Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 69 Kisah Dari Negeri Seberang


__ADS_3

Bisma baru saja kembali dari kampus bersama Jayusman, rekan kuliahnya yang berasal dari kota Bandung. Keduanya bersama-sama mengambil S3 jurusan administrasi pemerintahan di salah satu universitas terkenal di negeri King Charles.


Ia membuka ponselnya dan menatap sebuah pesan gambar yang baru masuk beberapa menit yang lalu. Putri kecilnya baru saja merayakan ulang tahun yang ke lima. Ia tidak ingin melewatkan tumbuh kembang Lala. Walau di balik itu, ia telah menutup komunikasi dengan Ajeng.


Ia ingin melupakan semua tentang mantan yang ternyata masih menyimpan kesan mendalam dalam hidupnya. Ia tidak tau, kapan bisa ‘move on’ dari masa lalu yang masih membebani dirinya.


“Kita mendapat undangan dari KBRI London untuk meramaikan Pesta Rakyat Perayaan Hut RI di Queens Park Community School,” ucapan Jayusman yang kini duduk di kursi sofa tunggal di hadapannya membuat Bisma mengalihkan pandangannya.


“Kapan acaranya?” Bisma bertanya cukup antusias seraya menyimpan ponselnya di saku celana.


“Minggu besok,” Jayus menjawab dengan santai.


Perkenalan keduanya terjadi saat Bisma mulai menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Loughborough University London.  Jayusman  pun merekomendasikan apartemen elit yang harganya lumayan ramah di kantong.


Jayusman yang seorang ASN  dan bertugas di Dinas Pemerintahanan Provinsi Jawa Barat  rekan yang menyenangkan bagi Bisma. Keduanya terbiasa berdiskusi  dan bertukar pikiran tentang kondisi di Indonesia atau pun global.


Tak jarang keduanya pun sharing masalah keluarga masing-masing.  Jayusman telah memiliki 3 orang anak. Yang  tertua seorang perempuan yang kini sudah berusia 15 tahun. Ia menikah muda.  Usia Jayusman dan Bisma terpaut 3 tahun.


“Bagaimana dr. Fransiska menurutmu?” suasana yang hening lenyap begitu Jayusman menanyakan kedekatan yang terjadi antara Bisma dan seorang mahasiswi kedokteran yang mengambil spesialis anak di salah satu universitas terkenal di kota London.


“Anak yang baik,” jawab Bisma seketika.


“Lha, kok anak?” Jayusman geleng-geleng kepala mendengar komentar Bisma yang singkat.


“Perempuan yang menarik,” sambung dr. Idham salah satu rekan mereka yang mengambil spesialis jantung.


Bisma tidak terlalu dekat dengan dr. Idham, yang usianya pun masih muda dari keduanya, mungkin baru menjelang 30 tahun.


“Menurutku apa yang dikatakan dr. Idham tepat,” Jayusman memandang Bisma penuh arti.


Bisma tersenyum tipis. Ia tak menampik apa yang kedua lelaki dewasa itu katakan. Tapi niatnya untuk melanjutkan studi yang kini sudah berjalan hampir dua tahun ini tidak akan tergoyahkan oleh hal lain.


Hatinya belum bisa untuk membuka dan menerima kehadiran perempuan lain. Ia masih ingin fokus dengan tumbuh kembang Lala yang kini semakin pintar dan ceriwis saat ber-vc-an dengannya.

__ADS_1


Memang ia akui, secara fisik Siska  memang sempurna. Kulitnya yang putih dengan postur seperti gitar Spanyol mendatangkan imajinasi tersendiri saat memandangnya.


Bukan ia menutup telinga, jika makan malam tiba rekan-rekannya yang berasal dari Indonesia berjumlah lima orang termasuk dirinya dan Jayusman sering terlibat dalam percakapan ringan, tentu saja topik yang paling menarik adalah tentang perempuan.


“Heran aku, dr. Siska lebih tertarik pada potongan pak Bisma  dari pada kita yang belum sold-out ini...” Edi yang  satu jurusan dengan Jayusman berkata dengan serius.


“Pak Bisma bisa mengayomi dan orangnya gak jelalatan kaya kamu,” sela Ruslan tertawa renyah.


“Benar,” Idham menjawab cepat, “Siska pun di kampus sering curhat kalo ia senang saat berbicara  dengan pak Bisma.


“Glek!” Bisma menelan air putih dengan cepat.


Ia memahami bahasa tubuh  yang ditunjukkan dr. Fransiska, perempuan muda yang kini mereka perbincangkan dan selalu jadi topik hangat dan menarik dalam berdiskusi.


Ketertarikan fisik memang ada saat terjadinya komunikasi dalam pertemuan yang sudah beberapa kali. Bisma pun melihat sosok muda Ajeng pada diri  dr. Fransiska yang begitu bersemangat  dan antusias saat bersamanya, bahkan Siska tidak malu untuk bermanja padanya.


Ia sendiri terkadang berusaha menyadarkan Siska untuk bersikap biasa saja seperti pada rekannya yang lain. Tetapi Siska tak peduli. Ia  terlanjur merasa nyaman di samping Bisma.


“Mungkin saja pak Bisma tertarik pada dr. Siska. Ayahnya seorang wakil rakyat provinsi.  Adik ibunya kepala rumah sakit kota,” Ruslan berkata dengan serius, “Jenjang  karir akan mudah bila  menjadi orang terdekat dr. Siska .... “


“Pak Bisma tidak memerlukan koneksi siapa pun ....” potong Jayusman.


“Sst .... “ Bisma menggelengkan kepala pada Jayusman  agar menghentikan perkataannya.


Ia cukup terhibur mendengar perkataan receh rekan se-negaranya di malam yang semakin larut itu. Satu persatu mulai memasuki kamar masing-masing. Apartemen yang mereka sewa memang memiliki  lima kamar, dan mereka tidak keberatan berbagi sewa apartemen yang cukup elit di tengah perkotaan.


“Pak Bisma sedikit pun tidak tertarik pada dr. Siska?” kembali Jayusman mengajukan pertanyaan yang sama.


Bisma tersenyum tipis, “Semenjak perpisahanku dengan perempuan yang pernah dekat denganku, baru aku sadar bahwa hanya bunda Lala perempuan yang tulus tanpa pamrih,” ujarnya pelan.


“Tentu saja,” Jayusman membenarkan, “... terkadang kita menyadari berartinya seseorang disaat sudah tiada di sisi....”


Bisma tersenyum hambar. Pikirannya melintas mengingat masa lalu akan kebersamaannya dan Ajeng. Tiga tahun yang mereka lewati bersama dengan segala keegoannya, tapi  tidak ada keluhan atau sikap frontal yang ditunjukkan Ajeng dalam rumah tangga yang mereka jalani. Ia benar-benar menjadi istri yang penuh pengabdian dan melakukan semuanya tanpa pamrih.

__ADS_1


Kehadiran dr. Fransiska yang usianya beda 10 tahun darinya, dan sering dipasang-pasangkan dengannya saat para diaspora yang berada di negeri King Charles mengadakan ‘party’  belum juga membuatnya tergerak.


Rekan-rekannya dengan semangat menjodohkannya dengan dr. Fransiska, tapi hatinya belum siap untuk membuka lagi. Ia khawatir akan mengecewakan pasangan jika memaksakan untuk menerima kebaikan yang ditawarkan perempuan menarik yang sangat enerjik itu.


Bisma tidak ingin memberi harapan palsu pada gadis yang beda usia dengannya itu.  Walau pun pada kenyataannya ia masih bersikap sopan dan menghargai saat dokter muda itu datang berkunjung ke apartemen mereka.


“Kita jadi berangkat sekarang?” tanya Ruslan ketika pagi itu mereka sudah selesai sarapan pagi bersama.


“Boleh,” Jayusman menjawab cepat.


Mereka berlima memasuki mobil kedutaan yang sengaja menjemput untuk mengantarkan mereka  ke di Queens Park Community School tempat pusat acara berlangsung.


Sesampainya di lokasi, mobil segera mencari tempat parkir yang sudah hampir penuh, karena antusiasnya para diaspora merayakan HUT RI di negara King Charles tersebut.


Mereka berdampingan berjalan memasuki taman menuju pusat kegiatan yang sudah dimulai beberapa menit yang lalu.


“Mas Bisma .... “ suara perempuan langsung hinggap di indera pendengarannya begitu tiba di dekat panggung utama.


“Wah, yang udah ditunggu ... “ Edi menggoda Bisma dengan senyum dan matanya yang berkedip-kedip semangat.


Bisma hanya menanggapi dengan santai sambil menganggukkan kepala pada dr. Siska yang pagi itu memakai kebaya modern dengan rambut digelung ke atas, membuat leher jenjangnya terpampang indah.


Ia menyadari semua mata rekan yang terfokus melihat penampilan dr. Siska yang benar-benar sempurna. Bisma menggelengkan kepala sambil mengarahkan  senyum pada Jayusman yang menatapnya sambil mengacungkan jempol.


“Aku ingin mas berkenalan pada seseorang yang kebetulan datang dari negara kita,” dr. Siska berkata dengan  penuh semangat.


Tanpa canggung ia langsung melingkarkan pergelangan tangannya pada lengan Bisma yang kebetulan pagi ini mengenakan batik lengan panjang, menambah kesempurnaannya.


“Sis, tolong jangan seperti ini,” Bisma berkata tegas.


Ia tidak ingin semua orang menyalah artikan hubungan ia dan Siska. Apalagi di kedutaan semua orang tau kedekatan mereka berdua. Setiap ada Bisma selalu ada Siska di sisinya.


Walau Bisma bersikap dingin, tapi Siska selalu keras dengan keinginannya. Dan ia tak peduli, apalagi ia tau bahwa Bisma seorang duda dengan anak perempuan cantik.

__ADS_1


Ia yakin, dengan berlalunya waktu dan perhatian yang ia berikan selama ini akan meruntuhkan kebekuan Bisma. Hati lelaki mapan itu pasti akan luluh dan menerima keberadaannya.


__ADS_2