Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 46 Curhat Deby


__ADS_3

“Aku jadi penasaran, pak Bisma  istrinya meninggal atau bercerai?”  Gita tak bisa menahan rasa penasaran dengan status atasannya yang tampak dingin dengan  orang yang tidak ada hubungan pekerjaan dengannya.


Bukan mereka tidak melihat, bagaimana perlakuan Bisma yang hanya berbincang dengan Deby dibanding mereka yang satu ruangan dengannya.  Mereka pun sudah mencurigai ada hubungan khusus yang terjalin antara keduanya.


Kadang mereka menggosipkan gelagat  Deby yang selalu datang lebih pagi untuk membereskan ruang kerja dan menyiapkan sarapan pagi atasan mereka.


“Mereka berpisah,” jawab Deby dengan perasaan ngambang.


Ia belum tau pasti apakah  yang dikatakan Bisma benar, bahwa ia akan kembali dengan mantannya.  Ia ingin memastikan sendiri hal itu. Mana mungkin  ia melepaskan tambang emasnya, sedapat mungkin ia akan berjuang hingga titik akhir.


Ia yakin masih ada waktu untuk memperjuangkan kembali apa yang seharusnya ia miliki tanpa harus berbagi dengan orang lain, walau pun pun anak kandung lelaki yang ia incar. Jika saat itu tiba, ia pastikan Bisma hanya miliknya. Ia akan membatasi pergaulan Bisma karena dunia Bisma hanya dirinya.


“Tampaknya kamu mengetahui semua kisah masa lal atasan atasan kita,” Gita menatapnya dengan antusias.


Deby mengangguk pasti. Tatapannya lekat memandang ponsel yang memperlihatkan gambar Bisma seutuhnya  yang sedang memimpin apel pagi menggantikan  kadis yang sedang dinas luar.


“Wah jadi penasaran, apa penyebab perpisahan mereka?” Gita tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya yang begitu tinggi.


“Istrinya matre, kampungan lagi … “ Deby mengingat ucapan Bisma saat menceritakan kisah rumah tangganya yang tidak  sesuai dengan ekspektasinya.


“Lho, kok …. ?” Gita semakin penasaran mendengar perkataan Deby, “Masa pak Bisma yang keren, pejabat lagi  dapat istri orang kampung?”


“Emang kenyataannya begitu,” jawab Deby lugas, “Istrinya berasal dari desa di kabupaten Kediri. Tempatnya sangat jauh dari kota, bahkan tanpa listrik sama sekali.”


“Wah, wah …. “ Gita menggeleng tak percaya mendengar cerita Deby.


“Pernikahan pak Bisma karena perjodohan,” lanjut Deby, “Tidak ada cinta dalam pernikahan mereka. Karena itu lah keduanya sepakat berpisah.”


“Apa ada anak dari pernikahan pak Bisma?” kejar Gita.


“Ada, anak perempuan. Usianya belum genap dua tahun,” lugas Deby, “Bagiku tidak penting, selama anak perempuan itu bersama ibunya. Yang penting hati ayahnya yang aku pegang.”


Gita menatap Deby tak percaya. Dalam hati ia mengakui betapa beruntungnya Deby yang dekat dengan  pimpinan mereka yang tampan dan tajir.


“Tampaknya kamu sangat mengenal mantan istrinya pak Bisma …. “ Gita menatap Deby dengan rasa penasaran yang masih tinggi.


“Bukan aku saja, semua orang kenal. Mungkin kamu pun gak asing dengan mantannya mas Bisma,” ujar Deby pelan.


“Ah yang bener …. ?” Gita semakin penasaran.


“Ajeng Lestari,” lugas Deby.


“Serius?” mata Gita membulat mendengar ucapan Deby.


Dengan cepat Deby menganggukkan kepala. Ia dapat melihat keterkejutan yang terrgambar dengan jelas di wajah tirus teman julidnya. Rasa iri hatinya akan sosok Ajeng membuatnya tak akan melepas Bisma dengan mudah. Ia akan memperjuangkan atasannya dan tak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalannya.

__ADS_1


“Masa mbak Ale ‘ndeso’ dan matre?” Gita berkata sambal menggelengkan kepala, “Ia tu, tipe perempuan modern. Apa lagi ia seorang pengusaha terkenal. Aku aja termasuk pengagumnya. Ku pikir ia masih lajang.”


“Uang bisa merubah semuanya,” cibir Deby, “Mungkin uang mas Bisma yang ia habiskan untuk mempermak dirinya menjadi seperti sekarang. Siapa tau?”


“Wajar sih, pak Bisma kan suaminya, walau pun sekarang sudah menjadi mantan ….” Gita tidak membenarkan sepenuhnya ucapan Deby.


Tapi mendengar cerita Deby tentang penyebab perpisahan mereka memang tidak masuk akal baginya. Di matanya Ajeng adalah perempuan yang patut dijadikan panutan. Selain pengusaha, dia pun memberdayakan ibu rumah tangga serta pelajar dalam meneruskan pendidikan mereka.


“Kapan kalian melangkah ke jenjang yang lebih serius?” akhirnya Gita menembak langsung Deby yang kelihatan melamun, “Masa kamu mau kalah saing dengan mbak Ale yang sudah serius dengan pak Hilman?”


“Entah lah ….” Deby mengangkat bahu dengan lesu, “Pada hal mama dan papa selalu menanyakan hal itu padaku. Tapi mas Bisma selalu belum ada waktu untuk bertemu mereka.”


“Kalian berdua gak pulang?” suara Alim yang baru keluar dari ruang Bisma mengejutkan keduanya yang saling berdiam setelah pembicaraan serius mereka.


“Nih, dah siap juga,” Deby buru-buru meraih ponselnya ketika sebuah panggilan masuk  dengan nomor yang sudah sangat ia hafal.


“Mas ‘beb’ ya?” Gita memandang layar  ponsel Deby dengan penuh selidik.


“Wah, mbak Deby udah punya ayang ya?” Alim tiba-tiba menyela pembicaraan keduanya.


Dengan cepat Deby mematikan ponsel dan menyimpannya di dalam tas. Ia tak ingin  mereka melihat  nomor-nomor yang masih ia simpan yang sebagian adalah kliennya.


“Ya dong. Mantul lagi!” Gita mengacungkan dua jempol pada Alim yang menatap Deby penuh perhatian, “Eh, jangan liat-liat. Ntar dimutasi…”


“Benar?” Alim memandang  Gita dengan raut serius.


“Yap!” Gita mengangguk cepat.


Bisma keluar dari ruangannya diikuti Ibnu. Deby mencibir ketika pandangannya bersirobak dengan Ibnu. Ia yakin, Ibnu turut berperan atas menjauhnya Bisma darinya.


“Pak, hari ini aja makannya ya?” Alim tiba-tiba menembak langsung Bisma yang lewat di depannya.


“Makan-makan dalam rangka apa?” kejar Gita cepat.


“Atas suksesnya acara kemarin …. “ Alim menjelaskan janji Bisma yang akan mentraktir mereka makan bersama setelah acara sehari bersama UMKM yang diselenggarakan diskopindag  kemaren.


“Asyik! Makan-makan ….” Gita tak bisa menutupi rasa bahagianya, apalagi hari ini ia ingin memsatikan sendiri bagaimana perasaan Bisma sesungguhnya terhadap Deby.


Bisma menghentikan langkah. Tatapannya yang penuh wibawa membuat Gita tak bisa menahan rasa kagum atas sikap’manly’ yang ditunjukkan Bisma.


“Bagaimana menurutmu Nu?” Bisma memandang Ibnu yang kini berdiri di sampingnya.


“Terserah bapak saja. Saya nurut,” Ibnu berkata santai.


“Baiklah. Kebetulan hari ini saya tidak mempunyai agenda kegiatan lain, kita bisa pergi,” jawaban Bisma membuat semuanya merasa lega.

__ADS_1


Aroma parfum maskulin yang dipakai Bisma membuat perasaan Deby tak menentu.  Ia tak bisa menahan perasaannya terlalu lama. Ia ingin Bisma mengakui hubungan mereka di depan rekannya yang lain.


Apa kata Gita, jika yang ia katakan bertolak belakang dengan jawaban Bisma. Pastilah ia akan kehilangan muka. Dan ia tak ingin hal itu terjadi.


Ibnu menuruti keinginan Alim dan Gita yang merekomendasikan restoran baru yang menjadi favorit di kalangan netizen di kota Malang. Tempatnya memang agak di pinggiran kota. Tapi lokasinya luas dan nyaman. Banyak spot foto yang menjadi mangkalnya generasi millenial  untuk menambah subscribe dalam medsos mereka.


Bisma hanya geleng-gelang kepala melihat gaya Gita dan Alim yang kebetulan usianya masih sangat muda dibanding dirinya. Demi kenyamanan dan lancarnya pekerjaan mereka yang membantunya di kantor, terpaksa ia mengikuti semua keinginan  bawahannya.


Deby yang berjalan dengan pikiran berkecamuk, tanpa sadar melewati jalan yang licin. Karena ia kurang berhati-hati, mengakibatkan ia hamper tergelincir.


“Ups!” tangan kokoh Bisma beruntung meraih pinggangnya hingga tidak jatuh.


Deby tak melewatkan peristiwa itu, dengan cepat ia merangkul pinggang Bisma dan memeluknya erat.


Sontak saja perbuatan keduanya membuat semuanya terpaku dan memandang dengan takjub.


“Kalau berjalan yang fokus, jangan banyak melamun!” kesal Bisma buru-buru menepis tangan Deby dengan cepat.


“Terima kasih mas,” suara manja Deby membuat yang lain semakin yakin dengan kedekatan mereka.


“Suit, suit …. “ Alim berjalan sambal bersiul menuju gazebo  yang masih kosong untuk mereka  tempati.


Langkahnya segera diikuti Gita dan Ibnu. Sementara Deby berusaha mencari perhatian Bisma yang ia rasa semakin dingin padanya.


“Mas, tolong jangan seperti ini …. “ keluh Deby  yang tangannya masih memegang lengan Bisma yang hendak berjalan meninggalkannya.


“Bukankah sudah ku katakan hubungan kita berakhir,” ucap Bisma tegas.


“Mas tidak bisa memutuskan sepihak,” kecam Deby, “Aku telah berusaha  mengerti dan menuruti apa pun yang mas mau. Apa tidak bisa mas pertimbangkan kembali? Aku yakin kita bisa memulai dari awal.”


Bisma menghela nafas. Sebenarnya ia memang kacau. Perlakuan Hilman pada Ajeng dan sikap keduanya membuat  ia terbakar cemburu. Sedangkan ia sendiri belum mencoba untuk berbicara pada Ajeng tentang keinginannya untuk kembali bersama.


Ia yakin, jauh di lubuk hati Ajeng masih ada perasaan padanya. Apa lagi melihat pengabdiannya selama mereka masih bersama. Tidak mungkin rasa itu lenyap begitu saja.


“Sudahlah Deb. Jangan ganggu aku dengan masalah sepele ini,” Bisma menatapnya dengan tajam.


“Ini bukan masalah sepele mas,” Deby tidak mau kalah.


Ia harus memastikan bahwa  Bisma akan selalu meluangkan waktu untuknya. Dan ia tetap akan menunggu sampai kapan pun.


“Aku minta kamu mengakhiri percakapan tak penting ini,” potong Bisma tegas.


“Baiklah mas. Aku siap menunggu kapan pun mas akan meluangkan waktu untuk kita berdua,” Deby berjalan meninggalkan Bisma yang tak sempat menjawab perkataannya.


Melihat kelakuan Deby yang tidak sopan, membuat Bisma menggelengkan kepala. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Deby yang kini semakin berani menentangnya di hadapan  yang lain.

__ADS_1


__ADS_2