Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap
Bab 87 Tamu Jam Makan Siang


__ADS_3

Wajah tampannya yang mengumbar senyum langsung kecut, menyadari bahwa orang-orang yang ia cintai tidak berada di dalam ruangan.


“Mas, aku tuh mau tagih janji saat kita di London,” suara manja Siska menginterupsi Bisma.


Wajah kesal akibat perbuatan anak kecil yang mengotori bajunya langsung hilang melihat wajah tampan yang hadir dengan aroma maskulin yang terhirup indera penciumannya.


Dengan perasaan enggan Bisma  menghenyakkan tubuh di samping mamanya yang tersenyum dengan tatapan penuh arti padanya.


“Mama gak menyangka hubungan kalian sudah sedekat itu,”  Nurita berkata dengan ramah.


Ia harus mendengar kepastian kedua belah pihak agar mudah mengambil keputusan ke depannya. Doanya akan selalu mengiringi langkah putra-putrinya agar diberikan kebahagiaan hingga kembali ke pangkuan ilahi.


“Jadi untuk apa kita membuang waktu lagi, segera resmikan saja hubungan Siska dan Bisma,”  Wirya berkata penuh semangat mendengar ucapan Nurita yang membawa angin segar baginya.


Bisma terkejut mendengar pembicaraan yang baginya sudah sudah terlalu jauh. Ia tidak pernah membuat komitmen dan menjanjikan apa pun pada dr. Siska, Ia harus meluruskan semuanya.


“Maaf pak, saya dan dokter Siska sampai saat ini tidak memiliki hubungan apa pun,”  ujar Bisma tegas sambil menatap Siska dengan tajam.


Ia tidak ingin kedua orang tua mereka menjadi salah paham, karena ia sudah memiliki sendiri rancangan bagi masa depannya.


Nurita terkejut mendengar ucapan lugas Bisma yang membantah perkataan Wirya. Bagaimana mungkin ia lebih mempercayai penilaian orang lain, sementara putranya sendiri menolak apa yang mereka katakan.


Perasaan Siska menjadi tidak nyaman atas ketegasan Bisma. Tapi ia tidak putus asa. Papanya dan mama Nurita akan menjadi sekutunya untuk mendapatkan hati Bisma. Ia tidak akan menyerah sebelum berjuang dengan segenap kemampuan yang ia miliki.


“Hubungan atau relasi itu bisa dibangun dengan berjalannnya waktu. Papa akan sangat mendukung usaha kalian ke arah sana,” tatapan  tajam penuh intimidasi tergambar jelas di wajah Wirya mendengar perkataan Bisma.


“Maaf pak, saya belum ada rencana untuk memulai kembali. Saya harap bapak dan dr. Siska menghormati keputusan saya,” tegas Bisma dengan tatapan tajam mengarah ke Siska yang masih menatapnya penuh harap.


Wirya mengepal jemarinya kesal mendengar jawaban lelaki  mapan di depannya yang tidak merasa gentar atas semua perkataan mau pun bahasa tubuh yang ia tunjukkan. Baru kali ini ia bertemu dengan laki-laki yang berani melawan arus dan tidak pro dengan apa yang ia ucapkan.


“Mas gak usah terlalu serius menganggapi perkataan papa,” Siska mulai melunak.


Ia harus menjaga ‘image’ di depan camer yang berhati lembut. Kakinya menyenggol kaki papanya agar menurunkan tensi. Mereka harus pandai memainkan peran.


“Kedatangan saya dan papa hanya ingin silaturahmi. Pas kebetulan kita berada di Surabaya. Papa ini orangnya sibuk ma ....”


Wirya langsung tanggap dengan kode putrinya. Ia menarik nafas pelan untuk membuang rasa kesal yang begitu memuncak dengan sikap dingin dan keras kepala yang ditunjukan lelaki yang sangat diidamkan putri kesayangannya itu.


Nurita memandang lelaki parobaya di depannya yang tampak membuang nafas berkali-kali. Ia mengurai senyum ramah pada perempuan muda yang di matanya tampak begitu semangat.


“Benar mbakyu. Hari Senin saya sudah harus ke Batam,” suara Wirya kembali ke mode rendah, “Saya menyempatkan silaturahmi kemari karena penasaran dengan putri saya ....”

__ADS_1


Nurita mengerutkan jidat mendengar penuturan Wirya yang tatapannya kini beralih ke Bisma yang tetap santai mendengar percakapan receh yang terjadi di hadapannya.


“Mbakyu tau kan, yang namanya anak gadis yang berada di negeri orang... akan banyak lelaki iseng yang mencoba menggodanya....”


Ia harus mengikuti ritme putrinya. Tidak pernah ada kata gagal dalam hidupnya. Dan ia berharap hasil terbaik yang bakal di dapat, walau pun untuk saat ini ia harus mengalah.


Nurita hanya manggut-manggut tanpa ada keinginan untuk mengomentari perkataan Wirya.


“... nak Bisma lah satu-satunya lelaki yang ia percayai selama hampir tiga tahun kebersamaan mereka di London.”


“Saya rasa dr. Siska terlalu melebihkan,” potong Bisma cepat, “Semua teman yang saya kenal baik semua dan dapat dipercaya. Karena keberadaan kita di sana membawa nama baik bangsa dan negara.”


Ia tidak ingin ada kesalah pahaman lagi diantara semuanya. Ia lelah menghadapi kekeraskepalaan Wirya serta dr. Siska yang memanfaatkan kebaikan hati mamanya.


“Itulah yang putri saya kagumi dari diri nak Bisma,” Wirya tidak mau kalah.


Nurita sadar, kalau ucapan Wirya memang menggiring ke opini yang menyesatkan. Ia hanya menyimak perkataan Wirya yang kini mulai mengalihkan topik pembicaraan.


“Mah, gak pa-pa kan kalau saya sering main ke mari,” Siska mulai mengalihkan arah pembicaraan.


“Gak pa-pa nduk. Toh, kami selalu menyambut baik dan menerima dengan tangan terbuka siapa pun teman Bisma,” Nurita menganggukkan kepala.


“Pak Wirya, dr. Siska silakan dilanjutkan pembicaraannya. Saya ada janji dengan putri saya untuk membawanya ke luar ....” Bisma berkata datar sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Ia akan berbicara dengan Nurita, berharap perempuan parobaya itu bisa diajak bekerja sama. Apa lagi ia mulai tau masa lalu Bisma yang gagal karena perjodohan kedua orang tua.


Berhubung sudah memasuki jam makan siang, mau tidak mau Nurita akhirnya menawari Wirya dan  Siska yang masih asyik bercerita tentang hobi masing-masing.


Ketukan di pintu kamar setelah kepergian Dimas membuat Ajeng menghentikan kegiatannya mengikat rambut Lala. Ia berjalan ke pintu dan meraih knopnya.


Bisma menunggu di depan pintu kamar. Saat pintu terbuka, ia melihat Ajeng sudah rapi dengan dua tas tersusun di samping pintu. Ia mengerutkan jidatnya.


“Bunda dan Lala ... “ belum selesai Bisma berbicara ...


“Ayah .... “ Lala turun dari tempat tidur dan berlari menghampiri sang ayah.


Hup!


Dengan cepat Bisma meraih putrinya yang kini sudah cantik dengan aroma wangi lembut memanjakan indera penciumannya.


“Putri ayah sudah secantik dan sewangi ini mau kemana?” pertanyaan Bisma arahkan pada putrinya tetapi matanya menatap Ajeng yang  berdiri dengan sorot datarnya.

__ADS_1


“Mau pulang ayah,” Lala menjawab terus terang.


Tatapan Bisma mengarah tajam pada Ajeng. Ia yakin pembicaraan mereka membuat perempuan yang kini sudah ia kunci namanya di hati sengaja menghindari kebersamaan mereka.


“Lho, oma bilang besok sore pulangnya. Sekarang  ayah ingin bawa Lala jalan dulu ....”


Ajeng membalas tatapan Bisma dengan raut tak suka. Ia harus bersikap tegas agar lelaki pasir di depannya tidak mempermainkan dirinya.


“Maaf ayahnya Lala,  pak Naryo sudah hampir sampai. Aku besok ada jadwal dadakan dengan ketua PKK kota Malang yang tidak bisa dibatalkan begitu saja,” tegas Ajeng dengan raut datar tanpa memalingkan muka dari wajah Bisma.


Bisma menghela nafas. Ia harus mengalah untuk meraih kemenangan yang lebih gemilang. Tatapannya beralih pada Lala yang masih berada dalam gendongan.


Kruk ...


“He he .... “ Lala tertawa mendengar suara yang terdengar dari perutnya.


“Wah putri ayah lapar ya?” Bisma tak bisa menahan senyum melihat kelakuan putri kecilnya.


Ajeng tak bisa menyembunyikan senyum melihat Lala yang mengangguk atas pertanyaan ayahnya. Ia pun sadar ini memang jam makan siang yang tak boleh ia lewatkan.


“Baiklah sayang, sekarang kita makan dulu,” ujar Bisma lembut seraya menurunkan Lala dari gendongan, “Bunda juga ikut makan.”


Bisma masih menunggu Ajeng yang tak bergerak dari posisinya berdiri saat ini. Masih ada yang harus ia kerjakan.


“Ayahnya dan Lala turun  lah dulu. Aku akan menyusul belakangan,” tolak Ajeng.


Ia tidak ingin Nurita menyalah artikan kedekatan mereka. Semua telah usai, ia tidak ingin membangun mimpi dari puing-puing yang sudah hancur.


Bisma kembali terkejut melihat Wirya dan dr. Siska kini sudah berada di meja makan dan terlibat percakapan santai dengan mamanya.


“Eh, cucu cantik oma ....”  Nurita terkejut melihat Bisma yang menggandeng Lala sudah berada di ruang makan.


“Cucu oma ini laper. Pengen makan yang enak-enak .... “ ujar Bisma santai.


Wirya dan Siska terkejut begitu melihat Bisma berada di hadapan mereka dengan anak perempuan kecil yang ia bentak tadi. Keduanya saling berpandangan.


“Pak Wirya, dr. Siska, kenalkan cucu saya .... “  Nurita bangkit dari  kursi yang diikuti Wirya dan Siska.


Sontak Lala langsung mundur dan berlindung di belakang tubuh Bisma dengan memeluk lutut ayahnya.


“Kenapa sayang?” Bisma terkejut dengan kelakuan putrinya  yang tampak ketakutan.

__ADS_1


Lala menggelengkan kepala dengan wajah tertunduk. Trauma akan bentakan dari kedua orang dewasa itu masih membekas di benaknya.


***Terimakasih komen\, vote\, bunga\, kopi dan yang lainnya selalu otor tunggu. Salam juga untuk reader dari melayu serumpun Malaysia. Sayang untuk semua. Dukung terus ya ...***


__ADS_2