Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 54 Surat Cinta Pengobat Luka


__ADS_3

Saat Ibnu sudah meninggalkan pekarangan rumah, Ajeng segera bangkit untuk membereskan map yang berisikan sertifikat dan surat menyurat pengurusan proses perceraian mereka. Matanya tertumbuk pada selembar surat yang terjatuh disela-sela berkas tebal yang masih berada di tangannya.


Ajeng meraih kertas itu dan membukanya seketika. Tampak tulisan tangan yang begitu rapi membuatnya kembali duduk dan membukanya secara perlahan.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….


Jeng, Aku tidak tau harus memulai dari mana untuk mengungkapkan semua ini padamu. Terlalu banyak kesalahan yang ku lakukan dalam pernikahan yang terjadi antara kita selama ini.


Aku baru menyadari, betapa dzolim dan tidak terpujinya sikapku sebagai seorang imam yang harusnya mampu melindungi, memberikan kasih sayang bahkan kenyamanan dalam rumah tangga kita.


Aku terlambat menyadari bahwa sesungguhnya kamu dan Lala yang terpenting dalam hidupku.


Aku terlalu sungkan untuk bertemu dan mengucap selamat tinggal padamu. Harus ku akui kebenarannya, sebenarnya aku tidak rela melepasmu untuk bersama lelaki mana pun. Karena aku sesungguhnya sangat mencintaimu.


Mungkin ini sangat terlambat bagimu, tapi tidak apa-apa. Yang pasti kamu harus tau, bahwa perasaanku tulus walau pun sudah tidak berarti.


Maafkan aku yang tidak bisa menjaga aib rumah tangga kita. Maafkan aku yang telah salah sangka dan menuduhmu matre dan kampungan dan segala keburukan yang pernah ku katakan dalam keadaan sadar dan sengaja.


Aku rasanya tak bermuka untuk bertemu langsung dan mengucapkan salam perpisahan padamu.


Mungkin saat surat ini ada di tanganmu, aku sudah berada di seberang sana. Rasanya tak sanggup aku melihatmu bersanding dengan lelaki lain, walau pun itu semua karena kebodohanku.


Selama pernikahan kita, tidak pernah aku memberikan hadiah apa pun padamu. Dan itu adalah kelalaianku sebagai seorang suami yang mungkin bagimu tak berhati... 


Masalah sertifikat yang ada di tanganmu, itu adalah kado terakhir yang dapat ku berikan padamu, ibu terbaik yang dimiliki putri kecil kita.


Terima kasih telah menjadi pendamping sempurna dan menjadikanku imam dalam rumah tangga yang pernah terbina.


Ku harap hadiah kecil ini bisa berarti dan dapat kamu manfaatkan. Aku percaya  kamu adalah bidadari terbaik yang Allah kirim untukku, walau pun karena kebodohanku harus berakhir dengan keadaan seperti ini.


Semoga Allah melembutkan hatimu untuk memberi maaf pada lelaki bodoh dan tak tau diri ini.


Dan lelaki bodoh ini, hanya mampu mendoakan dari jauh. Semoga kamu menemukan kebahagiaan dalam pernikahan yang akan kamu jalani.


Kamu tidak usah khawatir, walau pun kita berpisah, aku tetap akan memenuhi kewajibanku untukmu dan Lala. Itu semata-mata ku lakukan karena menebus kesalahan yang telah ku lakukan padamu.

__ADS_1


Aku telah mengambil bagianku, dan berusaha melepasmu dengan ikhlas.


Semoga lelaki itu mampu memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat dan membawamu hingga ke-Jannah.


Peluk cium dari jauh untukmu dan Lala yang selamanya akan menjadi kesayanganku ….”


Tak terasa setitik air mata jatuh di pipi tirus Ajeng. Ia jadi terbawa perasaan membaca goresan tangan Bisma yang begitu rapi tersusun kata demi kata. Ia tidak tau harus berkata apa setelah membaca surat yang telah mewakili keseluruhan perasaan yang Bisma ungkap walau pun terlambat.


“Ciye, ciye … yang baru habis baca surat cinta, mellow amat neng?” celetukan  Dimas membuat Ajeng buru-buru menghapus sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pipinya.


“Kamu itu!” Ajeng menimpuk tubuh Dimas yang berlari menjauh melihat kekesalan yang tergambar di wajah kakaknya.


Ajeng bangkit dari kursi dengan perasaan gamang. Haruskah ia merasa bahagia sekarang, karena cinta yang pernah hadir untuk Bisma telah terbalas?


Bertahun-tahun ia menunggu balasan Bisma atas perasaan yang ia punya. Disaat hatinya telah pulih dan ingin memulai kembali, tiba-tiba  Bisma mengungkapkan semua yang ia rasa.


Haruskah ia melompat kesenangan atas rasa yang terbalaskan? Doanya telah terjawab, walaupun penantian telah berkesudahan.


Ajeng merasa miris. Surat dari Bisma sedikit banyak mengganggu pikirannya. Ia menggelengkan kepala dengan cepat. Semua sudah terlambat. Jadi untuk apa mengenang yang tak mungkin terulang, hanya menambah kesakitan dan tak akan berkesudahan.


Ia akan memulai hidup baru dengan seseorang yang ia harapkan mampu memberikan kenyamanan setelah apa yang ia rasakan selama ini. Walau pun tidak muluk, Ajeng berharap kali ini ia mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan kedua yang bakal ia jalani.


...


Di dalam pesawat Qanta* rute Singapura-London, tak terasa air mata Bisma menetes. Berat  rasa hatinya meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Ia tidak akan melihat lagi kelincahan putri kecilnya yang kini semakin pintar dalam berkomunikasi dan membuat cerah hidupnya.


Walau Ajeng sudah menutup komunikasi mereka berdua, tetapi dengan rutin Bisma selalu memantaunya dari kejauhan. Hal itu sudah mengobati rasa rindu yang semakin kuat mengikat.


Ia sadar, tak lama lagi Ajeng akan memulai hidup baru dengan lelaki pilihan hatinya. Dan ia mulai menguatkan hati untuk melepas sosok yang mulai meninggalkan rasa di hatinya yang terdalam.


Harus ia akui,  tujuannya  melanjutkan pendidikan bukan untuk meraih gelar yang lebih tinggi yang otomatis menaikkan grade-nya di masa depan. Banyak pertimbangan sampai ia memutuskan untuk menerima tawaran ke London mengambil S3 bidang pemerintahan.


Ia tau bahwa kedekatannya dan Deby sudah salah sejak awal dan menciderai pernikahan mereka hingga terucap kata yang membuat Ajeng pergi bersama Lala. Melepas Deby bukanlah perkara mudah.


Perempuan yang ia gadang-gadang sebagai cinta dalam hidup dan akan menua bersama, ternyata hanya seorang pengobral syahwat. Bagaimana mungkin ia mengharapkan seorang  pemuja hawa nafsu menjadi pendamping seumur hidup yang akan menemani hari-harinya berbagi suka dan duka, sedangkan dirinya sendiri tak bisa menjaga marwah sebagai seorang perempuan?

__ADS_1


Bisma sadar,  Deby tak akan menyerah  jika ia tetap bertahan di instansi  yang sama. Obsesi Deby terhadapnya membuat perempuan itu membutakan hati dan matanya. Oleh karena itu dengan keputusannya kali ini ia yakin, Deby  pasti akan menemukan pengganti secepatnya.


Untuk kembali rujuk pada Ajeng sudah tidak memungkinkan. Pintu itu sudah tertutup, karena Ajeng pun akan segera memulai hidup baru dengan lelaki yang telah memberi warna dalam hidupnya.


Keinginannya hanya satu, apa pun yang ia peroleh selama mengenyam pendidikan di negeri King Charles semata-mata untuk kebahagiaan putri kecilnya. Ia sudah tidak memikirkan hal yang lain.


...


Sementara itu di sebuah kamar hotel mewah, Deby sudah selesai berolahraga malam dengan seseorang yang kini semakin dekat dengannya.


“Jadi rumor kedekatanmu dengan pak  Bisma bukan isapan jempol?” lelaki parobaya yang umurnya diperkirakan memasuki kepala lima itu menatapnya dengan lekat.


“Benar mas,” Deby menyandarkan kepalanya pada dada Anton Saragih.


Sebenarnya ia belum ‘move on’ atas kepergian Bisma. Tapi mau bagaimana lagi. Ia butuh  jajan dan kehangatan. Apalagi Bisma sudah tidak peduli dengannya semenjak keinginannya berpisah.


Dalam bayangan Deby, Bisma lah yang memberinya kehangatan. Walau pada kenyataannya Anton Saragih yang posturnya sangat jauh di banding idaman hatinya.


Lelaki yang juga sebagai Kepala Satpol PP Kota Malang yang usianya jauh di atasnya itu mampu mencukupi dan memuaskan semua hasrat duniawi yang ia inginkan.


Bukannya ia tak tau sepak terjang Anton Saragih. Salah satu pejabat yang banyak mengoleksi ‘simpanan’. Mungkin statusnya dan Bisma hampir sama. Pejabat yang memiliki banyak usaha.


Tetapi Bisma adalah lelaki yang ‘bersih’. Karena itu  ia berusaha mengikat Bisma, walau pada akhirnya lelaki dambaannya semakin tak terjangkau. Kini ia pasrah dan mulai bermain hati dengan Anton.


Anton pun siap untuk mengikatnya dalam hubungan yang serius. Ia sudah tak peduli walau pun Anton sering jajan.


Dengan status dudanya yang berpisah dari istri serta dua anaknya yang sudah berkeluarga, membuat Anton bebas memilih perempuan yang ia sukai. Dan ia  merasakan bulan jatuh ke haribaan ketika  Deby sang primadona ASN kota Malang menerima madu yang ia tawarkan.


“Wah, ternyata kamu mampu menaklukkan sosok dingin Bisma yang tak tersentuh itu,” rasa cemburu tiba-tiba menyergap dada Anton.


Wajah tampan serta usia muda Bisma membuatnya tak mampu menahan rasa iri hati atas kepopuleran  lelaki itu di kalangan perempuan di instansi kota Malang.


“Kami hanya dekat .... “ Deby berkata lirih.


Ia telah berusaha memberikan kehangatan seperti yang diinginkan lelaki kebanyakan, tapi nyatanya Bisma tetap sekokoh batu karang. Tak terpancing dengan segala kenikmatan yang ia tawarkan.

__ADS_1


Dari ucapan  Deby membuat rasa senang hadir di wajah Anton. Ia kembali menarik Deby ke dalam pelukan. Untunglah perempuan yang kini ia akui sebagai hak milik tidak pernah berbagi keringat dengan sosok lelaki, yang ia sendiri pun terkadang kagum dengan kharisma  yang dimiliki seorang Bisma.


__ADS_2