
Ajeng membalas tatapan Hilman yang kini memandangnya dengan perasaan berkecamuk. Nafasnya terdengar memburu dengan punggung yang kini ia sandarkan di kursi.
Ia mengalihkan pandangan dan memejamkan mata berusaha melupakan ucapan Ajeng dan menganggap hanya mimpi. Ia berharap saat membuka mata keadaan membaik dengan senyuman Ajeng yang begitu menenangkan setiap pertemuan mereka.
“Pulanglah mas, ada Hilda dan istrimu yang telah menunggu,” tutur Ajeng pelan, “Bukankah waktumu sangat berharga?”
Ia melihat kegundahan tergambar jelas pada sosok lelaki tegap yang sempat ia do’akan di sujud terakhirnya meminta kepada Yang Kuasa untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya jika takdir mengantarkan mereka untuk bersama.
Tapi kini hanya keikhlasan dan kesabaran yang ia minta dalam menjalani kehidupan yang lebih tenang dan damai untuk beraktivitas bersama mereka yang bekerja untuknya.
Ia pun bertekad untuk lebih fokus dalam karier yang ia jalani. Banyak orang yang menggantungkan kehidupan mereka padanya. Baagaimana mungkin ia bersikap egois hanya demi kenyamanan diri sendiri, tanpa memikirkan mereka yang bergantung padanya.
“Tidakkah ada sedikit pengertian Diajeng untuk mendampingi mas melalui semua ini?” tatapan Hilman sendu ketika membuka mata dan mengatakan apa yang tersimpan di hatinya saat melihat Ajeng yang memandang kejauhan.
“Sudahlah mas. Keputusanku sudah bulat,” Ajeng tak ingin berbasa-basi lagi.
Hilman menghela nafas berat. Ia memikirkan kilas balik perjalanan serta peristiwa yang telah ia lalui tiga bulan ke belakang. Jika ia menuruti keinginan mamanya agar tidak berkunjung ke Makasar, mungkin ia tidak berada di kondisi ini.
Pernikahan ia dan Ajeng akan berjalan lancar. Sesuai dengan keinginannya untuk serius membina rumah tangga bersama perempuan yang telah menginspirasi banyak orang.
“Mas, pulanglah .... “ melihat Hilman yang masih duduk tanpa berkata apa-apa membuat Ajeng agak kesal.
Ia pun ada janji temu dengan dr. Indira. Berkali-kali ia menghela nafas untuk membuang kekesalan yang kini mulai menggayut di benaknya.
“Mas gak bisa nerima keputusan Diajeng,” tolak Hilman.
Ia menatap Ajeng dengan lekat. Ia tidak bisa begitu saja mengakhiri hubungan yang telah ia mulai dengan susah payah.
“Setiap tindakan selalu ada konsekuensinya mas. Mungkin ini yang terbaik untuk kita,” Ajeng berkata dengan tegas.
__ADS_1
Ia tidak ingin Hilman membuang waktunya lebih lama. Percuma saja ia bersabar, kenyataannya lelaki itu telah memutuskan sendiri.
“Mas tidak bisa berlepas tangan begitu saja dengan Hilda. Bagaimana mungkin mas melepaskan tanggung jawab padanya .... “ Hilman ingin mempertegas kembali sikapnya pada Hilda supaya Ajeng mengerti.
“Saya paham itu mas,” Ajeng tersenyum tipis menanggapi ucapan Hilman, “Terlanjur kita belum melangkah jauh. Saya sudah yakin dengan semua ini.”
“Apa maksud Diajeng?” Kini suara Hilman meninggi, “Semua ini tidak ada kaitannya dengan Dewi.”
Ia sedikit tersinggung dengan ucapan Ajeng yang seolah-olah menuduhnya sengaja ingin kembali dengan Dewi, mantannya di masa lalu.
“Aku tidak pernah menginginkan kembali bersama Dewi. Tapi keadaanlah yang memaksaku melakukan ini,” tegas Hilman memandang Ajeng sehingga tatapan keduanya bertemu dalam jangka waktu yang lama.
Empat mata saling menatap dengan pikiran masing-masing. Ajeng tidak mengalihkan pandangan dari Hilman yang masih menatapnya penuh harap.
“Mungkin takdir mas Hilman memang bersama mbak Dewi. Saya menyerah atas hubungan kita. Mungkin ini pertemuan terakhir kita membahas semuanya,” Ajeng berkata dengan tenang tanpa ada kesedihan yang tersisa.
“Diajeng tidak bisa mengambil keputusan sebelah pihak. Mas tidak setuju,” Hilman berusaha membuat Ajeng merubah keputusan.
“Sekarang bukan hanya tentang kita berdua mas. Ada Hilda dan istri mas di dalamnya. Saya hanya akan menjadi pihak asing dan mengganggu rumah tangga mas dan mbak Dewi.”
“Diajeng harus tau, Dewi hanyalah masa lalu. Tidak mungkin mas akan kembali mengulang yang telah selesai,” Hilman tidak ingin Ajeng salah paham.
“Mas hanya membuang waktu menjelaskan itu. Takdir telah kembali menyatukan mas dengannya. Dan itu adalah pilihan mas sendiri,” lama kelamaan Ajeng jadi jengah dengan sikap Hilman yang plin-plan.
“Semua ini mas lakukan karena Ridwan. Hilda memerlukan figur ayah, seperti Lala yang tak kehilangan kasih sayang ayahnya,” Hilman bersikeras membuat Ajeng mengerti.
“Lala dan Hilda berbeda. Mas tak perlu memberikan pembenaran atas sikap Hilda yang menjadi prioritas mas sekarang. Tetaplah seperti itu. Dengan mas melepasku, mas dan mbak Dewi akan fokus memberikan kesembuhan padanya, dan tanggung jawab mas pada almarhum papanya Hilda terpenuhi.”
Hilman mengusap wajahnya dengan kacau. Ia pikir kerelaan Ajeng saat Hilda menelpon dan memintanya pulang karena ia pun tulus mendukung keputusan Hilman, tapi kenyataannya ...
__ADS_1
“Ku harap ini pertemuan terakhir kita. Aku tidak ingin jadi orang ketiga dalam pernikahan mas dan istri mas,” ujar Ajeng akhirnya.
“Tidak seperti itu Diajeng. Bukankah mas sudah menceritakan semuanya dengan persetujuan Dewi. Ini hanya soal waktu,” Hilman tetap keukeuh dengan keinginannya.
“Kita tidak usah bertemu lagi. Saya berharap semuanya berakhir sampai di sini,” Ajeng memutuskan dengan cepat.
Pandangannya tajam tanpa kompromi saat bertatapan dengan Hilman.
“Diajeng .... “ Hilman menyebut nama perempuan di depannya yang kini melepas cincin indah yang ia sematkan saat pertemuan kesekian kalinya dengan bibir bergetar.
Ia sadar, kini dirinya tidak memiliki kekuatan untuk membuat Hilman bertahan di sisinya. Hilman telah mengikat janji suci di hadapan Allah dan para saksi, walau pun dengan alibi menikah siri. Tapi tetap saja itu sah di mata agama.
"Istri dan keluarga kecil mas Hilman lebih pantas untuk mendampingi mas sekarang. Jangan menahanku dan membuatku berdosa karena mengganggu bahtera yang baru saja kalian bangun. Kita sekarang sudah tidak pantas untuk bertemu, apa lagi berduaan seperti saat ini."
“Tidak adakah keinginan Diajeng menungguku untuk mengakhiri semua?” Hilman menatap Ajeng penuh harap.
Ia terus terang berat untuk mengakhiri hubungan dengan perempuan yang sudah susah payah ia perjuangkan.
“Semuanya tidak semudah itu mas. Dan aku pun tidak ingin melanjutkan hubungan yang telah cacat ini. Aku tidak ingin menghalangi mas Hilman, karena aku pun bisa lebih fokus dalam bekerja.”
“Kita sudah pernah membicarakan ini,” Hilman tetap ingin memperjuangkan Ajeng jadi pendampingnya, “Mas siap memberikan mahar apa pun, asal Diajeng tetap di sisi mas.”
Hilman sudah menjatuhkan harga dirinya agar Ajeng tetap bersamanya. Ia pun siap menyerahkan semua aset yang ia miliki untuk mengikat Ajeng.
“Ini bukan tentang materi mas. Tapi kenyamanan. Aku tidak nyaman jika waktu kita harus terpangkas dengan Hilda. Dia lebih membutuhkanmu. Dan aku nyaman dengan kesendirianku,” pungkas Ajeng cepat.
Hilman tak mampu berkata apa-apa, terlalu banyak ucapan Ajeng yang menyiratkan ingin lepas darinya. Dan ia akui, berat baginya untuk melepas. Perasaannya terlanjur sayang.
Ia melihat senyum tipis yang terukir di sudut bibir Ajeng yang meletakkan cincin di atas meja yang menjadi pemisah diantara keduanya.
__ADS_1
“Kita sudah sama dewasa dan paham dengan langkah yang kita ambil. Aku menghormati keputusan mas untuk bertanggung jawab atas masa depan Hilda dan mbak Dewi,” Ajeng berkata pelan sambil bangkit dari kursi, “Semoga Hilda pulih kembali, dan mas bisa memperbaiki hubungan dengan istri mas dan berbahagia seperti keinginan kalian di masa lalu ... “