
Rasa sedih langsung menerpa hati ketika pengacara perusahaan yang bernama Erwin mengantarku untuk menemui Ridwan di ruang isolasinya. Aku berusaha menahan air mata melihat tubuhnya yang tinggal tulang dilapisi kulit tanpa ada daging yang tersisa sedikitpun.
Perawakan kami hampir sama. Hanya Ridwan kulitnya lebih terang dan putih dibandingkan aku yang biasa di lapangan. Jadi wajar jika perempuan banyak yang tergila-gila padanya.
Tiada lagi kesan gagah dan tegap dari sosoknya yang hampir lima tahun tidak pernah ku temui. Ia pun tidak pernah berkunjung ke rumah semenjak meninggalkan Malang untuk menetap di Makassar.
Dalam kesenduan matanya ku lihat sorot yang menggambarkan penyesalan. Mata kuyu tak bercahaya itu syarat makna. Air matanya tak terbendung begitu aku duduk di sampingnya.
Walau pun ia pasien positif Aids, aku tak khawatir untuk berinteraksi dengannya. Dokter Haris yang menanganinya sudah bertemu dan berbicara semua kondisinya padaku.
Aku tak mampu untuk berkomentar apa pun mendengar perkataan dr. Haris tentang kondisi Ridwan yang hanya tinggal menunggu waktu.
“Ma .. ma..af .... “ suaranya nyaris tak terdengar.
Aku hanya menganggukkan kepala tak mampu untuk berkata saat sudah duduk di sampingnya di dampingi pengacaranya Erwin.
“A .. aku... “ mata cekungnya kembali meneteskan air mata, hingga ia sesengukan dalam tangis.
Aku pun tak kuasa menahan air mata. Melihat kondisinya yang begitu memprihatinkan. Dengan cepat ku raih tangannya yang tinggal tulang berbalut kulit semakin mengering.
“Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Kamu harus sembuh demi keluarga kecilmu,” rasa amarah yang menggunung dalam dadaku terasa hilang tak bersisa melihat keadaan Ridwan.
Tangannya terasa dingin dengan sorot mata layu tak bersemangat. Hanya melalui pandangan mata, banyak pesan yang tersirat ku lihat.
Aku berusaha terus menyemangatinya walau ku tau perbuatan itu hanya sia-sia saja. Tapi paling tidak melihatnya tersenyum sudah cukup bagiku.
Sempat timbul rasa sesal di hati atas kemarahan yang masih ku pendam sehingga mendoakan yang buruk dalam kehidupan rumah tangga mereka. Ternyata Allah telah menguji atau mungkin hukuman-Nya yang telah jatuh atas mereka.
“Ampuni hamba-Mu ini ya Allah ...” batinku dalam hati sambil memejamkan mata.
Saat perjalanan pulang menuju penginapan, Erwin menceritakan bahwa mereka memiliki seorang anak perempuan yang bernama Hilda. Kini usianya hampir enam tahun. Kondisinya juga tidak terlalu baik. Ia memiliki stamina yang rendah dan rentan sakit.
__ADS_1
Pikiranku bekerja cepat. Itukah anak mereka yang membuat ....
Aku langsung menghempas pemikiran akan kejahatan masa lalu mereka. Allah telah memberikan yang terbaik atas setiap perbuatan hamba-Nya sesuai ganjaran masing-masing.
Saat pertama kali melangkahkan kaki memasuki rumah megah milik Dewi, ku lihat foto-foto pernikahan keduanya memenuhi dinding keramik dan disusun dengan estetik.
Rasa amarah sudah hilang dalam benakku. Aku hanya tersenyum membayangkan suatu saat akan melakukan hal yang sama dengan seorang perempuan yang kini namanya telah terikat di hati.
“Papa .... “ seorang gadis kecil berlari ke arahku dan langsung memelukku dengan erat.
Aku yang tidak siap dengan sambutan seperti itu hanya terdiam. Tak dapat ku tolak, rasa hangat mulai mengaliri sanubari terdalam.
Dewi memandangku dengan perasaan tidak nyaman melihat kelakuan putrinya. Aku hanya menahan langkahnya untuk meraih Hilda yang kini ku peluk dengan erat.
Aku tau, ia sangat merindukan sosok Ridwan yang sangat jarang berinteraksi dengannya. Kesibukan serta hobinya yang berganti pasangan membuatnya melalaikan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga yang baru saja mereka bina.
Hingga akhirnya penyakit menggerogoti dan mengakhiri semua petualangannya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Erwin menceritakan semua curahan hati Ridwan tanpa terlewat.
Dua minggu di Makassar dengan segala urusan perusahaan serta Hilda yang semakin lengket padaku membuatku melupakan hal lain.
Belum sempat aku menghubungi Ajeng, pihak rumah sakit meminta kehadiranku secepatnya, kondisi Ridwan sudah semakin kritis.
Tanpa berpikir panjang aku langsung bergegas ke rumah sakit. Tangis kedua orang tua Ridwan sudah terlihat begitu aku memasuki ruangan. Dewi dan kedua orang tuanya pun sudah berada di dalam ruangan yang sama.
Ternyata kedatanganku kali ini telah merubah jalan hidupku ke depan. Dengan penuh harap Ridwan menyatakan keinginannya dan meminta aku mengabulkan semua sebelum ia meninggalkan segala kenikmatan yang pernah ia rasa untuk kembali pada sang pemilik.
Melihat mata-mata yang memandangku penuh harap, entah kenapa perasaanku seperti hilang tak berarah. Tatapan penuh kerinduan yang terpancar dari putri kecil mereka Hilda membuatku akhirnya mengambil keputusan yang membuat lega semua yang berada dalam ruangan.
Tiga hari setelah kepergian Ridwan aku pun mengucap ijab kabul dan menikahi Dewi di rumah megah mereka. Semua ini ku lakukan semata-mata hanya untuk menyelamatkan aset perusahaan seperti yang dikatakan Erwin tempo hari.
Tapi tak dapat ku pungkiri, melihat Hilda putri keduanya yang begitu lekat padaku, entah kenapa membuatku ingin memberikan kasih sayang seutuhnya. Ia begitu rapuh seperti kapas.
__ADS_1
Aku berjanji akan berusaha mencari dokter terbaik dan memberikan kesembuhan padanya hingga ia sehat dan mendapatkan masa kecil yang layak dan menyenangkan.
Sepeninggal Ridwan, Hilda kembali kambuh dan satu minggu harus di rawat di rumah sakit, sehingga aku makin tidak ada waktu untuk menghubungi Ajeng.
Akhirnya aku mengambil keputusan memboyong Dewi dan Hilda kembali ke Malang begitu kondisinya mulai membaik.
Aku akan mencoba koordinasi dengan dokter di rumkit Dr. Soetomo Surabaya untuk mempercepat proses pengobatan Hilda hingga sembuh total dan penyakit yang menggerogoti tubuh kecilnya segera hilang.
Keputusanku menikahi Dewi sangat ditentang mama. Saat aku tiba di rumah tepat pukul 8 malam, keduanya terkejut melihatku tidak datang sendiri.
Setelah Dewi dan Hilda beristirahat di kamar tamu yang letaknya di lantai atas, kami bertiga terlibat pembicaraan serius.
Mama sangat menyesali semua keputusan yang telah ku buat. Dia menyayangkan, karena aku tidak mengambil pelajaran atas perbuatan Dewi di masa lalu padaku. Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur.
Aku memohon pada mama untuk menyembunyikan pernikahan yang telah terjadi antara aku dan Dewi dari siapa pun seperti yang ku minta pada keluarga Dewi maupun om Dedi dan tante Gina orang tua almarhum Ridwan.
Aku memberitahukan rencanaku pada mama dan papa. Keputusan awalku untuk menikahi Ajeng tetap ingin ku laksanakan. Karena hanya itu keinginan terbesarku saat ini.
Masalah Dewi, sejak awal aku memenuhi keinginan Ridwan untuk mengambil alih semua tanggung jawab setelah kepergiannya, hanya sekedar melindunginya dari pihak lawan yang ingin mengambil alih kepengurusan Bara Sejahtera.
Sampai kapan pun aku tidak akan melegalkan pernikahanku bersama Dewi. Ajeng lah yang akan menjadi istriku yang syah di mata masyarakat dan agama. Itu sudah menjadi tekadku sejak awal bersamanya.
Jika suatu saat Dewi menemukan lelaki yang tepat, aku akan menyerahkan semua aset Ridwan bahkan akan melebihinya sebagai bentuk dukunganku untuk kehidupannya agar tetap nyaman di masa depan.
Tapi pertemuan siang tadi saat aku dan Dewi membawa Hilda yang tiba-tiba drop ke rumah sakit ternyata telah membuatku bertemu dengan Ajeng. Perempuan impian masa depanku.
Ku lihat dia menggendong Lala yang ku rasa juga dalamkeadaan sakit. Aku seperti pencuri yang tertangkap basah. Tatapan matanya begitu dingin tanpa makna. Bahkan aku sadar saat dia menyapaku dengan panggilan ‘pak Hilman’.
Suara lembutnya yang sangat ku rindukan saat memanggil ‘mas’ tidak terdengar. Ia berjalan tanpa memandang ke belakang lagi. Rasanya tubuhku terpaku ke bumi. Tidak mampu untuk bergerak atau sekedar menyampaikan permintaan maaf karena tidak mengabarinya.
Dapat aku lihat raut kekecewaan dari sorot dingin pancaran matanya yang bersinar teduh. Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya saat ini. Perasaanku tidak nyaman. Apakah dia telah mengetahui sesuatu?
__ADS_1
Aku merasakan tangan Dewi yang menggandengku dengan erat saat tatapanku tak beranjak walau pun bayangan Ajeng telah menghilang di balik pintu.
***Dukung terus karya otor ya. Moga nanti malam bisa up lagi\, sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tugas. Doakan perjalanan otor lancar biar Ajeng menemukan kisah sejatinya .... Sayang selalu ...***