Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 82 Jawaban Atas Semua Pertanyaan


__ADS_3

Kegeraman tiba-tiba menyelimuti hati Bisma. Ia kini dapat merasakan kemarahan yang berusaha ditahan Dimas saat menceritakan kegagalan pernikahan Ajeng, serta gangguan istri Hilman yang meneror kakaknya.


“Jadi  siapa perempuan yang dinikahi lelaki itu?” Bisma kembali memberondong pertanyaan pada Dimas yang kini menarik nafas setelah mengakhiri ceritanya.


Namun itu belum memberikan kepuasan atas semua persoalan yang masih bergayut di benaknya. Ia ingin malam ini semua bisa terjawab tuntas.


Dengan lugas Dimas menjawab terjadinya pernikahan antara Hilman dan mantan pacarnya yang telah berpisah karena mengikuti suaminya pindah ke Makasar. Ia tidak menyembunyikan apa pun yang ia ketahui berdasarkan cerita  Audina, tangan kanan Ajeng yang selalu mendampinginya ke mana ia melangkah.


“Waktu mampu membuktikan segalanya.... “ guman Dimas, “Walau pun mas Hilman bersumpah tidak akan menyentuh istrinya, agar mbak Ajeng percaya dan mau menerimanya kembali, tapi kita bisa lihat sendiri. Sekarang Dewi telah hamil.”


Bisma dapat melihat cibiran di bibir Dimas yang masih berbicara dengan sinis saat menceritakan perjuangan Hilman agar Ajeng kembali bersamanya.


“Apa sampai sekarang dia masih mengganggu bundanya Lala?” rasa penasaran tak bisa Bisma sembunyikan melihat gelagat Dimas yang masih menyimpan dendam saat membicarakan Hilman.


“Satu tahun belakangan ini sudah tidak lagi,” ujar Dimas sambil menghela nafas menyudahi ceritanya.


“Siapa laki-laki berkaca mata yang bersama Ajeng, bahkan dia juga memakai seragam yang sama dengan keluarga?” Bisma masih melanjutkan rasa penasarannya yang belum tuntas.


“Kan masih keluarga mas sendiri...” Dimas menjawab Bisma dengan santai.


“Mama tidak mengatakan apa pun padaku,” tukas Bisma cepat.


“Dia mas Fajar. Ponakan tante Ranti,” jawab Dimas cepat.


Bisma terkejut mendengar jawaban Dimas. Bagaimana mungkin ia tidak mengenal sosok lelaki yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih muda darinya itu. Padahal ia ingat sering bermain bersama bocah polos yang tidak banyak tingkah yang sering dibawa tante Ranti main bahkan nginap di rumahnya.


Dimas melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tidak terasa sudah hampir 2 jam mereka berbicara tentang masa lalu.


“Wah, sudah jam 12. Saya harus pulang mas. Besok ada kegiatan yang tidak bisa  saya tinggalkan di kampus,” Dimas menyeka wajahnya yang udah terasa lelah.


“Mas belum selesai,” Bisma masih menahan langkah Dimas, “Sejauh apa hubungan bunda Lala sama dia?”


“Kenapa mas jadi kepo banget sama kehidupan mbak?” akhirnya pertanyaan itu tak mampu Dimas tahan.


Bisma terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Dimas. Ia belum mempunyai alasan pasti tentang keingin tahuannya akan kehidupan Ajeng.


“Sebenarnya ... aku hanya ingin memastikan bahwa Lala tidak kekurangan apa pun dan lelaki yang bakal menjadi ayah sambungnya selalu menyayanginya ....” akhirnya ia menemukan alasan yang lebih masuk akal.

__ADS_1


“Kami semua sangat mendukung mbak bersama mas Fajar .... “ Dimas berkata pelan sambil menghela nafas begitu Bisma menyudahi perkataannya, “Bahkan kedua orangtuanya pernah berkunjung ke rumah untuk berkenalan dengan mbak Ajeng.”


Bisma mendengarkan dengan seksama cerita Dimas yang kini lebih santai tidak disertai emosi dan kemarahan seperti di awal pembicaraan mereka.


“Apa sudah mengarah ke sana?” Bisma sudah tidak sabar mendengar kelanjutan hubungan Ajeng dan Fajar.


Apalagi ia melihat kedekatan antara putrinya dan Fajar. Mereka bertiga tampak kompak saat bersama, sudah tidak ada kecanggungan dalam berkomunikasi di depan umum.


“Mbak Ajeng enggan untuk memulai kembali. Ia lebih nyaman sendiri,” Dimas berkata sambil mengangkat bahu.


“Maksudmu?” rasa penasaran membuat Bisma terus mencecar Dimas.


“Nih, mas bisa lihat....” Dimas menunjukkan lengannya yang kelihatan lebam kebiru-biruan.


“Kenapa?” Bisma pun merasa heran melihat  lengan Dimas.


“Mbak sudah menolak mas Fajar datang menjemputnya, dan meminta saya untuk mengantar ke tempat relasi bisnis. Tapi karena saya masih belum siap, mas Fajar datang tepat waktu terpaksalah mbak Ajeng pergi bersamanya.”


“Lalu ....”


“Tentu saja mbak kesal. Akhirnya ini jadi korban kekesalannya .... “ Dimas terkekeh geli mengingat  raut wajah Ajeng yang marah karena kelengahannya, hingga lengannya jadi korban.


“Pasti mas merasakan sendiri bagaimana memperjuangkan seorang perempuan yang disukai?” Dimas memandang mantan iparnya yang mendengarnya dengan serius.


Bisma terdiam. Dimas pun menceritakan bahwa selepas dari Hilman, banyak lelaki yang silih berganti datang untuk mendekat dan menginginkan hubungan yang serius bersama Ajeng, tapi dengan mudah ia menghempas keinginan mereka.


Hanya saja Fajar lebih gigih karena mendapat dukungan  dari Ranti dan si kembar yang sering berkunjung ke rumahnya. Atas dasar kesopanan dan mengingat masih ada ikatan kekeluargaan dengan Nurita membuat Ajeng tak bisa menolak kehadiran mereka, walau pun ia sendiri tetap membuat batasan-batasan yang jelas pada Fajar.


“Jadi sampai sekarang bunda Lala tidak memiliki kedekatan dengan siapa pun?” perasaan lega tiba-tiba hadir menyeruak di benak Bisma mengetahui bahwa Ajeng masih sendiri.


“Begitulah mas,” Dimas menjawab santai.


“Dim ... “ suara Bisma mendadak tegas, “Bagaimana menurutmu kalau mas rujuk dengan mbak-mu?”


Pandangan Dimas langsung terfokus pada mantan iparnya itu. Bagaimana mungkin Bisma ingin rujuk, sedangkan selentingan gosip sudah beredar bahwa ia memiliki hubungan khusus dengan dokter cantik putri kesayangan seorang anggota dewan kehormatan di kota Bandung.


“Bukannya mas sendiri akan menyusul mbak Mayang?” tembak Dimas langsung.

__ADS_1


“Astaga!” Bisma terkejut mendengar ucapan Dimas, “Darimana kamu mendengar gosip murahan itu?”


“Bukan gosip lagi mas. Semua membicarakannya saat kedatangan tamu kehormatan bersama putrinya itu. Apalagi melihat kedekatan mas dan dia. Gak mungkin orang sembarangan berasumsi,” jawab Dimas santai.


“Mas tidak ada hubungan apapun dengan dokter Siska,” tegas Bisma, “Mas harap kamu tidak terpengaruh dengan perkataan orang yang tidak benar.”


“Itu sih kembali ke penilaian orang mas. Mereka berasumsi dari apa yang dilihat dan didengar,” Dimas berkata apa adanya, “Dan saya mengikuti apa yang dikatakan orang banyak. Jadi mas gak bisa menyalahkan penilaian orang jika mas sendiri tidak melakukan pembelaan atas semuanya.”


Bisma terdiam memikirkan ucapan Dimas. Berarti semua orang menganggapnya telah memiliki hubungan istimewa dengan dr. Siska, yang ia sendiri tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada perempuan itu.


Bahkan mama dan Mayang pun sudah memberi sinyal bahwa mereka mengetahui kedekatan yang terjadi antara ia dan dr. Siska saat kedatangan mereka di Bogor serta kehadirannya bersama Wirya Dinata di acara syukuran malam itu.


Bisma menggelengkan kepala  menyadari bahwa kediam-annya atas sikap perempuan itu membuat semua orang salah mengartikan. Kini ia harus memberi batasan yang jelas pada dr. Siska  dan papanya yang sudah terang-terangan menunjukkan superior mereka di tengah keluarga besar.


“Mas serius Dim. Tidak ada hubungan apapun dengan dr. Siska,” Bisma kembali menjelaskan dengan tegas.


“Dokter itu sangat cantik, mas. Siapa pun pasti tertarik saat melihatnya. Kenapa mas menolaknya?” Dimas tak bisa menahan perasaan untuk mengetahui alasan Bisma menolak perempuan yang di mata semua orang begitu sempurna.


“Suatu saat kamu akan mengalami, bahwa hati jika sudah jatuh ...tidak ada alasan apa pun selain ingin bersama orang tersebut,” Bisma berusaha jujur dengan Dimas, bahkan dirinya sendiri.


“Tapi ....”


“Tolong bantu mas untuk rujuk sama bundanya Lala,” pinta Bisma penuh harap.


Dimas tertegun. Ia dapat melihat kesungguhan yang terpancar dari tatapan mantan iparnya itu yang berkata penuh keyakinan. Sedangkan pikirannya masih berperang dengan kenyataan yang ia lihat dan ia dengar saat percakapan antara om Susilo dan mama Nurita.


Ia tak bisa memutuskan sekarang.  Semuanya kembali lagi pada ketegasan mantan iparnya itu dalam menghadapi lingkungannya.


“Saya tak bisa mencampuri urusan mas dan mbak,” Dimas berkata pelan, “Yang perlu mas tau, mbak itu orangnya keras. Jika ia sudah melepaskan sesuatu, jangan harap untuk mengambilnya kembali. Begitu pun jika ia mengatakan tidak, maka siapa pun tidak akan mampu merubah keputusannya.”


Bisma terdiam mendengar ucapan Dimas. Ia tidak menyangka dibalik kelembutan dan keramahan yang dimiliki Ajeng, ternyata ia memiliki watak yang sangat keras.


Tiga tahun kebersamaan mereka, tidak pernah Ajeng menunjukkan semua yang barusan dikatakan Dimas. Ia selalu mengalah dan menuruti semua keinginannya dan tidak pernah membantah.


Saat itu pengabdian Ajeng tidak berarti di matanya. Rasa suka yang menurutnya cinta pandangan pertama telah membutakan semua kecantikan utuh yang dianugerahkan Yang Kuasa dalam diri istrinya sendiri.


Tapi ternyata apa yang ia rasa sebagai cinta, hanyalah nafsu sesaat yang akhirnya tidak menemukan muara. Di sinilah ia merasakan perjuangan yang sesungguhnya.

__ADS_1


***Bagaimana readerku sayang\, apakah bab ini mampu menjawab ke-galau-an kalian atas sikap Bisma dan Ajeng yang menurut kalian tidak tegas dalam menghadapi lingkungan. Sehingga memberikan celah untuk laki-laki dan perempuan yang selalu ada di sekitaran mereka.


Komen yang banyak sangat otor harapkan. Agar bisa ‘up’ dan melanjutkan kisah asmara Ajeng . Ha hai .... sayang semua ....***


__ADS_2