Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 65 Terbiasa Sendiri


__ADS_3

Ajeng melangkah dengan tenang meninggalkan Hilman yang masih sibuk berperang dengan pemikirannya sendiri. Ia tidak ingin terjebak dengan sikap Hilman yang tak bisa tegas dalam menyikapi hubungan mereka.


Mana mungkin ia membiarkan lelaki yang sudah menjadi imamnya memprioritaskan orang lain walau pun atas nama kemanusiaan. Dan ia sudah berpikir dengan matang. Melepas Hilman adalah hal terbaik yang dapat ia lakukan sebelum mereka terjebak dalam rumah tangga yang tidak ada kedamaian karena melibatkan pihak lain di dalamnya.


Ia harus berpikir jangka panjang tentang menjalin hubungan serius untuk memulai kembali. Toh, ini bukan pengalaman pertamanya. Ia sudah kenyang akan pengalaman menyedihkan tentang kehidupan rumah tangga yang ia perjuangkan sendiri.


Jika sendiri bisa bahagia, untuk apa ia harus merecoki pikiran dengan  hubungan yang hanya mendatangkan kesedihan?


Ia bahagia dengan Lala dan Dimas. Bekerja bersama orang banyak, dan berkarya untuk orang lain adalah hal lebih bermanfaat untuknya dan mereka yang bekerja bersamanya.


Pundak dan kakinya masih kuat untuk melangkah dan memikul semua permasalahan yang ia hadapi belakangan ini. Ia yakin, Allah bersamanya dan meridhai semua jalan yang ia tempuh hingga saat ini.


Sementara itu Hilman masih terpekur menatap cincin permata yang pernah ia berikan sebagai pengikat dan menjadi mood suport dalam melangkah  menatap masa depan. Tapi kini semua yang ia impikan telah hancur ibarat bunga layu sebelum berkembang.


Ia menyesali semua keputusan yang telah ia buat sendiri tanpa meminta pertimbangan pada siapa pun khususnya Ajeng, perempuan yang berhasil ia ikat  untuk melangkah bersama, namun kini telah mengambil jalan sendiri.


Tak terasa setetes air mata Hilman menitik. Untuk kedua kalinya ia mengalami kegagalan dalam masalah hati. Tetapi ini bukan kesalahan dari Ajeng, hanya dirinya yang terlalu terburu-buru melangkah dan menganggap sepele keputusannya yang ia buat.


“Maaf pak, bu Dewi dan non Hilda barusan menelpon menunggu bapak,” Kardi sopirnya kini muncul di hadapan Hilman dengan menunjukkan ponselnya saat berkata.


Tanpa menjawab Kardi, dengan perasaan enggan ia bangkit dari duduk. Sebelumnya dengan cepat ia meraih cincin yang masih tergeletak di meja tempat ia berada saat ini dan memasukkannya ke saku celana.


Ajeng terpekur di dalam mobil yang akan membawanya mengunjungi Asih yang sudah menghubunginya beberapa menit yang lalu.


Memang ada rasa nyeri yang menyelusup di relung hatinya. Tapi ia yakin, semua ini memang sebagian takdir yang telah Allah gariskan untuknya. Ia hanya menjalani semua ketetapan yang menjadi jalan hidupnya.


Ia menarik nafas dalam-dalam memenuhi rongga kemudian mengeluarkan secara perlahan, berharap beban yang menyesakkan dadanya pergi bersama helaan nafas yang telah membaur di udara.


Ia meminta sopirnya untuk mempercepat mobil karena panggilan dari Asih kembali muncul di ponselnya. Ajeng tak ada keingin menjawab panggilan tersebut, karena mobil mereka sudah memasuk pekarangan rumah Asih yang teduh.


“Assalamu’alaikum ....” Ajeng langsung mengucap salam begitu tiba di kediaman Asih.


Ia melihat seorang perempuan cantik dan modis  bersama pasangannya duduk bersama Asih di dalam ruang tamu yang lumayan luas. Keduanya tampak serasi dan menawan.


“Wa’alaikumussalam .... “ semua yang berada dalam ruangan serempak menjawab salamnya.


“Ini pemilik ruko yang telah saya ceritakan,” Asih berkata pelan seraya  menghampiri Ajeng dan menggandengnya menemui kedua tamu yang telah menunggunya sejak awal.


Ajeng tersenyum ramah menghadapi keduanya yang ingin mengadakan kerjasama dalam penyewaan ruko miliknya yang masih kosong.

__ADS_1


“Mbak Ajeng, perkenalkan saya Indira dan suami saya Haris .... “ Indira langsung mengulurkan tangannya pada Ajeng.


Keduanya bersalaman dengan erat sambil berbasa-basi untuk membuat suasana lebih akrab. Ajeng hanya menganggukkan kepala sekilas ketika pandangannya bertemu dengan Haris yang seorang dokter bedah.


Keberuntungan saat ini memang sedang berpihak padanya. Uang mahar yang ia gunakan usaha, serta sebagian untuk membeli tanah kosong di area yang berdekatan dengan kawasan sekolah dan perkantoran kini mulai memetik hasil.


Memang Ajeng sempat merasakan jatuh bangun saat merintis usaha. Ia pun pernah mencoba peruntungan di dunia fashion dengan membuka butik dan melayani penjualan online  saat masih  menjadi  pegawai bank.


Tetapi karena ia terlalu mempercayai orang yang direkomendasikan teman sekantornya Juwita, yang kini juga telah mengundurkan diri karena terlilit hutang,  akhirnya ia harus gigit jari dengan kegagalan usaha di bisnis fashion dengan menghilangnya Arma tangan kanan Juwita.


Kini Ajeng meyakinkan diri, bahwa ia memang tidak cocok usaha fashion. Bidangnya memang pengolahan makanan ringan dan jasa yang kini semakin berkembang.


“Jadi bagaimana mbak Ajeng?” suara ramah Indira membuat Ajeng mengalihkan tatapan padanya.


“Bu Dira bisa lihat langsung lokasinya,” Ajeng menjawab langsung pertanyaan Indira, “Mungkin ada beberapa yang ingin dirubah, atau ada yang perlu ditambah bisa kami usahakan ....”


“Panggil mbak Dira aja, kesannnya berasa tua gitu ... “ ujar Indira sambil tersenyum.


“Baiklah,” Ajeng menganggukkan kepala membalas senyum Indira.


Indira memandang suaminya yang sedang menerima telpon hingga akhirnya Haris kembali duduk bersama mereka.


Haris mengangguk dengan cepat. Ia membiarkan istrinya menggandeng tangannya di hadapan kedua perempuan yang berjalan di belakang mereka.


“Kita satu mobil?” Indira membalik badan saat telah tiba di halaman rumah Asih dan berdiri di samping mobilnya.


“Gak usah mbak,” potong Ajeng cepat, “Mbak Asih ikut saya aja.”


Ajeng dan Asih segera memasuki mobil untuk berjalan terlebih dahulu. Keduanya saling berbicara ringan di dalam mobil yang disupiri Wandi. Ajeng memilihnya karena mobilitasnya yang tinggi dalam mengelola UMKM untuk mengantarnya ke mana pun.


Dengan ritme kerjanya, ia tidak bisa mengganggu pak Husni yang ia tugaskan mengantar para art yang bekerja di rumahnya.


“Suaminya mbak Dira pendiam ya. Tapi tampaknya cintaaa ...banget sama istrinya....” ujar Asih santai.


“Tentu saja mbak. Tampaknya mereka pasangan baru,” Ajeng membenarkan perkataan Asih.


“Andai mas Hendra seromantis itu .... “ Asih berkata pelan membuat Ajeng tersenyum.


“Bontot udah empat, gimana mo romantis-romantisan....”

__ADS_1


Asih langsung tersenyum mendengar ucapan Ajeng yang  memang sesuai kenyataan. Kepadatan mengelola usaha yang di-amanahi Ajeng pada suaminya membuat Hendra jarang berada di rumah.


Tapi ia sangat bersyukur memiliki suami yang tidak banyak gaya dan bertanggung jawab tidak hanya pada dirinya, tetapi juga pada keluarga dua belah pihak mereka.


“Bagaimana mbak dan mas Hilman?” akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibir Asih.


Ia tak bisa menghilangkan rasa penasaran akan episode kisah Hilman dan Ajeng yang masih menggantung.


“Nyaman sendiri mbak,” tukas Ajeng cepat.


“Jadi .... ?”


“Mas Hilman telah memilih jalannya sendiri. Gak mungkin kan aku jadi pelakor dalam rumah tangganya?”


“Tapi mba Ajeng tunangan mas Hilman. Mbak Dewi hanya masalalunya,” Asih merasa kecewa mendengar jawaban Ajeng.


Dari awal ia memang tidak menyukai Dewi dan segala kesombongan serta sikap arogannya setelah menjadi istri Ridwan.


“Sudahlah mba Asih,” Ajeng langsung memotong ucapan Asih, “Aku lebih tenang sekarang. Gak perlu ribet dan memaksakan diri untuk sesuatu yang tidak aku sukai. Ku mohon jangan pernah membahas masalah ini lagi.”


Asih langsung terdiam. Ia melihat Ajeng yang kini tampak serius. Tidak ada lagi senyum yang tadi terukir di wajahnya. Ia pun memilih menyandarkan diri ke jok mobil.


Begitu mobil yang dikendarai Wandi masuk pekarangan rumah, di belakangnya menyusul Indira dan suaminya Haris yang kini sudah keluar dari mobil mereka.


“Wah, tempatnya nyaman Yang ... adem .... “ Indira merentangkan kedua tangannya menikmati suasana asri di halaman rumah Ajeng  yang sangat  luas.


Haris  menganggukkan kepala menyetujui apa yang dikatakan istrinya. Ia merasa nyaman dengan  lingkungan tempatnya berada saat ini.


Keduanya mengikuti langkah Ajeng  berjalan menyusuri kompleks ruko yang akan mereka lihat.  Sepanjang jalan Indira mengomentari beberapa  ruko yang telah berisi.


Ada yang  menjual keperluan kantor,  aksesories perempuan serta butik, bahkan ada juga yang menjual oleh-oleh khas Malang.


“Semua ini punya mbak Ajeng kah?” Indira bertanya pada Ajeng  yang berjalan berdampingan dengan Asih.


Ia sedikit banyak tau tentang kepemilikan ruko sepanjang kawasan menuju komplek SMK dan perkantoran yang ada.


“Saya hanya pengelolanya mbak,” jawab Ajeng merendah.


Indira memandang suaminya dengan bingung. Padahal sebelum kedatangan Ajeng tadi, Asih sudah bercerita banyak tentang kepemilikan ruko sebanyak 20 pintu sepanjang  kompleks adalah kepunyaan Ajeng.

__ADS_1


Haris hanya tersenyum mendengar jawaban Ajeng. Ia menganggukkan kepala pada istrinya agar tidak berkomentar lebih jauh. Ia turut kagum dengan kesederhanaan pemilik ruko yang kini berjalan bersama istrinya.


__ADS_2