
“Jangan pernah memintaku untuk kembali,” suara Ajeng tegas saat mengatakannya, “Silahkan saja jika ayahnya Lala ingin memulai kembali.”
Bisma menggelengkan kepala mendengar ucapan Ajeng. Memang sulit baginya meruntuhkan tembok yang dibangun.
“Baiklah .... “ Bisma mengalah.
Untuk sementara ia akan mengikuti keinginan Ajeng. Tapi untuk mundur, jangan sebut ia Bisma, jika tak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ponsel Ajeng berdering memangkas kesunyian yang terjadi beberapa saat kemudian.
“Assalamu’alaikum ....” wajah sinisnya langsung memudar dengan senyum terbit saat menjawab panggilan masuk.
“.... “
“Ya mas, kami udah di perjalanan.”
Bisma paham siapa yang menghubungi Ajeng. Dengan menahan emosi, ia menghidupkan kembali mobilnya. Demi Lala ia akan bersabar dan mencari titik kelemahannya, hingga Ajeng menerima tawarannya.
Tidak ada lagi percakapan yang terjadi selama perjalanan menuju SMK Persada hingga mereka memasuki halaman sekolah yang cukup terkenal dan diminati para pelajar di kota Malang.
Dengan bantuan Google map, Bisma berhasil menemukan lokasi SMK Persada. Sesampainya di parkiran, Bisma turun dengan cepat dan membuka pintu sebelum Ajeng sempat meraih gagangnya.
Walau pun melihat delikan matanya yang tajam, Bisma hanya tersenyum saat Ajeng melewatinya. Dengan santai ia berjalan di belakang Ajeng yang tergesa-gesa menuju ruang pertemuan.
“Wah, bu Ale ada pengawalnya sekarang,” pak Seno selaku waka kurikulum sudah menunggunya bersama bu Ratih wali kelas dan Fajar serta Audina.
Spontan Ajeng menoleh, ia terkejut melihat Bisma yang berdiri tegak di belakangnya. Ia tersenyum tidak mengomentari ucapan pak Seno.
“Seno .... “ Bisma menyebut nama itu sambil mengerutkan jidatnya berusaha memastikan bahwa ia mengenal sosok lelaki tambun itu.
Sontak lelaki yang ia panggil mendekat dan menatapnya dengan seksama.
“Abim ...” Seno memandang Bisma dengan takjub.
Keduanya langsung berpelukan setelah sekian lama tidak saling bertemu, membuat Ajeng dan yang lain hanya memandang terdiam.
“Abim ini teman kongkow saya saat masih putih biru di Surabaya ....” Seno menceritakan kedekatan keduanya di masa lalu.
“Baiklah bu Ale, kita bisa langsung ke kelas,” ujar bu Ratih ketika suasana mulai tenang.
__ADS_1
Fajar dan Audina pun beriringan mengikutinya menuju kelas yang akan mereka masuki dengan membawa alat peraga yang telah disiapkan Fajar dan Audina.
Setelah ketiganya berlalu, Seno dan Bisma segera duduk di sofa yang berada di dalam ruangan waka kurikulum tersebut.
“Wah, makmur kamu sekarang?” Bisma berkata dengan santai saat keduanya sudah duduk saling berhadapan.
“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat ...” Seno tertawa kecil, “Kamu makin gagah dibanding teman kita yang paling culun sekelas.”
Bisma pun tak bisa menahan senyum lebarnya mendengar gurauan Seno. Keduanya mulai mengingat masa SMP yang penuh cerita menyenangkan.
“Eh, udah punya buntut berapa?” Seno mulai mengajukan pertanyaan serius.
“Baru satu,” jawab Bisma pelan, “Kamu sendiri?”
“Lima. Yang sulung udah kelas dua SMA. Paling bontot usia 7 tahun. ” Seno berkata dengan penuh semangat, “Masih ingatkan dengan Restia yang kita idolakan saat SMP? ... Dialah istriku.”
Tampak raut kebanggaan saat Seno menceritakan keluarga besarnya. Bisma hanya manggut-manggut mendengarkan. Ia tidak menyangka Aryo Seno yang bodynya paling ceking saat di sekolah kini subur makmur.
“Eh, aku jadi penasaran kenapa kamu datang bersamaan dengan bu Ale?” kini tatapan penuh selidik tergambar di wajah Seno yang memandang Bisma dengan seksama.
Ia sudah banyak bercerita tentang kehidupan pribadi dan keluarganya, sedangkan Bisma hanya mendengar tanpa ada keinginan untuk berbagi kisah. Rasa ingin tau yang sangat tinggi tak dapat ia sembunyikan tentang kehidupan pribadi sahabat SMP nya ini.
Apalagi kedatangannya bersama dengan Ajeng tanpa ada kepentingan dan urusan dinas, karena yang ia tau Ajeng janda dengan satu anak.
“Kamu sedang dekat dengan bu Ale?” Seno langsung menembaknya ingin memastikan prasangka yang hadir seketika di benaknya.
Bisma tersenyum tak langsung menjawab. Ia membiarkan Seno menebak dan menemukan jawaban sendiri. Kedekatan mereka di masa lalu membuat keduanya santai berbincang di pagi menjelang siang itu.
“Atau jangan-jangan ....?”
“Bagaimana menurutmu?” tantang Bisma tak bisa menahan senyum melihat pelototan Seno padanya.
“Jadi kamu mantannya bu Ale?” Seno langsung terpaku dengan anggukan Bisma yang membenarkan pertanyaannya.
Ia menggelengkan kepala tak percaya dengan kebenaran yang sudah diakui secara tersirat oleh Bisma yang di matanya begitu sempurna.
“Perempuan sesempurna bu Ale jandanya Bisma Dirgantara Purnama?” Seno memandangnya masih dengan sorot tak percaya.
“Aku ingin memperbaiki semua dan mengajaknya rujuk,” akhirnya ucapan itu keluar dari mulut Bisma setelah terdiam beberapa saat.
__ADS_1
Seno ternganga mendengar pengakuan Bisma. Sekian lama tak bertemu ternyata kehidupan temannya yang sudah sultan sejak kecil ini tidak sebahagia yang ia kira.
“Perempuan mana sih yang bisa menolak pesona seorang Bisma?” Seno terkekeh saat mengatakannya, “Aku yakin bu Ale pasti dengan tangan terbuka menerima niat baikmu.”
Bisma menggelengkan kepala sambil menghela nafas, “Justru dia menolak dan memintaku untuk menikah agar tidak mengganggunya lagi.”
“Wait ... “ Seno melongo mendengar cerita sahabat putih birunya itu, “Sekelas Bisma Anggara ditolak perempuan?”
“Itulah yang ingin kuperjuangkan kembali,” gumam Bisma pelan.
“Kamu main hati?” Seno jadi penasaran dengan kisah Bisma.
Ia yakin tidak mungkin rumah tangga terpecah hanya karena masalah sepele. Dan yang kebanyakan terjadi biasanya karena perselingkuhan, walau pun pada kenyataannya ada yang tetap bertahan karena pertimbangan anak.
“Itu kisah lama yang ingin ku lupakan. Kami berpisah pun sudah tiga tahunan,” ujar Bisma dengan pandangan menerawang jauh.
“Tapi benar kan karena perempuan?” Seno ingin memastikan apa yang ia ungkapkan pada Bisma.
Rasanya sungkan bagi Bisma untuk berterus terang dan menceritakan aibnya di masa lalu. Tapi ia perlu seseorang untuk tempatnya mencurahkan serta berbagi keresahan dalam memperjuangkan cintanya kembali.
Dan ia sangat bersyukur, langkahnya mendampingi Ajeng membuat ia ditemukan kembali dengan Aryo Seno, teman dekatnya saat SMP di Surabaya. Ia pun yakin, semua ini adalah ketetapan dari Yang Kuasa agar ia tak gentar dalam menerima penolakan Ajeng.
Setelah beberapa saat berpikir, Bisma pun yakin bahwa Seno lah satu-satunya orang yang paling tepat untuk ia berbagi keluh kesah, dan memberinya semangat memperjuangkan Ajeng kembali demi membina bahtera yang pernah karam akibat kebodohannya di masa lalu.
“ ... jadi pernikahan karena perjodohan itu tidak membuatmu bahagia, ditambah kamu bertemu janda, hingga menjandakan bu Ale?” Seno menggelengkan kepala setelah mendengar curhatan Bisma.
“Aku memang bodoh!” Bisma mengakui dengan jujur.
“Pria terbodoh yang pernah ku kenal seumur hidup,” kekeh Seno, “Wajar saja bu Ale menolak. Perasaan perempuan memang halus. Apalagi bu Ale banyak peminatnya. Mustahil ia menerimamu kembali. Aku saja akan berpikir ribuan kali ....”
Bisma tak tersinggung mendengar kebenaran ucapan temannya itu. Karena ia tau, diantara teman sekelasnya dulu hanya Seno yang paling tulus.
“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” Seno tak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih dalam.
“Aku sedang berjuang untuk mendengarkan jawaban ya dari Ajeng,” Bisma berkata dengan penuh harap.
“Dia layak diperjuangkan,” Seno menambahkan, “Perlu kamu tau, banyak guru lajang di sini yang mencoba mendekatinya. Bahkan pak Ragil kepala sekolah kami yang duda pun berusaha untuk dekat.”
Bisma mengerutkan jidatnya mendengar pengakuan Seno. Sepopuler itukah mantannya di mata para lelaki.
__ADS_1
“Aku hanya mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga Allah mengabulkan apa yang kamu cita-citakan,” tulus ucapan Seno membuat Bisma tersenyum.
“Makasih No.” Bisma menjabat tangan Seno begitu bell sekolah berbunyi menandakan jam istirahat.