada penuh sindiran. Tapi hati kecilnya tidak  terima.


“Apa kamu tidak melihat orang dari background-nya?” Bisma menatap Ibnu tajam, “Aku yakin kamu tau sepak terjang Deby.”


Ibnu tertawa kecil mendengar ucapan atasannya. Ia hanya ingin membuat Bisma memantapkan pilihannya. Ia pun kesal, karena atasannya itu terlalu mudah diperdaya perempuan yang memang secara fisik sangat menarik.


“Bukankah mbak Deby alasan bapak memilih berpisah dengan mbak Ale?” Ibnu mengembalikan ucapan Bisma, “Saya yakin, bapak bisa merubah mbak Deby menjadi lebih baik.”


“Kenapa kamu ngotot menginginkan aku bersama Deby? Apa kamu merencanakan atau mengetahui sesuatu?”  Bisma tidak puas atas jawaban Ibnu.


“Gak lah pak,” Ibnu menjawab cepat sambil menggelengkan kepala, “Bapak pasti lebih paham dari saya. Apalagi menyangkut kehidupan bapak di masa depan.  Apa bapak ingin mengulang kembali rumah tangga yang di dalamnya tidak ada rasa cinta dan sayang?”


Bisma tertegun mendengar perkataan  Ibnu yang kini membalikkan semua fakta yang ia rasa tentang Ajeng dan rumah tangga mereka yang telah berakhir.


“Perasaanku telah berubah padanya,” Bisma berkata pelan, “Harus ku akui, kedekatannya dengan petani itu membuatku cemburu.”


“Petani mana yang bapak maksud?” kening Ibnu berkerut mendengar perkataan Bisma.

__ADS_1


“Tentu saja lelaki yang mendekati bundanya Lala,” sela Bisma cepat, “Gayanya sok keren lagi ....”


Ibnu mencibir dalam hati mendengar pengakuan atasannya yang baru menyadari perasaannya serta kesalahan yang ia perbuat.


“Mbak Ale juga memiliki perasaan. Saya yakin tak mudah baginya melupakan semua yang pernah terjadi,” Ibnu berkata sok bijak.


“Tumben kamu pintar?” Bisma mencibir mendengar ucapan Ibnu yang kini mulai membuat otaknya berpikir.


“Jadi selama ini bapak menganggap saya beg*?”  dengus Ibnu tak senang karena diremehkan atasannya.


Bisma tertawa kecil mendengar Ibnu yang protes atas perkataannya barusan. Ia mengakui kebenaran pendapat Ibnu.  Keacuhan Ajeng saat berkomunikasi dengannya telah membuktikan semuanya.


“Kamu itu  in-telek,” Bisma tertawa kecil dengan menekankan pada potongan kata terakhir membuat Ibnu makin protes.


“Saya berdoa moga mbak Ale dan mas Hilman menjadi pasangan yang langgeng,” doa tulus Ibnu membuat Bisma kembali gusar.


“Bawahan gak ada akhlak!” kecam Bisma, “Padahal aku punya keinginan   menambah uang sakumu.”


“Ah, yang benar pak?” mata Ibnu membulat senang dengan ucapan Bisma.


“Pak, please ... sangunya di tambah ya. Semoga bapak dan mbak Deby segera ke pelaminan. Kalian berdua adalah hot couple di kantor.”


Bisma geleng  kepala mendengar doa Ibnu yang bersungguh-sungguh, tapi tidak ia harapkan.


“Doa mu satu pun tidak sesuai keinginanku,” tolak Bisma cepat.


“Tapi saya berdoanya tulus pak,” Ibnu berkata dengan penuh harap, “Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya yang diucapkan secara tulus dan ikhlas.”


“Apa kamu tidak ingin Lala memiliki orang tua yang utuh?” pancing Bisma seketika.


Ibnu tau bahwa Bisma mengharapkan kebaikan dirinya dan Ajeng. Tapi ia masih ingin mengerjai atasannya yang masih suka terpengaruh dengan Deby si pemikat laki-laki di kantornya itu.

__ADS_1


“Justru itu pak, “ dengan santai nya Ibnu menanggapi perkataan Bisma, “Dengan  bersatu nya mbak Ale dan mas Hilman, bapak dan mbak Deby... maka ade Lala akan memiliki pasangan orang tua yang keren.”


“Perkataanmu semakin ngawur,” protes Bisma.


“Ngawur gimana to pak?” Ibnu menyela dengan cepat, “Saya kira  sudah saatnya mbak Ale membuka diri. Bapak bisa mempercepat proses perceraian dan melegalkannya di pengadilan agama. Dengan demikian bapak dan mbak Ale dapat memulai kehidupan masing-masing.”


“Bukan itu yang ku inginkan sekarang,” Bisma berkata dengan lesu.


Tak sanggup rasanya ia melepas Ajeng pada lelaki yang ia lihat memang memiliki ketulusan pada perempuan yang telah memberinya seorang anak perempuan cantik yang telah mengikat hatinya begitu kuat.


“Bukankah bapak sangat menyukai mbak Deby. Kenapa jadi bimbang sekarang?” Ibnu terus mencecar Bisma.


Hatinya juga terlanjur kecewa mendengar cerita Bisma dan perlakuan nya pada Ajeng hingga membuatnya  pergi membawa Lala dari kediaman mereka.


Ia pun sangat mengenal Hilman, pengusaha berhati mulia yang selalu aktif dalam membantu pelaku UKM dan UMKM serta orang tak mampu di wilayahnya. Bagaimana mungkin ia membenarkan semua perbuatan Bisma walaupun atasannya sendiri.


“Aku tidak yakin membina rumah tangga dengan perempuan yang lebih mencintai dirinya sendiri,” Bisma menggelengkan kepala mengingat sepak terjang Deby dan kehidupan pribadinya.


“Mbak Deby cantik lo pak ... banyak yang menginginkan dia .... “ Ibnu kembali  memancing di air keruh.


“Aku tidak ingin menjadikan perempuan yang suka bermain dengan banyak lelaki sebagai ibu dari anak-anakku,” tegas Bisma cepat.


“Biasanya cinta mampu merubah seseorang. Mungkin aja dengan  ketulusan bapak bisa merubah mbak Deby ....”


“Jangan berspekulasi pada orang yang hanya peduli dirinya,” Bisma menatap Ibnu penuh tekanan, “Bukan hanya satu kali aku melihatnya bersama lelaki berbeda.  Tapi sudah sering. Dan aku sangat kecewa ....”


“Lebih baik bapak mencari perempuan yang lebih baik dari keduanya,” saran Ibnu seketika.


“Mana mungkin aku mencari perempuan lain  disaat mama nya Lala terus membayangiku.... “ Bisma menatap jejauhan sambil menghela nafas secara perlahan.


Ia tak bisa menyembunyikan lagi apa yang ia rasa pada Ajeng. Semua kenangan  kebersamaan mereka di masa lalu terus membayangi malam-malamnya. Dan itu sangat menyiksa batinnya.

__ADS_1


“Mba Ale berhak mendapatkan kebahagiaan setelah apa yang ia alami bersama bapak,”  Ibnu berkata sebenarnya membuat Bisma tidak senang, “Mungkin mas Hilman adalah orang yang tepat untuknya, dan mampu memberikan kenyamanan dalam  hidup mbak Ale.”


Tentu saja ucapan Ibnu semakin membuat Bisma gerah. Bawahannya yang satu ini memang terlalu jujur mengungkapkan kebenaran yang tentu saja tidak akan menyenangkan dirinya.


__ADS_2